
Meyrin yang terlalu fokus pada makan siangnya tidak menyadari kehadiran seseorang. Hingga terasa sebuah kecupan basah di pipi pemimpin Arlington Group itu.
Meyrin menolehkan kepalanya ke samping kanan dan, "Ken? Ngapain kesini?"
"Rindu sama pacar sendiri. Apa tidak boleh?" tanya balik orang itu yang ternyata adalah Ken.
"Memang di perusahaan tidak ada pekerjaan?" Meyrin menatap Ken yang sedang mengambil duduk di depannya.
Mereka saling berhadapan. Lea segera menggeser duduknya, lalu menyuruh bawahannya untuk memesankan menu makan siang untuk Ken. Tak berapa lama, menu makan siang untuk idola sejuta umat itu sudah tersedia.
"Terima kasih," ucap Ken pada bodyguard Meyrin.
"Perusahaan siapa yang handel?" tanya Meyrin setelah dirinya menyelesaikan makannya.
"Aku serahkan pada Alex, sepertinya dia punya bakat tersembunyi. Pekerjaannya begitu sempurna untuk ukuran asisten pribadi," jawab Ken sambil menikmati makan siangnya.
"Kak, sepertinya aku harus pergi sekarang. Managerku memberitahu untuk bersiap karena ada perubahan jadwal." Emily menunjukkan chatnya dengan sang manager.
"Hati-hati dan berhenti bertindak bodoh. Tetap berada dalam pengawasan bodyguard suruhan kakak. Paham?" Meyrin menatap tajam Emily yang hanya dijawab garukan kepala dan cengiran khas Emily.
****************
Selesainya makan siang, Meyrin membawa Ken ke ruangannya. Tapi, tiba-tiba Lea mengingatkan jadwal sang nona untuk berkunjung ke rumah sakit.
"Biar aku yang antar. Cukup kita bertiga tidak perlu bodyguard lagi," tawar Ken.
"Tidak Ken, kita perlu bodyguard."
"Semua baik-baik saja, Mey. Aku dan Lea sudah cukup untuk melindungimu."
"Tidak Ken, aku ti—"
"Hei … hei … keluarlah dari rasa bersalahmu. Tidak perlu terlalu waspada. Semua akan baik-baik saja."
"Kamu tidak mengerti. Ayah sudah lanjut usia, Emily karirnya sedang bagus-bagusnya. Siapa lagi yang akan menjaga mereka, selain aku? Aku tidak boleh lengah sedikitpun jika ingin melindungi mereka." Meyrin menatap manik hitam Ken.
"Ada aku yang akan menjaga keluarga Arlington, menjaga kalian bertiga. Bersandarlah padaku, percayalah padaku, Sweetie," pinta Ken.
"Maaf, aku tidak bisa Ken. Aku tidak ingin membahayakan nyawa siapapun. Saat ini aku ingin berdiri di kedua kakiku sendiri. Cukup dua tahun yang lalu menjadi masa kelamku. Cukup dua tahun yang lalu aku kehilangan bunda Bella karena diriku."
Ken terdiam, tidak berani memaksa lebih jauh lagi. Lelaki itu sangat paham betul seperti apa seorang Larasati Indria Putri dua tahun yang lalu. Hati, jiwa dan raga seorang Laras dipertaruhkan waktu itu.
Meyrin, Ken dan Lea sampai di lobi perusahaan, di depan pintu sudah ada mobil sport milik Ken. Beberapa bodyguard berjalan di belakang mereka bertiga.
"Cukup sampai disini saja. Aku akan pergi dengan mereka berdua. Tetap waspada dan laporkan apapun yang mencurigakan padaku atau Lea," ujar Meyrin membuat Ken dan Lea menatap tak percaya.
"Baik, Nona."
"Serius nih?" tanya Ken masih tak percaya dengan indera pendengarannya.
__ADS_1
"Ayo berangkat sebelum aku berubah pikiran!" akhirnya Meyrin memutuskan untuk mengikuti saran Ken.
Meyrin langsung masuk ke mobil yang sudah dibukakan pintunya, seperti biasa dia akan duduk di depan. Seorang satpam lalu menutup pintu sisi Meyrin. Diikuti Lea yang berada di kursi belakang seorang diri.
Ken tersenyum saat seorang Meyrin mendengarkan permintaannya. Dia lalu masuk dan duduk di kursi kemudi, bersiap menuju ke rumah sakit.
****************
Sesampai di rumah sakit dengan dipandu oleh Lea, mereka langsung menuju ke salah satu ruang rawat inap. Di ujung lorong, terlihat dua pengawal berdiri di depan sebuah pintu. Meyrin, Ken dan Lea berjalan menuju ruangan tersebut.
Melihat bosnya datang beserta big bos, mereka langsung menundukkan badannya. Ken menggenggam tangan Meyrin dan wanita itu tidak menolaknya. Mereka sedang di publik, tempat umum takutnya ada paparazi dan membuat berita miring tentang hubungan mereka.
