
"Nyonya, seseorang menghubungi ponsel Tuan Daniel," lapor David yang diketahui adalah tangan kanan ayahnya.
"Terima kasih." Laras mengambilnya dan membawa ke ruang kerja sang Ayah.
"Sayang, apa aku boleh ikut masuk?" tanya William membuat Laras menghentikan langkah kakinya.
"Kamu suamiku, Will. Aku akan berbicara dengan Ken, sepupuku. Bagaimanapun dia adalah seorang pria. Jika kamu tidak masalah dengan pembicaraan kita, silakan masuk. Jika kamu merasa tidak cocok dengan topiknya, kamu juga bisa tidak ikut."
"Aku ikut," putus William.
"Kak, Emily ke kamar dulu yah," pamit Emily yang hanya mendapatkan anggukan kepala sebagai jawaban.
Laras melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Daniel. William berada di sampingnya dan memilih untuk duduk di sofa. Dia tidak ingin ikut campur urusan istrinya. William menyadari bahwa sejak di pemakaman, istrinya selalu menatap Ken dengan tatapan curiga.
****************
Emily yang baru saja masuk ke kamarnya, terkejut saat tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Emily yang ingin berteriak segera dibungkam mulutnya oleh orang tersebut.
"Hei, ini aku Honey." Seseorang itu berbisik tepat di telinga Emily.
Emily yang mengenali suara sang kekasih langsung melepaskan bungkaman pada mulutnya. Emily berbalik dan tersenyum saat melihat Alex di sana. Wanita itu langsung memeluk Alex dan menangis dalam diam.
Emily butuh tempat bersandar, dia tidak mau menunjukkan sisi lemahnya pada Laras. Dia tidak mau menambah beban kakaknya yang sudah banyak itu. Paling tidak, jika dia tidak bisa menjadi penguat sang Kakak, setidaknya Emily tidak akan menunjukkan sisi lemahnya.
"It's okay, Lily. Semua akan baik-baik saja. Ada aku yang akan melindungimu."
"Terima kasih," ujar Emily yang menyandarkan kepalanya di dada bidang sang kekasih.
"Oya, kenapa kemarin saat pesta kamu terlihat kesal, hm?" Alex membawa Emily duduk di sofa.
"Sebel aja sih. Seharian gak ada kabar, bahkan pesanku hanya dibaca saja." Emily menjawab sambil cemberut.
"Kamu tahu sendiri aku sibuk. Apalagi Tuan Ken sekarang moodnya lagi tidak baik-baik saja. Aku harus bolak-balik mengurus keperluan dia." Alex membelai wajah sang kekasih yang masih saja cemberut.
"Tau ah, kamu nyebelin."
Emily beranjak dari sofa menuju ranjangnya dengan menghentakkan kaki tanda dia kesal. Alex yang sudah terbiasa dengan sifat Emily hanya menyunggingkan senyum pengertiannya. Dia mengikuti sang kekasih menuju ranjangnya.
"Ngapain ikutan?" Emily menatap tidak suka pada Alex.
__ADS_1
"Tentu saja tidur berdua," jawab Alex santai. Dia malah membuka jas dan dua kancing kemeja atasnya.
"Pergi sana! Aku laporin ke Kak Laras nih!" ancam Emily saat melihat Alex malah sudah merebahkan dirinya di atas kasur.
"Laporin saja! Dengan begitu aku langsung mengatakan yang sebenarnya kalau kita saling mencintai." Alex tersenyum geli saat melihat Emily semakin cemberut.
"Tsk, menyebalkan." Emily menghempaskan bokongnya di pinggiran kasur.
Alex yang gemas akhirnya beranjak dari posisi tidurnya. Setelahnya dia memeluk Emily dari belakang dan menyandarkan dagunya di pundak sang kekasih. Dicium dan dihirupnya aroma yang menguar dari tubuh Emily. Senyum penuh cinta selalu tersungging di wajah Alex.
"Sudah jangan ngambek lagi, Honey. Aku semakin tidak tahan kalau harus menghadapi sikapmu yang menggemaskan itu."
Bibir dan tangan Alex mulai bergerilya di tubuh sang kekasih. Ciuman dan kecupan mulai dilancarkan oleh pria itu. Elusan lembut yang dilakukan oleh kedua tangan Alex sukses membuat Emily terbuai.
Alex tersenyum saat tubuh sang kekasih bergerak gelisah. Dia lalu mengangkat tubuh Emily untuk saling berhadapan dengannya. Sinar rembulan tidak bisa menutupi rona merah pada wajah sang kekasih. Alex suka itu.
"Honey, menikahlah denganku. Jadilah Mommy dari anak-anakku. Izinkan aku menjagamu dan keluarga kecil kita." Alex membelai pipi Emily yang merona merah itu.
"Biarkan waktu yang menjawabnya, Al. Aku masih belum berani untuk mengatakan pada Kak Laras."
"Kalau begitu, biarkan aku yang mengatakannya, Honey. Aku tidak tahu sampai kapan harus menahan rasa cintaku."
"Al, bukannya kita sudah berjanji untuk tidak membahasnya lagi?" Emily mencium bibir sang kekasih.
"Alex! Uuh~" Emily menatap Alex tak percaya. Bukan masalah ucapan Alex yang bikin dia malu, tapi di bawah sana. Di bagian terintim Emily, senjata Alex mengeras dan tepat menyentuhnya hingga membuat sang kekasih melenguh.
"Tuh, apa aku bilang. Bagian bawah sana sudah tidak bisa menahannya, Honey. Apa perlu aku buat kamu hamil duluan biar mendapatkan restu dari Nyonya?"
Emily yang mendapat pertanyaan kurang ajar itu langsung memukul Alex. Dia melotot pada sang Kekasih atas ucapannya barusan itu. Walaupun Emily hidup bebas, tapi dia hidup dalam lindungan Arlington yang begitu ketat. Gadis yang usianya memasuki 27 tahun itu masih virgin.
"Tuh mulut yah bisa gak sih direm dikit kalau bicara. Iya ntar kalau sudah keadaan mendukung, aku yang bilang ke Kak Laras."
Tiba-tiba ponsel Alex berdering, ada panggilan dari Ken. Alex dengan terpaksa segera menjauh dari tubuh kekasihnya itu. Dia menjawab panggilan dari tuannya.
"Hal—"
"Kamu di mana? Datang ke kamarku seka-aduuh," ringis Ken di seberang sana.
"Baik, Tuan. Saya akan ke sana sebentar lagi." Alex segera mengakhiri panggilan dari sang Bos. Dia buru-buru memakai kembali jasnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Emily penasaran.
"Sepertinya Tuan Ken terluka. Aku harus kembali ke kamarnya, Honey. Selamat malam dan tidurlah!" Alex mencium kening Emily dengan santai.
Setelahnya dia keluar dari pintu depan kamar Emily. Berharap tidak ada orang yang melihatnya. Selanjutnya dia langsung menuju ke kamar Ken, kebetulan kamarnya berada di lantai yang sama dengan Emily.
Alex tanpa permisi langsung membuka pintu kamar bosnya dan menerobos masuk. Dia terkejut saat melihat kondisi Ken yang tidak baik-baik saja. Lengan kirinya terluka oleh goresan pisau yang begitu dalam.
Ken menutup luka itu dengan tangan kanan dan sedikit menekannya, mencoba menghentikan pendarahan. Alex segera mengambil kotak P3K yang berada di dalam kamar sang Bos.
"Tuan, apa yang terjadi?" tanya Alex saat dia sudah mendapatkan kotak P3K dan mulai melakukan pertolongan pertama pada luka goresan.
"Diamlah! Obati saja lukaku jangan banyak tanya!" perintah Ken terlihat kesal dengan kebawelan sang asisten.
"Lukanya terlalu dalam, Tuan. Saya akan mencoba menghentikan pendarahannya. Setelahnya saya akan memanggil dokter keluarga untuk menjahit luka ini." Alex menjelaskan tindakannya pada Ken, meminta persetujuan.
"Terserah." Ken pasrah karena dia sekarang lagi malas untuk berbicara.
Setelah selesai menghentikan pendarahan di lengan Ken, Alex langsung menghubungi dokter keluarga Arlington Group. Ken memilih untuk merebahkan tubuhnya di kasur sembari menunggu dokter. Dia melihat Alex yang tampak membereskan peralatan yang digunakan baru saja.
"Tuan, apa Anda membutuhkan sesuatu?" tanya Alex setelah meletakkan kembali kotak P3Knya ke tempat semula.
"Tidak ada. Tunggulah dokter di pintu utama. Aku akan tidur sebentar."
"Baik, Tuan."
Alex membantu menarik selimut untuk bosnya itu. Dia memang tidak mengizinkan sang Bos untuk terlalu banyak bergerak. Jika diperhatikan dengan seksama, wajah sang Bos tampak kacau. Tentu saja Ken akan kacau saat dia sendirilah orang pertama yang melihat Daniel Arlington tewas.
Alex keluar dari kamar Ken, menuju lantai dasar menunggu kehadiran dokter keluarga Arlington.
Sedangkan di kamar lainnya mansion Arlington yang ada di LA, tampak William mencoba menenangkan Laras. Istrinya itu menangis setelah Ken keluar dari ruangan kerja sang Ayah.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga