OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 87 PULAU POVEGLIA PART 5


__ADS_3

"Bunuh semuanya yang menghalangi! Fokus kita adalah menyelamatkan William!" seru Nikolai kepada bawahannya.


"Siap, Bos!"


"Bantu klan Naga Langit menyelamatkan sandera. Serahkan nyawa kalian untuk menyelamatkan William! Jangan pedulikan aku, prioritaskan sandera untuk keluar dengan selamat!" teriak Meyrin kepada bawahannya.


Meyrin kembali beradu tembak dengan Rizzo, Ken dengan Berto. Mereka harus mengalihkan perhatian Rizzo dan Berto agar Nikolai bisa keluar dari pulau ini.


"Paman, Meyrin?" tanya William di antara kesadarannya yang mulai menipis.


"Inilah faktanya, Will. Ingat perkataan Paman waktu di taman hotel?" William tidak menjawab, tapi sebagai jawaban dia menganggukkan kepalanya.


"Lihatlah baik-baik Meyrin, dia adalah wanita yang berbeda dengan Laras. Dia tidak takut akan kematian, hanya ada rasa percaya diri melawan musuh-musuhnya. Kedua tangannya sudah kotor sama seperti Paman. Tidak ada yang spesial dari seorang Meyrin. Sekarang, tanyakan pada hatimu. Apakah kamu masih mau menerima wanita yang seperti itu? Wanita yang sangat bertolak belakang dengan Laras."


Tidak ada jawaban dari William, pria itu hanya menatap Meyrin yang tanpa ragu mengotori tangannya dengan darah. Bahkan wajahnya terkena cipratan cairan yang berbau anyir itu. Di hadapan William, Meyrin dan seseorang yang memakai topeng sedang menunjukkan aksinya. Pistol dan sabetan dari pisau kecil Meyrin begitu tepat sasaran. Hal itu juga dilakukan oleh teman duetnya.


Nikolai yang tidak mendapatkan respon langsung memberikan kode kepada Armand. Armand yang posisinya menjaga sisi belakang Nikolai dan William menyadari kode tersebut. Dia langsung memukul tengkuk William hingga pewaris tunggal kerajaan bisnis keluarga Plowden pingsan.


Sedangkan di sisi lain, Meyrin menatap Ken dan menganggukkan kepalanya. Setelahnya dua orang itu sudah menghilang dalam sekejap. Berbaur dengan pasukannya, menerjang ke garis depan untuk memusnahkan Rizzo.


Suasana pertempuran mulai terlihat siapa yang akan keluar menjadi pemenangnya. Dilihat dari jumlah musuh yang banyak berkurang serta melemahnya pertahanan dari pihak Rizzo. Meyrin sendiri bertarung mati-mati melawan Rizzo.


Meyrin tidak peduli dengan keberadaan William ataupun klan Naga Langit lagi. Fokus Meyrin hanya satu sekarang, mengakhiri masa lalunya dengan Rizzo. Di antara mereka berdua harus ada yang mati. Hal itu seperti ultimatum tersendiri bagi Meyrin.


Tembakan, tebasan dari pisau hingga pukulan dan tendangan dikerahkan oleh Rizzo dan Meyrin. Berkali-kali Meyrin terkena tendangan pada pinggangnya. Wanita itu bisa merasakan kalau luka setelah operasi itu terbuka. Terbukti dengan darah yang merembes membasahi bajunya yang berwarna hitam.


Mungkin efek obatnya yang habis atau karena seringnya terkena tendangan, membuat Meyrin merasakan sakit yang tiada tara. Ditatapnya kursi yang awalnya menjadi tempat duduk William sekarang sudah kosong. Pandangan wanita itu mulai kabur saat rasa pada pinggangnya sudah tidak tertahankan lagi.


Meyrin mundur dan Rizzo mengejarnya. Sayang, Rizzo harus menghentikan langkahnya saat Ken dengan topengnya berdiri menghadang. Ken tersenyum di balik topengnya.


"Aku telah lama menunggu berduel lagi denganmu," ujar Ken.


"Jack dan Ken, sungguh dua kepribadian yang berbeda. Baiklah, aku terima tantanganmu bocah."


Saat itu juga Rizzo datang menyerang Ken dengan tinju kanan kanannya dan berhasil ditahan oleh tangan kiri Ken. Melihat itu, Rizzo kembali mengayunkan pisau kecilnya yang berada di kanan kiri dan kembali berhasil ditahan oleh Ken.

__ADS_1


Mereka saling bertatapan, saling beradu kekuatan untuk mempertahankan serangan. Hingga akhirnya dengan keahliannya, Ken membuat kedua tangan mereka sebagai tumpuan untuk dirinya melompat di udara dan melakukan tendangan.


Tendangan Ken tepat mengenai dada Rizzo membuat pria itu mundur beberapa langkah dan batuk darah. Rizzo menatap sekitar dan memberikan kode kepada Berto. Banyak anggota yang jatuh dari pihak Rizzo. Meyrin memang sengaja tidak membawa begitu banyak anggota, dia mengambil orang-orang terpilihnya untuk bertempur bersama.


Walaupun di awal Meyrin kalah jumlah, tapi itu tidak menyurutkan semangat para bawahan. Meyrin sangat percaya bahwa dia akan menang. Kepercayaan dari sang pimpinan menular pada bawahannya hingga sebuah dedikasi terjalin. Dedikasi bahwa mereka akan berjuang dengan bos kecilnya hingga tetes darah penghabisan.


"Nona!" teriak Lea saat melihat Meyrin yang dikepung tiga orang.


Semua yang berada di sekitar Meyrin  bosnya, langsung menyerang tiga orang itu. Napas Meyrin mulai terlihat tak beraturan. Penglihatannya mulai kabur, keringat dingin bercucuran. Lea segera menerobos siapapun yang menghalanginya untuk menuju Meyrin.


Lea berhasil menggapai tubuh nona mudanya sebelum jatuh ke lantai. Kening Meyrin mengernyit, menahan rasa sakit pada pinggangnya.


"Beri … berikan o … obatnya!" pinta Meyrin pada Lea.


Lea membelalakkan kedua matanya sempurna saat darah tak mau berhenti keluar dari luka bekas operasian itu. Lea langsung menutupi luka pada pinggang Meyrin, berharap agar pendarahan berhenti. Sedangkan tangan satunya dia buat untuk mengambil obat yang dimaksud.


Ini adalah kali ketiga Meyrin mengkonsumsi obat itu dalam waktu yang berdekatan. Dia sudah sampai batas mengkonsumsi obat pereda nyeri dengan dosis tinggi. Lea tidak bisa memberikan obat itu lagi, dia harus membawa Meyrin kembali ke rumah sakit secepatnya.


"Nona," panggil Lea sembari menyerahkan obatnya.


"Nona, tetaplah sadar. Aku akan melindungi Anda. Bertahanlah hingga pertempuran ini selesai," pinta Lea.


Meyrin membuka netranya dan menatap Lea sembari tersenyum. Sang pemimpin mafia Arlington itu memberikan anggukan kepala lemah kepada sang asisten.


"Mendekatlah!" pinta Meyrin dengan nada lemahnya dan Lea langsung menuruti perintah nona mudanya.


Dengan sisa tenaganya Meyrin mencoba mengatakan apa yang perlu dia katakan. "Setelah ini, bawa aku pulang ke Lunar City," pinta Meyrin.


"Baik, Nona."


Lea segera menyandarkan Meyrin di tembok agar bisa duduk dan terus sadar. Dia berada di sisi Meyrin, menjaga bosnya agar tetap aman. Rizzo yang menyadari keadaan sekitar meminta orangnya yang tersisa untuk mundur.


"Plan C!" teriak Berto.


Ken menatap Berto dengan perintah itu. Hal tersebut digunakan Rizzo untuk menyerang Ken dengan tendangannya dan itu berhasil. Ken batuk darah dan langsung melayangkan tatapan membunuhnya. Sayangnya, Rizzo sudah menghilang bersamaan dengan Berto.

__ADS_1


"Sialan!" umpat Ken.


Ken yang ingin mengejar Rizzo harus menghentikan langkahnya karena teriakan Lea.


"Nona! Nona! Sadarlah!" Lea menepuk pipi Meyrin dengan lembut saat nona mudanya masih tetap memejamkan kedua matanya.


"Sialan! Kejar Rizzo! Jangan biarkan pria itu kabur! Musnahkan semuanya!" teriak Ken kepada seluruh pasukannya. 


"Hurrah!" teriak para pasukan dan mulai mengejar Rizzo serta pasukannya yang mundur.


Ken langsung berlari menghampiri Meyrin dan Lea, begitu juga dengan Aite. Para petinggi Arlington mendekati Lea dan Meyrin yang sedang menutup kedua matanya. King yang merupakan seorang dokter dan pemilik rumah sakit ternama di New York segera mendekati Meyrin.


Dia mulai melakukan pemeriksaan denyut nadi dan melakukan pertolongan pertama pada luka operasian Meyrin yang terbuka. Nona mudanya sekarang mengalami pendarahan yang cukup banyak.


"Kita harus segera membawa Bos ke rumah sakit terdekat," ujar King.


"Tidak bisa! Bagaimana kondisi Nona saat ini?" tanya Lea pada King.


"Nona mengalami pendarahan yang serius. Dia harus melakukan transfusi darah dan menjahit kembali lukanya."


"Bisa dikatakan sekarang Nona sedang pingsan, 'kan?" King menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Apa dia mengatakan sesuatu sebelum pingsan?" tanya Ken kepada Lea.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~


@hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2