
"Aku selalu mendukung semua keputusan yang diambil kak Laras. Jika memang Kak Laras ingin kembali dengan masa lalunya, aku tidak bisa mendukung. Akan tetapi, jika Kak Laras tersakiti, aku yang akan menghajar Kak William," kesal Emily saat kembali teringat masa kakaknya yang terpuruk itu.
"Saya yang akan menjamin kalau Tuan William tidak akan melakukan hal yang sama."
Tak lama setelah itu, William dan Laras ikut bergabung dengan Rama dan Emily. Saat itu juga, terlihat Daniel yang baru saja keluar dari ruang kerjanya diikuti Josh. Pria itu mengajak mereka berempat untuk menikmati sarapan pagi.
Selama sarapan pagi, tidak ada obrolan yang terjadi. Mereka lebih memilih untuk menikmati menu sarapan paginya. Laras masih sedikit jual mahal ke mantan suaminya, walaupun hatinya selalu berdegup kencang saat berdekatan dengan William.
"Will, bisa Ayah bicara denganmu setelah ini?" tanya Daniel saat menyelesaikan sarapannya.
"Ayah, nanti sore aku akan pergi ke London bersama Ken," ujar Laras yang juga telah menyelesaikan sarapannya.
"Tidak boleh!" larang William spontanitas.
Emily, Laras, Daniel menatap William sekaligus. William menatap Rama yang juga menatapnya dan menggelengkan kepala. Rama memberikan kode agar tuan mudanya itu tidak berulah. William yang paham langsung menundukkan kepalanya.
William berdiri dan membungkuk di hadapan semua orang. "Maaf. Mak-maksud saya jika Laras ingin pergi, saya akan mengantar—"
"Tidak perlu, Tuan Plowden. Emily dan Daddy juga akan ke London. Kita semua akan pergi ke London bersama-sama," jelas Emily menatap tak suka pada William.
Memang di awal Emily begitu menyukai William, sebelum bertemu dengan kakak tirinya itu. Setelah bertemu dengan Laras dan melihat sang Kakak begitu terpuruk karena berpisah dengan William. Saat itulah, rasa benci Emily memuncak terhadap William.
Wanita dengan rambut pirang itu tahu kalau Laras menyembunyikan alasan yang sebenarnya memilih pisah dengan William. Firasat kedua saudara yang berbeda ibu itu sangat kuat.
"Jika sudah selesai, pergilah ke ruang kerja Ayah dan Laras, kamu ikut juga," pinta Daniel.
"Baik, Ayah." William dan Laras kompak menjawabnya.
William mengikuti Daniel berjalan di belakangnya, sedangkan Laras berjalan di samping sang Ayah. Ayah dan anak itu terlibat percakapan masalah perusahaan. Sedangkan William hanya terdiam, terus melangkahkan kakinya mengikuti kedua orang.
Sesampai di ruang kerja Daniel, di sana sudah ada Josh dan Lea. Juna sedang duduk di sofa dan berteriak senang saat melihat kehadiran Daniel dan Laras.
"Ayah Daniel! Mommy!" teriak Juna yang langsung turun dari sofa dan berlari menghampiri dua Arlington itu.
"Hai, Juna anak Mommy." Laras mencium pipi gemas Juna.
William mengernyitkan keningnya saat melihat Juna. Pasalnya wajah Juna tidak ada mirip-miripnya dengan William begitu juga dengan Laras. Selain itu, pria dengan wajah tampan itu sedikit bingung dengan panggilan Juna kepada Daniel.
"Will, kenalin dia Juna, anak dari asisten pribadi Laras dan asisten pribadiku."
Terjawab sudah kebenaran Juna. William yang mendengar itu melongo tak percaya. Dia cemburu pada Ken hanya karena anak dari seorang asisten. Bodohnya lagi, dia iri dan tidak mau kalah bersaing hanya karena panggilan Daddy.
__ADS_1
"Juna, main sama Bunda dulu yah. Mommy masih ada pekerjaan."
Laras menyerahkan Juna pada Lea, menganggukkan kepalanya untuk memberi izin mereka berdua keluar dari ruangan Daniel. Sedangkan Josh sendiri sekarang berdiri di samping kursi kerja William.
Daniel sudah duduk di kursinya. Dia menyuruh Laras dan William untuk duduk di kursi, di depan meja kerjanya. Dia menatap anak sulung dan William bergantian. Keputusan sepihak akan Daniel lakukan demi kebaikan putrinya sulungnya.
"Ayah ingin kalian menikah kontrak," ujar Daniel setelah terdiam beberapa menit.
"Hah? Ayah jangan bercanda, Laras tidak suka ini!" protes Laras.
