OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 43 AKU TIDAK MERINDUKANNYA


__ADS_3

"Hahahaha!"


Meyrin dan Ken tertawa terbahak-bahak. Apalagi saat mereka berdua mengingat wajah konyol kedua pengikut setia seorang Daniel Arlington.i


"Kamu lihat wajah mereka berdua tadi, astaga! Rasanya aku ingin ketawa saat itu juga," ujar Meyrin.


"Dan kamu seperti artis pemeran utama. Akting yang sungguh sempurna," puji Ken.


"Sepertinya aku cocok jadi artis yah, hahaha."


****************


"Apa yang aneh, Joker?" tanya Aite kembali duduk di samping Joker.


"Bukankah kita baru saja berjanji, kenapa isi surat ini seperti sudah disiapkan dari awal?" ujar Joker bertanya-tanya.


"Bukankah itu artinya mereka menggiring kita untuk mengatakan sesuai isi dari surat ini?" Aite langsung paham maksud Joker.


"Sialan! Mereka berhasil menipu kita," umpat Joker.


"Dasar Bos kecil yang licik. Dia memang pantas mendapatkan julukan wanita rubah kecil," Aite ikut mengumpat.


"Sepertinya kita harus patuh pada mereka jika ingin harta aman. Mereka benar-benar pasangan licik dan serasi," ucap Joker yang dijawab anggukan kepala Aite tanda setuju.


"Tapi aku tidak setuju. Bos kecil kita lebih cocok dengan Tuan Plowden," sanggah Aite.


"Kita tak pernah sepemikiran jika membahas soal pasangan Nona Bos. Sudahlah, jangan dilanjut, aku takut Tuan Jack memasang alat penyadap," Joker menghentikan obrolan mereka.


"Sayangnya aku sudah mendengar semuanya, Paman," ujar Meyrin yang berada di kamarnya.


Benar saja, Ken memasang alat penyadap saat pria itu fokus pada laptopnya tadi. Bahkan lelaki itu menghack sistem kontrol yang ada di mansion Aite tanpa diketahui oleh siapapun. Begitulah kehebatan seorang Ken Lian.


"Astaga! Matilah kita!" ucap Aite.


"Tapi tenang saja, karena kalian sudah mau berbagi kerugian, aku tidak akan mempermasalahkannya," ujar Meyrin.


"...." Aite dan Joker akhirnya bisa bernapas lega.


"Hanya saja, aku tidak suka ada yang berkomentar tentang hubungan pribadiku. Sekali lagi aku mendengarnya, siap-siap kalian kehilangan senjata yang ada di pangkal paha itu," ancam Meyrin yang langsung mematikan pengeras suaranya.


Aite dan Joker yang mendengar ancaman nona bosnya langsung melindungi senjata kebanggaannya di bawah sana. Kedua tangan saling menyilang untuk menutupi senjata masing-masing seperti bentuk perisai.


Mereka berdua sudah membayangkan Meyrin yang memotong bagian vital mereka dengan wajah menyeramkan. Sedangkan Meyrin dan Ken tertawa di dalam kamar saat melihat wajah Aite dan Joker yang ketakutan dan bergidik ngeri.

__ADS_1


"So, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Ken yang sudah melepas topengnya.


CCTV di kamar itu sudah Ken amankan. Jadi, tidak ada yang bisa melihat wajah aslinya. Meyrin terlentang, merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk.


"Apa Nona menginginkan sesuatu?" tanya Lea.


"Aku ingin … tidur," jawab Meyrin dengan nada rendah dan lirih di akhir kalimatnya.


Lea tersenyum saat nona mudanya langsung tertidur. Wanita kekar itu membantu Meyrin menarik selimut hingga sebatas leher.


"Dia kenapa?" tanya Ken pada Lea.


"Sepertinya Nona kelelahan. Sesampai di Venesia, jadwal Nona begitu padat bahkan ditambah permasalahan yang terjadi," jelas Lea sambil meletakkan tablet pil di atas nakas.


"Obat apa itu?" tanya Ken mendekati nakas dan mengambil tablet pil yang baru saja diletakkan oleh Lea.


"Pil kontrasepsi. Nona Meyrin akhir-akhir ini sering mengkonsumsinya," jawab Lea yang mulai menata pakaian Meyrin di walk in closet yang ada di dalam kamar.


"Apa William segila itu? Apa dia tidak berpikir tentang Juna?" Ken menatap Meyrin tak percaya.


Lea segera mencegah tangan Ken yang ingin menyentuh Meyrin. "Apa yang Tuan lakukan?"


"Tunggu sebentar."


Ken meletakkan tangannya di dahi Meyrin dan terkejut. "Panas sekali."


"Tidak perlu, Lea. Aku akan menghubungi sahabatku yang seorang dokter. Kamu kompres saja dulu Meyrin."


Ken langsung keluar dari kamar dan menghubungi sahabatnya. Dia memberi waktu 10 menit untuk sahabatnya tiba di mansion.


****************


Di belahan bumi Venesia lainnya terlihat William baru saja tiba di hotel. Di belakangnya ada Rama yang sedang memeriksa jadwal William. Sedangkan di belakang mereka berdua ada dua bodyguard utusan Nikolai Stevano.


Setelah mendengar terjadi penyerangan terhadap Walikota Venesia, Nikolai langsung bergerak. Pemimpin mafia klan Naga Langit itu menyuruh asisten pribadinya, Armand untuk menyelidiki dalang di belakang penyerangan tersebut.


Selain itu, Nikolai juga mengirim dua bodyguardnya jauh-jauh dari pulau Akasia menuju Venesia, Italia hanya untuk menjaga William. Pria itu sudah berjanji akan menjaga William dengan nyawanya. Janji antara dirinya dan Daddy William.


"Tuan, besok pukul 1 siang Anda ada kunjungan ke Doge's Palace bersama Walikota. Lalu pukul 5 dilanjut rapat dengan pemegang saham di Venesia. Setelah itu, Anda mendapat undangan dari aktris untuk makan malam di Burano." Rama melaporkan jadwal William untuk esok hari.


"Tolak untuk jadwal makan malam. Oya, apa ada info tentang Meyrin?"


"Tidak ada, Tuan. Apa perlu saya mintakan nomor pribadi Nona Meyrin?" tanya Rama.

__ADS_1


"Tidak perlu. Itu tidak penting. Serahkan dokumen yang harus aku periksa malam ini!" perintah William masuk ke dalam kamar.


"Maaf Tuan, tapi hari ini tidak ada dokumen yang harus diperiksa."


William menghentikan langkahnya dan berbalik. Pintu kamar kembali ditutupnya lagi.


"Kenapa tidak ada?" tanya William menatap curiga pada asistennya.


"Karena Tuan Muda sudah menyelesaikan semuanya tadi malam hingga dini hari. Apa Anda lupa?" Rama mengingatkan William yang rela lembur hanya untuk menyelesaikan dokumen perusahaan.


"Cih, kalian benar-benar bodoh. Memberikan aku beberapa dokumen yang tidak penting dan seperti sampah. Sekarang aku harus apa?" maki William.


"Itu 15 dokumen perusahaan yang Tuan kerjakan. Biasanya Tuan selalu protes jika dokumen yang harus diperiksa lebih dari 10. Apa jangan-jangan, Tuan merindukan Nona Meyrin dan menjadikan pekerjaan sebagai pelampiasannya?" gumam Rama sengaja membuat William sadar dengan tingkahnya.


"Jangan bodoh, Kak! Aku tidak merindukan Meyrin. Siapa juga yang merindukan wanita nakal itu! Walaupun aku sudah terbiasa tidur dengan ditemani dia. Sudahlah, sana pergi!" usir William mendorong Rama keluar dari kamar hotel.


****************


Meyrin yang sedang sakit langsung mendapatkan perawatan intensif dari Lea. Setelah seharian istirahat, Meyrin akhirnya membuka kedua matanya. Senyuman yang terlihat lemah saat melihat Lea dan Ken ada di sampingnya. Wanita itu ingin duduk tapi ditahan oleh Ken.


"Istirahat dulu saja," saran Ken.


"Bagaimana dengan masalah di gudang senjata?" tanya Meyrin setelah kembali dengan posisi rebahannya.


"Semua aman. Tinggal kita menyusun strategi untuk pembalasan. Paman Aite dan Joker sudah mentransfer ganti rugi sebesar yang tertera di kontrak," jelas Ken.


"Terima kasih," ucap Meyrin perlahan-lahan memejamkan kedua matanya.


"Tidurlah lagi, semua aman."


Meyrin hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dilihatnya wajah Ken dan Lea yang setia berada di sampingnya sebelum kegelapan menghampiri Meyrin. Wanita itu kembali tertidur karena efek dari obat yang diminumnya tadi.


Tiba-tiba ponsel Lea berdering, tertera nama Rama di sana. Lea segera permisi kepada Ken untuk mengangkat teleponnya. Wanita itu keluar dari kamar lalu menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Ada apa, Rama?" tanya Lea.


Buat apa Rama telepon Lea?


.


.


.

__ADS_1


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga


__ADS_2