OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 27 EFEK AFRODISIAK


__ADS_3

Lea menghubungi Aite dan menyampaikan perintah dari nona mudanya. Aite hanya menjawab dengan tawa yang keras.


"Ketahuan juga, padahal aku sudah mencari obat afrodisiak yang efeknya agak lama biar bisa bermain dengan suaminya sendiri," ucap Aite di seberang sana.


"Jangan bercanda, Tuan. Saran saya Tuan perhatikan mansion di pinggiran kota. Nona Meyrin sudah menaruh beberapa pengintai disana. Tinggal menunggu perintah turun dari Nona Muda," peringat Lea sebelum mengakhiri panggilannya.


****************


Jika Lea sibuk dengan Aite dan obat penawarnya, beda halnya dengan yang ada di lantai presidential suit dengan nomor 204. Meyrin tanpa memperhatikan sekitar membuka seluruh bajunya hingga menyisakan pakaian dalamnya saja.


Meyrin langsung masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower. Diaturnya air yang paling dingin untuk meredakan panas di dalam tubuhnya. Pengaruh obat afrodisiak benar-benar bekerja sangat hebat saat ini.


Nafas Meyrin tersengal-sengal. Tubuhnya memerah akan merasa panas. Matanya terpejam, mencoba fokus pada guyuran air shower yang disetelnya paling dingin. Tanpa wanita itu sadari, ada seseorang yang melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya orang itu membuat Meyrin terhentak kaget.


"Apa yang Tuan Plowden lakukan dengan ikut masuk ke kamar mandi?" tanya balik Meyrin.


"Bagaimana kam—"


"Parfum anda. Tolong keluarlaaah!" perintah Meyrin dengan nada yang lirih dan gairahnya semakin tak terkontrol saat indera penciumannya menghirup wangi dari parfum William.


"Ap—" perkataan William kembali terpotong oleh bentakan Meyrin.


"Saya bilang, KELUAR! Hah … hah …," Meyrin sudah tak kuat lagi menahan gejolak ini.


William membalikkan badannya hingga terdengar Meyrin mengumpat dan detik itu juga dia membulatkan matanya. Meyrin mencium William dengan panasnya. Akal sehat wanita itu sepenuhnya hilang karena berada di bawah pengaruh obat afrodisiak.


William lelaki normal, jika ada wanita yang menawarkan dirinya sudah pasti tidak dapat ditolaknya. Apalagi sudah lama dirinya tidak merasakan kelezatan surga dunia seorang wanita.


William menyelipkan kedua tangannya diantara paha dan leher Meyrin. Menggendongnya ala bridal style menuju kamar. Lelaki itu membaringkan Meyrin dengan lembut, membuat sang wanita meringis merasakan kembali kelembutan seorang William.


Meyrin meneguk ludahnya saat melihat bagaimana William, suaminya membuka seluruh baju yang dikenakannya. Otot pada perutnya mulai terbentuk dengan jelas, apalagi otot bisep di kedua lengannya yang menambah nilai plus bagi seorang pria. Jangan lupakan tatapan tajam William saat berada di atas ranjang.


"Jangan menyesal setelah ini!" peringat William.


Meyrin langsung menarik William yang ada di atasnya dan kembali mencium bibir yang menjadi candunya. Dia merindukan setiap kelembutan dan sentuhan seorang William. Munafik jika dia bilang tidak merindukan suaminya ini.

__ADS_1


Astaga lihatlah! Tatapan William begitu tajam untuknya, seperti singa yang sedang kelaparan. Meyrin menyukai tatapan itu, di bawah tatapan William, dia merasa menjadi wanita tercantik di dunia.


Suara lenguhan mulai terdengar. William benar-benar merealisasikan semua yang ada di otaknya. Bayangan saat dia bercinta dengan wanita itu, ia wujudkan. Sentuhan-sentuhan pada titik-titik terlarang Meyrin, William berikan. Hal itu membuat wanita yang berada di bawah kekuasaannya lepas kendali.


Mahakarya tanda merah sudah menghiasi seluruh tubuh Meyrin. Tidak ada yang dilewatkan oleh William. Hingga perjalanan mereka sampai pada tahap akhir, yaitu mencari kenikmatan yang sesungguhnya.


