
Ken mengikuti Meyrin dari belakang bersama Alex. Meyrin berjalan ke tengah ruangan di mana Buz sedang menantinya. Joker yang menyadari kehadiran Meyrin segera mundur beberapa langkah, membiarkan Meyrin menempati posisinya.
Meyrin menatap bengis pada Buz yang wajahnya tertutup dengan kain hitam. Dia melihat penampilan Buz dari kepala hingga ujung kaki. Semua aman, hanya lengan Buz yang terus mengeluarkan darah bahkan menetes ke lantai.
Tubuh Buz yang terikat di kursi terlihat santai dan Meyrin sudah menduga reaksi sang bawahan. Kedua tangan Buz diikat di belakang badan begitu juga dengan kakinya. Meyrin membuang napas kasarnya melihat penampilan Buz.
"Halo Buz, masih ingat dengan suaraku?" tanya Meyrin.
"...." tidak ada jawaban.
"Tadi Jack bilang kalau kamu ingin bicara denganku. Nah, sekarang aku sudah ada di depanmu, hal apa yang ingin dibicarakan sehingga kamu bersikap manja seperti ini?" Meyrin duduk di kursi yang baru saja disiapkan oleh Lea.
"Buka dulu kain ini, Nona," jawab Buz.
Meyrin menatap dua pengawal Aite yang berdiri di samping kanan dan kiri Buz. Wanita itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari permintaan Buz. Selanjutnya pengawal yang berada di sisi kanan menarik kain hitam itu ke atas.
Terlihatlah wajah Buz yang sudah babak belur. Beberapa sisi wajahnya membiru dan bengkak. Sudut bibirnya terdapat bekas darah yang sudah mengering. Salah satu matanya sudah tidak bisa terbuka karena bengkak akibat seringnya ditonjok.
Meyrin terdiam, menunggu Buz berbicara terlebih dahulu. Dia melirik Lea sang asisten, membuat wanita dengan tubuh kekar itu paham yang dimau sang nona muda. Lea berjalan ke arah lemari kayu, mengambil sebuah kotak berwarna hitam.
"Buz, kabarmu baik?" tanya Meyrin basa-basi.
"Maafkan saya karena sudah berkhianat, Nona. Saya siap menanggung akibatnya."
Setelah Buz mengatakan itu, seorang pengawal yang ada di dalam ruangan berjalan mendekat ke arah Meyrin.
"Nona, saya mendapatkan laporan da—" laporan itu terhenti saat Meyrin memberikan kode dengan tangannya.
"Apa rencanamu sudah berhasil, Buz?" tanya Meyrin lagi menatap tajam pada Buz.
Tidak ada jawaban dari Buz membuat Meyrin kehilangan kesabaran. Meyrin melihat Aite yang keluar dari ruang tunggu dengan terburu-buru. Wanita itu dapat melihat Buz tersenyum bangga membuat sebuah senyuman mengejek terbit di bibir seksi sang pemimpin mafia Arlington.
"Apa kamu merasa bangga, Buz? Aaah … aku lupa memberitahumu sesuatu." Meyrin beranjak dari kursinya. Dia berjalan ke sisi kiri Buz, menatap luka di lengannya.
"Rencanamu tidak berhasil, Buz. Aku sudah menjauhkan ponselmu dari mansion ini. Sepertinya bosmu sangat memahami tentang alat itu, benar 'kan?" lanjut Meyrin yang sekarang berada di belakang Buz.
"Jadi Buz … apa kamu bisa mengatakan siapa bosmu? Atau membiarkanku menebaknya?" tanya Meyrin berbisik di telinga Buz.
"Saya tidak akan membuka mulut. Lebih baik Anda membunuh saya saja."
"Hahaha … itu terlalu mudah untukmu! Kalau begitu, temani aku bermain." Buz menolehkan kepalanya ke belakang bertepatan dengan tangan Meyrin yang menekan luka di tangan Buz.
__ADS_1
"Aaarrrgghh!" teriak Buz kesakitan.
Jika Joker hanya memberikan tekanan biasa saja, beda dengan Meyrin. Wanita itu menekannya begitu keras hingga darah yang mengalir semakin deras. Buz berteriak kesakitan dengan matanya yang terpejam dan kening berkerut.
Meyrin melepaskan cengkeramannya pada lengan Buz membuat pria itu bernapas lega. Tangan Meyrin berlumuran cairan merah dari lengan Buz. Napas Buz tersengal-sengal karena teriakannya tadi. Meyrin tersenyum senang melihat ekspresi Buz.
"Lea!" panggil Meyrin.
Lea segera berjalan dengan sedikit berlari menuju sisi meyrin. Sebuah kotak berwarna hitam tak lepas dari genggaman asisten sekaligus bodyguard Meyrin. Lea berdiri dengan sigap sesampainya di sisi sang nona muda.
"Nah Buz, Lea sudah ada di sini. Sepertinya kamu sudah mengetahui permainan apa yang ingin aku mainkan, 'kan? Secara kita sudah memainkannya bersama selama dua tahun belakangan ini." Meyrin menatap Buz yang tampak terkejut.
"Tidak, Nona! Jangan lakukan itu! Ampuni aku! Aku masih punya anak yang masih kecil! Anda juga menya—"
"Kalau begitu, biarkan Ayahnya meninggal dan aku akan menjadi ibu asuh bagi anakmu. Bagaimana?" Meyrin memotong ucapan Buz.
"Saya mohon Nona, ampuni saya!" Buz memohon karena dia tahu pasti permainan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Selama dua tahun ini, Buz dan sang pemimpin mafia Arlington tersebut selalu melakukan permainan yang dimaksud. Mereka berdua begitu menikmati permainannya bersama sang tawanan. Saat ini, Buz lah yang menjadi tawanan. Artinya, pria itu yang akan menerima permainan dari sang nona mudanya.
"Baik! Asal kamu mengatakan siapa dalang di balik ini semua."
"Baik Nona. Baik." Buz menyanggupinya.
"Nona! Saya akan jujur! Tolong jangan lakukan permainan ini!" mohon Buz saat melihat Meyrin mengambil sesuatu dalam kotak itu.
"Pertanyaan pertama, siapa dalang di balik penyerangan Walikota?" tanya Meyrin.
"Walikota? Saya tidak tahu, Nona. Saya hanya mengetahui Bos ingin menyerang Anda dan Tuan Nikolai."
"Saat festival pesta topeng?" Meyrin memberikan pernyataannya.
"Bagaimana Anda tahu, Nona?" tanya Buz.
"Jack!" panggil Meyrin.
Ken yang dipanggil mengernyitkan keningnya, bingung akan apa yang dilakukannya setelah ini. Meskipun begitu, dia tetap berjalan mendekati Meyrin.
"Siap Bos," ujar Ken setelah tiba di sisi Meyrin.
"Periksa dia, kalau perlu telanjangi saja. Sesuatu yang kamu temukan tadi masih ada," ujar Meyrin.
__ADS_1
Ken yang paham maksud dari Meyrin, langsung memeriksa Buz. Dua pengawal membantu sang tawanan untuk berdiri. Tak berapa lama, Ken tersenyum dan bangga karena kejelian seorang Meyrin.
Ken menemukan sebuah alat sadap yang sama seperti Meyrin tunjukkan waktu di ruang rapat tadi. Dia tersenyum dan kembali berjalan ke sisi Meyrin untuk menyerahkan alat tersebut.
"Yo, Rizzo!" sapa Meyrin.
****************
Di sebuah rumah dengan penjagaan yang super ketat, seseorang berlari di koridor.
Brak!
Seseorang itu membuka pintu sebuah ruangan dengan keras. Terlihat seorang pria sedang duduk santai di sofa dengan menyesap minumannya.
"Lapor Tuan, Tuan Buz sudah menggunakannya."
Mendengar kabar itu, pria dengan setelan kemeja dan jas yang rapi beranjak dari sofa. Dia berjalan melewati seseorang itu dan keluar dari ruangannya.
Pria itu memasuki sebuah ruangan yang penuh dengan komputer dan alat-alat elektronik lainnya. Dia berjalan menuju tangan kanannya, Berto.
"Tuan, ini!" Berto menyerahkan earphone tanpa kabelnya kepada pria itu.
Kening pria itu berkerut saat titik hijau yang ada di layar komputer terlihat bergerak. Setelah itu, disusul suara teriakan Buz dan makian Joker. Pria itu tersenyum saat mendengar suara Jack. Rencananya mulai berhasil.
"Dia akan datang tak lama lagi," ujar pria itu ambigu dan hanya Berto yang paham siapa yang dimaksud oleh tuannya.
Pria itu semakin tersenyum senang saat tak lama kemudian mendengar suara wanita. Bahkan dia tertawa mendengar nada bicara wanita itu yang begitu menggemaskan saat mengancam Buz.
"Periksa dia, kalau perlu telanjangi saja. Sesuatu yang kamu temukan tadi masih ada," terdengar suara Meyrin memberi perintah melalui earphone yang dipakai oleh pria itu.
"Yo, Rizzo!" sapa Meyrin membuat pria yang memakai earphone itu tertawa.
"Akhirnya wanita yang kucintai menyapaku," jawab Rizzo.
Loh? Ada apa ini?
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga