
"Ha—"
"Pindah ke mode video! Sialan nih orang!" bentak orang di seberang sana membuat Meyrin tertawa.
Meyrin langsung mengubah dari mode suara menjadi video call. Terlihat wajah Yuki yang sedang memangku anak laki-laki dimana wajahnya sama persis dengan sahabat asal Jepangnya itu. Yuki melotot saat melihat wajah Meyrin. Disusul wajah Dewi yang sedang berada di salon kecantikan.
"Astaga! Kamu beneran Laras?" celetuk Dewi saat melihat wajah Meyrin.
Meyrin hanya tersenyum menatap dua wanita itu. Ken berjalan mendekati Meyrin dan berada di belakangnya. Tanpa permisi, Ken langsung mencium pipi Meyrin dihadapan dua wanita itu dan tersenyum.
"Astaga, Ken!" teriak mereka berdua tak percaya dengan tingkah Ken.
Dewi yang melotot kepada Ken, sedangkan Yuki menutup kedua mata anaknya. Meyrin hanya tertawa melihat tingkah kedua wanita yang sedang menghubunginya.
Selanjutnya muncul wajah satu-satunya pria di layar ponsel itu. Rico disana, reaksinya sama dengan kedua wanita sebelumnya, menatap tak percaya kepada Meyrin.
"Loh, William mana?" tanya Yuki saat personilnya kurang satu.
"Aku memblokir semua aksesnya," jawab Meyrin masih dengan tenangnya.
"Sialan nih cewek! Loe kemana aja, Ras? Gue cari info tentang loe selama tiga tahun ini ngak dapat apa-apa," sembur Dewi.
"Setuju, bahkan Soga-kun susah buat melacak nih cewek!" timpal Yuki.
"Sekalinya muncul bikin gempar dunia entertainment. Loe bener-bener the best kalau sembunyi Ras," Rico mengakhirinya.
"Rico, aku tahu kamu sedang bekerja sama dengan William untuk mencariku. Jika identitasku sampai bocor kepada William, aku pastikan perusahaanmu akan hancur beserta anak cabang dari WR Entertainment," ujar Meyrin dengan wajah tersenyum tapi nada penuh ancaman.
"Apaan sih Ras, kita itu udah sahabatan sebelum kamu memperkenalkan William. Aku tetap akan memilih kamu daripada William. Jangan meragukan persahabatanku. Apa kamu tidak percaya lagi sama aku?" Rico mulai panik.
"Laras, apa selama ini kamu mengalami hal sulit terkait William?" tanya Yuki yang sangat paham betul tentang Laras.
Mereka dapat melihat, tatapan Laras atau Meyrin yang awalnya begitu tenang sekarang berubah sendu. Raut wajah itu berubah setelah Yuki menyebut nama William. Sudah dipastikan, kalau William lah yang membuat Laras memilih untuk bersembunyi.
Sayangnya, rasa sedih itu tak berlangsung lama karena Meyrin sudah terlatih untuk menyembunyikan apa yang dirasa. Meyrin menatap Lea, asisten pribadinya itu yang langsung paham arti tatapan sang nona muda. Lea berjalan mendekat dan berdiri di depan meja kerja Meyrin. Bersiap menerima apapun perintah dari Meyrin.
"Mulai saat ini, panggil aku dengan nama Liu Meyrin. Itupun demi keselamatan kalian. Dalam beberapa jam ke depan, dua pesawat pribadiku akan menjemput kalian di bandara Soekarno-Hatta dan Narita. Jadi bersiap-siaplah. Aku akan membawa kalian ke istanaku. Disini kalian bisa bertanya apa saja. Oya, untuk Rico carilah alasan agar William tidak curiga," jelas Meyrin.
"Nona, pesawat akan mendarat di tujuan sekitar dua jam lagi," lapor Lea yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Meyrin.
"Kamu sudah menyiapkan semuanya?" tanya Yuki tak percaya.
"Perjalanan dari sini ke dua negara membutuhkan waktu 4-5 jam. Sebelum konferensi pers aku sudah menyuruh dua capt ku untuk melakukan penerbangan menjemput kalian bertiga," jelas Meyrin.
"Berarti konferensi pers itu bukan hanya tentang hubungan kalian berdua?" tanya Rico.
"Konferensi pers itu untuk ketiga sahabatku. Hubungan Ken dan aku hanya pengalihan saja. Bersiaplah. Aku tunggu kalian bertiga di sini. Sampai jumpa beberapa jam kemudian." Meyrin mengakhiri panggilan itu.
__ADS_1
Ditatapnya keadaan sekitar, kerut kebingungan menghiasi dahi Meyrin. Dia kehilangan sosok Emily dan Alex.
"Alex sedang mengantar Emily pulang, katanya dia sudah rindu sama paman," jelas Ken yang menyadari tatapan kebingungan Meyrin.
Mendengar penjelasan Ken, Meyrin hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Setelahnya Lea menyerahkan tumpukan dokumen untuk diperiksa oleh wanita cantik itu.
"Kenapa banyak?" tanya Meyrin menatap Lea.
Seingat Meyrin, kemarin dia sudah memeriksa beberapa dokumen dan menandatanganinya. Kenapa sekarang dokumen itu bukannya berkurang, malah semakin banyak?
"Tuan Daniel meminta nona untuk memeriksa dokumen pengiriman 'barang' yang akan dikirim lusa," jawab Lea lugas.
"Ken, kamu ngapain masih di kantorku?" tanya Meyrin yang melihat Ken malah tidur-tiduran di sofa.
"Aku harus kemana lagi? Aku sudah menyelesaikan tour konserku," Ken malah menjawab dengan pertanyaan juga.
"Setidaknya jangan disini. Perusahaanmu butuh pimpinan juga," sungut Meyrin sembari mengecek dokumennya.
"Emang kamu ngak kangen? Kejutan masih menanti loh di rumahmu."
"Ntar aja lah Ken. Ini kerjaan makin lama makin banyak. Sepertinya ayah benar-benar mau pensiun," keluh Meyrin.
"Benar Nona. Tuan besar Daniel akan pensiun dalam waktu dekat ini. Dia menunggu Nona dan Tuan Ken untuk meresmikan hubungan," Lea membenarkan asumsi Meyrin.
"Haah?" Meyrin menatap tak percaya kepada Lea.
Ken berjalan menuju Meyrin dan berdiri di samping kursi tahta wanita yang kembali berhasil mencuri hatinya. Lelaki itu memutar kursinya agar mereka saling berhadapan, berbicara dari tatapan mata.
"Coba pertimbangkan lagi, aku tidak akan menyerah," bisik Ken yang langsung mencium pipi Meyrin.
Meyrin memejamkan matanya, meresapi ciuman di pipinya. Sesuatu yang salah terjadi pada jantungnya. Jantung itu berdetak sangat kencang dan sebuah senyum manis dia berikan untuk Ken.
"Berusahalah! Bukannya kamu tahu, aku sudah menutup pintu hatiku untuk lelaki manapun termasuk suamiku sendiri?" ucap Meyrin sambil membuka matanya.
Meyrin kembali menatap kedua mata hitam Ken, "Bukalah hatiku, aku akan menunggu saat itu," tantang Meyrin dengan suara rendah, dimana hanya mereka berdua yang mendengarnya.
Ken langsung tersenyum dan menerima tantangan dari seorang Meyrin. Inilah alasan seorang Ken yang awalnya memilih mengalah sekarang kembali mengejar Laras. Bagi seorang Ken, Laras yang dulu dengan Meyrin yang sekarang sangat berbeda. Satu tubuh dua karakter yang mampu mencuri hati sang idola sejuta umat itu.
****************
Meyrin baru saja menyelesaikan tumpukan dokumen yang diberikan oleh Lea. Beberapa pertemuan bisnisnya dia serahkan kepada orang kepercayaan. Meyrin lebih suka bermain di balik layar, biarkan orang-orang yang bekerja untuk dirinya.
Bagi Meyrin, selama pertemuan itu masih bisa di handel orang-orangnya dia lebih memilih untuk diam di tempat. Mengontrol semuanya dari belakang dan bersiap dengan segala hal terburuk. Wanita itu lebih suka bermain dengan otaknya daripada keluar kantor bertemu orang-orang.
Lea masuk ke dalam ruangan Meyrin, melapor kalau ketiga sahabat nona mudanya dalam perjalanan ke mansion Arlington. Meyrin menatap jam dinding di ruangannya, pukul 7 malam waktu Lunar.
"Bawa mereka ke penthouse ku saja. Hubungi Emily dan ayah untuk kesana juga. Aku ingin memperkenalkan keluargaku kepada mereka. Satu lagi, jangan mengatakan apapun tentang Arlington dan mansion atau tentangku. Aku masih menaruh curiga pada Rico," perintah Meyrin.
__ADS_1
"Baik, Nona."
Setelah itu Lea menghubungi sopir pribadi kediaman keluarga Arlington. Setelahnya baru dia mengantar nona mudanya kembali ke penthouse.
****************
Mobil yang ditumpangi Lea dan Meyrin baru saja memasuki sebuah basement hotel. Lea memarkirkan mobilnya di tempat biasa. Kemudian setelah mematikan mesin mobil, wanita dengan tubuh kekar itu keluar untuk membukakan pintu untuk sang nona.
"Nona, tuan besar Daniel sudah tiba di penthouse bersama nona Emily," lapor Lea saat dia menerima sebuah panggilan dan Meyrin hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Laraaas!" teriak Dewi saat melihat Meyrin baru saja keluar dari mobil.
Seorang pengawal langsung menghadang Dewi dan mengunci pergerakan wanita itu dengan cepat. Dewi meringis dan meronta minta dilepaskan.
"Lepaskan dia! Dia tamu nona muda!" perintah Lea membuat pengawal itu langsung melepaskan Dewi.
"Kamu tuh yah, sudah aku bilang jangan memanggil nama Laras disini." Meyrin mencubit hidung Dewi gemas.
"Memangnya kenapa sih, aku lebih suka panggil kamu La—"
"No, Dewi," larang Meyrin.
"Ish, nyebelin." Dewi berdecak kesal sembari menggandeng tangan Meyrin untuk bertemu dengan Yuki dan Rico.
"Tante~" seorang anak laki-laki berumur 3,5 tahun berlari ke arah Meyrin yang langsung disambut dengan Meyrin menggendongnya.
"Hai, baby boy. Merindukan tante, hm?" Meyrin mencium pipi gembul anak itu.
"Iya. Setelah ini sering main ke rumah yah, Tante."
"Kalian saling kenal?" tanya Rico menatap Meyrin dan Yuki bergantian.
"Masuk dulu, kita bicara di dalam." Ajak Meyrin yang sudah masuk ke dalam lift dengan menggendong anak dari Yuki.
Ting!
Pintu lift terbuka, dimana mereka langsung disuguhkan sebuah ruang tamu yang mewah dan elegan. Dua orang bule sedang duduk santai di sofa menunggu pemilik penthouse datang.
"Mey, mereka siapa?" tanya Yuki berbisik.
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
IG @hana_ryuuga