
Waktu berlalu begitu cepat. Sudah lima bulan berlalu. Semua tampak biasa saja dan berjalan lancar. Tidak ada perubahan yang signifikan, hanya saja perut Laras yang sudah membuncit. Jangan lupakan juga drama morning sickness masih berlanjut hingga detik ini.
William terbangun dari tidurnya saat tiba-tiba dorongan alamiah yang biasa dialami ibu hamil menyerangnya. Dia langsung berlari menuju kamar mandi dan mulai melakukan ritual morning sickness-nya.
Ya. Selama Laras hamil gejala ibu hamil dilimpahkan pada William. Sepertinya bayi mereka tidak ingin melihat Laras menderita. William menatap pantulan wajahnya yang tetap saja tampan walaupun selesai muntah.
"Mari kita lihat tiga bulan lagi seperti apa anakku," gumam William pada dirinya sendiri yang sudah tidak sabar menanti kehadiran buah hati mereka.
William keluar dari kamar dan mencari sosok Laras di dapur. Benar saja, wanita itu sedang memasak bersama dua pelayannya. Empat bulan yang lalu mereka memutuskan untuk tinggal bersama di rumah William.
Berdasarkan keputusan bersama dengan Emily, Laras menjual mansion Arlington yang ada di LA. Dia juga menjual penthousenya yang berada di Lunar City. Sedangkan mansion Arlington yang ada di Lunar City masih tetap ada untuk Emily.
Dua pelayan yang menyadari kehadiran William segera membungkuk hormat lalu meninggalkan dapur. Mereka langsung sadar untuk memberikan privasi kepada dua majikannya.
"Selamat pagi, Mommy," sapa William sambil memeluk Laras dari belakang.
Laras menolehkan kepalanya dan tersenyum, "Selamat pagi juga, Daddy."
Cup!
Laras langsung memberikan ciuman selamat paginya. Bagi William hal itu wajib karena bisa menambah vitamin dalam tubuhnya. Laras yang waktu itu mendengar alasan suaminya malah tertawa lepas. William masih sama seperti dulu, manja, lucu, dan selalu menuruti permintaannya. Bedanya, pria itu sudah bisa menahan paranoid-nya.
"Em … kamu masih morning sickness, Sayang?" tanya Laras saat merasakan aroma tak sedap dari mulut suaminya.
"Ya, sepertinya anak kita ingin menyiksa Daddy-nya," jawab William sambil mengelus perut buncit sang istri.
Dug! Dug!
"Astaga!" William dan Laras kaget secara bersamaan.
Laras mematikan nyala api pada kompornya. Dia berbalik dan menatap William yang masih memegang pertunya itu. Kedua mata calon orang tua baru itu berbinar penuh kebahagiaan. Baru kali ini mereka merasakan pergerakan dari anaknya.
"Hei baby, apa kamu bisa mendengar Mommy dan Daddy?" tanya William berharap ada jawaban dan benar saja, bayi dalam kandungan Laras kembali bergerak.
"Will, anak kita!" seru Laras begitu bahagia. Entahlah, wanita itu bingung bagaimana cara mengekspresikan kebahagiaannya saat ini.
__ADS_1
"Nanti kita periksa ke dokter yah, Sayang. Aku sudah tidak sabar melihatnya," ajak William yang langsung disetujui oleh Laras.
"Mandilah dulu, Sayang. Aku akan menyelesaikan membuat sarapan kita."
William langsung melangkahkan kakinya menuju kamar setelah sebelumnya mencium kening dan bibir sang istri. Sedangkan Laras yang mendapatkan serangan tiba-tiba hanya menggelengkan kepalanya saja. Dia kembali mengelus perutnya yang buncit itu.
"Nah, Baby Al ayo kita buat sarapan pagi untuk Daddy mu, Nak."
Seolah mendengar dan mengerti apa yang dimaksud Laras, Baby Al kembali memberikan jawaban dengan menendang perut Laras. Hal itu membuat Laras tersenyum penuh kebahagiaan.
Laras memanggil dua pelayan untuk menghidangkan menu sarapan pagi di meja makan. Dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar untuk memeriksa kondisi suaminya. Benar saja, sudah Laras duga William pasti akan kesulitan memakai dasinya.
