
Meyrin yang baru saja masuk ke dalam ruangannya tidak menyadari kehadiran William. Sedangkan sang lelaki menatap setiap pergerakan yang dilakukan Meyrin. Merasa jengkel karena tidak mendapat perhatian, akhirnya William menyapa sang wanita lebih tepatnya bertanya.
Terlihat Meyrin sedikit terkejut dengan kehadiran William. Wanita itu menatap William dan kembali mengatur wajahnya seolah mereka tidak pernah bertemu.
Hingga pertanyaan yang dilayangkan William membuatnya tersentak kaget.
"Apa yang kamu lakukan pada istriku, Laras?" tanya William menatap manik hitam Meyrin penuh tuduhan.
Meyrin yang mendapatkan pertanyaan itu tersenyum miring. Bersyukur karena William mengira Meyrin adalah sosok yang berbeda dengan Laras. Wanita itu hanya diam tanpa memberikan jawaban.
William yang melihat senyum Meyrin mengerutkan keningnya. Matanya menatap nyalang pada sang wanita yang hanya dibalas dengan tatapan menggoda ala Meyrin. Merasa tidak akan mendapatkan jawaban, William kembali mengajukan pertanyaan baru.
"Jadi, Nona Meyrin … bisa anda katakan dimana istri saya berada?"
"Kalau saya tidak mau, bagaimana?" tantang Meyrin.
"Apa kontrak ini sudah tidak menarik bagi anda?" William melemparkan sebuah map ke atas meja.
Kerutan kebingungan menghiasi dahi Meyrin.
"Bukalah!" perintah William memberikan kode dengan dagunya.
"Ah … kontrak dengan perusahaan Tuan Steve. Sayangnya, saya sudah tidak tertarik lagi." Meyrin mengedikkan bahunya tak peduli.
William mengambil kembali map nya dan berkata, "Baiklah, jangan menyesal."
Setelah mengatakan itu, William beranjak dari duduknya. Berjalan melewati Meyrin yang masih setia duduk di sofa dengan gaya anggunnya.
Tanpa diduga, saat William berada di belakang tubuh Meyrin, dia membungkuk. Mendekatkan wajahnya di telinga Meyrin dan mengatakan sesuatu yang membuat Meyrin membulatkan matanya sempurna.
"Aku pastikan Liu Meyrin menjadi milik William dan membayar semua yang dia lakukan pada Laras," bisik William sebelum dia benar-benar keluar dari ruangan Meyrin.
Ketika terdengar pintu tertutup kembali, barulah tawa Meyrin meledak. Dia benar-benar merasa terhibur saat William mengira dirinya adalah Meyrin dan apa katanya tadi?
Menuduh seorang Liu Meyrin mencelakai Laras, istri dari seorang William? What the fvck!
Meyrin tidak gila dan belum gila untuk melukai dirinya sendiri. Meyrin terus saja tertawa mengingat wajah suaminya, William saat menuduh dirinya tadi.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuat Meyrin menghentikan tawanya. Mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya karena terlalu banyak ketawa.
"Masuk!" perintah Meyrin.
Mendengar perintah sang empu ruangan, orang yang mengetuk pintu tadi segera masuk. Terlihat Lea masuk bersama Emily di sampingnya.
__ADS_1
"Kakak, kenapa kakak ipar kesini? Apa dia tau ka—" perkataan Emily terpotong.
"Tidak. Dia malah mengira aku mencelakai Laras karena seharusnya Laras yang menjadi pemimpin Arlington Group bukan Liu Meyrin, hahaha." Meyrin menjelaskan sembari tertawa saat dirinya kembali teringat wajah William.
"Memang ada yang lucu yah, Kak?" Emily duduk di tempat William tadi duduk.
"Tentu saja. Wajah dia saat menuduhku dan tatapan tajamnya. Selain itu, dia mengatakan kalau akan membalas dendam pada Liu Meyrin karena sudah melakukan sesuatu pada Laras. Astaga, itu sangat lucu sekali." Meyrin memegang perutnya yang terasa sakit karena banyak tertawa.
"Apa Nona juga akan menjalankan rencana itu? Bagaimana kalau ketahuan?" tanya Lea.
"Kita lihat saja kedepannya. Sejauh mana William bertindak. Aku bukan Laras yang dulu. Sampaikan pada ayah, suatu saat aku akan memakai nama Laras Arlington bukan Liu Meyrin lagi."
"Baik, Nona."
"Apa jadwalku hari ini?" tanya Meyrin dengan menyandarkan kepalanya di punggung sofa.
"Pagi ini tidak ada. Tapi, nanti siang ada pertemuan dengan customer yang beberapa hari lalu meminta pertanggung jawaban pihak kita ka—"
"Oh mereka. Suruh Rosa yang menemuinya dan lakukan seperti biasanya," timpal Meyrin dengan malas.
