
Meyrin memijat pangkal hidungnya. Sesuatu yang terasa berat dan gelenyar aneh itu merasuki tubuhnya saat berdekatan dengan William. Bukan cinta tapi lebih ke perasaan ingin memiliki pria itu seutuhnya.
Keningnya berkerut tak percaya, mungkinkah dirinya terobsesi pada William hingga membuatnya menjadi posesif? Astaga! Bagaimana bisa dirinya berubah menjadi wanita liar jika bersama William.
Kerutan di keningnya semakin kentara dan itu membuat Lea yang duduk di sampingnya waspada. Semua ekspresi yang tergambar di wajah nona mudanya tak luput dari perhatian seorang Lea.
"Nona, kita sudah sampai," ujar pengawal yang duduk di samping kursi kemudi.
Meyrin tersentak kaget dan hanya menjawab dengan anggukan kepala. Pengawal yang menjadi sopir segera keluar dan membukakan pintu belakang. Meyrin segera keluar dan berjalan masuk ke Harry's Bar.
Di depan pintu masuk ada seorang pria Eropa dengan tubuh tinggi dan badan yang berotot. Senyum manis pria itu tampilkan saat melihat Meyrin. Pria itu berjalan menyambut kehadiran pemilik Arlington Group.
"Selamat datang di Harry's Bar milikku, Nona Meyrin," sambut pria itu dengan mengulurkan tangannya.
"Terima kasih sambutannya, Paman Aite." Meyrin menyambut uluran tangan Aite.
"Mari masuk ke lantai dua. Aku sudah menyiapkan ruangan khusus," ajak Aite dan memandu bos kecilnya.
Meyrin berjalan masuk mengikuti setiap langkah Aite. Beberapa pengunjung bahkan pegawai bar menatap Meyrin dengan pandangan terpesona. Aite yang melihat itu tersenyum kecil.
"Ternyata pesona Nona Meyrin tidak ada tandingannya. Sudah seharusnya nona bersembunyi dari pria hidung belakang yang tatapannya seperti singa kelaparan," ucap Aite tanpa rasa takut.
"Termasuk Paman Aite," sindir Meyrin.
"Itu dulu, Nona. Kalau sekarang sudah seperti bos kecil yang manja pada pamannya, hahaha," sahut Aite dengan tawa berderai.
"Cih, dasar laki-laki bebas." Meyrin menggerutu sembari langkahnya menaiki anak tangga.
"Bebas itu kebahagiaan seorang lelaki, Nona. Pasti Tuan Plowden sekarang sedang menikmati kebebasannya." Aite membuka sebuah pintu ruangan.
"Maaf menyela, tapi saat ini Nona Meyrin dan Tuan Plowden sedang melakukan perjalanan bisnis di Venesia bersama. Bisa dibilang mereka sedang honeymoon." Lea ikut dalam obrolan.
"Hahaha … Daniel benar-benar selalu membuatku terkejut. Aku tidak habis pikir dengan isi otak ayahmu itu, Nona." Aite menarik kursi untuk Meyrin.
"Paman Aite yang sahabatnya saja tidak mengerti, apalagi aku sebagai anaknya. Bayangkan saja bagaimana kehidupanku selama dua bulan disini bersama William. Paman tahu? Kita satu ruangan, satu kamar, dan satu ranjang juga. Apa coba mau ayah!" adu Meyrin dengan wajah menggemaskannya.
"Nikmati saja, Nona. Siapa tahu kalian bisa rujuk kembali. Bagi kita berempat, hanya Joker yang tidak setuju Nona dengan Tuan Plowden. Pria itu lebih memilih Nona dengan Tuan Jack, walaupun kita tidak tahu seperti apa rupa Tuan Jack."
"Kalian benar-benar gila! Kalian pikir aku wanita apaan!" sungut Meyrin kesal.
"Tapi Nona, Joker ada benarnya juga. Jack dan Nona kalau sudah berada di medan pertempuran itu seperti pasangan kekasih yang saling melindungi dan berkorban. Kalian itu seperti singa kelaparan dengan mata tajamnya siap menerkam siapa yang berani mengganggu."
__ADS_1
"Perumpamaan macam apa itu. Sungguh menggelikan!" Meyrin menggeleng-gelengkan kepalanya dan Aite kembali tertawa.
Beberapa pelayan masuk ke dalam ruangan dengan dua troli menu makan malam. Menu yang sangat lengkap, dari appetizer, main course dan terakhir adalah dessert. Dua orang pelayan menata semua hidangan itu di atas meja sesuai dengan urutannya.
Setelah selesai, mereka memberi hormat kepada Aite dan Meyrin kemudian keluar dari ruangan tersebut.
"Lea! Bergabunglah dengan kita!" pinta Meyrin dan Lea hanya menganggukkan kepalanya.
