
Lea baru saja keluar dari kamar Meyrin. Seperti biasa, dia baru saja selesai membangunkan nona mudanya, mengingatkan jadwal yang harus dihadiri wanita cantik itu. Dia berjalan ke dapur, mengambil salad buah yang baru saja dibuatnya.
Lea membawa salad buahnya ke kamar Meyrin. Saat membuka pintu kamar, dia melihat Meyrin yang kesusahan untuk menaikkan resleting belakang gaunnya. Lea segera masuk ke kamar dan meletakkan salad buah itu di meja rias nona mudanya.
Sang asisten membantu Meyrin untuk memasang resleting belakang dari gaun yang dikenakan oleh bosnya. Lalu membantu Meyrin untuk duduk di depan meja rias. Lea mulai sibuk dengan sisir untuk menata rambut Meyrin.
Meyrin mengambil salad buah yang dibawa Lea dan memakannya. Cemilan sehat dan bervitamin yang selalu Lea sajikan. Meyrin tersenyum membayangkan kebersamaannya bersama Lea selama ini.
"Ada apa, Nona?" tanya Lea sembari menyisir rambut Meyrin.
"Tidak ada. Aku hanya mengingat kebersamaan kita selama ini," aku Meyrin dengan senyuman manisnya.
Lea menatap Meyrin melalui cermin dan ikut tersenyum. "Mau saya bantu make up nya juga, Nona?"
"Tidak perlu, aku hanya ingin memoles sedikit saja kok."
Lea menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Dia mengambil mangkuk salad yang isinya sudah habis. Dia keluar dari kamar dan menuju ke dapur, membiarkan Meyrin menyelesaikan make up nya.
****************
Nikolai baru saja keluar dari kamar William karena keponakannya itu sudah mulai mengusirnya. Sayangnya bukan Nikolai jika harus menuruti perintah orang lain. Lelaki itu malah duduk di sofa ruangan. Pikirannya terbang saat sebelum dirinya bertemu dengan William.
"Rama, kamu menyebut Meyrin dengan Nyonya?" tanya Nikolai memastikan indera pendengarannya.
"Iya, Tuan."
"Jadi, kamu tahu identitas Meyrin yang sesungguhnya tapi tidak mengatakannya pada William?"
"Bukankah Tuan Nikolai juga seperti itu?" tanya balik Rama.
"Fvck!"
Nikolai langsung menatap Armand, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum tanpa dosa. Lalu ditatapnya Rama yang hanya menampilkan wajah datarnya, membuat pemimpin klan Naga Langit tersebut menghembuskan napas panjangnya.
"Kenapa kalian tidak menikah saja, terlalu serasi membuatku bergidik ngeri," omel Nikolai.
"Walaupun begitu, Nyonya Meyrin sendiri yang menyuruh saya untuk merahasiakan identitasnya," ujar Rama santai.
"Apa William tahu kalau Meyrin adalah pemimpin organisasi mafia?" tanya Nikolai khawatir.
"Tidak, begitu juga dengan saya. Saya baru tahu hari ini dari Tuan," jawab Rama.
"Kamu tahu alas—"
__ADS_1
"Surat cerai Tuan dengan Nona Laras, dan Tuan William sudah menyetujuinya. Mungkin dalam beberapa hari ke depan, Tuan akan menandatanganinya."
"Akh … astaga! Aku bisa gila dengan urusan mereka berdua!" Nikolai tidak bisa berkata-kata.
"Kalau begitu Anda tidak perlu mengurus Tuan dan Nyonya Plowden, Tuan," kali ini giliran Armand yang menjawabnya.
"Sialan! Mulut kalian tuh yah! Haish!" geram Nikolai kepada Rama dan Armand.
"Tuan tenang saja karena Tuan William mengajukan syarat. Tuan akan menandatangani surat cerai itu asalkan Nona Meyrin mau menikah dengan Tuan William," jelas Rama.
"Astaga! Menikah untuk kedua kalinya dengan orang yang sama?" Nikolai menatap Rama tak percaya.
"Bukannya Nona Laras dan Nona Meyrin berbeda, Tuan?" tanya Armand yang menandakan dia sependapat dengan usulan William dan penjelasan Rama.
"Terserah kalian saja."
Nikolai langsung meninggalkan Rama dan Armand di belakangnya. Dia masuk ke dalam ruangan William dengan membanting pintunya.
"Paman?" panggil William.
Nikolai terhentak kaget dari lamunannya saat William memanggilnya. Dia membuka matanya dan melihat William yang begitu rapi dan tampan. Rambut yang ditata rapi, kemeja hitam yang dipadu dengan jas biru tua. Celana kain yang warnanya senada dengan jasnya semakin membuat William terlihat maskulin.
"Wow! Tampan sekali keponakan Paman. Mau ke mana?" tanya dan komentar Nikolai yang begitu kagum dengan pesona William.
Tanpa menunggu jawaban dari Nikolai, William keluar dari ruangannya. Wajah lelaki itu begitu berseri-seri, membayangkan dirinya akan menghabiskan malam dengan Meyrin.
Di depan pintu sudah ada Rama yang menunggu, William menganggukkan kepalanya. Rama berjalan di samping William dan dua bodyguard yang berjalan di belakang mereka berdua.
Saat memasuki lift, suara dentingan notifikasi sebuah pesan terdengar. William membuka kotak pesan yang ternyata dari Meyrin. Wanita itu mengirimkan sebuah foto dirinya malam ini.
Dress merah panjang yang mencetak jelas setiap lekukan tubuh seorang Meyrin. Rambutnya yang panjang dibuat bergelombang oleh Lea. Wajahnya hanya sedikit ditambah polesan bedak dan lipstik.
Di ponsel itu Meyrin berpose begitu menggoda membuat otak William mulai travelling ke mana-mana. Apalagi bibir seksi Meyrin memakai lipstik senada dengan warna dressnya. Bibir yang menjadi candu bagi seorang William.
William segera memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku saat dirinya keluar dari lift. Sebuah mobil sport keluaran terbaru sudah menunggu di depan lobi hotel. Rama berjalan mendahului William dan membuka pintu depan mobil.
Malam ini William akan membawa mobilnya sendiri. Rama dan dua bodyguard mengikuti dari belakang dengan mobil yang berbeda. Seperti kata Nikolai, William perlu penjagaan yang super ketat.
Sang pemimpin mafia klan Naga Langit itu masih belum memberitahukan alasannya. Dia hanya memberikan perintah untuk menjaga dan mengikuti semua kegiatan William. Bahkan, alasan dia kembali ke Italia secara mendadak tidak ada yang mengetahuinya kecuali Armand.
Pukul 7 malam waktu Venesia, mobil sport yang dikemudikan oleh William tiba di sebuah restoran. William keluar dari dalam mobil dan melangkahkan kakinya ke dalam restoran. Seorang pelayan langsung membawa William ke private room, ruangan yang sudah direservasi oleh Rama.
__ADS_1
"Silakan, Tuan!" Pelayan itu membukakan pintu untuk William.
William menatap takjub pada interior dari restoran ini. Dia mengambil duduk di tempat yang sudah disiapkan. Beberapa hidangan pembuka sudah menyambut pria tampan itu.
Sembari menunggu kehadiran Meyrin, William menyesap minuman pembukanya. Dilihatnya Rama yang berdiri di belakang pintu tempat dia masuk tadi. William mencoba tak peduli dengan kehadiran Rama.
Dikeluarkannya ponsel, melihat notifikasi yang muncul. Sayangnya tidak ada notifikasi yang masuk. William mengernyitkan keningnya saat jam digital yang ada di layar ponselnya menunjukkan pukul 7.30 malam waktu Venesia.
Jika Meyrin memang Laras, wanita itu pasti tidak akan membuang waktunya. Bahkan untuk telat satu menit pun Laras akan sungkan. Jika tidak, wanita itu akan memberitahu teman janjinya.
Baru saja dia ingin menghubungi Meyrin, tiba-tiba ponselnya berdering. Ada nama Liu Meyrin di sana, William langsung menggeser tombol hijau pada layarnya.
"Ada apa, Mey?" tanya William.
"Will, kayaknya aku ke restoran agak telat sedikit. Apa tidak apa-apa? Tiba-tiba klienku ingin bertemu."
"Kalau begitu aku susul kamu ke tem—"
"Tidak perlu. Mungkin sekitar jam 8 aku tiba di restoran. Tak masalah, 'kan?" timpal Meyrin memotong usulan William.
"Baiklah jika itu maumu. Hati-hati di jalan."
Setelahnya panggilan itu berakhir. William menatap gelas minuman pembukanya yang isi sudah tinggal setengah gelas. Dihembuskannya napas panjang lalu beranjak dari kursinya.
Rama yang melihat tuannya beranjak, mulai kembali ke mode siap sedia. William berjalan melewati Rama dan keluar dari ruangan tersebut. Sang asisten langsung mengikuti William.
"Tuan, Anda mau kemana?" tanya Rama yang menyusul di belakang William.
"Aku hanya ke balkon. Meyrin akan datang terlambat. Kamu tunggu dia di bawah," ujar William sembari memberi perintah.
Rama menghentikan langkahnya, menatap William dari belakang.
Hanya William yang tidak tahu nih.
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
IG @hana_ryuuga