"Bagaimana keadaan dia?" tanya Lea.
"Semuanya aman dan kondisinya berangsur membaik," jawab salah satu dari pengawal itu masih dengan menundukkan kepalanya walaupun tidak membungkuk lagi.
"Mari Nona!" Lea membuka pintu ruangan, membiarkan Meyrin dan Ken masuk lebih dulu sebelum dirinya menyusul.
"Bos!" sapa satu-satunya orang yang berada di dalam ruangan itu.
Seorang pria sedang berbaring dengan bagian perut yang dibalut perban putih. Pria itu berusaha untuk duduk tapi ditahan oleh Lea agar jahitan bekas operasi tidak terbuka.
"Berbaring saja," perintah Laras dengan lembut.
"Terima kasih, Bos."
"Jika kita tidak dalam misi, panggil Nona saja sama seperti yang lainnya."
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Meyrin sembari duduk di satu-satunya kursi di samping ranjang.
"Sudah membaik. Lusa baru boleh pulang, Nona."
"Langsung ke inti saja, apa yang ingin kamu bahas denganku?" Meyrin mengubah nada bicara sedikit lebih tegas.
Ken dan Lea berdiri di masing-masing sisi Meyrin. Ikut mendengarkan apa yang ingin dibahas pria itu dengan seorang Meyrin.
"Kejadiannya lima hari yang lalu, waktu saya berjaga di basement dalam kegelapan. Saya melihat siluet seseorang juga sedang mengintai di sisi yang lainnya. Tapi, sepertinya orang itu menyadari posisi saya sehingga dia pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak," cerita bawahan Meyrin.
"Lalu?" tanya Meyrin.
"Saya tidak berani untuk melapor karena tidak ada bukti yang konkrit. Dia bersembunyi dan mengintai di tempat yang terhindar dari CCTV."
"Tunggu! Apa kamu berpikir jika orang itu sangat tahu titik letak CCTV di basement?" Ken ikut menimpali.
"Benar, Tuan. Saya juga merasakan hal yang sama, tapi tak berani karena kurangnya bukti."
Kening Meyrin berkerut, berbagai macam asumsi berputar di otaknya. Wanita itu menolehkan kepalanya kepada Ken yang dijawab anggukan kepala.
"Lanjutkan!" perintah Meyrin.
__ADS_1
"Kemarin ketika saya kembali bertugas dalam kegelapan, siluet orang tersebut kembali terlihat. Saya pun langsung menyerang orang tersebut, mengunci semua pergerakannya. Tapi, tiba-tiba sebuah peluru dari arah berlawanan mengenai saya. Orang yang melawan saya sempat mengeluarkan suara untuk mengumpat. Aku mengenali suara orang tersebut, tapi tidak tahu siapa dan yang jelas dia ada diantara kita," jelas panjang lebar orang itu dengan pandangan yang tegas, tidak menyiratkan kebohongan sama sekali.
"Ini, Nona."
Lea menyerahkan tab yang sedang memutar video hasil rekaman CCTV yang ada di basement. Semua yang dikatakan bawahannya itu memang benar adanya. Seseorang dari arah berlawanan sedang mengarahkan pistol tepat mengenai anak buahnya.
Ken mengambil tab yang dipegang Meyrin. Dia menghentikan video itu. Kerutan di dahi Ken terlihat sangat jelas. Lelaki itu memperbesar gambar pada bagian orang yang menembak tadi. Lalu, sedikit menggesernya ke arah anak buah Meyrin dengan sosok orang misterius.
"Ken, apa kita sepemikiran?" tanya Meyrin yang masih fokus menatap gambar yang ada di tab itu.
"Dilihat dari gambar ini, sepertinya begitu."
"Tapi apa motif dari orang ini?" Meyrin menggeser ke gambar yang bersama bawahannya.
"Sebentar, Nona. Bisa minta tolong geser ke orang yang menembak tadi?" pinta Lea yang menyadari sesuatu.
"Ini?"
"Ah benar! Saya mengenali orang ini dari gestur tubuhnya."
"Siapa?" tanya Meyrin dan Ken bersamaan.
"Kita dulu berada di akademi yang sama dan guru yang sama. Dia Baron si sniper."
"Baron tangan kanannya Steve?" Ken memastikan agar tidak salah sasaran.
"Benar, Tuan."
"Kamu menyinggung Steve si pejantan tua itu?" giliran Meyrin yang ditanya oleh Ken.
"Bukan aku, tapi William." Meyrin mengalihkan pandangannya dari tatapan Ken.
Jika Ken sudah dalam mode cybernya, Meyrin tak bisa berkata-kata lagi. Satu hal yang pasti, wanita itu harus mengatakan yang sebenarnya.
"Kenapa bisa William yang salah tapi kamu yang menanggungnya?" curiga Ken.
"...." Meyrin diam seribu bahasa.
"Larasati Indria Putri!" Ken menatap Meyrin yang tertunduk.
"Sebenarnya …." Meyrin menggantungkan kalimatnya.
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
IG @hana_ryuuga