
Meyrin harus mengabaikan suara-suara yang tidak penting. Fokusnya kali ini adalah waktu 30 menit dan William.
"Mey, dibalik pohon itu adalah rumah sakit jiwanya." Ken menjelaskan melalui earpiece-nya entah dari mana.
Meyrin saat ini tidak tahu posisi Ken, tapi dia bisa menyerahkan keselamatan Ken pada Alex. Pria itu walaupun terlihat polos dan lemah di luar, tapi instingnya sangat kuat. Bahkan untuk ukuran seorang pengawal pribadi, dia bisa menembak tepat sasaran lima kali berturut-turut.
Benar kata Ken, setelah pepohonan rimbun mereka langsung dihadapkan oleh bekas bangunan rumah sakit jiwa. Mereka menatap takjub pada bangunan yang walaupun usianya tua tapi tetap berdiri kokoh. Meyrin menundukkan kepalanya, menatap tanah pulau Poveglia yang menjadi tempat pembakaran penduduk penderita penyakit.
"Queen, tembak basoka di pintu utama sekarang!" perintah Meyrin.
Duaar!
Tidak perlu perintah dua kali, sebuah ledakan terdengar di depan pintu utama rumah sakit itu. Pintu yang sudah tua sudah hancur menjadi kepingan kayu. Saat asap mulai berkurang, Meyrin mengernyitkan keningnya saya tidak ada satupun pasukan musuh yang menyerang. Meyrin langsung menyadari sesuatu, mereka ingin mengulur waktu.
"Fvck! Mereka bermain-main denganku. Semua pasukan serang pintu utama! Queen jaga para pasukan yang menyerbu dari pasukan menara!" perintah Meyrin melalui earpiece-nya.
"Siap, Bos."
Setelah itu dari sisi kanan dan kiri bangunan muncul ratusan orang menyerbu masuk ke pintu utama. Benar saja, sebelum mereka tiba di pintu, masukan menara dan beberapa yang berada di lantai atas mulai menembak.
Pasukan Meyrin maju dan mulai menembak ke arah lantai dua dan menara. Suara desingan peluru mulai terdengar di langit malam yang cerah. Sinar rembulan menjadi saksi bisu pertempuran dua kubu. Saat pintu utama mulai lenggang, Meyrin maju ke depan.
Sesuai instruksi sang Bos tadi, Meyrin terus masuk ke dalam bangunan beserta para pasukannya. Suara adu tembak dan desingan senjata masih terdengar. Meyrin menatap keadaan sekitar di mana beberapa tembok yang sudah jebol. Beberapa ruangan yang sudah tidak berpintu dan berjendela terdapat ranjang pasien berkarat. Sepanjang koridor banyak ditumbuhi akar pepohonan yang menguasai areal.
"Jack, aku akan masuk lebih ke dalam. Jika kamu menemukan sesuatu segera lapor. Apa kamu tahu posisiku?"
"Shiit! Iya aku menemukan posisimu. Lurus saja, aku mendapat gangguan di sini. Berto menemukan lokasiku, sialan!" umpat Ken dengan napas yang terengah-engah.
"Katakan posisimu di mana?" tanya Meyrin.
"Aku berada di lantai paling atas agar posisi kalian bisa terpantau semuanya. Berto sialan—"
Dor! Dor!
Ken menghentikan ucapannya saat melihat musuh terus saja berdatangan. Sementara dirinya berfokus pada musuh di depan, Alex fokus pada musuh yang menyerang dari belakang tuannya.
__ADS_1
"Mey! Aku selesaikan di sini dulu. Berto sialan itu menemukan posisiku."
Setelah mengatakan hal itu, Ken mulai sibuk dengan pertarungannya sendiri. Dia harus menyelesaikan sebelum salah satu pasukannya menemukan posisi William dan Rizzo. Jangan bertanya bagaimana Ken dan Alex bisa sampai di lantai atas karena hanya mereka berdua yang bisa melakukannya.
Gerakan mereka berdua begitu senyap dan cepat hingga jika mereka berdua bertindak, musuh akan kesulitan mencari posisi keduanya. Itulah kelebihan seorang Alex yang bisa menyaingi kecepatan dan kesenyapan seorang Ken Lian.
