
William dan Meyrin berjalan di belakang pengawal dengan santainya. Di belakang mereka berdua ada para asisten pribadi, Rama dan Lea. Lalu di samping kanan kiri mereka ada beberapa pengawal dengan badan kekar dan earphone yang terpasang di telinga masing-masing.
Melihat itu, Meyrin hanya mengulum senyum kecutnya. Dulu, hidupnya hanya warga biasa yang hidup apa adanya. Sekarang, setelah bertemu dengan ayah kandungnya, hidup dia berubah. Roda kehidupan benar-benar berputar untuk Meyrin.
Meyrin sekarang menjadi wanita tercantik di Lunar City. Bahkan wanita itu memiliki julukan the most wanted girl karena memang sangat sulit untuk bertemu dengan seorang Liu Meyrin. Selain karena dia tidak mau terekspos, jadwalnya sebagai pemimpin kerajaan bisnis Arlington Group membuatnya tidak ada waktu.
Selain itu, dunia mafia juga harus Meyrin pelajari karena dia anak sulung dari bos mafia terkenal di LA. Daniel Arlington benar-benar menaruh semua harapannya pada seorang Liu Meyrin. Tapi, tidak membuat seorang Daniel melonggarkan pengawasannya kepada si bungsu, Emily.
"Sedang memikirkan sesuatu?" tanya William yang berjalan di sampingnya.
"Hanya teringat masa lalu," jawab Meyrin sekenanya.
"Kekasih?" William mulai ingin tahu lebih jauh tentang Meyrin.
"Bukan urusanmu."
Jawaban yang ketus dilayangkan Meyrin dan dirinya kembali fokus menatap ke depan. Tentu saja, topi dan masker menjadi senjatanya dalam bepergian.
William mendekatkan dirinya dan sedikit membungkuk untuk berbisik, "Selamat bersenang-senang, Nona Liu Meyrin."
Meyrin menghentikan langkahnya dan sedikit mengusap daun telinga yang dibisiki William baru saja. Matanya menatap nyalang kepada pewaris tunggal keluarga Plowden. Rama dan Lea ikut menghentikan langkahnya.
"Cih, menyebalkan." Meyrin berdecih lalu kembali melanjutkan langkahnya masuk ke ruangan lounge VVIP.
Cuaca panas di siang hari terasa menyengat di kulit keduanya. Dua pengawal membuka payung untuk memayungi mereka menuju ke jet pribadi yang berbentuk seperti pesawat.
Meyrin naik ke tangga dan langsung menuju ke kabin. Disusul William yang langsung menempatkan dirinya di depan Meyrin. Meyrin langsung memberikan tatapan tajamnya dan dibalas dengan senyum mempesona ala William.
"Sialan!" batin Meyrin terpesona.
Seorang pramugari datang menawarkan cemilan atau sesuatu yang dibutuhkan. Meyrin menggelengkan kepalanya begitu juga dengan William. Wanita itu menyandarkan kepalanya ke punggung kursi pesawat dengan nyaman.
Saat Meyrin sudah tenang, bukan William namanya jika tidak dapat membuat mangsanya kesal. William menyandarkan kepalanya di bahu Meyrin dengan sengaja.
Awalnya Meyrin membiarkan saja karena dia sudah tidak punya tenaga lagi. Dia hanya ingin tidur dan mengistirahatkan semua anggota tubuhnya terutama otak cemerlangnya.
Sayangnya, William bertindak sudah kelewatan. Tangan kanannya tanpa permisi mengelus paha bagian luar Meyrin. Meyrin masih bersabar dan membiarkannya. Tapi, tindakan selanjutnya dari William sudah melewati batas kesabaran seorang Liu Meyrin.
Plak!
__ADS_1
Ditepisnya tangan William yang mulai mengelus paha bagian dalamnya. Manik hitam Meyrin menatap ke arah William dengan tajam dan dingin. Sedangkan si pelaku hanya masa bodoh. Selanjutnya William beranjak dari duduknya menuju ke kamar tamu.
"Suami sialan!" batin Meyrin mengumpatin William.
Dadanya naik turun menahan gejolak yang selama ini selalu dirindukan olehnya. Sentuhan dari sang suami, serta tatapan tajam dan membakar dari William. Tapi tidak, Meyrin tidak boleh goyah sebelum suaminya itu merasakan menjadi dirinya.
Tekad bulat sudah Meyrin tanamkan dihatinya. Selama dua bulan ke depan, dia akan menjadi Liu Meyrin bukan Laras. Ya, dia akan menggoyahkan hati suaminya sendiri untuk mencintai Meyrin bukan Laras. Dia ingin mempermainkan hati seorang William.
Surat cerai harus ditandatangani, itu menjadi tujuan hidup Meyrin. Setelah itu, dia akan menyerahkan semuanya pada takdir. Dia tidak ingin menjadi lemah hanya karena William.
Meyrin kembali memejamkan matanya saat Lea datang mengganggunya. Wanita itu melaporkan bahwa sesuatu yang mencurigakan sedang terjadi di mansion.
****************
"Kita bicara di kamar!" Meyrin langsung beranjak dari duduk santainya dan masuk ke kamar pribadinya.
Lea masuk paling belakang dan mengunci pintu kamar. Itu sudah menjadi hal yang sering mereka lakukan jika sedang membahas sesuatu hal penting.
"Ada apa, Lea?" tanya Meyrin setelah duduk di sofa.
Meyrin mendekat dan memberikan tab yang sedang menampilkan rekaman CCTV di mansion keluarga Arlington. Di rekaman itu terlihat mobil Emily baru saja memasuki halaman mansion. Tidak ada hal yang terjadi setelahnya.
Meyrin menatap Lea, meminta penjelasan lebih lanjut. Lea yang menyadari tatapan nona mudanya, menggeser layar di tab nya. Di layar itu terlihat sebuah kota hitam dengan pita merah, sama seperti waktu itu. Bedanya, kali ini kotak itu lebih kecil.
"Apa Emily tau?"
"Tidak, Nona. Kotak itu ditemukan sebelum Nona Emily datang. Mereka sudah memeriksa seluruh mansion, mencari jejak sang pengirim misterius. Sayangnya, mereka tidak menemukan apapun," jelas Lea lagi.
"Apa ada orang yang masuk ke dalam mansion?"
"Tentu saja hanya Josh dan Tuan Ken beserta Alex, asisten pribadi Tuan Ken. Tidak ada yang mencurigakan dari mereka bertiga."
Meyrin mendengarkan penjelasan Lea sembari memijat pangkal hidungnya. Pasalnya tidak sampai satu hari dia meninggalkan Lunar City, mansion mulai ada penyusup.
"Suruh kepala pelayan menyimpan kotak hitam itu dan tulis tanggalnya. Pastikan Emily tidak mengetahui hal ini," perintah Meyrin.
"Siap, Nona."
Meyrin mengambil ponselnya dan menghubungi Emily. Dering pertama tidak ada jawaban hingga suara operator terdengar. Hal ini membuat Meyrin mulai berpikiran negatif. Dia coba lagi untuk menghubungi Emily dan bersyukurlah pada dering kedua terdengar suara Emily menyapanya.
__ADS_1
"Kamu dimana sekarang?" tanya Meyrin tanpa basa basi.
"Aku lagi di mobil bersama Alex. Ada apa, Kak?" tanya balik Emily saat mendengar nada khawatir dari sang kakak.
"Tidak apa-apa. Tetap waspada dan nurut sama Alex yah," pinta Meyrin.
"Siap, Kak. Kakak juga jangan lupa untuk jaga kesehatan selama di Italia."
"Baik, Sayang."
"Salam juga buat paman Aite disana. Aku tutup dulu yah kak," pamit Emily.
"Baiklah."
Setelah mendapat jawaban dari sang kakak, Emily langsung mengakhiri panggilannya. Meyrin menghembuskan nafas panjangnya. Ditatapnya Lea yang baru saja selesai menelepon kepala pelayan, menyampaikan perintah dari seorang Liu Meyrin.
"Apa Anda menginginkan sesuatu, Nona?" tanya Lea saat kembali berdiri di depan Meyrin.
"Keinginan terbesarku adalah menjadi warga biasa seperti dulu," ujar Meyrin sembari tertawa sumbang.
"Itu—"
"Aku tau … itu hal yang tidak mungkin terjadi dalam hidupku yang baru. Jalan satu-satunya aku harus menghadapi semuanya." Meyrin menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
"Istirahatlah, Nona! Masih ada waktu lima jam untuk kita tiba di Venice Marco Polo Airport." Lea memberikan saran.
"Baiklah, satu jam sebelum landing bangunkan aku." Meyrin beranjak dari sofa.
Meyrin merebahkan tubuhnya di atas kasur queen size nya dan Lea keluar dari kamar nona mudanya. Ponsel wanita itu berdering tapi Meyrin memilih untuk mengabaikannya.
Merasa terganggu dengan ponselnya yang terus-terusan berdering membuat Meyrin terpaksa mengambil ponselnya. Ada nama Ken Lian di layar ponselnya semakin membuat wanita itu jengkel.
Tanpa basa basi lagi, Meyrin langsung mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas nakas. Setelahnya wanita itu melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda tadi.
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga