
"Steve Arlington menghubungiku menggunakan ponsel Ayah." Laras sengaja menyebut nama Steve lengkap dan sedikit memberikan penekanan di setiap suku katanya.
Ken terhentak kaget. Kali ini dia benar-benar dibuat terkejut. Lelaki itu tidak menyangka bahwa Steve akan membongkar jati dirinya secepat ini. Sebenarnya, apa yang direncanakan oleh Steve?
"JAWAB KEN!" Bentakan Laras sukses membuat Ken sadar dari lamunannya.
"Apa yang Steve katakan?" tanya Ken.
"Dia yang membunuh Ayah dan kamu ada di sana sebagai saksi bisu tragedi tersebut!" Laras menatap Ken dengan tatapan tajamnya.
"Iya, benar." Jawaban Ken begitu singkat tanpa bantahan sedikitpun.
"SIALAN! Kenapa tidak langsung membunuh Steve! Apa kamu bodoh, hah! Apa otakmu sudah tumpul karena sebuah cinta dengan wanita itu? Mana dedikasimu terhadap organisasi, brengsek!" Meledak lah amarah Laras dan rasa kekecewaannya.
"IYA SEMUA ITU BENAR! AKU BODOH! AKU TOLOL! AKU TIDAK BISA BERBUAT APAPUN LAGI! AK—"
Set!
Sebuah pisau mini melayang di udara dan terjatuh di lantai saat membentur dinding di belakang Ken. William terkejut saat melihat Laras yang tanpa aba-aba melempar pisau mininya. Pisau itu tepat mengenai lengan kiri Ken. Garis lurus secara horizontal tercipta dan aliran darah keluar dari sana.
Laras beranjak dari kursinya. Ken tahu saat ini Laras sudah menjadi malaikat pencabut nyawa. Wanita itu akan bermain dengan seorang Ken, orang nomor satu yang dipercayai oleh Laras. Tapi, Ken merusak kepercayaan sang wanita begitu saja. Pantas saja Laras marah.
Ken tidak bergeming dari tempatnya. Dia tetap berdiri di tempat semula dengan gagahnya. Walaupun tangan kirinya mulai terasa nyeri, sepertinya Laras tepat mengenai saraf hingga terasa sekali sakitnya.
"Apa kamu tahu yang akan terjadi selanjutnya?" tanya Laras dengan tatapan tajam dan membunuhnya. Wanita itu lupa jika di dalam ruangan bukan hanya ada mereka berdua.
"Iya. Lakukan sesukamu. Lampiaskan semua kemarahanmu padaku dan jangan dipendam, Ras. Aku tahu kamu kecewa padaku, tapi aku tidak bisa berkutik saat Paman memintaku untuk tetap bungkam."
"Apa kamu melupakan bahwa dirimu adalah orang kepercayaanku?" tanya Laras lagi semakin mendekatkan dirinya.
"Tidak dan karena itulah Paman memilih jalan ini sebagai aku perantaranya. Aku sudah berulang kali meyakinkan Paman untuk tidak melakukan hal gila itu. Tapi, Paman adalah Paman yang memiliki sifat keras kepala sama sepertimu." Ken menghentikan ucapannya saat denyutan di tangan kirinya semakin menjadi.
"Lalu kamu diam saja dan mengkhianatiku, begitu?"
Jleb!
Laras mengeluarkan pisau mininya yang lain lalu menancapkan tepat di lengan kiri Ken. Darah segar mulai merembes keluar, membasahi ujung bilah pisau. Ken mengernyitkan keningnya saat Laras semakin memperdalam tusukannya.
__ADS_1
"Aku suka ekspresinya itu, Ken. Aku sangat suka melihat ekspresi kesakitan dari seorang pengkhianat!"
Laras mencabut pisaunya dan menatap Ken dengan pandangan membunuh. Jika tidak ingat bahwa di hadapannya saat ini adalah seorang Ken Lian, sudah pasti Laras akan lepas kendali. Laras ingin memberikan satu kali lagi tusukan untuk Ken tapi seseorang menahan pergelangan tangannya.
"Sudah cukup, Sayang. Kasihan anak kita jika harus kehilangan uncle-nya. Aku tidak mau kamu menjadi pembunuh saat sedang hamil. Oke?"
Laras menatap William yang berani menghentikannya. Ken sendiri juga terkejut dengan keberanian William menghentikan Laras.
"Kamu berani?" tanya William dengan nada dinginnya.
"Jika kamu berani menghentikan paranoid-ku, maka aku juga berani menghentikan kegilaanmu itu." William masih menahan tangan Laras yang terus berontak, meminta untuk dilepaskan.
"Setidaknya biarkan aku menggores wajahnya yang menyebalkan itu! Lepaskan, William!" bentak Laras begitu frustasi karena cengkeraman William semakin kuat.
"Tidak! Kamu semakin menambah bebanku kalau begitu. Bayangkan saja wajahnya yang rusak, pasti tidak ada wanita yang mau mendekatinya." William memberikan kode pada Ken untuk kabur dari ruangan itu selama dia mengalihkan perhatian Laras.
"Lepaskan, Will! Atau aku bunuh kamu!" ancam Laras.
"Silakan saja jika kamu ingin membunuh Daddy dari anakmu!" William benar-benar tidak mau kalah kali ini.
Mendengar itu membuat Laras terdiam. Dia tahu, William hanya ingin mengalihkan perhatiannya dari Ken. Dia juga tahu bahwa Ken mengabaikan kode dari William. Hal itu membuat Laras kembali mengangkat sudut bibirnya ke atas.
"Karena aku harus menebus kesalahanku. Seperti yang Paman Daniel ajarkan padaku beberapa jam yang lalu." Jawaban Ken membuat hati Laras tercubit.
Bagaimanapun buruknya seorang Ken, Laras tetap mempercayai pria itu. Bahkan jika Ken berbohong demi kebaikannya, Laras tanpa pikir panjang akan percaya. Tapi kali ini, Ken tidak ingin berbohong.
Setelah itu, mengalirlah cerita dari awal sebuah dendam Steve terbentuk. Dendam antara ayahnya yang merupakan Paman dari seorang Daniel Arlington. Paman yang telah mengajarkan Daniel dunia hitam hingga menjadi pemimpin yang ditakuti.
Sayangnya, sang Paman yang gila harta tidak terima saat Daniel ditunjuk sebagai ahli waris Arlington. Hingga sebuah konspirasi diciptakan oleh sang Paman untuk Daniel. Puluhan tahun kemudian, sebuah fakta mengejutkan.
Daniel mengetahui bahwa semua yang terjadi dalam hidupnya adalah perbuatan sang Paman. Mereka terlibat pertempuran satu lawan satu. Di mana, saat itu sang Paman kalah dan meninggal di tangan Daniel.
"Sialan! Brengsek! Fvck!" umpat Laras tak terkendali lagi.
"Apa kamu ingat dengan tender yang dilakukan di Indonesia? Dialah Steve Arlington." Ken memberitahu sosok Steve Arlington membuat Laras menatap tak percaya.
"Kamu?" Laras melotot ke arah Ken, dia tidak percaya bahwa Ken akan membodohinya sejauh ini.
__ADS_1
"Tidak. Aku baru mengetahuinya kemarin saat berhadapan langsung dengan dia."
Seolah mengerti apa yang ada dipikiran Laras, Ken menyanggahnya. Sejatinya memang dia baru mengetahui sosok Steve Arlington kemarin. Laras mencari kebohongan di mata Ken tapi dia tidak menemukannya.
"Bacalah surat itu. Aku tidak bisa menenangkan pikiranmu, begitu juga dengan William. Maka dari itu, Paman sudah menulis surat untuk menenangkanmu. Apapun keputusanmu setelah ini, aku akan mendukungnya. Balas dendam ataupun tidak, semua keputusan ada di tanganmu."
Setelah mengatakan hal tersebut, Ken keluar dari ruangan sang Paman. Dia berjalan menuju kamarnya, lalu menghubungi Alex, asisten pribadinya.
Sedangkan Laras langsung menepis genggaman William dan keluar dari ruangan. Melangkahkan kakinya menuju kamar di lantai dua lalu menangis sejadi-jadinya. William mengambil sebuah amplop yang terdapat noda darah di atasnya. Dia membawa amplop itu bersamanya.
****************
"Will … William," panggil Laras saat melihat suaminya malah melamun bukannya menjawab pertanyaannya.
"Iya Sayang, ada apa?" tanya William yang tersentak kaget.
"Kok ada apa sih. Aku tanya, apa aku terlalu berlebihan pada Ken?" tanya Laras mengulang kembali pertanyaannya.
"Menurutku itu hal yang wajar untuk menghukum bawahan yang berkhianat. Hanya saja, kamu terlalu gegabah dalam hal ini. Setidaknya tenangkan pikiran dulu dan dengarkan penjelasan Ken." William menatap sang istri yang terlihat tenang itu.
William melanjutkan kembali memberi jawabannya. "Aku tidak tahu bagaimana cara berpikir mafia Arlington. Aku hanya mempelajari pola pikir mafia klan Naga Langit milik Paman Nikolai. Setidaknya setiap organisasi pasti memiliki visi dan misi serta hukuman dan penghargaan tersendiri."
Laras menganggukkan kepalanya mengerti dan membenarkan penjabaran William. Dia mulai paham dan merasa bersalah pada Ken.
"Aku akan menemui Ken," ujar Laras beranjak dari tidurannya.
"Jangan!" William melarangnya.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
@hana_ryuuga