Setiap hari selalu seperti ini dan sudah menjadi rutinitas Laras. Wanita itu mendekati William dan mulai membantu memasangkan dasinya.
"Sudah membuat janji temu dengan dokter kita?" tanya William.
"Belum, nanti saja saat tiba di kantor. Aku harus memimpin rapat dengan para investor Arlington Group. Setelah rapat baru aku bisa membuat janji temu. Apa Daddy tidak masalah?" jelas dan tanya Laras.
"Tidak masalah. Kapan pun itu aku selalu bisa. Biar urusan kantor aku serahkan ke Kak Rama saja," ujar William.
William dan Laras akhirnya keluar dari kamar dan menikmati sarapan mereka. Setelah itu, William akan mengantar Laras menuju Arlington Group. Itu sudah menjadi tugas wajib pria itu mengantar Laras pergi ke perusahaan. Walaupun aset Laras 80% dipindah atas nama William, tetap saja Laras menjalankan Arlington Group.
"Nanti mau Daddy jemput jam berapa?" tanya William sebelum Laras keluar dari mobil.
"Nanti Mommy kabari dulu."
Setelah memberikan ciuman selamat tinggal, Laras keluar dari mobil suaminya. Dia langsung disambut oleh Lea dan sekretarisnya. Mereka melaporkan keadaan terkini kepada Laras sambil berjalan.
"Cleo, berikan dokumennya!" pinta Laras.
Cleo, sekretarisnya memberikan sebuah amplop yang berisi dokumen yang akan dirapatkan. Laras terus saja melangkahkan kakinya sambil mempelajari dokumennya.
"Lea, buat janji temu dengan dokterku setelah rapat selesai." Laras menatap Lea yang berada di samping kanannya.
"Baik, Nyonya."
__ADS_1
"Cleo, suruh tim bagian humas menyelesaikan masalah yang terjadi. Lalu, suruh Mawar untuk memimpin rapat kali ini," perintah Laras setelah mempelajari dokumennya.
"Apa Anda tidak akan ikut rapat?" tanya Cleo.
"Aku akan di ruang rapat sekitar 30 menit. Perintahkan Mawar untuk membahas hal pokok selama itu. Suruh juga Rangga untuk menyelesaikan masalah dengan model kita."
"Baik, Nyonya."
Setelah menerima dokumennya kembali, Cleo langsung menuju ke ruang rapat. Dia menyampaikan semua perintah Laras pada Mawar. Dia juga menghubungi Rangga untuk menyelesaikan masalah dengan para model.
Lea tetap berada di samping Laras, mengikuti ke manapun sang bos pergi. "Nyonya, dokter hari ini bisa memiliki waktu kapan pun yang Anda inginkan."
"Atur setelah rapat selesai. Setelah itu, kita akan ke perusahaan William. Pastikan kamu tidak memberitahukan pada Rama tentang kunjungan kita." Laras memperingati Lea.
"Baik, Nyonya."
Setelahnya Laras masuk ke dalam ruang rapat. Di sana yang hadir baru beberapa orang saja karena memang Laras sengaja untuk datang lebih awal. Dia ingin melihat investor mana yang datang terlambat. Sudah beberapa bulan belakangan ini William melarang Laras untuk datang kantor.
Alasan William menyuruh Laras bekerja dari rumah untuk mengantisipasi serangan dari Rizzo. Dia tidak mau istri tercintanya mendapatkan serangan dadakan lagi. Bahkan, pria itu menambah bodyguard yang mengikuti Laras.
Awalnya Laras menolak karena itu sudah berlebihan. Cukup Lea yang berada di sampingnya semua akan aman terkendali. Asisten Laras itu sudah merupakan paket komplit yang serba bisa. Demi kebaikan bersama, akhirnya Laras mengalah karena tidak mau paranoid suaminya kambuh.
Laras tersenyum saat para investornya benar-benar menghargai waktu. Mereka datang tepat waktu. Laras memberikan kode kepada Cleo untuk segera memulai rapatnya. Seperti instruksi yang disampaikan sang Bos, Mawar mulai memimpin rapat bulanan itu.
"Lea, hubungi dokter kalau 30 menit lagi akan datang," bisik Laras di tengah-tengah rapatnya.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
@hana_ryuuga