
"Kenapa bukan aku?" tanya Ken.
"Tuan Ken waktu itu mabuk dan Nona Meyrin lah yang membawa Anda ke mansion," jawab Lea santai.
"Sialan," umpat Ken yang melihat Armand tersenyum mengejek padanya.
"Sudah dapat, Nona. Tidak terlalu jelas karena kamera CCTV berada di jarak yang jauh." Armand menatap Meyrin.
"Tidak masalah. Pastikan saja suara letusan kembang apinya terdengar." Armand menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Armand mulai memutar rekaman hasilnya meretas CCTV yang ada di Piazza. Semua orang menatap penuh takjub dengan pesta kembang api gratis dari Tuan Plowden. Saking takjubnya mereka tidak menyadari sesuatu sampai Meyrin mulai menghitung.
"Satu …, dua …, tiga …," Meyrin semakin menajamkan indera pendengarannya.
Melihat itu, mereka juga mulai menajamkan indera pendengaran masing-masing. Jika Meyrin sudah seperti itu, pasti sesuatu akan terjadi dan itu adalah sebuah petunjuk.
"Empat …, lima …. Benar, semuanya ada lima. Apa kalian juga mendengarnya?" tanya Meyrin menatap semua yang ada di sana.
"Maaf Nona, saya mendengarnya hanya tiga," jawab King.
"Tidak! Semuanya ada lima. Tapi, coba putar ulang, Armand!" sangkal Nikolai dan kembali memberikan perintah pada tangan kanannya.
Armand kembali memutar video itu sesuai perintah tuannya. Semuanya kembali memperhatikan dan menajamkan indera pendengaran mereka.
"Stop!" perintah Nikolai.
"Perhatikan pada 10 detik pertama, itu adalah waktu pertama kembang api berupa roket dinyalakan. Setelahnya coba kalian perhatikan arah kembang api roket itu!" Nikolai menganggukkan kepalanya pada sang tangan kanan.
Armand yang paham kembali melanjutkan memutar video itu hingga selesai. Mereka yang ada di ruang rapat mulai menajamkan indera penglihatan dan pendengaran masing-masing. Fokus mereka ada pada arah dan bunyi dari letusan kembang api.
"Astaga! Ini sulit dipercaya!" seru Aite yang paham.
"Ini wilayah Anda, bukan? Saya juga sedikit tahu tentang Venesia. Mungkin kita satu pemikiran," Nikolai menatap Aite yang juga menatapnya.
"Benar itu ada lima kembang api dan mereka semua mengarah ke utara," jawab Aite cepat.
__ADS_1
"Ada apa di utara?" tanya Meyrin dengan nada penasarannya.
"Ada sebuah pulau bernama Poveglia di sana. Pulau itu terkenal sebagai pulau berhantu dan mendapatkan julukan pulau angker di dunia," jelas Aite sambil bergidik ngeri.
"Sudah dipastikan kalau di sanalah Rizzo akan menungguku," gumam Meyrin dengan nada lirih.
"Rizzo? Rizzo Giovanni?" Nikolai menatap Meyrin tak percaya.
"Iya," jawab Meyrin acuh tak acuh.
"Haish, memikirkannya saja membuatku pening. Bagaimana dengan kapak putih?" Kali ini Meyrin menanyakan tentang musuh yang lainnya.
Meyrin menatap Nikolai yang mengernyitkan keningnya sembari menatap layar ponselnya. Pria itu mengabaikan ponselnya dan kembali fokus pada rapat dan strategi yang dijelaskan oleh King.
Di tengah penjelasan, tiba-tiba Nikolai berdecih membuatnya menjadi pusat perhatian. King menanyakan apakah pria itu memiliki pertanyaan dan dijawab gelengan kepala oleh Nikolai.
"Paman angkat saja teleponnya. Siapa tahu itu penting, 'kan?" ujar Meyrin.
Setelah itu Nikolai pergi keluar dari ruang rapat. Walaupun begitu, di sana ada Armand yang menggantikan posisi Nikolai. Meyrin menatap Armand dan Ken yang begitu fokus mendengarkan penjelasan King.
Para petinggi mafia Arlington dan Armand mulai terlibat adu pendapat. Meyrin hanya diam dan memperhatikan saja. Selama keadaan masih kondusif, sang pemimpin akan diam di tempat. Memperhatikan semua informasi dan adu pendapat hingga jika ada kebuntuan, Meyrin bisa langsung mencari jalan tengahnya.
Selanjutnya Nikolai berjalan ke arah Armand dan kembali berbisik pada sang tangan kanan. Armand sedikit tersentak kaget dan menatap Meyrin sepersekian detik sebelum kembali fokus pada tuannya. Armand menganggukkan kepalanya, paham dengan apa yang dimaksud oleh seorang Nikolai Stevano.
Rapat dihentikan saat Nikolai dan Armand berpamitan kepada semua yang ada di ruangan. Sepeninggal Nikolai, kembali rapat dilanjutkan, para petinggi mafia Arlington mulai memanas perdebatannya.
"Bagaimana kalau aku melakukan negosiasi dengan pemimpin kapak putih? Jika gagal, maka kita langsung saja melakukan pertempuran?" Meyrin akhirnya memutuskan untuk menengahi perdebatan mereka.
"Itu berbahaya, Nona," cegah Queen.
"Kenapa harus berbahaya. Aku akan turun bersama kelima petinggiku. Aku percaya pada kekuatan kalian beserta pasukan lainnya. Kita akan berdiskusi dulu, jika gagal waktunya menyerang."
Mendengar itu membuat kelimanya tersenyum bangga. Rasa percaya diri dan siap mempertaruhkan nyawa demi bos kecilnya melingkupi hati mereka. Sumpah kesetiaan mereka kepada sang pimpinan terngiang-ngiang di rungu mereka. Bara api semangat untuk menaklukan organisasi kapak putih membakar tubuh kelimanya.
"Aku, Ken dan Paman Aite akan melakukan negosiasi. King dan Queen bersiap dengan pasukan sniper. Sedangkan Joker bersiap untuk menerjang masuk dari sisi kiri. Pasukan Paman Aite menunggu dan bersembunyi di sisi kanan."
__ADS_1
Meyrin mulai memberikan instruksinya. Serangan dari berbagai sisi adalah keahlian mafia Arlington. Mereka mempunyai segala macam persenjataan dengan bawahan yang memiliki keahlian khusus. Apalagi Meyrin akan menurunkan orang-orang terpilihnya untuk ikut bertarung kali ini.
Setelah menyusun rencana, Meyrin membubarkan rapat. Mereka akan berkumpul kembali tepat pukul 11 malam karena itu waktu yang tepat untuk bertemu dengan Lee, pemimpin kapak putih. Itulah informasi yang diberikan oleh mata-mata Nikolai yang berada di dalam kelompok.
Sepeninggal keempat petingginya, Meyrin langsung menjatuhkan kepalanya di atas meja berbantal kedua lengannya. Helaan napas panjang Meyrin hembuskan. Dia harus menyelesaikan segala urusan di Venesia dan setelah itu dirinya bisa kembali ke Lunar City.
Meyrin beranjak dari kursinya dan meninggalkan ruangan rapat. Lea dan Ken mengikutinya dari belakang. Kepala pelayan saat melihat Meyrin, berjalan mendekatinya. Pria yang umurnya sudah memasuki kepala lima itu mengatakan jika seseorang ingin bertemu dengan Nona Lupita.
Meyrin yang mendengar itu langsung memberikan kode pada Lea untuk memanggil Lupita turun. Sedangkan dirinya dan Ken akan menemui sanak saudara yang diutus oleh keluarga Lupita.
Tak berapa lama, Lupita turun dari lantai dua bersama Lea. Wanita itu terlihat muram saat melihat siapa yang menjemputnya. Dia tidak menyangka akan pulang secepat ini, padahal dirinya begitu nyaman berada di sisi Meyrin dan yang lainnya.
"Pulanglah! Tidak baik anak sekolah berkeliaran di negara orang lain, dan ini …," Meyrin menyerahkan foto seorang Ken yang sudah ditandatangani oleh sang idola.
Lupita menerimanya dan mengatakan terima kasih. Meyrin langsung memeluk Lupita, pelukan hangat sebagai seorang kakak perempuan. Hal itu juga dilakukan oleh Ken, membuat hati Lupita berdebar bahagia. Sekali lagi wanita mungil itu berterima kasih dan pergi meninggalkan mansion Aite.
"Aku ingin beristirahat lebih dulu," pamit Meyrin pada Ken dan Lea.
Setelah itu, Meyrin berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya. Dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan ukuran queen size nya.
Deg!
Entah kenapa, tiba-tiba firasatnya tidak enak. Ada sesuatu yang salah sedang terjadi. Meyrin mencoba memikirkan semua peristiwa yang telah terjadi dalam waktu dekat ini. Segala aspek dari sudut pandang yang berbeda dia pikirkan hal baik dan buruknya.
Sayangnya Meyrin tidak menemukan hal yang salah. Akan tetapi, firasatnya begitu kuat saat ini. Haah, kembali Meyrin melepaskan hembusan napas panjangnya. Meyrin menyerah, dia ingin tidur kali ini.
Biarkan saja hal buruk itu terjadi, nanti dia pikirkan cara mengatasinya. Bukannya sudah hal yang wajar bagi Meyrin menghadapi hal sulit bahkan terburuk sekalipun.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga