
William yang mendapatkan pertanyaan itu menghentikan kegiatannya. Dia menatap Ken yang tampak penasaran dengan jawabannya. Memang benar, kali ini nafsu makan Laras dua kali lipat dari porsi orang biasanya.
"Menurut Lea itu hal yang wajar bagi ibu hamil. Soalnya ibu hamil makan bukan untuk dirinya saja tapi juga untuk janin yang berkembang," jawab William menirukan saran dari Lea.
"Daddy, mana bakso dan nasinya Mommy. Anakmu tidak mau menunggu nih," rengek Laras saat bakso dan nasinya belum terhidang.
"Iya sebentar, Mommy Sayang."
William langsung menuju meja makan dan menghidangkan menu yang diinginkan sang istri.
"Ken, kalau mau bakso ambil saja sendiri. Aku menemani Laras makan," teriak William dari meja makan.
"Tsk, dia mulai berlagak," sungut Ken.
Walaupun Ken tampak kesal, tapi dia juga penasaran dengan rasa bakso yang diolah oleh William. Ken baru kali ini mencium aroma rempah-rempah yang kuat dan itu membangkitkan nafsu makannya. Padahal, dirinya sudah makan siang bersama sutradaranya tadi.
"Aku ambil seporsi, terima kasih," ujar Ken dari dapur.
"Jangan dihabiskan, Ken! Itu punyaku dan William memasak hanya untukku dan anaknya!" teriak Laras kesal ketika mendengar ada seseorang yang menginginkan bakso buatan suaminya.
"Masih banyak kok Mommy. Sekarang, habiskan saja ini dulu baru minum vitamin hamilnya."
"Oke, Daddy."
Laras begitu lahap memakan bakso buatan William. Dia tidak peduli dengan keadaan sekitarnya. Wanita hamil itu hanya ingin menikmati makan siangnya tanpa gangguan.
Ting!
Sebuah notifikasi pesan muncul di layar ponsel William. Pria itu membukanya dan melihat isi pesannya. Pesan itu dikirim oleh Rama, asisten pribadinya. Kening William mengernyit saat membaca isi pesan Rama.
"Ada apa, Sayang?" tanya Laras yang begitu peka.
"Tidak ada. Makanlah dengan tenang." William membelai rambut Laras dengan lembut.
Sayangnya jawaban tidak jujur William membuat Laras kehilangan nafsu makannya. "Aku tidak suka jika kepekaanku diragukan bahkan oleh suamiku sendiri."
William terdiam ragu untuk memberikan kabar yang dia terima dari Rama atau tidak. Jika dia tidak mengatakannya, itu sama saja dirinya mengkhianati Laras. Tapi, jika dia memberitahu istrinya, sama saja William tidak memikirkan kondisi anak dan istri tercintanya.
__ADS_1
"Daddy William," panggil Laras meminta sang suami untuk jujur.
"Berjanjilah jika kamu mengetahui hal ini, kamu akan baik-baik saja."
"Iya, aku berjanji."
"Janjimu tidak tulus. Katakan Mommy dan anak kita baik-baik saja," ujar William, tersirat di dalam nada bicaranya tampak sedang cemas.
"Baiklah. Mommy Laras akan berjanji, setelah mendengar kabar dari Daddy William maka kondisi Mommy dan Baby Al baik-baik saja," ucap Laras dengan lantang dan percaya diri.
"Wait. Baby Al? Memangnya Mommy sudah tahu jenis kelamin anak kita?" tanya William penasaran.
"Tidak. Mommy hanya memberi nama random saja. Baby Al, kalau cowok aku kasih nama Alvaro, kalau cewek aku kasih nama Alexa. Bagaimana?" Laras menatap William penuh dengan antusias.
"Apapun itu, Daddy setuju dengan saran Mommy."
"Nah, sekarang tunjukkan ponsel Daddy pada Mommy!" Laras mengulurkan tangan ke arah sang suami.
"Janji dulu!" perintah William masih ragu-ragu.
"Ayolah Will. Jika itu tentang Ayah aku tidak masalah lagi. Aku akan mencoba berdamai dengan pembunuh Ayah."
William menatap Laras dengan tatapan tak percayanya. Bagaimana mungkin istri tercintanya itu bisa menebak kekhawatiran dari seorang William. Laras tersenyum penuh kemenangan saat bisa menebak kekhawatiran suami tampannya itu.
William menyerahkan ponselnya yang masih menampilkan chatnya dengan Rama. Di sana, Rama mengirim sebuah video dan Laras merasa mengenali tempat yang ada di dalam video tersebut.
"Ini kamar Ayah, 'kan?" tanya Laras mulai merasakan api amarah menyelimutinya.
"Ingat janji Mommy pada Daddy," peringat William agar istri tercintanya itu tetap tenang.
"Temani Mommy menonton ini, bisa?" tanya Laras menatap penuh harap pada suaminya.
Laras ingin menonton rekaman video itu. Pasti William lah yang mengambil rekaman CCTV tersebut. Secara, William itu sama pandainya dengan Ken jika berhubungan dengan cyber. Hanya saja karena jam tayang William lebih sedikit, jadi Ken lebih bisa diandalkan.
"Kita nonton di kamar."
****************
__ADS_1
"Kenapa jadinya seperti ini, Will … hiks … hiks …," tangis Laras pecah setelah melihat rekaman CCTV yang William curi.
William hanya terdiam membisu. Dia juga tidak percaya jika masalah keluarga Arlington serumit ini. Bahkan, Daniel harus mati ditangan keponakannya sendiri. Apalagi, Daniel meminta Ken menjadi saksi bisu sang Ayah menghembuskan nafas terakhirnya.
Di video rekaman CCTV itu tampak Daniel, Steve dan Ken berada dalam satu ruangan. Di rekaman itu tampak jelas semua tragedi yang menimpa Daniel hingga merenggut nyawanya. Bahkan, setiap kata yang diucapkan Daniel, Ken serta Steve sangat jelas terdengar di rungu Laras.
Rasa bersalah terhadap Ken mulai menggerogoti hati Laras. Dia teringat saat ia dengan frustasinya menusuk Ken menggunakan pisau kecilnya. Laras tidak mau mendengarkan penjelasan Ken. Wanita hamil itu telah berpikiran sempit hingga tidak percaya dengan tangan kanannya sendiri.
"Itu sudah terjadi, Sayang. Seperti kata Ayah, kita harus menatap masa depan. Berdamai dengan perasaan walaupun itu sangat sakit. Akupun dulu pernah berada di titik terendah bahkan rasanya hidupku sudah hancur." William mengusap lembut rambut Laras yang berada di pelukannya.
"Tapi aku terlalu jahat dengan Ken. Padahal, selama ini dia adalah orang kepercayaanku."
"Kita boleh menyesali masa lalu, tapi hanya sesaat. Jangan biarkan diri kita hancur karena masa lalu tersebut. Akan tetapi, kita tidak boleh melupakan masa lalu. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran buat kita."
Laras mendongakkan kepalanya, menatap tepat ke dalam manik hitam suaminya. "Apa kita bisa berbagi masa lalu?" tanya Laras yang tidak mengalihkan pandangannya.
"Selama kamu tidak menyalahkan diri sendiri, aku tidak keberatan. Jangankan cerita masa laluku, meminta seluruh isi dunia aku berikan."
"Berhenti menggombal, Will."
"Tidur di sini, aku akan menceritakan masa laluku. Masa di mana aku kehilangan tujuan hidup. Masa itu hadir saat dirimu meninggalkanku. Masa di mana seluruh cobaan itu datang silih berganti, tidak membiarkan aku bernapas. Beruntungnya, Rama dan Paman Nikolai selalu berada di sampingku." William memulai ceritanya.
"Maaf sebe—"
"Mommy, Daddy 'kan sudah bilang, jangan menyalahkan diri sendiri lagi. Cukup dengarkan saja karena ini sepenuhnya salah Daddy juga." William langsung menimpali ucapan sang istri tercinta saat mendengar kata maaf dari bibir Laras.
"Baiklah, Daddy. Mulai ceritanya." Laras menatap William, meyakinkan suaminya bahwa dia akan baik-baik saja.
"Apa Mommy masih ingat saat kita ada janji temu?" tanya William dan Laras menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dia ingat akan kenangan masa lalu itu.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga