
"Yo, Rizzo!" sapa Meyrin.
Ken mengambil alat sadap yang ditemukan di saku celana Buz. Meyrin mengambil sebuah benda kecil yang berada di merah baju Buz. Buz terdiam saja karena dia tahu kalau nonanya tidak asing dengan alat tersebut.
"Akhirnya wanita yang aku cintai menyapaku," ujar pria di seberang sana yang tak lain dan tak bukan adalah Rizzo.
"Apa yang kamu lakukan pada Walikota, sialan!" bentak Meyrin saat mendengar Rizzo tertawa di seberang sana.
"Bukannya aku harus memberi sambutan selamat datang pada wanita tercintaku?"
"Kamu menjijikkan!"
Saat itu juga Meyrin membanting alat penyadap dan benda kecilnya ke lantai dengan sangat keras. Lalu mengeluarkan pistol turun temurun keluarga Arlington dari saku celana yang dikenakannya.
Dor! Dor! Dor! Dor!
Empat peluru ditembakkan oleh Meyrin melalui moncong pistolnya dan menghancurkan dua benda itu. Napas Meyrin tersengal-sengal menahan amarah yang dibangkitkan oleh Rizzo. Semua yang ada di sana terdiam termasuk Buz.
Mereka yang ada di sana sangat tahu seberapa bencinya sang Bos terhadap orang yang bernama Rizzo. Bukan hanya benci, tapi dendam yang mendalam sudah tertanam sejak peristiwa dua tahun yang lalu. Ken yang melihat Meyrin hampir lepas kontrol, memeluknya. Pria bertopeng itu menepuk-nepuk pundak Meyrin.
Semua bawahan Arlington yang melihat hal tersebut sudah seperti biasa saja. Bukan hanya sekali atau dua kali mereka melihat Jack, sang tangan kanan mendengarkan Meyrin. Bahkan beredar rumor tentang kedekatan Jack dengan Meyrin yang akan berakhir ke pelaminan.
Rumor itu semakin menjadi saat Jack yang awalnya menjadi tangan kanan Daniel Arlington, memilih untuk pindah kepemimpinan. Jack lebih memilih menjadi tangan kanan seorang Liu Meyrin dan Daniel tidak keberatan akan hal itu. Sikap Daniel inilah yang membuat rumor itu semakin mendekati kenyataan.
"Tenanglah! Semua baik-baik saja. Ada aku dan Lea," bisik Ken menenangkan Meyrin.
"Cobalah untuk menghitung dari satu sampai tiga jika amarahmu akan meledak," bisik kembali Ke saat melihat Meyrin masih belum tenang.
Hal ini sudah menjadi santapan Ken jika Meyrin lepas kendali. Temperamental Meyrin terganggu saat mendengar nama Rizzo. Hal itu membuat Meyrin kembali teringat peristiwa dua tahun yang lalu. Peristiwa yang ingin dilupakan oleh wanita itu tapi tidak bisa hingga detik ini.
Meyrin melepaskan dirinya dari pelukan Ken. Dia butuh pelampiasan dan kebetulan ada mangsa segar di depannya. Meyrin menatap tajam pada Buz membuat pria itu ketakutan. Apalagi sebuah pengkhianatan tidak akan mendapatkan toleransi dari sang Bos.
"Buz, kamu benar-benar seorang mata-mata yang handal. Kamu menjadi mata-mata dari tiga pemimpin mafia sekaligus. Sialan!" umpat Meyrin yang langsung menembakan pistolnya ke arah kaki Buz.
"Uukh!" ringis Buz saat kaki kirinya terasa panas terkena peluru dari pistol Meyrin.
Buz menatap kedua kakinya. Kaki kanannya terkena tembakan 'Black Rose' milik Ken dan kaki kirinya terkena tembakan dari Meyrin. Buz meringis kesakitan saat kedua kakinya berdenyut. Belum lagi luka akibat tusukan yang diberikan oleh Ken masih terasa.
__ADS_1
Meyrin membuka kotak hitamnya membuat Buz memohon ampunan. Sayangnya, Meyrin sudah menulikan indera pendengarannya. Jack tersenyum di balik topengnya saat Meyrin sudah memulai permainan yang membuat wanita itu seperti malaikat pencabut nyawa.
Di dalam kotak hitam itu berisi stang, gunting potong besi, pisau bedah, knuckle, dan alat penyiksaan lainnya. Meyrin mengambil gunting potong besi lalu berjalan mendekati Buz.
Buz memberontak saat melihat mata tajam Meyrin dan aura hitam menyelimuti sang Bos. Pria itu bergerak ke kanan dan kiri, melupakan kakinya yang baru saja tertembak. Sayangnya, dua pria yang berdiri di samping kanan dan kirinya menahan Buz.
"Ampun Nona! Tolong ampuni saya! Saya bersalah!" Buz masih berusaha berontak.
"Brengsek!" Meyrin dengan sengaja melempar gunting potong besi itu ke arah kaki Buz yang tertembak.
"Aaarrggh!" teriak Buz begitu kesakitan.
Meyrin tersenyum miring. Wanita itu sudah menjelma menjadi malaikat pencabut nyawa. Wanita itu paling tidak suka adanya pengkhianatan dalam organisasinya. Dia menjunjung tinggi solidaritas dan kesetiaan antar bawahannya.
Siapa yang berani bermain dengan seorang Liu Meyrin, maka mereka harus mempunyai dua nyawa. Salah satu nyawa harus siap diserahkan pada wanita yang sudah menjelma menjadi malaikat pencabut nyawa. Meyrin berjalan mendekati Buz, membuat pria itu seperti melihat hantu, ketakutan.
Dia berjongkok, di depan Buz lalu mengambil gunting potong besinya yang terletak di lantai. Meyrin menatap penuh minat pada kaki Buz yang berlubang karena pelurunya.
"Buz, kita sudah bersama sejak awal dan sekarang kamu berkhia—"
"Ampuni saya Nona, saya melakukannya karena sedang diancam juga. Tuan Rizzo menyandera keluarga saya," timpal Buz memotong perkataan Meyrin.
Meyrin tanpa aba-aba langsung menjepit ibu jari kaki kanan Buz. Lalu wanita itu menekannya sekuat tenaga hingga terdengar bunyi tulang patah. Meyrin tersenyum senang saat mendengar suara itu. Terlihat ibu jari itu terkulai setelah wanita itu melepaskan guntingnya.
"Katakan siapa Bosmu sebenarnya?" tanya Meyrin.
"Tuan Lee, pemimpin gangster kapak putih," jawab Buz yang pandangannya mulai kabur.
"Apa kamu tidak berbohong? Aku tidak suka kebohongan, Buz!" bentak Meyrin yang mulai membuang guntingnya ke samping.
Wanita itu mengeluarkan pisau mini kesayangannya dari saku jaketnya. Sebelum menuju ruangan ini, Meyrin sempat berganti pakaian di kamarnya agar Ken tidak curiga. Dia tidak ingin Ken dan William terlibat pertarungan perasaan lagi seperti dulu.
Meyrin membuka sarung pisaunya, tampak bilah pisau itu mengkilap dengan ujungnya yang runcing. Pisau itu benar-benar menggambarkan sosok Liu Meyrin yang begitu cantik tapi mematikan.
Meyrin menatap Buz yang mulai perlahan-lahan menutup matanya. Dia berjalan semakin dekat dengan Buz, lalu menempelkan ujung pisau itu di pipi sang tawanan.
__ADS_1
Sedikit memberikan tekanan pada ujung pisau dan menggerakkannya ke bawah. Hal itu membuat warna merah dalam bentuk garis lurus mulai terlihat di kulit pipi sang tawanan.
"Uukh~" Buz meringis saat pipi kanannya terasa perih. Dia membuka kembali matanya dan sebuah pisau adalah pemandangan pertama yang dilihatnya.
"Nona saya mohon, jauhkan pisau itu!" mohon Buz dengan wajah ketakutannya. Pria itu seperti melihat bahwa inilah saat terakhirnya berada di dunia ini.
"Kamu tahu harus apa untuk menghentikan pisau ini?" pancing Meyrin.
Buz menganggukkan kepalanya membuat pipinya semakin tergores. Pria itu mengernyitkan keningnya menahan sakit.
"Saya akan mengantar Anda ke Tuan Lee," jawab Buz mantap dan tegas.
Meyrin tersenyum lalu menarik kembali pisaunya dari pipi Buz. Dia berjalan menjauhi Buz dan Lea segera menyerahkan sebuah kain lap. Meyrin membersihkan ujung pisaunya yang terkena darah dari pipi Buz.
"Lepaskan dia! Obati lukanya agar bisa mengantarkanku ke Tuan Lee nya." Meyrin memberikan perintah setelah memberikan pisaunya kepada Lea.
Sang asisten pribadinya tentu saja langsung paham hal apa yang diinginkan oleh Meyrin. Lea menyimpan pisau untuk dan akan membersihkan setelah ini.
"Nona, Tuan Daniel menghubungi Anda." Lea menyerahkan ponsel Meyrin yang sejak tadi bergetar.
Meyrin langsung menggeser tombol hijau di layar ponselnya, "Halo, Ayah," sapa Meyrin.
"Apa kamu sudah menemukan mata-mata kita?" tanya Daniel Arlington.
"Sudah Ayah. Beberapa hari lagi mungkin aku akan merekrut anggota gangster kapak putih," jelas Meyrin sembari melangkahkan kakinya kembali ke mansion.
Lea, Jack, dan Alex mengikuti Meyrin dari belakang. Sedangkan Joker masih setia di dalam ruangan untuk membereskan kekacauan yang dibuat oleh bos kecilnya itu.
Ada apa nih Daddy Daniel telepon?
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
IG @hana_ryuuga