Detik menjadi menit, menit menjadi jam. Sudah satu jam lebih mereka mencari gelombang tsunami. Sehingga gelombang itu mulai menghantam keduanya. Suara lenguhan panjang menjadi simfoni di rungu mereka hingga menggetarkan jiwa keduanya. Sebuah senyum kelegaan dan kepuasaan tersungging di wajah Meyrin dan William.


Meyrin langsung tertidur karena kelelahan. William melirik jam yang ada di dinding kamar membuatnya menepuk jidat. Pukul 02.00 dini hari waktu Venesia, Italia.


"Astaga! Kenapa aku jadi segila ini!" lirih William tak habis pikir dengan dirinya.


William menuju walk in closetnya, mencarikan baju untuk Meyrin. Dia tidak ingin wanita itu tidur dalam kedinginan walaupun selimut di ranjang sudah cukup tebal. Setelah baju itu terpasang sempurna di tubuh sintal dan ramping Meyrin, William kembali menyelimutinya hingga sebatas leher.


William kembali ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus menenangkan sesuatu yang ada di pangkal pahanya. Pasalnya saat membantu Meyrin barusan, dirinya kembali siap tempur.


****************


Meyrin mengerjap-ngerjapkan kedua matanya saat sinar matahari mulai masuk ke dalam kamar. Wanita itu terduduk dan merentangkan kedua tangannya, bermaksud melakukan peregangan.


"Aduh!" rintih Meyrin saat seluruh tubuhnya terasa sakit.


Meyrin beranjak melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Entah kenapa bagian intinya terasa sakit, membuat Meyrin meragukan pikiran positifnya. Sebelum sampai ke kamar mandi, pintu kamar diketuk.


"Nona, apa anda sudah bangun?" tanya Lea dari luar pintu kamar.


"Iya, ada apa?"


"Boleh saya masuk?"


"Masuklah!" perintah Meyrin yang sekarang kembali duduk di atas kasur dengan kaki yang saling terlipat.


Meyrin dapat melihat Lea masuk ke dalam kamar takut-takut. Bahkan asisten pribadinya itu terus menundukkan kepalanya, tak berani menatap nona mudanya. Meyrin mengernyit melihat tingkah Lea yang berbeda dari biasanya.


Lea menghentikan langkahnya di hadapan Meyrin. Tatapannya tertuju pada lantai kamar, tidak berani menatap nona mudanya itu. Meyrin semakin mengernyitkan keningnya.


"Lea, ada apa?" tanya Meyrin lagi.

__ADS_1


"Nona … itu …." Lea menggantungkan kalimatnya.


"Ada apa, Lea?" tanya Meyrin berusaha sabar.


"Sa-saya …."


"Kamu kenapa?" tanya Meyrin lagi mulai meninggikan nada bicaranya.


Lea tersentak kaget, dia tahu kalau kesabaran Meyrin berada diambang batasnya. Dirogohnya saku celana dan mengeluarkan sebuah botol kecil yang terbuat dari kaca berisi cairan jernih. Meyrin membelalakkan kedua matanya tak percaya.


"Jadi …?" Meyrin menatap Lea yang masih menundukkan kepalanya tapi anggukan kepala sudah mewakili jawaban yang diinginkan Meyrin.


"Fvcking shiit!" umpat Meyrin dan mengacak-acak rambut yang kusut menjadi semakin kusut.


"Lea, aku harus gimana sekarang?" tanya Meyrin.


Lea yang masih takut memberanikan menatap Meyrin. Rasa takut masih menghantui pikiran Lea, takut sewaktu-waktu nonanya mengeluarkan pistol warisannya.


"Semua sudah terjadi, jadi anggap saja hanya masalah orang dewasa. One night stand, bagaimana?" saran Lea asal.


"Sudahlah! Benar katamu, anggap saja ONS toh bukan kesalahan yang pertama," ujar Meyrin keceplosan.


"Hah? Maksud Nona apa?" tanya Lea tak mengerti.


"Tidak apa, lupakan saja!" ujar Meyrin beranjak dari kasur.


Setelahnya Meyrin melangkahkan kakinya ke kamar mandi, mengabaikan Lea yang masih berdiri mematung. Otak wanita bertubuh kekar itu masih mencari jawaban dari perkataan nona mudanya.


Kasihan Lea harus berpikir hahaha


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


IG @hana_ryuuga


__ADS_2