OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 138 HUKUMAN SEPASANG KEKASIH (S2)


__ADS_3

"Daddy, Mommy pengen," rajuk Laras tiba-tiba.


William membuka matanya dengan terpaksa walaupun enggan. Dia menatap jam dinding kamar yang menunjukkan pukul 03.00 pagi hari. Lelaki itu menguap karena masih mengantuk. Ditatapnya Laras yang cemberut dan merajuk.


"Ada apa, Mommy? Mommy pengen apa?" tanya William.


"Pengen makan Daddy," jawab Laras dengan diakhiri senyum menggodanya.


Sontak saja rasa kantuk yang mendera William langsung sirna saat mendengar keinginan sang istri. Ini pertama kalinya Laras meminta jatah duluan setelah hamil. Setelahnya mereka kembali bermain dengan Woman On Top karena memang itu adalah posisi ternyaman bagi wanita hamil itu.


Tampak keringat mulai membasahi keduanya. Suara lenguhan menjadi musik bagi keduanya. Beruntungnya kamar Laras dilengkapi dengan kedap suara. Memang, selama hamil Laras dan William bermain santai. Mereka tidak ingin menyakiti Baby Al yang masih ada di dalam perut Laras.


Setelah William dan Laras mendapatkan pelepasan bersama, wanita hamil itu ambruk di dada bidang suaminya. William mencium kening Laras lalu memindahkan sang istri ke samping tubuhnya. Menjadikan lengan kekarnya sebagai bantal sang istri.


Dua bulan lagi William dan Laras akan bertemu dengan Baby Al. Perasaan tidak sabar melingkupi hati kedua calon orang tua baru itu. Laras meringkuk di dalam pelukan hangat sang suami. Sedangkan William mengelus-elus perut Laras. Baby Al tampak masih belum tidur, dia bergerak sangat aktif di dalam perut Laras.


****************


Sedangkan di ruang tengah, seorang dokter baru saja menjahit luka tusuk di telapak tangan Alex. Setelah selesai dengan tugasnya, dokter itu berpamitan kepada Emily. Dia juga menyuruh Alex untuk sementara tidak menggunakan tangan kirinya agar jahitannya tidak terbuka lagi.


"Terima kasih, Dok," ujar Emily sambil membungkukkan kepalanya.


"Itu sudah menjadi tugas saya, Nona."


Setelahnya sang Dokter pergi meninggalkan mansion Arlington. Terlihat Emily sedang duduk bersebelahan dengan kekasihnya. Tidak ada yang berani memecah keheningan di antara keduanya. Semenjak Emily mengatakan membenci Alex, saat itu keadaan mereka berdua canggung.


"Aku akan membaca hukuman apa yang diberikan oleh Tuan Plowden," ujar Alex akhirnya mencoba mencairkan suasana di antara keduanya.


Emily tidak menjawabnya. Dia masih mengabaikan kekasihnya itu. Walaupun ada rasa kecewa pada Alex, tapi rasa cintanya pada sang kekasih lebih besar daripada rasa kecewa. Bagaimanapun, setelah kehadiran Alex, hidup Emily lebih berwarna. Dia tidak pernah tertekan lagi oleh komentar maupun pendapat orang lain.


"Apa-apaan ini?" tanya Alex terkejut bukan main saat setelah membuka map yang tadi diberikan oleh William.


Emily yang penasaran tapi gengsi memilih untuk diam saja. Tapi, bukan Emily namanya jika tidak mengetahui isi dalam map itu. Dia secara perlahan menggeser tubuhnya yang langsung disadari oleh Alex. Setelah dirasa cukup, Emily sedikit mengintip isi map itu.

__ADS_1


"Apmmh~" 


Emily tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Alex sudah lebih dulu mencium bibir sang kekasih. Dia menyalurkan semua rasa yang dimiliki saat ini melalui ciuman itu. Ada rasa senang, sedih, takut kehilangan sang kekasih, serta menyesal tiada tara.


"Lepaskan!" Emily mendorong dada bidang Alex dengan sangat keras membuat ciuman keduanya terlepas.


"Aku benci kamu!" sungut Emily.


Alex beranjak dari posisinya. Dia lalu berjongkok di depan sang kekasih. Akhirnya tiba saat dia menyerahkan benda turun temurun keluarga Gerard. Alex mengeluarkan kotak merah beludru yang berisi cincin bertahta mutiara biru.


"Emily Arlington, maukah kamu menjadi istri dan Mommy dari anak-anakku di masa depan?" tanya Alex sambil menyodorkan cincin itu kepada Emily.


Emily menutup mulutnya terkejut. "Aku membencimu," ucapnya sinis walau hati berbunga-bunga.


"Aku tidak peduli. Tuan dan Nyonya serta Tuan Ken sudah menyetujui hubungan kita, Honey," ucap Alex meyakinkan Emily.


"Maksudmu apa?" tanya Emily bingung sendiri.


Alex tidak menjawabnya tapi sebagai gantinya dia menyerahkan map yang diberikan oleh William tadi. Emily menerimanya dengan tangan gemetar. Dia mulai membaca tiap kata yang tertulis di atas kertas putih isi.


Emily menutup mulutnya tidak percaya. Bahkan, di bawah kertas itu ada tanda tangan Laras, William serta Ken. Bahkan, di balik kertas itu ada selembaran surat pendaftaran nikah antara Emily dan Alex. Semua sudah diisi, tinggal kedua mempelai menandatanganinya.


"Ini seriusan?" tanya Emily sambil menatap Alex. Gadis itu masih tidak percaya jika hukumannya dan Alex adalah sebuah pernikahan nyata.


Alex menganggukkan kepalanya, "Jadi, Nona Emily Arlington maukah kamu menjadi istri dan Mommy dari anak-anakku di masa depan?" tanya Alex lagi.


"Aku mau! Aku mau Alex!" seru Emily yang kembali menangis. Cuma, kali ini tangisnya berupa tangis kebahagiaan.


Alex segera memasangkan cincin itu di jari manis sang Kekasih. Setelah cincin itu tersemat begitu pas di jari manis Emily, sang lelaki mencium tangan calon istrinya. Alex langsung membawa Emily ke dalam pelukannya. Bisikan-bisikan cinta dia ucapkan untuk sang Kekasih.


****************


Waktu berlalu begitu cepat. Hari ini adalah waktu pernikahan Emily dan Alex. Satu minggu setelah insiden tusukan yang diberikan oleh Laras, berujung pada setujunya hubungan Emily dan Alex.

__ADS_1


Emily kali ini tampak sangat cantik dengan balutan wedding dress putih yang menjuntai ke lantai. Dia saat ini sedang duduk di kursi pengantin yang ada di ruangan. Laras mulai tadi menerima laporan tentang kondisi pesta pernikahan adiknya itu.


Wanita hamil itu tidak ingin terjadi kesalahan apapun pada pesta sang adik. Walaupun pernikahan Emily tidak semegah milik Laras, tetap saja sang Kakak ingin memberikan pernikahan termegahnya. Dia ingin Emily merasakan menjadi ratu sama seperti dirinya.


Pernikahan Emily memang tidak live dan semegah milik Laras dan William. Akan tetapi, ada beberapa stasiun televisi yang mengajukan untuk live. Sayangnya, Laras hanya mengizinkan satu stasiun televisi yang dipilih oleh Emily sendiri. Itu pun atas persetujuan dari Alex serta William dan Ken.


William saat ini memeriksa bagian lapangan, serta menemui para tamu undangan. Beda halnya lagi dengan Ken yang menjaga keamanan berlangsungnya pesta bersama para jendral mafia Arlington. Laras menghampiri sang adik, dia melihat betapa gugupnya Emily.


"Bagaimana rasanya gugup, hm?" goda Laras yang langsung membuat Emily memelototinya.


"Kakak kenapa di saat seperti ini menjadi menyebalkan sih," sungut Lily.


Laras langsung menggenggam tangan sang adik. Dia meremasnya dan sedikit memberikan tepukan pada tangannya dan sang adik yang saling bertumpuk. Senyum menenangkan diberikan oleh Laras.


"Tenanglah! Semua akan baik-baik saja. Percayakan pada Kakak iparmu dan Alex." Laras menepuk-nepuk tangan Emily hingga adiknya itu tenang.


"Tetap saja Emily gugup, Kak. Kakak dulu waktu nikah ada Daddy, sedangkan Emily cuma ada Kakak," ujar Emily dengan raut wajah sedihnya.


"Maaf kalau Kakak gagal menjadi Mommy sekaligus Daddy buat Lily," gumam Laras dengan wajah  sendunya.


Tanpa terasa, air mata mengalir dan membasahi kedua pipi Laras. Saat-saat seperti inilah yang tidak disukai oleh Laras. Dia akan terbawa suasana dan jadinya berubah mood.


"Hah? Kakak jangan bercanda dong!" seru Emily panik.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


@hana_ryuuga


__ADS_2