OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 8 KENAPA ANDA MARAH?


__ADS_3

Ken membawa Meyrin masuk ke dalam gedung tempat mereka akan melakukan konferensi pers. Beberapa reporter yang sudah menerima undangan diperbolehkan untuk ikut masuk ke dalam gedung setelah sebelumnya sudah menata kamera di tempat yang sudah disediakan.


Berbeda dengan reporter yang langsung menuju ke ruang konferensi pers, Ken dan Meyrin diarahkan ke ruangan khusus. Disana, Alex dan Lea sudah menunggu.


"Hai, kakak cantik," sapa seorang wanita berambut pirang.


"Emily!" Meyrin langsung memeluk adiknya.


Bisa dimaklumi, Emily yang memilih untuk sibuk dengan dunia modeling sangat jarang berada di mansion. Dia lebih banyak keliling luar negeri, melakukan pemotretan dengan brand ternama.


Meyrin sangat merindukan sosok Emily yang sudah satu bulan tidak ditemuinya. Dia peluk erat-erat Emily, dia begitu sangat menyayangi adik cerewetnya itu.


"Kapan kamu kembali?" tanya Meyrin melepas pelukannya.


"Sekitar jam 7 aku tiba di bandara dan langsung kesini bersama Alex," jelas Emily sambil menatap kakaknya.


"Wow! Sejak kapan kalian akur?" sindir Ken yang menjadi saksi bisu pertemuan pertama sepupu dan manager barunya itu.


"Ngak usah mulai yah kak Ken. Siapa juga yang mau berbaikan sama dia. Emily hanya memanfaatkan dia saja," ketus Emily.


"Nona, sudah waktunya konferensi pers," Lea menginterupsi pembicaraan antara Meyrin dan Emily.


Ken dan Meyrin hanya menganggukkan kepalanya. Lea membuka pintu ruangan untuk dua majikannya. Beberapa pengawal sudah menunggu di luar ruangan. Ken dan Meyrin berjalan dengan di samping kanan dan kirinya dihadang oleh pengawal serta bagian belakang dan depan. Mereka berdua seperti burung dalam sangkar.


Seorang staf membungkuk hormat saat Ken dan Meyrin tiba di depan pintu. Ken menganggukkan kepalanya bertanda mereka berdua siap memulai konferensi pers tersebut. Ken memeluk pinggang Meyrin begitu posesif.



Staf itu membuka pintu dan membiarkan Ken dan Laras masuk ke dalam ruangan konferensi pers. Saat mereka masuk ke dalam, kilatan kamera langsung menyambut keduanya. Ken dan Meyrin hanya membalas dengan senyuman, dimana lelaki itu yang masih setia memeluk pinggang Meyrin.


****************


Rama baru saja memasuki ruang kerja William. Tanpa banyak bicara, dia menyalakan televisi yang ada di ruang kerja tuan mudanya. Melihat tingkah Rama membuat William mengernyitkan keningnya.


Hingga televisi dengan layar 32 inch itu menayangkan sebuah acara. Disana terlihat Ken dan Meyrin yang baru saja memasuki tempat jumpa pers. William mengepalkan tangannya saat melihat seorang Ken begitu mesra menggandeng Meyrin.


"Ada apa ini?" tanya William masih fokus pada layar televisinya.


"Tuan Ken dan Nona Meyrin mengadakan konferensi pers mengenai skandal yang menimpa seorang Ken Lian." Jelas Rama sambil menyerahkan sebuah koran.


William membaca artikel itu dengan seksama. Sesekali keningnya berkerut dan sesekali alisnya memicing.


"Ini Meyrin, kan?" tanya William akhirnya.


"Iya, maka dari itu mereka melakukan konferensi pers. Menurut informasi yang saya dapatkan, hubungan mereka mendapatkan restu dari Daniel Arlington."


"Apa hubungannya Daniel dengan mereka berdua?" William semakin penasaran.


"Saya juga tidak tahu, Tuan. Mungkin karena tuan Ken adalah keponakan dari tuan Daniel," jawab Rama asal.


William tak bertanya lagi. Dia fokus kembali mengerjakan tugasnya sampai indera pendengarannya terusik oleh perkataan seorang Liu Meyrin.


****************

__ADS_1


Ken dan Meyrin baru saja masuk ke dalam ruangan dimana konferensi pers akan dilaksanakan. Ken memeluk pinggang Meyrin begitu mesra dan posesif, membenarkan skandal yang beredar.


Ken yang memakai kemeja putih dan celana hitam senada dengan yang dipakai oleh Meyrin. Kemeja putih, celana putih dengan belt membuat penampilan wanita itu semakin terlihat elegan.


Begitu gentleman, Ken membantu menarik bagian belakang kursi untuk Meyrin. Mempersilahkan wanita itu untuk duduk dengan senyaman mungkin. Meyrin menatap Ken dan mengucapkan terima kasih. Hal yang dilakukan dua orang ini tidak luput dari sorotan kamera.


"Selamat pagi, semuanya," sapa Ken yang langsung mendapat jawaban antusias dari fans dan para reporter.


"Disini saya ingin mengklarifikasi tentang skandal yang terjadi tadi malam. Tapi, sebelum itu biarkan wanita di samping saya yang menjelaskannya," Ken menatap Meyrin.


"Kenapa harus nona itu, Ken?"


"Apakah nona itu adalah wanita misteriusnya?"


Masih banyak berbagai macam pertanyaan terlontar dari para reporter membuat suasana ricuh. Moderator segera menenangkan awak media dan para fans. Sedangkan Meyrin hanya menanggapinya dengan tersenyum manis.


Setelah dirasa semua tenang, Meyrin mulai mengambil mic nya. Menatap Ken dengan pancaran cinta dan setelahnya menatap audience. Jantung Meyrin berdegup kencang. Dia sedikit takut jika apa yang sudah dibahas di belakang tadi tidak sesuai dengan harapannya.


"Sebelumnya saya berterima kasih untuk semua yang sudah menyempatkan waktu dan hadir di acara jumpa pers kali ini. Perkenalkan nama saya Liu Meyrin, kekasih dari Ken Lian."


Mendengar itu, sontak suasana kembali ricuh. Berbagai pertanyaan kembali dilontarkan. Bukan hanya kepada Meyrin, tapi juga kepada Ken. Para fans mulai tak terkendali saat melihat idolanya mempunyai seorang kekasih.


Para petugas keamanan dan moderator kembali bertugas, menenangkan. Butuh waktu yang cukup lama untuk membuat suasana kembali kondusif hingga akhirnya Ken Lian membuka suaranya.


"Kami akan menjawab semua pertanyaan dari kalian, tapi tolong tenanglah!" kata Ken menatap para fans dengan tatapan sendunya.


Melihat tatapan sendu sang idola, para fans mulai tenang dan kembali duduk. Mereka tidak ingin membuat idolanya kesulitan apalagi sedih. Setelah suasana kembali kondusif, Ken menatap Meyrin dan menganggukkan kepalanya.


"Silahkan yang mau bertanya," Meyrin menatap pada para reporter.


"Sejak kapan kalian menjalin hubungan?" tanya reporter pertama.


"Dua tahun yang lalu, saya memutuskan menerima perasaan seorang Ken Lian," jawab Meyrin sambil menatap Ken penuh cinta.


"Bagaimana pertemuan kalian berdua?"


"Lalu, siapa yang mengejar lebih dulu?"


"Ken, apa kamu tidak mencintai fansmu lagi?"


Dua pertanyaan dari reporter dan satu pertanyaan dari fans Ken Lian secara bersamaan.


Meyrin menatap Ken dan menganggukkan kepalanya. Sebuah senyum dia kembali berikan membuat para pria yang hadir disana terpesona.


"Aku bertemu dengan Ken saat berada di Jepang. Saat itu dengan kepiawaiannya, dia mengaku telah bertemu denganku. Selain itu, dia juga menyelamatkan salah satu sahabatku," Meyrin mulai menjawab.


"Saat itulah, aku mulai mengejar seorang Meyrin. Walaupun awalnya ditolak, aku tidak menyerah. Aku mengejar dia tanpa diketahui oleh awak media. Akan tetapi, dua tahun yang lalu karena sebuah alasan tertentu, wanita cantik di sebelahku ini menerima perasaan tulusku." Ken berjalan maju ke depan dengan tangannya yang menggandeng Meyrin.


"Jadi, saya mohon untuk semua, terutama kepada para fansku, restui kami." Lanjut Ken sambil membungkukkan badannya yang diikuti oleh Meyrin.


Ken dan Meyrin kembali menegakkan tubuhnya saat tidak ada respon dari para fans. Meyrin mulai panik, takut jika rencananya tidak sesuai dengan yang diharapkan.


"Rasa cintaku kepada Meyrin tidak bisa disamakan dengan rasa cintaku kepada fans. Aku mencintai Meyrin, tapi tidak mengurangi rasa cintaku kepada kalian semua. Bahkan cinta dari kalian memiliki tempat tersendiri dihati seorang Ken Lian. Jadi, pada konferensi pers ini kami mohon, tolong restui hubungan kami!" ujar Ken.

__ADS_1


"Kami mendukung kalian. Love Ken dan Meyrin!" teriak salah satu dari fans Ken diikuti suara lainnya yang mendukung hubungan mereka berdua.


Ken dan Meyrin tersenyum senang dengan respon para fans. Mereka terus berteriak memberikan dukungan kepada dua idola mereka saat ini. Meyrin menatap Ken dan tersenyum.


****************


"Sialan!" umpat William sembari mematikan televisinya saat Meyrin mengakui bahwa dirinya adalah kekasih seorang Ken Lian.


"Kenapa anda marah, Tuan?" tanya Rama saat melihat gejala paranoid William mulai kambuh.


"Aku juga tidak tahu, Kak. Rasanya aaakhh! Sialan! Brengsek!" William melempar semua benda yang ada di atas meja begitu juga dengan dokumen-dokumen penting.


Nafas yang terengah-engah, William sadar di atas meja itu ada dokumen penting. Jadi, dia memilih berjalan menuju kamar yang menjadi satu dengan ruangan kerjanya. William akan melampiaskan rasa marahnya yang bahkan dia sendiri tidak tahu penyebabnya.


Rama hanya membiarkan begitu saja William dengan paranoidnya. Sedikit ada kemajuan dengan terapi yang dilakukan William setiap seminggu dua kali. Jika paranoidnya kambuh, William bisa membedakan kepada siapa dia harus lampiaskan.


Semenjak ditinggal Laras, William rutin untuk melakukan terapi, lelaki itu lebih memilih melampiaskan pada barang. Dia akan melempar semua barang yang berada di dekatnya. Jika selama 10 menit amarah itu tidak kunjung reda, maka disinilah peranan Rama diperlukan, memborgolnya tangannya.


Tapi, perkembangan itu harus William bayar mahal. Semenjak kehilangan Laras paranoidnya mudah sekali kambuh. Dirinya menjadi sangat sensitif dengan hal yang tidak sesuai keinginannya.


****************


Jika di sebuah perusahaan WR Entertainment William marah-marah tanpa tahu penyebabnya, beda halnya dengan perusahaan Arlington Group. Pemimpin mereka sedang bersulang di ruang kerjanya.


Emily, Lea, Ken dan Alex berada disana. Meyrin sudah duduk di kursi tahtanya. Dia mengangkat satu gelas berisi wine, mengajak untuk bersulang bersama keempatnya. Senyum Meyrin tak pernah lepas dari bibir tipisnya yang saat ini memakai lipstik warna merah menyala.


Dia mengambil ponselnya, mencari nama seseorang. Rencana pertama berjalan dengan lancar. Tinggal melanjutkan rencana selanjutnya. Rencana membuat seorang William merasakan bagaimana berada di posisi seorang Larasati Indria Putri.


"Halo Aite, blokir semua tentang identitas Liu Meyrin tanpa terkecuali," perintah Meyrin.


"Begitu juga dengan identitas nona Larasati Indria Putri?" tanya Aite.


"Tentu saja."


Panggilan berakhir. Mereka berlima melanjutkan pestanya. Hingga dering ponsel membuat mereka menghentikan kegiatannya dan memilih diam.


Mereka berlima saling lirik dan bertanya-tanya ponsel siapa yang berdering. Pasalnya, dari kelima orang itu tidak ada yang mengenali nada dering tersebut. Hingga tiba-tiba dering itu berhenti dan kembali berbunyi di detik berikutnya.


"Astaga kak Laras! Itu kan bunyi dering ponsel lamanya kakak!" teriak Emily akhirnya.


Meyrin menepuk jidatnya, dia baru ingat. Wanita itu langsung membuka laci meja di sampingnya dan mengambil sebuah ponsel. Benar saja, ponsel dengan background Yuki, Dewi, William, Rico serta dirinya itu bergetar. Sebuah senyum kerinduan Meyrin berikan kepada nama pemanggil sebelum dia menggeser tombol hijaunya.


"Ha—"


"Pindah ke mode video! Sialan nih orang!" bentak orang di seberang sana, membuat Meyrin tertawa.


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


IG @hana_ryuuga


__ADS_2