OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 35 SIMFONI


__ADS_3

Rama dan Lea masuk ke dalam ruangan William dan Meyrin. Mereka menyapukan pandangan ke seluruh penjuru ruangan saat tidak melihat keberadaan bos mereka. Lea berjalan mendekati satu-satunya pintu kamar.


"Uuh~"


Lea menurunkan kembali tangan kanannya yang hendak mengetuk pintu kamar. Dia menatap Rama dan menggelengkan kepalanya. Tidak perlu dijelaskan, mereka sudah paham apa yang terjadi di dalam kamar itu.


"Lalu bagaimana?" tanya Lea.


"Letakkan saja laporannya disini, lalu kita keluar untuk mengisi tenaga dengan nasi dan daging." Rama memberikan usulannya.


"Oke."


Lea meletakkan sebuah map di atas meja sofa. Setelahnya mereka berdua keluar dari ruangan sang Bos.


****************


Matahari mulai kembali ke peraduannya. Langit dengan warna kuning kemerahan mulai terlihat dari ufuk barat. Sinar langit senja mulai masuk ke dalam celah jendela. Meyrin baru saja membuka matanya, ia sedikit mengernyit saat tubuh bagian intinya terasa sakit. Badannya begitu lengket, ingin mandi tapi enggan.


Ditatapnya langit senja yang terpampang jelas di kamar mereka. Sengaja tirai jendela tidak ditutup agar dirinya dapat menikmati pemandangan grand kanal. Pemandangan langit senja itu membius Meyrin, membuat wanita yang bergelung dalam selimut itu teringat peristiwa beberapa jam yang lalu.


Entah bagaimana dan sejak kapan, William berhasil membuat wanita itu polos di tubuh bagian atasnya. Tidak jauh berbeda dengan keadaan Meyrin, wanita itu juga berhasil melepaskan semua kancing kemeja William.


William beranjak dari posisinya memenjarakan Meyrin. Ia melepas semua yang dikenakannya dan hanya meninggalkan celana pendek ketat. Melihat itu, wajah Meyrin memerah karena malu.


Baru kali ini, setelah tiga tahun tidak bertemu, Meyrin kembali melihat tubuh William secara sadar. Bahkan beberapa otot di perut dan lengannya sudah terbentuk. Meyrin memalingkan wajahnya, tidak ingin wajah malunya terlihat oleh William. Sayangnya, pria itu kembali memenjarakan tubuh Meyrin.


"Hei, jangan berpaling dariku. Aku ingin melihat wajahmu," bisik William tepat di telinga Meyrin.


Bukan hanya bisikan, William bahkan dengan sengaja meniup telinga sang wanita. Digigitnya sedikit dengan lembut hingga membuat Meyrin bergidik geli. Hal itu membuat suara lenguhan kembali terdengar.


Simfoni-simfoni itu kembali terdengar saat William melukis mahakaryanya di tubuh Meyrin. Senyum di bibir tipis William terlihat sangat puas dikala bekas merah beberapa hari yang lalu belum hilang dan sekarang dia kembali melukisnya.


Hingga dengan kedua kakinya, William membantu Meyrin melepaskan satu-satunya penghalang di tubuh wanita itu. William segera menarik selimut menutupi tubuhnya yang menjadi tameng seorang Meyrin.


Kembali, pria itu mencium Meyrin dan menjelajah sebelum memulai kegiatan utama mereka. William ingin Meyrin juga merasakannya. Selama itu, sang wanita tidak bisa melepas tatapannya dari sesuatu yang berada di antara kedua paha William.


"Mau berhenti?" tanya William saat mendapati Meyrin selalu menatap pada benda kebanggaannya di bawah sana.


"Sialan!" umpat Meyrin yang langsung mencium William.


Hal itu tidak William sia-siakan, dia langsung menuju ke kegiatan utama mereka. Suara bak simfoni itu semakin terdengar nyaring dan hal ini yang didengar oleh Lea tadi.

__ADS_1


Mereka berdua tidak ada yang mau mengalah. William dan Meyrin sama-sama menunjukkan daya tahan mereka. Sebuah gengsi dan kenikmatan menghantam mereka berdua bersamaan. Sehingga, gelombang kenikmatan itu datang bagaikan gelombang tsunami.


Kedua tangan yang saling bertautan, semakin mengeratkan tautannya. Sebuah gelombang akan menghantam keduanya. William memejamkan matanya, sedangkan Meyrin tersenyum senang saat melihat raut wajah suaminya.


"I love you, Meyrin … uuh~" ungkap William.


"Hmph~" Meyrin tidak dapat berbicara lagi karena William kembali mencium bibirnya.


****************


"Hi, sudah bangun?" tanya William.


Mendengar pertanyaan itu membuat Meyrin tersentak kaget. Dia menatap ke arah jendela dimana langit sudah berubah gelap dengan lampu-lampu kota yang mulai menyala. Kepalanya dia tolehkan ke samping, terlihat wajah William yang sedang tersenyum.


"Iya," jawab Meyrin mencoba tetap fokus.


Pasalnya sesuatu menyundul dua bukit padat di bawah pinggangnya yang polos, dan wanita itu paham betul apa yang sedang terjadi. Meyrin menelan salivanya dengan susah payah.


"Tenang, aku sudah cukup puas dengan yang tadi," bisik William yang paham akan kekhawatiran Meyrin.


"Dasar mesum," gumam Meyrin dengan lirih tapi masih bisa didengar oleh William.


"William!" teriak Meyrin.


"Apa? Masih kurang? Nanti kita—"


"No and big no!" Meyrin melempar bantal ke arah William.


Melihat tingkah malu-malu Meyrin membuat tawa pecah William. Pemimpin WR Entertainment itu terus saja berjalan ke arah kamar mandi tanpa penghalang apapun.


Meyrin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia masuk ke dalam walk in closetnya dan terkejut saat melihat tubuhnya penuh dengan bercak merah.


"Dia semakin gila! Benar kata Ken, dia terlalu lama menahan hasratnya." Meyrin bergumam sembari menelusuri tubuhnya yang penuh dengan tanda kepemilikan William.


"Mey, kamu di dalam?" tanya William membuat Meyrin menghentikan aktivitasnya.


"Iya, sebentar."


Meyrin mengambil asal baju tidurnya. Dia memilih mini dress dengan tali tipis di kedua sisi pundaknya. Lalu, diambilnya sweater warna peach sebagai outernya.


Ceklek!

__ADS_1


Meyrin keluar dari walk in closet, dimana William sudah menunggunya di depan pintu. Pria itu hanya mengenakan handuk yang menutupi bagian bawahnya saja. Meyrin tanpa banyak bicara berjalan menuju kamar mandi.


Beberapa menit melakukan ritualnya di kamar mandi, Meyrin keluar dengan rambut yang basah. Dilihatnya William tengah duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Tak lupa sebuah kacamata bening bertengger di atas hidung mancungnya.


Melihat kehadiran Meyrin, William tersenyum dan memindahkan laptopnya ke atas meja. Meyrin berjalan ke arah William, namun dia menghentikan langkahnya saat sang pria berjalan ke arahnya.


"Ayo!" William menggandeng tangan Meyrin dan membawanya ke meja rias.


"Tunggu disini!" William membiarkan Meyrin berdiri di depan meja rias sedangkan dirinya mengambil hair dryer.


"Duduklah!" William menarik Meyrin untuk duduk di kursi meja rias.


"Ada apa ini?" tanya Meyrin yang bingung sendiri dengan perubahan sikap William.


"Aku akan membantumu mengeringkan rambutnya. Setelahnya makan malam dulu baru tidur lagi. Aku menyuruh Lea untuk membawakan menu makan malam hari ini." William menjelaskan sambil tangannya mulai mengurai surai panjang Meyrin.


Meyrin menatap William dari cermin. Wajah serius lelaki itu menggoda jiwa Meyrin. Jangan lupakan kacamata yang masih bertengger di hidungnya menambah kesan seksi. Tiba-tiba pandangan Meyrin fokusnya jatuh pada bibir William.


Saking fokusnya, dia tidak sadar jika William sudah menyelesaikan tugasnya. Bahkan Meyrin terang-terangan menatap bibir William. Tanpa disadarinya, dia menggigit bibir bawahnya dengan sorot mata yang tajam.


"Mey, kamu tidak apa-apa?" tanya William menyadarkan Meyrin dari fantasi gilanya.


"O-oh tidak apa-apa," gagap Meyrin.


"Kalau begitu, makanlah! Aku mau memeriksa email dulu."


Setelah mengatakan itu, William kembali ke sofa untuk mengambil laptopnya dan masuk ke dalam ruang kerja mereka. Meyrin yang melihat itu menggelengkan kepalanya saat terlintas kegiataan olahraga mereka beberapa jam yang lalu.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya seseorang.


Seseorang siapa nih?


.


.


.


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2