OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 134 KEPUTUSAN TIGA PEMIMPIN (S2)


__ADS_3

"Ada apa?" tanya William.


"Sayang, kita kembali ke rumah sekarang juga! Lea, rubah jadwal janji temu dengan dokter. Setelah itu, panggil orang-orang yang ada di video ini ke rumah," perintah Laras.


"Loh, kenapa tiba-tiba, Sayang?" tanya William tak paham.


"Kamu akan tahu setelah sampai di rumah," jawab Laras santai tapi William tahu ada nada marah terselip di sana.


Tidak ada yang tahu selain William. Pria itu kembali memutar kemudi menuju rumah mereka. Sedangkan Lea mulai menghubungi masing-masing asisten tiga orang yang ada di video tersebut. Tiba Lea menghubungi asisten orang ketiga.


"Alex, kamu bersama Tuan Ken?" tanya Lea dengan nada lirih tapi masih bisa didengar oleh Laras dan William.


"Aish, Bos sudah tahu yah?" Alex menjawab pertanyaan Laras dengan pertanyaan lagi.


"Iya dan dia terlihat marah besar," jawab Lea yang mulai menghidupkan loudspeaker-nya saat mendapatkan kode dari Laras.


"Duh, gimana dong Lea? Aku sudah memperingati Tuan Ken. Apa aku kena marah juga sama Bos yah?" Alex ketakutan pasalnya Laras jika marah sudah tidak pandang bulu.


"Gimana yah, mungkin kamu kena marah juga, Lex," jawab Lea sambil menatap Laras yang hanya terdiam.


"Aah Tuan Ken sih bebal banget. Mati aku ini sebelum berperang de—"


"Alex, pastikan Ken datang ke rumahku," ujar Laras tiba-tiba.


"Ba-baik, Bos."


Setelah itu Lea mengakhiri panggilannya dengan Alex. Laras terdiam, kedua tangannya terkepal. William yang menyadarinya langsung menggenggam tangan sang istri. Dia tahu apa yang dirasakan Laras saat ini. Istri tercintanya sedang marah.


"Kita makan sate dulu yah, Mommy. Kasihan anak kita," ujar William.


"Terserah Daddy. Lea, apa kamu sudah mencari informasi tentang Alex?" tanya Laras.


"Sudah, Nyonya."


"Kenapa dengan Alex?" tanya William.


"Dia menjalin hubungan dengan Emily dan merahasiakannya. Kenapa semua orang selalu mengkhianatiku?" gumam Laras dengan nada sedih.


"Hei calon Mommy, tidak ada yang berani mengkhianatimu. Mereka pasti memiliki alasan tersendiri kenapa merahasiakan darimu. Kita sebagai pemimpin paling tidak mendengarkan alasan mereka."


"Terserah. Aku lapar, Will."

__ADS_1


"Kita sampai sebentar lagi." William mengacak rambut Laras gemas.


****************


Sebuah mobil sedan keluaran terbaru baru saja memasuki halaman rumah yang sangat besar. William mematikan mesin mobilnya saat mereka sudah sampai di depan pintu utama. Lea keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobil Laras.


"Berikan!" pinta Laras sambil mengulurkan tangan kanannya kepada Lea.


Lea yang paham langsung menyerahkan pistol dengan logo huruf A besar. Itu adalah pistol warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi oleh pemimpin mafia Arlington terdahulu.


"Mommy, jangan melakukan hal bodoh. Ingat anak kita," peringat William tapi tidak diindahkan oleh Laras.


Laras langsung masuk ke ruang rapatnya. Ya, kali ini mereka kembali ke mansion Arlington yang ada di Lunar City. Ketika Laras masuk ke dalam ruangan, suasana tampak tegang begitu juga dengan para tangan kanan.


Bahkan, Ken yang biasanya duduk di kursi tengah memilih untuk duduk di kursi samping tempat Daniel. Ken meneguk ludahnya dengan susah payah saat merasakan aura mencekam yang menguar dari wanita hamil itu.


"Laras, bagaimana keadaanmu?" sapa Nikolai sambil menatap Laras dan William.


Nikolai tidak takut dengan Laras karena dia sudah terbiasa bertarung bersama wanita hamil itu. Hanya saja, saat ini dia enggan menatap pada pria yang ada di samping Laras, William.


"Awalnya keadaan istri tercintaku baik-baik saja, Paman. Bahkan kita ingin menemui dokter kandungan. Hanya karena ulah tiga orang membuat kami harus mengurungkannya," jawab William sedikit menyindir.


Nikolai tampak tenang, tapi tidak dengan tangan kanannya, Armand. Dia mulai memasang sikap waspada takut saja Laras lepas kendali. Sedangkan Steve duduk dengan begitu santainya, seolah dia tidak melakukan kesalahan apapun.


"Ken, ada yang ingin kamu katakan?" tanya Laras dengan suara beratnya.


"Bu-bukannya saat ini ak-aku yang mengambil keputusannya. Jadi—"


"Apa harus mengorbankan saham perusahaan kalian masing-masing hanya demi diriku, hah!" bentak Laras yang tak habis pikir dengan isi kepala dari Ken, Nikolai serta Steve.


"Itu tidak seberapa banyak, Laras. Setidaknya kita tidak perlu berta—" Ucapan Nikolai langsung dipotong oleh Laras.


"Aku lebih memilih untuk bertarung, sialan! Aku tidak suka berhutang budi dengan kalian," ujar Laras dengan marahnya.


Laras mulai mengambil napas dalam-dalam saat dirasakan perutnya sedikit kencang. Sepertinya baby Al tidak suka melihat Mommy-nya marah-marah. Bahkan, sekarang gerakan baby Al begitu menyakiti dirinya.


William dan Lea yang menyadari kondisi Laras segera mendekat. Mereka berdua mulai memberikan bisikan kata-kata penenang agar pemimpin mafia Arlington itu tidak tertekan.


"Aku tidak apa-apa," ucap Laras menatap William dan Lea dengan tersenyum manis.


"Jangan terlalu marah, Sayang." William menatap khawatir pada istrinya yang dibalas anggukan kepala oleh Laras.

__ADS_1


"Jadi, di antara kalian bertiga siapa yang terbanyak?" tanya Laras.


Mereka terdiam, tidak ada yang mengatakannya. Laras dapat melihat bahwa ketiganya saling bertukar kode untuk menjawabnya. Laras menghembuskan napasnya dan memanggil nama ….


"Ken!"


"Ah! Paman Steve yang terbanyak," jawab Ken dengan sekali tarikan napas.


Laras dan Lea langsung menatap ke arah Steve. Setelah itu mereka menatap Ken meminta penjelasan dari sang artis.


"Sudahlah kalian jangan marah lagi pada Ken. Paman yang mengajukannya sendiri. Anggap saja sebagai jaminan perdamaian di antara kita. Paman pergi dulu, jangan pedulikan Rizzo lagi," ujar Steve lalu beranjak dari kursinya.


Saat Steve Arlington berada di belakang kursi Laras, dia menghentikan langkahnya. Lalu menepuk pundak Laras seolah mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.


"Mari kita hidup damai tanpa pertempuran lagi, Bos kecil kesayangan Paman Steve."


Setelah mengatakan itu, Steve langsung meninggalkan ruang yang khusus dibuat untuk rapat. Sontak sepeninggal Steve Laras langsung kesal setengah mati. Hormon ibu hamil membuat wanita itu sangat labil.


"Kyaaa~ Paman Steve sialan! Berani-beraninya dia mempermainkan aku, Brengsek! Jelas-jelas saham yang dia berikan sama seperti saham yang aku berikan untuknya. Apanya yang paling banyak, itu sama saja aku menyerahkan sahamku sendiri melalui Paman Steve," racau Laras.


Benar. Beberapa bulan yang lalu Ken memutuskan untuk melakukan gencatan senjata dengan Rizzo. Itu pun berdasarkan kesepakatan dari para jenderal dan Steve Arlington. Bahkan, Ken juga menanyakan pendapatnya kepada Nikolai.


Sayangnya gencatan senjata itu harus dibayar mahal. Rizzo akan berdamai dan pergi dari hidup Laras dengan syarat Ken, Steve dan Nikolai harus memberinya min 5% dari saham perusahaan mereka.


Nikolai dan Ken memberikan masing-masing 5% dari saham perusahaan. Sedangkan Steve Arlington memberikan 10% dari saham Arlington Group yang diberikan oleh Laras.


"Tenang saja, walaupun Rizzo memiliki saham di Arlington Group, dia tidak akan mengelolanya. Berto atau orang lainnya yang akan datang," jelas Nikolai.


"Terserah kalian saja," sungut Laras.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~


@hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2