"Di antara kalian yang ahli dalam penyusupan langsung menuju ke lantai atas untuk membantu Jack dan Alex." Meyrin mengeluarkan perintah dadakan untuk bala bantuan Ken.
"Baik, Bos."
Ada sekitar 12 orang keluar dari barisan pasukan Meyrin. Mereka mulai naik ke lantai atas melewati dinding samping. Tentu saja mereka membawa pistol untuk berjaga-jaga dari serangan dadakan.
"Queen, tetap bantu Jack hingga bantuan datang. Setelah itu masuklah bersama klan Naga Langit."
"Siap, Bos."
Meyrin yang berjalan di depan bersama dengan Lea mulai menyalakan lampu ponsel mereka. Ruangan kali ini gelap gulita, bahkan di lantai terdapat serpihan kaca dan paku yang berkarat terlewati begitu saja. Suara langkah kaki mereka terdengar begitu nyaring saat menginjak daun kering.
Suara nyanyian burung hantu menjadi musik yang mencekam di malam cerah ini. Sungguh sangat kontras sekali menambah adrenalin semakin terpicu. Banyak bangunan yang sudah runtuh di sana-sini. Lantai pertama tidak banyak musuh yang menyerang. Beberapa saja yang bersembunyi di sebuah ruangan dan menyerang secara tiba-tiba.
"Aakkh!" teriak Meyrin dan Lea bersamaan.
Sehebat apapun dan sekuat apapun, Meyrin dan Lea adalah seorang wanita. Mereka juga mempunyai rasa takut akan tempat ini. Apalagi suasana semakin menyeramkan saat mereka melangkah lebih jauh lagi.
"Rizzo sialan! Lihat saja! Aku akan membunuh dia di tempat ini," gerutu Meyrin dengan nada kesal.
"Mey, bantuan sudah datang. Maaf membuat kalian terkejut dengan tubuh barusan," ujar Ken dengan kurang ajarnya.
"Jack sialan! Queen apa kamu sudah bersama dengan Paman Nikolai?" tanya Meyrin.
"Yo Mey, aku sudah tiba melalui udara. Maaf sedikit terlambat karena tempat ini benar-benar menyeramkan," jawab Nikolai.
"Paman, masuklah bersama Queen dan yang lainnya. Bantu pasukanku yang menyebar untuk mencari keberadaan William."
"Oke."
__ADS_1
Meyrin dan pasukan kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju lantai dua. Di tengah perjalanan mereka menghentikan langkahnya karena ada lemari yang sudah usang menghalangi jalan. Di luar gedung terlihat banyaknya pohon liar yang tumbuh.
Berada di gedung yang gelap dan menyeramkan membuat napas Meyrin terasa sesak. Dia semakin kesal saat tidak ada tanda-tanda dari pasukannya yang menemukan posisi Rizzo.
"Meyrin, terus naik ke lantai dua. Berto ada di sana. Itu kemungkinan dia bersama dengan Rizzo dan William," seru Ken saat menemukan lokasi Berto tapi tidak jelas.
"Berapa waktu yang dibutuhkan untuk mencari mereka?" tanya Meyrin.
"15 menit tapi jika kalian berpencar bisa setengahnya," Ken mulai berasumsi dengan data-datanya.
"Berapa waktu yang telah terbuang?"
"25 menit. Aku masih belum menemukan titik pastinya. Ruangan dua begitu banyak lorong dan ruangan, sehingga Berto sialan itu dapat memanipulasi posisinya."
"Sisakan lima orang bersamaku, sisanya menyebar ke lantai dua!" perintah Meyrin langsung.
Meyrin sudah tiba di lorong lantai dua. Samping kanan dan kirinya banyak ruangan yang tampak menyeramkan. Ruangan-ruangan tersebut sama seperti di lantai satu, tidak ada jendela maupun pintu. Suara jeritan mulai kembali terdengar dan kali ini begitu jelas.
Tujuh orang termasuk Meyrin dan Lea menelan salivanya dengan susah payah. Tapi, tetap saja fokus mereka mencari keberadaan musuh dan sanderanya. Pikiran positif mereka jika ingin segera keluar dari pulau ini, maka harus menemukan lokasi Rizzo dan William.
"Meyrin! Terla—"
Dor! Dor!
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga
__ADS_1