
Saat ini William sedang berdiri di balkon, di tepi pagar pembatas. Tatapannya menerawang jauh ke langit malam yang bertaburan bintang. William memejamkan matanya sejenak untuk menghirup udara dan menikmati semilir angin malam.
Dibukanya kembali kedua mata, menatap bulan yang berbentuk lingkaran sempurna itu. Sedikit mendongakkan kepalanya, menatap benda-benda langit yang bertaburan di angkasa. Langit malam yang hitam pekat menjadi begitu terang dengan taburan cahaya bintang.
Meyrin melangkahkan kakinya menuju William yang sedang menatap keindahan langit malam itu. Begitu senyap, tanpa suara wanita itu mendekati William. Lalu memeluknya dari belakang.
William sedikit tersentak dengan pelukan tiba-tiba itu. Hingga dia melihat tangan mulus Meyrin yang berada di bagian depan tubuhnya. William tersenyum tapi tidak beranjak dengan posisinya.
"Kamu tidak terkejut?" tanya Meyrin yang juga setia dengan posisinya.
"Tidak," jawab William dengan santainya.
"Ya sudah kalau gi—" William langsung menarik tangan Meyrin yang hendak melepaskan pelukannya.
William berbalik, menatap wajah cantik Meyrin. "Aku sedikit terkejut tadi, hanya saja karena tangan ini aku langsung tahu kalau itu kamu."
Selepas mengatakan hal itu, William dengan gentleman dan penuh perasaan mencium tangan Meyrin. Begitu manis dan romantis membuat siapapun yang melihatnya iri.
Meyrin merona mendapat perlakuan yang membuat hatinya menghangat. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain, tidak berani menatap William yang begitu manis dan romantis.
Tanpa permisi atau meminta izin, William menyentuh dagu Meyrin. Dibawanya dagu itu agar menatap wajah William. Diangkatnya sedikit dagu wanita itu ke atas agar bibir Meyrin bisa bertemu dengan bibirnya.
Biasanya orang akan melakukan hal romantis di tempat yang romantis pula. Tapi beda halnya jika itu William, hal seperti itu tidak berlaku untuk sang lelaki. Bagi William jika ada kesempatan, maka harus digunakan dengan sebaik mungkin.
Inilah kesempatan yang dimaksud William. Di balik ciumannya, William tersenyum penuh kemenangan saat Meyrin menyambut ciumannya. Bahkan wanita itu harus menjinjitkan kakinya karena William yang terlalu tinggi.
Tentu saja sebagai lelaki yang penuh keromantisan, William sedikit mengangkat tubuh Meyrin dan menahannya. Ciuman selamat malam yang begitu manis. Bukan hanya sekedar ciuman, tapi lingual mereka saling membelit tidak ada yang mau mengalah.
Hingga Meyrin lah yang melepaskan ciuman mereka. Kedua mata mereka saling bersirobok, dan sebuah senyuman muncul di bibir keduanya yang tampak basah. Debaran jantung keduanya bertalu-talu, menghantarkan rasa tak kasat mata.
William menundukkan kepalanya dan berbisik, "Aku ingin membawamu ke kasur saat ini juga."
"Aku ingin makan, Will."
"Kalau begitu, makanlah aku!"
"Kamu tidak enak."
__ADS_1
"Kalau Willy junior apa masih tidak enak?"
"Itu beda konteksnya, Will."
Meyrin mulai cemberut saat William mancing-mancing ke arah sana. Padahal Meyrin benar-benar kelaparan dalam arti yang sesungguhnya. Meyrin berjalan masuk ke lorong, tapi segera di tahan oleh William.
"Maaf, ayo kita makan malam," ajak William dengan menggandeng tangan Meyrin.
William membawa Meyrin masuk ke ruangan yang sudah direservasi oleh Rama. Nuansa warna merah dan kuning membuat kita teringat semburat warna langit senja. Apalagi lampu remang-remang sangat mendukung terciptanya suasana romantis.
Rama masuk ke dalam ruangan bersama beberapa pelayan yang membawa dua troli. Mereka mulai menyusun menu makanan lengkap malam ini termasuk dessert kesukaan Meyrin.
Melihat makaron dan es krim membuat Meyrin tidak bisa menahan ketertarikannya pada menu itu. Hal ini membuat William semakin yakin jika Meyrin adalah Laras, istri tercintanya. Akan tetapi, dia masih belum mempunyai bukti konkrit yang membenarkan asumsinya. Walaupun semua fakta sudah mengarah pada sosok istrinya.
"Kamu suka makaron dan es krim?" tanya William.
"Suka banget apalagi rasa manis dan segarnya es krim lalu dicolek dengan makaron uuh~ rasanya nikmat," jelas Meyrin dengan wajah yang berseri-seri.
"Sayangnya kita harus makan hidangan utama sebelum menyantap dessert. Setuju?" goda William dengan menjauhkan makaron dan es krim yang ada di meja Meyrin.
Meyrin mengulurkan tangannya bermaksud mencegah, tapi sayangnya kalah cepat dengan pergerakan William. William hanya tersenyum saat melihat Meyrin memajukan bibirnya satu hingga dua senti ke depan.
"Manis sekali," goda Meyrin.
"Kamu akan melihat sisi manisku sepanjang hari jika bersamaku selamanya."
"...." Meyrin diam, tidak menjawab lagi.
"Makanlah. Malam kita masih panjang. Masih banyak hal manis yang belum aku berikan padamu."
Meyrin hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Dia mulai menikmati steak dengan kematangan pas dan cita rasa yang membuatnya meleleh. Meyrin menyukai steak ini, begitu lembut dan gurih.
William yang melihat ekspresi Meyrin begitu menikmati steaknya tersenyum bangga. Dinner kali ini sudah William siapkan dari kemarin lusa. Jadi, seharusnya tidak ada kesalahan sedikitpun.
Mereka menikmati menu makan malam tanpa suara. Ruangan itu hanya ada suara dentingan dari alat makan mereka berdua. Meyrin melirik ponsel yang ada di sampingnya. Ponsel itu bergetar terus menerus membuat si empunya jengah sendiri.
Meyrin melirik sekilas ponselnya yang bergetar. Ada nama Ken Lian di layar tersebut. Meyrin memilih mengabaikannya karena sudah pasti laki-laki itu akan meracau tak jelas. Itu sudah hal biasa jika Ken mabuk.
__ADS_1
"Angkat saja jika penting. Aku tidak masalah," ucap William.
"Abaikan saja. Tidak penting, hanya orang mabuk yang sedang meracau." Meyrin kembali memakan steaknya yang tinggal seperempatnya dari tadi.
William sebenarnya curiga, tapi dia abaikan saja. Toh, malam ini dia bersama Meyrin dan wanita itu sendiri yang memilih untuk mengabaikan ponselnya.
Steak habis, Meyrin segera berdiri dan mengambil dessert-nya yang ada di hadapan William. Benar saja, Meyrin langsung mengambil makaron dan menjadikan sendok es krimnya.
"Uum~" gumam Meyrin sambil memejamkan kedua matanya, menikmati rasa segar dan manis yang menyatu dengan sempurna di mulutnya.
William membiarkannya begitu saja. Senyum di wajah tampannya tidak pernah pudar, selalu tersungging. Saking asyiknya menikmati dessert itu, Meyrin sampai tidak menyadari bahwa dia makannya belepotan.
William beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya berdiri di samping Meyrin. Wanita itu menghentikan suapannya dan menatap William. Kerut kebingungan menghiasi keningnya saat melihat ekspresi teman dinner-nya.
Lelaki itu mendekat lalu memegang pipinya. Meyrin mengerjap-ngerjapkan matanya dan melalui kode bertanya. Sayangnya William tidak menghiraukan kode Meyrin. Dia fokus dengan apa yang akan dilakukannya.
Dielusnya pipi kanan Meyrin dan sedikit mencoleknya. Ada sisa es krim di sana. William langsung memasukkan ibu jari yang ada sisa es krim Meyrin ke dalam mulutnya. Meyrin yang melihat itu langsung merona karena malu dan memalingkan wajahnya.
"Manis, seperti orangnya," ujar William yang gemas dengan tingkah Meyrin.
"Menyebalkan," gerutu Meyrin karena saking malunya.
"Jika selesai, kita akan menuju ke tempat selanjutnya." William kembali duduk di kursinya.
"Ke mana?" tanya Meyrin menatap William dengan mulutnya yang sedang mengunyah makaron.
"Rahasia," jawab William begitu santai membuat Meyrin cemberut.
Udah bikin meleyot belum?
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
IG @hana_ryuuga