"Selanjutnya Tuan Ken ingin mengajak Nona untuk makan malam. Ap—"
"Setuju saja. Mungkin dia menemukan sesuatu tentang kotak misterius di kamar Emily. Kamu sudah tahu kronologinya?" Meyrin menatap Lea yang berdiri di samping kirinya.
"Sudah, Nona."
"Baik, Nona."
Setelahnya, Lea berjalan ke meja kerjanya yang ada satu ruangan dengan Meyrin. Sedangkan Meyrin mengambil laptopnya dan mulai mengajari Emily tentang seluk beluk perusahaan Arlington.
****************
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Bisa dilihat wajah lelah dan bosan khas Emily. Meyrin yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lea berjalan mendekati kedua nona mudanya. Dia menawarkan untuk menu makan siang hari ini.
"Aku ingin keluar dari ruangan ini," protes Emily saat kakaknya memilih untuk delivery makanan.
"Baiklah, kamu menang." Meyrin mengalah demi adiknya.
Meyrin membereskan berkas-berkas latihannya dibantu Emily. Sedangkan Lea menerima telepon dari bawahannya. Keningnya berkerut dan menatap Meyrin yang juga menatapnya.
"Baiklah. Akan saya sampaikan kepada Nona Meyrin." Lea langsung mengakhiri panggilannya.
"Ada apa?" tanya Meyrin.
__ADS_1
"Orang kita sudah sadar. Dia tidak bersedia membuka mulut jika itu bukan Nona," jawab Lea lugas.
"Kita akan ke rumah sakit. Sebelum itu, kita ke tempat yang Emily mau dulu."
"Baik, Nona."
"Kakak, bagaimana kalau kita makan di kantin perusahaan?" tanya Emily.
"Ini adalah harimu. Jadi, kakak ikut saja."
"Yes! Ayo kita segera meluncur!"
Ketiga wanita itu berjalan keluar dari ruangan Meyrin. Sudah diputuskan kalau mereka akan menghabiskan makan siang ini di kantin perusahaan.
Melihat Meyrin keluar dan meninggalkan ruangannya, beberapa bodyguard mengikutinya dari belakang. Awalnya wanita itu tidak suka dan risih. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu dan banyaknya musuh yang mengincar Meyrin, wanita itu akhirnya setuju untuk memiliki beberapa bodyguard.
Bahkan, Meyrin juga menyiapkan bodyguard pribadi untuk Emily. Mungkin sebentar lagi akan menambah beberapa bodyguard lagi untuk melindungi adiknya dari orang misterius.
Sesampainya di kantin, beberapa pengawal yang dilewati oleh Meyrin dan Emily membungkuk hormat. Bahkan tak jarang mereka memberikan sapaan selamat siang.
Sayang seribu sayang, sapaan itu tidak pernah mendapatkan jawaban dari sang bos. Hal itu bukan hal yang aneh lagi karena mereka tahu sedingin apa seorang Liu Meyrin. Meskipun begitu, para karyawan sangat menghormati Meyrin sebagai pimpinan yang adil dan disiplin.
Tidak sedikit karyawan wanita yang menjadikan Meyrin sebagai idolanya. Bahkan beberapa karyawan pria juga mengidolakan Meyrin karena wajahnya yang cantik.
Beda halnya dengan Meyrin. Emily yang berjalan di sampingnya membalas semua sapaan para bawahan kakaknya. Wajahnya yang cantik dan khas orang Eropa menjadikan wanita itu memiliki data tarik tersendiri.
Mereka langsung duduk di kursi yang kosong, berbaur dengan para karyawan lainnya. Lea memesan menu kesukaan dua nona mudanya itu. Dua bodyguard berada di belakang Meyrin dan Emily. Sisanya berdiri di pintu masuk, mengamati keadaan sekitar.
"Berhenti menebar pesona jika ingin nyawamu selamat," protes Meyrin.
"Ish, kakak aja yang terlalu kaku. Padahal sebelum mommy meninggal kakak begitu ceria. Berhenti menyalahkan diri sendiri, Kak."
"Emily Arlington," ucap Meyrin memanggil nama lengkap Emily. Kode keras agar Emily tidak membahas masa lalu.
Lea berjalan dengan beberapa pelayan untuk menyajikan menu makan siang hari ini spesial untuk Meyrin dan Emily. Setelahnya mereka menyantap makan siang dalam keadaan hening. Meyrin meminta Lea untuk bergabung dengannya. Sedangkan dua bodyguard yang ikut juga dilepas tugaskan oleh Meyrin untuk makan siang.
Saking asiknya menikmati makan siang, mereka tidak menyadari bahwa dia orang pria berjalan mendekati meja mereka. Semua orang menatap kehadiran dua pria itu terutama para karyawan wanita.
"Hi, Sayang," sapa salah satu pria itu.
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga