
"Bukannya itu tidak penting, kenapa kita harus memikirkannya?" tanya balik King.
"Itu adalah GPS mini keluaran terbaru yang diciptakan oleh Armand sendiri. Alat itu diletakkan bersamaan dengan baterai jam tangan yang dipakai Rizzo. Bisa juga diletakkan di ponsel," ujar William tiba-tiba.
Semua menatap suami sang Bos dengan pandangan tak percaya. Sedangkan Ken menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas, tersenyum penuh rasa bangga. Dia hampir lupa jika William pernah membobol sistem keamanan Daniel Arlington dan berhasil.
"Laras, kayaknya kamu salah memilihku sebagai pengganti sementaramu. Suamimu lebih layak—"
"Tidak. Aku lebih suka jadi konglomerat dengan tangan bersih," timpal William.
"Ah, bagaimana jika kekayaan Tuan dan Nyonya digabung menjadi satu?" saran Aite.
Kerut kebingungan jelas menghiasi dahi semua orang yang ada di sana. Mereka menyalahi saran Aite yang terkesan buru-buru dan tidak ada alasan yang pasti. Joker memberi kode pada Aite untuk diam saat William dan Laras saling bersitatap.
Siapa yang tidak mengenal dua konglomerat terkaya di Lunar City? Mereka berasal dari keluarga Plowden dan Arlington. Bagaimana jadinya jika kekayaan keduanya menjadi satu? Sudah pasti William akan menjadi orang terkaya di Lunar City.
Masalahnya bukan itu, antara William dan Laras, bukan rahasia lagi jika kekayaan Laras lebih besar daripada William. Tambahan pemasukan dari organisasi mafia Arlington membuat penghasilan Laras berkali-kali lipat dari William. Ini bukan ide yang bagus untuk diterapkan sebenarnya, tapi ….
"Bukankah ini ide yang bagus? Laras, William, aku setuju dengan ide Aite. Anggap saja Paman Steve tidak berpihak pada kita. Seandainya kita kalah dalam pertempuran melawan Rizzo, maka Paman Steve akan mencari celah untuk mengambil alih kekayaan Arlington." Ken menghentikan penjelasannya, dia menatap semua yang ada di dalam ruangan.
"Dengan begitu, jika kemungkinan kita kalah dalam pertempuran maka kesempatan Steve Arlington mengambil alih kekayaan gagal karena sudah berpindah menjadi milik keluarga Plowden. Bukan begitu, Tuan Ken?" tambah Queen.
"Tepat sekali." Ken menatap Laras kali ini.
Laras tampak memikirkan segala sesuatunya. Apalagi mereka berdua terikat dengan pernikahan kontrak. Lea mendekati Ken dan membisikkan sesuatu. Ken menatap Lea tak percaya dan sang asisten pribadi Laras menganggukkan kepalanya.
"Rapat selesai sampai di sini. Tuan dan Nyonya Plowden, bisa kita bicara sebentar?" Ken membubarkan rapat dan meminta waktu untuk berbicara bertiga.
Aite, Joker, King dan Queen keluar dari ruangan. Sedangkan William dan Laras masih berada di posisinya masing-masing. Alex, Rama dan Lea berada di sudut ruangan, memantau dari jarak jauh.
"Aku ingin kalian menyobek kertas pernikahan kontrak itu! Setelahnya urus surat nikah di catatan sipil dan pindahkan semua aset Arlington ke Plowden." Ken menatap Laras dan William dengan pantangan serius dan tidak ingin dibantah.
Terkadang Laras dan William perlu diberi sikap tegas. Di sinilah Ken berada, berbicara di hadapan dua pengusaha kerajaan bisnis Lunar City.
__ADS_1
"Apa kalian akan bersikap seperti ini? Oh ayolah! Kalian akan menjadi Mommy dan Daddy dari bayi mungil. Berhentilah bersikap seperti anak kecil." Ken mencoba membuka pikiran William dan Laras.
"Lea! Rama! Ambil surat pernikahan kontrak itu ke sini!" perintah Ken.
Laras dan William sontak menatap Ken secara bersamaan. Sedangkan yang ditatap sama sekali tidak merasa bersalah. Bahkan asisten pribadi keduanya menuruti perintah Ken. Mereka sepakat untuk menyetujui saran dari Ken, yaitu menghentikan pernikahan kontrak kedua majikannya.
"APA?" Bentakan Ken sukses membuat Laras memalingkan bola matanya jengah.
Ken tahu persis bagaimana karakter Laras. Wanita itu tidak akan membantah saat dirinya merasa bersalah. Saat lawan bicaranya memaparkan bukti dan saran yang konkrit.
Lea dan Rama mendekat lalu menyerahkan masing-masing satu lembar dokumen. Ken membacanya lalu menatap bosan dengan isi surat pernikahan kontrak tersebut.
Srek! Srek!
Ken tanpa mengatakan apapun langsung menyobek kertas tersebut. William dan Laras menatap Ken secara bersamaan. Mereka tidak menyangka bahwa Ken sendirilah yang menyobek kertas itu. Mereka mengira Ken akan marah dan menyuruh untuk merobeknya sendiri.
"Mulai detik ini, tidak ada yang namanya pernikahan kontrak lagi. Lea dan Rama temani mereka mendaftarkan pernikahan di kantor catatan sipil. Pastikan mereka mendaftarkannya dan tidak bertingkah. Sekali-kali mereka berdua perlu ditegaskan."
"Ken."
Setelah mengatakan itu, Ken pergi meninggalkan ruangan. Alex ikut keluar dari ruangan, menyusul tuannya. Sedangkan William dan Laras saling berpandangan. Lea dan Rama masih tetap berdiri di samping kanan dan kiri kursi yang diduduki oleh Ken tadi.
"Tuan, Nyonya, apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya Rama.
"Baiklah. Mari kita berdamai dengan masa lalu, Sayang," ajak Laras pada suaminya.
"Iya. Lakukan ini demi masa depan keluarga dan anak-anak kita," setuju William.
Akhirnya William dan Laras memilih untuk berdamai demi masa depan. Sekarang tinggal satu masalah yang belum terselesaikan, yaitu Rizzo. Sayangnya di balik masalah Rizzo yang belum selesai, bertambah lagi masalah Steve Arlington.
****************
William dan Laras baru saja keluar dari kantor catatan sipil. William menyerahkan surat nikahnya kepada Laras untuk disimpannya.
__ADS_1
"Lea, hubungi pengacara kita untuk membawa surat pengalihan aset atas nama Larasati Arlington kepada William Anderson Plowden." Laras memberikan perintah pada Lea.
"Apa kamu yakin, Sayang?" tanya William menatap istri tercintanya.
"Selama itu demi masa depan keluarga kita, Will. Toh yang aku alihkan hanya aset pribadi dan pendapatan kantor. Aku masih mempunyai aset simpanan kok. Jadi, jangan merasa tidak enak begitu. Oke?" Laras mencoba memberikan pengertiannya pada William.
William tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian diciumnya kening dan bibir sang istri. Mereka memutuskan untuk kembali ke mansion Arlington yang ada di LA. Mungkin hingga beberapa minggu ke depan sebelum nanti keduanya kembali ke Lunar City.
"Sayang, aku ingin makan bakso yang kubisnya banyak," pinta Laras tiba-tiba.
"Kita cari restoran yang jual yah."
"Nggak mau, Sayang. Aku maunya makan bakso yang ada gerobaknya itu loh. Kayak pas waktu di kampus itu. Aku pengen, Will~" rengek Laras dengan wajah memelasnya.
Entah ini bawaan anaknya atau apa, William selalu lemah dengan jika Laras sudah merengek seperti bayi. Wajah menggemaskan dengan kedua mata yang menatap penuh permohonan tulus.
Tidak!
Ini bukan bawaan bayi. William memang dari dulu selalu lemah dengan sikap manja istri tercintanya itu. Lelaki itu bahkan akan mewujudkan apapun impian Laras. Tidak ada permintaan sang istri yang tidak dapat William penuhi. Dia benar-benar seperti suami idaman.
"Bagaimana kalau kita cari pentolnya saja? Setelahnya aku yang akan membuat baksonya dengan tambahan sayur kubis yang banyak." William mencoba menawar keinginan sang istri.
Sedangkan Rama dan Lea mengulum senyum mereka saat melihat William kelimpungan dengan ibu hamil yang ngidam. William memelototi asistennya dan asisten sang istri.
"Jadi, bagaimana, Sayang?" tanya William lagi.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga