
"Cih, dasar bodoh!" umpat Ken terdengar.
Dor! Dor!
Ngiiiing!
Suara berdenging di telinga membuat seseorang yang memakai kacamata hitam melepas earphone-nya. Dia menatap tajam pada layar komputernya yang menampilkan sebuah titik. Titik itu awalnya berwarna hijau sekarang berubah menjadi merah. Tanda bahwa benda yang diumpamakan titik itu sudah tidak berfungsi lagi.
"Jack benar-benar cyber sejati. Aku ingin tahu bagaimana kalau antara Jack dan Armand bertarung dalam dunia cyber. Menurut kalian, siapa yang menang?" tanya pria berkacamata hitam kepada para bodyguardnya.
"Tidak ada, Tuan," jawab salah satu dari mereka mewakili semuanya.
"Benar! Antara Jack dan Armand tidak ada yang menang. Bahkan untuk mengalahkan mereka berdua kamu tidak becus, brengsek!" amuk pria itu dengan membanting laptopnya.
Ternyata pria yang menjawab tadi adalah seorang cyber andalan dari pria berkacamata. Pria itu menundukkan kepalanya, takut dengan amarah sang Bos.
"Maafkan saya, Tuan."
"Kalau begitu, kapan otakmu seperti mereka berdua, hah! Bahkan aku tidak bisa membobol pertahanan keamanan mereka berdua."
"...." tidak ada jawaban dari semuanya.
"Sungguh beruntung Meyrin memiliki Jack dan Nikolai memiliki Armand. Rasanya aku ingin menghancurkan keduanya sekaligus. Lalu menguasai semua aset Arlington dan yang ada di pulau Akasia. Bukan hanya harta, tapi orang-orang yang berada di bawah kepemimpinan mereka berdua."
Memang benar selama ini mafia Arlington menjadi incaran banyak orang, tapi tidak ada yang berani mengganggu secara terang-terangan. Bukan hanya karena bisnis ilegalnya yang lancar, tapi orang di bawah perlindungan Arlington bukan orang biasa. Contohnya saja 5 petinggi Arlington yang mempunyai kekuasaan dan daerahnya masing-masing.
Jika Arlington sudah lama menjadi incaran, 3 tahun yang lalu muncullah mafia klan Naga Langit yang menjadikan pulau Akasia menjadi wilayahnya sendiri. Bahkan, beredar rumor kalau di dalam pulau itu ada sebuah gunung yang bernama gunung Elbaf. Di gunung tersebut tersimpan seluruh aset dari pemimpin klan Naga Langit, yaitu Nikolai Stevano.
"Siapkan pertarungan sesuai perintah Buz. Sepertinya dia memiliki jalan hidupnya sendiri." Pria berkacamata itu memberikan perintah lalu keluar dari ruangan tersebut.
Sebuah foto yang dicetak dengan ukuran sangat besar terpajang di dinding. Pria itu membuka kacamata hitamnya dan memandangi foto tersebut. Tatapan matanya yang tadi terlihat seperti ingin memakan orang, tapi kali ini begitu sendu. Saat meresapi setiap ekspresi yang ada di foto tersebut, pikiran sang pria terbang ke beberapa jam yang lalu.
****************
"Bos, saya ketahuan," lapor Buz sembari menyetir mobilnya.
"Kamu di mana sekarang?" tanya seorang pria berkacamata hitam di seberang sana.
__ADS_1
"Tuan Jack baru saja meneleponku untuk kembali ke mansion. Sepertinya mereka telah menyusun sebuah rencana. Bos tenang saja, jika aku tertangkap rahasia di antara kita aman. Aku akan mengalihkan perhatian Nona Meyrin ke kapak putih. Bos tetap lanjutnya rencana awal kita," jelas Buz yang semakin menginjak pedal gasnya, mempercepat laju mobilnya.
"Baiklah, hati-hati dan segera kembali."
"Jika dalam 5 jam saya tidak kembali, Bos jangan datang membantu. Bos fokus saja pada rencana kita selanjutnya."
Setelah itu Buz mengakhiri panggilannya. Dia menatap ke sekeliling dan tersenyum saat beberapa rekannya berada di posisi sesuai perintah bosnya. Buz keluar dengan membawa ponselnya.
Saat dia masuk ke dalam ruangan bersama Jack, dia mengeluarkan pistol. Pistol untuk melubangi kepala Jack agar dirinya bisa melihat wajah di balik topeng tersebut. Sebenarnya bukan hanya itu saja, Buz dengan sengaja meletakkan ponselnya di ruangan itu. Sesuatu hal sudah direncanakan oleh dirinya.
****************
Mentari pagi mulai naik ke peraduannya, mengusik dua manusia yang sedang bergelung manja di dalam selimut yang sama. Meyrin semakin meringkuk ke dalam pelukan William saat sinar matahari mengganggunya. Bahkan racauan tak jelas keluar dari bibirnya yang bengkak.
William membuka matanya dan meraih ponsel yang ada di atas nakas. Pukul 7 pagi waktu Venesia. Pria itu tersenyum saat melihat Meyrin berada di dalam pelukannya. Seolah Meyrin tercipta untuknya, wanita itu berada begitu pas dalam pelukan William.
"Hei, ponselmu berdering." William mencolek pipi Meyrin.
"Biarkan aku tidur sedikit lebih lama, Will. Seluruh badanku kaku dan di bawah sana terasa sakit," racau Meyrin yang semakin memeluk William dengan erat.
"Mey, berhentilah menggodaku. Ayo bangun! Kita perlu mengisi tenaga, Rama baru saja mengantar sarapan pagi kita."
Bukannya bangun, Meyrin malah semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan dia mengapit tubuh William layaknya bantal guling. Entah disengaja atau tidak, hanya Meyrin yang tahu.
"Hei, Willy junior bangun," goda Meyrin yang membuka kedua matanya dan mengerling nakal.
William menatap tajam Meyrin, "Apa kamu tahu kalau gairah pria lebih besar saat pagi hari?"
Meyrin sangat suka dengan tatapan William saat ini. Begitu tajam dan bergairah, dia merasa begitu cantik di bawah tatapan sang suami. Senyum miring Meyrin berikan lalu mengalungkan kedua tangannya di leher William.
"Kalau begitu, buktikan!"
Seperti mendapatkan lampu hijau dari sang wanita, William langsung mencium kembali bibir Meyrin. Bibir itu seperti nikotin bagi William dan dirinya sudah kecanduan. Meyrin yang selalu menggoda iman sepertinya melupakan sesuatu. Dia lupa kalau dirinya belum meminum pil kontrasepsi yang ketinggalan di mansion Aite.
Teriknya sinar matahari di luar, tidak sebanding dengan panasnya suasana di dalam kamar hotel Danieli, ruangan presidential. William dan Meyrin kembali bermain, mengulang malam panjang mereka berdua. Bahkan, di atas lantai baju keduanya masih berceceran tak karuan.
Di tengah ranjang ukuran king size dua pemimpin kerajaan bisnis terbesar di Lunar City kembali merenggut nikmatnya bercinta. Mereka tidak peduli dengan ponsel yang terus berdering, fokus keduanya adalah mencapai puncak dari kenikmatan itu sendiri.
__ADS_1
Napas panas yang saling beradu, peluh yang mulai bercucuran serta lenguhan tak tertahan menjadi backsound kegiatan keduanya. Hingga akhirnya lenguhan panjang keluar dari mulut keduanya. Meyrin langsung menjatuhkan dirinya di atas dada bidang William.
Napas keduanya tersengal-sengal tapi raut wajah mereka berseri-seri. William memeluk Meyrin yang berada di atasnya, lalu mencium kepala sang wanita.
"Apa kamu akan menandatangani surat cerainya hari ini?" tanya Meyrin menagih janji William.
"Aku sudah menyuruh Brian untuk mengirim suratnya ke Venesia. Apa kamu bisa menunggunya?"
"Tidak masalah, masih ada waktu sekitar satu bulan lagi kita di Venesia. Lepaskan pelukanmu, aku ingin mandi."
"Mau mandi bersama?" tawar William.
"No! Aku bisa-bisa tidak bisa berjalan setelah keluar dari kamar mandi." Meyrin menolak dengan tegas.
William tertawa dan melepas pelukannya. Meyrin beranjak dari atas tubuh William, tapi sayangnya bagian terintimnya sakit. Hal itu membuat Meyrin kembali jatuh ke dada bidang William.
"Apa … sakit?" tanya William khawatir.
"Sepertinya begitu," ringis Meyrin.
"Maaf, kalau aku terlalu kasar." William menunduk penuh rasa sesal. "Sebagai gantinya, aku akan menggendongmu ke kamar mandi," lanjutnya.
Meyrin hanya menganggukkan kepalanya dan mengalungkan kedua tangannya di leher William. Pertahanan agar dirinya tidak jatuh saat digendong.
Seperti yang ditakutkan oleh Meyrin, mereka berdua kembali bermain di dalam kamar mandi.
Udah sweet kan?
Udah dong, berapa ronde tuh WilMey masak belum sweet.
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
IG @hana_ryuuga