
"Iya, Laras sedang ngidam," jawab William akhirnya setelah tadi sempat terdiam.
Setelah itu terjadilah sesi curhatan seorang William. Derita suami yang menghadapi masa kehamilan istrinya. Calon Daddy muda ini begitu kesulitan menghadapi segala emosi yang Laras tunjukkan hanya pada William.
"Baiklah, aku bantu. Tapi, jangan salahkan aku jika nanti anakmu sedikit mirip denganku."
Plak!
William memukul pundak Ken dengan keras. "Memangnya kamu menyumbang benih pada istriku? Nggak usah mengada-ngada," protes William.
"Tapi kata pepatah memang seperti itu, Will."
"Terserah."
William mulai fokus dengan 23 tusuk sate ayamnya. Dia mengabaikan Ken yang terus menasehati Wiliam. Sayangnya yang diberi nasehat menulikan pendengarannya. Hingga akhirnya Ken terdiam.
Terlihat William dan Ken mulai kesusahan menghabiskan sisa sate ayamnya. Mereka berdua tampak sudah tidak sanggup lagi walaupun di piring keduanya tinggal tiga tusuk saja.
"Will, aku sudah tidak kuat lagi. Hanya tersisa tiga tusuk saja, kamu habiskan semuanya." Ken menyerah, perutnya terasa hampir meledak.
"Tidak, Ken! Di piringku juga sisa tiga tusuk. Aku sungguh tidak sanggup lagi. Perutku rasanya akan robek karena tidak bisa menampung makanan lagi."
Dua lelaki tampan dengan pesonanya masing-masing tampak kewalahan. Keduanya tampak tidak baik-baik saja. Tapi, mau bagaimana lagi jika Laras mengidam untuk menghabiskan tusuk sate itu.
"Will! Sayang!" panggil Laras dari lantai dua.
William dan Ken langsung membulatkan kedua matanya. Mereka berdua mau tidak mau langsung mengambil tiga tusuk sate yang tersisa. Mereka langsung menarik daging sate dari tiga tusuknya dan memakannya sekaligus.
"Ah, sepertinya William sedang sibuk. Biarin saja lah. Aku lanjut tidur karena besok akan rapat dengan para petinggi," gumam Laras dan kembali menuju kamarnya.
William langsung menuju ke kamar mandi, sedangkan Ken menuju wastafel. Mereka tiba-tiba ingin memuntahkan seluruh isi perut keduanya.
"William sialan, hoek!" umpat Ken sembari terus mengeluarkan isi perutnya.
Sedangkan William menatap pantulan dirinya yang tampak berantakan itu. Setelah dirasa selesai dengan mualnya, dia mencuci wajah dan sedikit membasahi rambutnya.
'Aku tampak sangat menyedihkan,' batin William sembari melihat pantulan dirinya di cermin.
__ADS_1
William ke luar dari kamar mandi. Dia sudah tidak menemukan Ken di meja makan. William mengabaikannya dan melangkahkan kaki menuju lantai dua, tempat kamarnya dan sang istri berada.
William mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada jawaban dari Laras. Akhirnya dia memutuskan untuk langsung masuk. Benar saja saat William sudah masuk ke kamar, terlihat Laras meringkuk dalam tidurnya. Lelaki itu tersenyum.
"Betapa nyenyaknya dia," ujar William saat berada di sisi ranjang tempat sang istri berbaring. William sedikit membungkuk lalu mencium kening Laras. Setelahnya dia berjalan menuju sisi lainnya dan ikut berbaring dengan sang istri.
****************
Pukul 05.00 pagi seperti biasanya William akan bangun lebih awal. Dia langsung menuju ke kamar mandi untuk memuntahkan seluruh isi perutnya lagi. Hal ini sudah menjadi hal yang wajar bagi William semenjak Laras hamil. Seolah anaknya ingin dia yang mengalami morning sickness.
Laras terbangun saat mendengar suara gemericik air. Dia langsung menuju ke kamar mandi dan terlihat William yang masih muntah. Wanita itu membantu William dengan memijat tengkuk sang suami.
"Apa masih ingin muntah?" tanya Laras saat William sudah menghentikan acara muntahannya.
"Sepertinya sudah lebih baik, Sayang," jawab William dengan nada lemahnya.
"Maafin aku yah, Sayang. Seharusnya aku yang mengalami morning sickness-nya." Laras menundukkan kepalanya, menyesal.
"Tidak, Sayang. Mungkin anak kita ingin Daddy-nya yang merasakannya. Secara aku sudah menelantarkanmu tiga tahun yang lalu."
"Terima kasih, Sayang." Laras berjinjit hendak mencium suaminya tapi William menolaknya.
Laras tidak memaksa dan paham akan kekhawatiran suaminya. "Bersiaplah, Will. Aku akan menyiapkan bajumu." Laras mencuri cium di pipi suaminya.
Keluar dari kamar mandi, dia sudah mendapati setelan kantornya di atas kasur. William tersenyum saat segala fantasi tentang kehidupannya bersama Laras setelah menikah akhirnya terwujud. William benar-benar bersyukur memiliki istri seperti Laras.
"Aku akan selalu membuatmu tersenyum, Sayang," gumam William sembari menatap pantulannya di cermin.
Setelah dirasa rapi, William turun ke lantai bawah, mencari keberadaan sang istri. Di meja makan terlihat para jenderal dan Emily serta Ken sudah duduk di sana. William mengernyitkan keningnya saat tidak menemukan kehadiran istrinya di antara mereka.
"Apa kalian melihat, Laras?" tanya William.
"Kakak sedang di dapur, Kakak ipar." Emily yang menjawabnya.
William langsung berjalan ke dapur. Terlihat Laras yang sibuk memeriksa sarapan pagi. Lelaki itu tersenyum lalu berjalan mendekati sang istri.
"Jangan terlalu lelah, Sayang. Biarkan koki yang mengurusnya," ujar William sembari memeluk tubuh Laras dari belakang.
__ADS_1
"Ini sudah hal biasa yang Bunda Bella dan aku lakukan, Will. Duduklah di meja makan, sarapan sebentar lagi sudah siap." Laras melepas pelukan suaminya dan mendorong William untuk bergabung dengan orang-orangnya.
Karena tidak punya pilihan, akhirnya William mengikuti saran dari sang istri. Dia melangkahkan kakinya dan bergabung dengan para bawahan Laras. Siapa sangka, ternyata para bawahan Laras menyambut dia layaknya menyambut sang Bos. William dibuat jadi kikuk sendiri.
"Selamat pagi, Tuan," sapa keempat jenderal Laras pada William.
"Ah, iya selamat pagi juga," jawab William canggung.
Pasalnya keempat jenderal Laras ini adalah orang yang siap maju ke depan untuk melindungi sang Bos. Bahkan, mereka tidak segan-segan jika harus membunuh orang di tempat saat itu juga. Dedikasi mereka berempat tidak perlu diragukan lagi.
Tak lama, Laras dengan beberapa pelayan masuk ke ruang makan. Mereka membawa beberapa troli yang berisi menu sarapan pagi. Laras berdiri di samping William dan tersenyum.
"Berdirilah, Sayang," pinta Laras kepada William.
Melalui matanya William memberi kode, menanyakan rencana sang istri. Sayangnya Laras hanya tersenyum saja, mengabaikan kode dari suaminya. William yang tidak ingin membuat malu dirinya sendiri, memilih untuk menuruti kemauan Laras.
"Ken, mendekatlah!" pinta Laras kali ini kepada sang tangan kanan.
Seperti biasa, Ken langsung beranjak dari kursinya. Dia berjalan mendekati Laras. Posisi kali ini Laras diapit oleh William dan Ken.
"Seperti yang kalian tahu, Ayah sudah pergi meninggalkan kita. Kepemimpinan mafia Arlington sepenuhnya berada di bawah kendaliku. Akan tetapi, dibalik kabar yang kesedihan itu, ada kabar bahagia yang ikut serta. Sekarang di sini tumbuh penerusku," ujar Laras sembari mengelus perutnya yang masih rata.
Mendengar itu, para jenderal mengucapkan selamat dan bertepuk tangan atas kabar bahagia sang Bos. Laras menatap William dan Ken bergantian. Dia tersenyum penuh arti.
"Ada kabar berikutnya. Mulai hari ini kepemimpinan mafia Arlington aku serahkan pada sepupuku, Ken Lian."
"APA?" Keempat jenderal Arlington terkejut begitu juga dengan Ken sendiri.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
@hana_ryuuga