OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 13 TEROR KAH?


__ADS_3

Pikiran yang mulai tenang, membuat Meyrin memejamkan kedua matanya. Dia ingin tidur walau sebentar. Hari ini banyak peristiwa yang terjadi, menguras semua emosinya. Hingga tiba-tiba terdengar suara teriakan.


Meyrin langsung tersentak dan terduduk, terbangun secara paksa dari tidur ayamnya. Dia langsung berhambur keluar kamar, mencari sumber suara teriakan tadi. Di depan kamarnya sudah ada Ken yang berdiri membelakanginya.


"Ada apa ini?" tanya Meyrin.


"Kakak," Emily berhambur ke pelukan Meyrin dan menangis ketakutan.


"Ada apa Lily?" Meyrin memeluk tubuh adik tirinya itu dengan perlindungan penuh.


Meyrin menatap Ken dan yang ditatap memberikan kode untuk memeriksa sendiri masuk ke dalam kamar Emily. Meyrin menganggukkan kepalanya, mengerti. Meyrin menepuk-nepuk punggung Emily berusaha menenangkan adiknya.


"Ayo masuk ke kamar kakak dulu." Meyrin menuntun Emily masuk ke dalam kamarnya.


Meyrin membantu sang adik untuk duduk di atas ranjang queen size nya. Saat Meyrin hendak beranjak, Emily menahannya.


"It's oke. Kamu aman di kamar kakak. Kakak keluar sebentar dulu yah," ucap Meyrin sambil melepas genggaman tangan Emily, tapi adiknya itu tak mau melepaskannya.


"Jangan lama-lama, Kak. Emily takut."


"Pasti."


Setelah mengatakan itu Emily melepaskan genggaman tangannya di baju Meyrin. Meyrin langsung keluar dari kamar dan memerintahkan untuk dua pengawal menjaga kamarnya. Sedangkan dia masuk ke kamar Emily.


Disana, di tengah ruangan sudah ada Ken yang sedang menunggu Meyrin. Langkah yang mantap, dia berjalan mendekati pria itu. Meyrin mengernyitkan keningnya saat melihat pandangan Ken fokus akan sesuatu. Wanita itu mengikuti arah pandang Ken hingga manik hitamnya menangkap sesuatu.


"Astaga!" pekik Meyrin, membulatkan kedua matanya sempurna.


Meyrin mendekati ranjang dan mengambil sesuatu yang membuatnya terkejut. Sebuah kotak hitam yang diletakkan di tengah ranjang. Bukan masalah kotaknya, tapi isi dalam kotak itu yang membuat Meyrin terkejut.


Sebuah kotak besar berwarna hitam dengan pita merah. Di dalam kotak itu berisi gaun pesta warna hitam yang terlihat begitu mewah. Kerutan di kening Meyrin terlihat semakin jelas saat membaca sebuah pesan disana. Tidak banyak yang tertulis, hanya dua kalimat, tapi itu mengandung makna yang denotatif.


Kamu adalah dewiku. Aku akan selalu mencintaimu.


Begitulah yang tertulis di secarik kertas putih dengan tinta merah. Meyrin menatap Ken yang dijawab gelengan kepala.


"Apa yang terjadi?" tanya Meyrin.


"Aku tunjukkan padamu." Ken berjalan menuju sofa, disana sudah ada laptopnya.


"Penthouse mu dibobol. Sayangnya aku tidak bisa menemukan siapa pelakunya," jelas Ken.


"Tidak ada yang bisa membobol penthouse. Sistem keamanan disini bahkan dibuat secara khusus," bantah Meyrin.


"Justru karena itu. Pelaku ini sepertinya sudah paham tentang seluk beluk penthouse mu. Selain itu, pelaku mematikan semua CCTV yang ada di dalam penthouse. Bahkan letak setiap sudut CCTV si pelaku sangat paham betul." Ken menunjukkan suatu gambar pada laptopnya.


"Itu artinya, pelaku adalah orang kita?" Meyrin mulai berasumsi.

__ADS_1


"Bisa jadi, tapi jika memang itu yang terjadi maka dia mempunyai nyali yang besar untuk menghadapi kita."


"Atau dia disuruh orang lain untuk melakukannya dengan bayaran yang tinggi."


"Bisa juga, karena pelaku mempunyai obsesi pada Emily,"


"Apa kamu tidak menemukan setitik petunjuk, Ken?"


"Coba kamu perhatikan ini!" Ken menunjuk laptopnya yang sedang memutar sebuah rekaman video.


"Ini adalah rekaman video CCTV yang aku dapatkan di basement. Seseorang baru saja keluar dari lift pribadi penthouse menuju basement. Ini sudah menguatkan jika pelaku adalah salah satu dari kita." Ken melanjutkan penjelasannya dengan membeberkan fakta yang ada.


"Kenapa mereka tidak bisa membiarkan aku tenang sedikit sih," gerutu Meyrin.


"Karena kita adalah Arlington. Musuh kita dimana-mana Mey."


"Aku capek Ken. Ingin rasanya keluar dari circle hitam ini." Meyrin menghembuskan nafas panjangnya, menangkupkan kedua tangan pada wajahnya.


Ken yang mengerti bagaimana posisi Meyrin hanya bisa memberikan pelukan semangat. Dia tahu wanita ini di luarnya saja begitu tegas, disiplin, dan bossy. Tapi, di dalam tetap saja dia seorang wanita yang rapuh, wanita yang butuh perlindungan.


"Ken, simpan kotak ini dan berikan tanggal diterimanya." Meyrin melepaskan pelukan Ken sembari memberikan perintahnya.


"Kenapa harus disimpan?"


"Dia akan mengirim hadiahnya lagi. Anggap saja dia sedang meneror Emily dengan bualan manisnya itu."


Dua orang pengawal memberi hormat saat Meyrin membuka pintu kamarnya. Dia berjalan ke walk in closetnya dan berganti baju. Dilihatnya Emily sudah tidur dengan lelapnya. Meyrin mengelus rambut pirang sang adik lalu berjalan ke sisi yang lainnya.


Saat Meyrin hendak memejamkan matanya, tiba-tiba dering ponsel menginterupsinya. Hembusan nafas kasar dia berikan, mengambil ponsel di atas nakas dan beranjak menuju sofa.


Dipijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Berbagai macam kejadian hari ini membuat dia kewalahan sendiri. Sepertinya dia harus banyak belajar lagi dari ayahnya dan Ken.


"Halo," sapa Meyrin dengan malas.


"Nona Meyrin, ada pergerakan dari perusahaan Tuan Steve. Beberapa jam yang lalu, perusahaan beliau menandatangani kontrak kerja sama dengan salah satu anak cabang keluarga Plowden," lapor orang yang berada di seberang sana.


"Biarkan saja, Lea. Aku hari ini terlalu lelah. Banyak hal yang terjadi. Jika bawahan kita sadar, cari informasi tentangnya. Aku mau istirahat dulu." Meyrin memberi perintah pada bodyguard sekaligus asisten pribadinya.


"Baik, Nona. Selamat istirahat. Besok saya akan pulang sebelum matahari terbit."


Meyrin menatap jam dinding kamarnya yang sekarang menunjukkan pukul 2 dini hari.


"Sialan! Kamu tidak perlu pulang kalau gitu," rutuk Meyrin membuat Lea tertawa di seberang sana.


Setelahnya Meyrin mengakhiri panggilan itu. Diletakkannya ponsel di atas meja lalu dia beranjak menuju ranjang queen size nya. Kasurnya itu sudah sejak tadi memanggil-manggil namanya.


****************

__ADS_1


Meyrin baru saja keluar dari walk in closet. Benar saja, sebelum matahari terbit, Lea sudah ada di penthouse. Jika sudah seperti itu, jangan harap dia bisa istirahat dengan tenang.


Tok! Tok! Tok!


"Nona, hari ini anda ingin menu sarapan pagi apa?" tanya Lea dibalik pintu walk in closetnya.


"Terserah. Oya, apa para tamuku sudah bangun?" tanya Meyrin sembari keluar dari walk in closet nya.


"Belum Nona. Sepertinya mereka sangat kelelahan. Saya hanya melihat Tuan Soga saja."


Meyrin melihat Emily yang masih bergelung manja dengan selimut tebalnya. Dia berjalan menghampiri adik kesayangannya itu.


"Lily, kamu tidak mau bangun?" Meyrin menepuk-nepuk pipi Emily.


"Nanti yah kak. Aku juga tidak ada jadwal hari ini," jawab Emily dengan mata yang masih terpejam.


"Bagus! Kalau begitu cepat bangun dan ikut kakak ke perusahaan. Kakak akan mengajarimu tentang saham dan yang lainnya."


Emily langsung tersentak dan terduduk, terbangun secara paksa dari tidurnya. Dia tatap kakaknya dengan pandangan memohon. Bibirnya dia majukan ke depan, cemberut.


"Hais, setidaknya kamu harus belajar sayang. Biar jika terjadi apa-apa dengan kakak, kamu bisa menggantikannya dan menja—"


"Stop! Bukannya Emily sudah bilang jangan mengatakan hal-hal negatif. Kakak tidak akan kenapa-napa dan kita berdua akan menjaga Daddy."


"Kalau begitu, mau yah belajar bersama kakak?"


"Oke! Tapi Emily belajar untuk diri sendiri. So, kakak tidak boleh kenapa-napa."


Setelah mengatakan itu, Emily keluar dari kamar Meyrin menuju kamarnya. Meyrin yang melihat itu tersenyum kejut.


"Bagaimana aku akan baik-baik saja sedangkan banyak orang yang ingin membunuhku," lirih Meyrin.


"Nona." Lea menatap Meyrin yang terlihat lelah.


"Tidak apa. Ayo kita mulai beraktivitas."


Meyrin keluar dari kamar diikuti oleh Lea di belakangnya.


.


.


.


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2