Aite yang melihat itu sudah terbiasa. Bagi Meyrin, Lea bukan hanya asisten pribadinya atau bodyguard andalannya. Lea bagi seorang Meyrin mempunyai arti khusus, wanita itulah yang menjadi tempat semua keluh kesah seorang Meyrin tersimpan.
Jika ingin mengetahui sisi gelap dan informasi pribadi seorang Liu Meyrin, cukup culik saja Lea. Sayangnya, Lea bukan wanita lemah dan sampai sekarang tidak ada yang berani menyinggung Lea apalagi Meyrin.
Mereka bertiga akhirnya menikmati makan malam bersama. Pengawal Aite semuanya berada di luar pintu ruangan. Berjaga agar tidak ada yang mengganggu waktu privasi tuannya.
****************
"Jadi, apa yang ingin Nona bahas dengan saya?" tanya Aite.
Saat ini mereka sedang berada di meja bartender menikmati campuran minuman beralkohol. Sedangkan Meyrin memilih jus jeruk mix mangga kesukaannya.
"Apa Jack sudah menghubungi, Paman?" bukannya jawaban yang didapat, Meyrin bertanya balik ke Aite.
Benar saja, tak berapa lama seorang pria dengan mata hazelnya masuk ke dalam ruangan. Pria itu membungkuk hormat kepada Aite dan Meyrin. Setelahnya berjalan ke arah Aite dan menyerahkan sebuah map. Aite memberikan map itu kepada Meyrin.
"Bukalah!" perintah Aite.
Meyrin langsung membukanya. Dia membaca lembar per lembar dari kertas yang berisi laporan itu. Salah satu sudut bibirnya terangkat setelah membaca laporan itu.
"Apa isinya, Nona?" tanya Lea penasaran.
"Musuh lama. Sepertinya seseorang tahu kalau aku sedang bersama William," jawab Meyrin dengan senyum liciknya.
"Jadi, apa kita langsung berperang?" tanya Aite semangat.
"Tidak Paman! Aku akan memberi perintah kepada Jack untuk memeriksa sesuatu."
"Tapi jika ki—"
"Tenanglah Paman! Sebuah rencana sudah tersusun di otakku."
"Nona, musuh lama bisa menjadi bumerang jika kita tidak bertindak lebih dulu," saran Aite.
__ADS_1
"Aku dan Jack sudah menemukan kelemahan dia, Paman. Jadi, selama kita memegang kelemahan musuh, semua bisa diatasi." Meyrin tersenyum jahat.
****************
Meyrin keluar dari Harry's Bar bersama Lea. Sesuatu dalam tubuhnya ada yang salah. Meyrin mengerjap-ngerjapkan matanya saat dia mulai kehilangan fokusnya. Dua pengawal itu membukakan pintu untuk nona mudanya dan sang asisten.
"Langsung ke hotel!" perintah Meyrin yang langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil.
Kepalanya terasa berat dan pening. Meyrin memejamkan kedua matanya, mencoba untuk tidur. Lea hanya mengamati tingkah nona mudanya yang terlihat aneh.
"Nona baik-baik saja?" tanya Lea.
"Aku ingin tidur," jawab lirih Meyrin.
Meyrin benar-benar tertidur di dalam mobil. Mungkin karena jadwalnya yang terlalu padat hari ini, membuat wanita itu terlihat kelelahan. Lea mencoba membangunkan Meyrin dan langsung berhasil.
"Fvck!" umpat Meyrin tiba-tiba.
Lea terkejut sedangkan dua orang pengawal itu mulai ketakutan dengan aura big bosnya.
"Hubungi Paman Aite dan suruh kirim obat penawarnya! Sialan! Brengsek!" perintah Meyrin diikuti umpatan-umpatan yang tak layak di dengar.
Meyrin langsung menuju kamar hotelnya. Dia tidak peduli dengan orang sekitar atau para staf yang melihatnya. Meyrin sadar bahwa penampilannya saat ini berantakan karena pengaruh obat afrodisiak.
Saat Meyrin memejamkan matanya mencoba untuk tidur, itu berlaku hanya sekitar 15 menit. Setelahnya dia berusaha menenangkan pikirannya agar tetap fokus. Dia baru sadar jika tubuhnya mengalami gejala orang terkena pengaruh obat afrodisiak.
Meyrin menempelkan kartu kuncinya, setelahnya dia langsung masuk ke kamarnya. Dia melempar tas dan ponselnya ke tengah ranjang. Lalu, dilepasnya jaket dan celana kulit panjangnya. Tersisa tank top dan kain segitiga berwarna merah.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya seseorang.
Nah, udah tahu kan siapa orang itu?
.
.
.
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga
__ADS_1