Josh mengambil sebuah dokumen dan menyerahkannya pada Laras dan William. Mereka berdua membaca setiap kata demi kata yang tersusun dalam dokumen itu.
"Itu adalah syarat yang Ayah berikan agar Arlington Group menjadi milikmu, Nak." Daniel menatap Laras yang masih membaca isi dalam dokumen.
"Ini tidak menguntungkan bagi WR Entertainment." Kali ini William yang protes.
"Memang tidak menguntungkan bagi perusahaanmu. Tapi, perjanjian ini menguntungkan bagi hatimu, Will. Ayah tahu, bahwa kamu masih mencintai Laras."
"...." William terdiam, tidak menjawab.
"Ayah juga tahu kalau anak Ayah juga masih mencintai mantan suaminya," timpal Daniel saat Laras hendak ikutan protes.
"Apa saya boleh merevisinya?" tanya William menatap Daniel, kali ini tatapan William begitu serius.
"Tergantung Laras. Bagaimana, Nak?" tanya Daniel.
"Aku juga ingin merevisinya."
"Katakanlah!" perintah Daniel kepada Laras.
"Pertama, tidak ada anak selama kontrak berlangsung. Kedua, kontrak ini bertahan selama dua tahun. Ketiga, tidak ikut campur dalam urusan pribadi masing-masing." Laras mengutarakan persyaratannya.
"Saya menerima ketiga persyaratan itu. Akan tetapi, saya juga mempunyai tiga syarat kepada Nona Larasati Indria Putri Arlington." William sengaja menyebut nama Laras di masa lalu dengan menambah marga Arlington.
"Katakan!" perintah Laras tak peduli dengan nama panjangnya.
"Pertama, saya akan mengadakan pesta pernikahan dengan Nona Laras." Laras yang mendengarkan persyaratan William membelalakkan kedua matanya tak percaya.
"Kedua, selama kontrak berlangsung, Nona Laras akan menjadi Nyonya Plowden dan tidak akan berdekatan dengan pria lain," senyum William semakin mengembang saat melihat Laras mulai kesal.
"Ketiga, saya setuju jika menunda untuk mempunyai anak. Akan tetapi, tidak ada larangan untuk saling menyentuh karena selama kontrak berlangsung, kita sah sebagai suami-istri."
__ADS_1
"Tapi—"
"Saya setuju dengan enam syarat yang diajukan. Jika kontraknya selesai diperbarui, Ayah akan memberikannya kepada kalian berdua," ucap Daniel yang mulai beranjak dari kursinya.
"Ayaaah," Laras yang hendak protes diurungkannya saat mendapat kode larangan dari Daniel.
"Itu sudah yang terbaik, Nak. Ayah ingin kamu bahagia. Tolong jaga Emily untuk Ayah."
Setelah mengatakan hal tersebut, Daniel keluar dari ruangannya. Dia buru-buru keluar saat ponsel yang ada di saku celananya terus bergetar. Dia berjalan menuju halaman samping rumah.
"Halo, Paman," sapa seseorang yang berada di seberang sana.
"Ada apa?" tanya Daniel dengan nada tak sukanya.
"Sepertinya Paman menyiapkan sesuatu yang menarik. Paman tidak akan ingkar janji, 'kan? Paman harus bertanggung jawab atas meninggalnya ayahku."
"Paman akan bertanggung jawab. Masih tersisa beberapa hari lagi. Kirim saja ke mana Paman harus pergi menemuimu."
"Hahaha … aku tidak menyangka bahwa seorang pemimpin mafia yang paling berbahaya di Lunar City menyerah hanya karena pemimpin yang baru," sindir orang di seberang sana.
Daniel tidak menjawab, dia menatap langit pagi hari yang cerah. Bayangan masa mudanya sebelum bertemu dengan Indah, ibunya Laras. Tiba-tiba bayangan itu berubah saat dia kehilangan kedua orang tuanya dan datangnya Bella, ibu dari Emily.
Beberapa pertempurannya selama menjadi pemimpin mafia Arlington. Gelapnya dunia mafia hingga beberapa kali dirinya keluar masuk rumah sakit. Tidak sedikit bekas operasian yang membekas di tubuh seorang Daniel Arlington. Hingga puncaknya dia berhadapan dengan sang Paman yang berakhir kematian dari pamannya.
Hingga akhirnya dia bertemu dengan Laras, putri sulungnya. Kebahagiaan itu tidak lama, karena keluarganya kembali di serang membuat mereka berduka karena kehilangan Bella Arlington.
"Steve, apa kamu bisa menepati janjimu?" tanya Daniel.
"Selama Paman Daniel bersedia menyerahkan nyawa, aku akan menepati janjiku. Bukankah dalam dunia mafia nyawa dibayar nyawa, hm?"
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga
__ADS_1