
Mendapat telepon dari tuan mudanya, Rama segera menuju ke kamar yang dimaksud. Tidak sampai 5 menit, pria dengan wajah datar itu tiba di hadapan William. Sebuah kerutan di dahinya tercetak jelas saat melihat tangan William yang dibalut dengan perban.
"Tuan, apa perlu saya panggilkan dokter?" tanya Rama khawatir tapi tetap dengan wajah datarnya.
"Orang akan salah paham saat melihatmu mengatakan hal itu. Bertanya dengan nada khawatir tapi wajahnya seperti papan setrikaan, begitu datar." protes William.
"Hn," jawab Rama.
"Ah sudahlah! Dasar muka datar," ejek William dan Rama tidak meresponnya.
"Kak, tolong selidiki siapa Liu Meyrin sebenarnya," perintah William pada kakak angkat sekaligus asisten pribadinya.
"Bukannya sudah aku selidiki waktu itu? Informasinya hanya sebatas itu saja. Aku tidak bisa membobol pertahanan keluarga Arlington."
"Tapi Armand bisa. Jangan kira aku tidak tahu kalau kakak dan Armand adalah teman seperguruan."
William menaik turunkan alisnya, mengejek Rama. Sedangkan yang diejek hanya menampilkan wajah datarnya dan memutar bola matanya jengah. Pria itu sudah menduga, cepat atau lambat William akan mengetahui hubungannya dengan Armand, tangan kanan Nikolai Stevano.
"Mau tahu bagai—"
"Tidak perlu. Otakmu yang memiliki IQ di atas rata-rata sudah membuktikannya," jawab Rama sekenanya.
"Kalau begitu, bisakah kakak mencari informasi tentang Meyrin melalui Armand?" tanya William lagi.
"Kenapa kamu mencurigai Nona Meyrin?" tanya Rama ingin tahu alasan William mencurigai Meyrin.
"Nasi goreng buatannya tadi."
"Bukannya tadi menu makan malamnya—"
"Aku sengaja tidak menyentuh menu makan malam itu. Berharap Meyrin akan memberiku petunjuk tentang Laras. Akan tetapi, bukan petunjuk yang aku dapatkan melainkan sebuah fakta tanpa bukti konkrit."
"Dia membuatkanmu nasi goreng dan itu rasa yang sama dengan yang dibuat Nyonya Laras? Apa yang terjadi selanjutnya?" Rama mengutarakan asumsinya yang tepat sasaran itu.
"Benar. Setelahnya—"
Mengalirlah cerita saat William menceritakan pertemuan pertama dengan Laras. Lelaki itu berharap Meyrin akan terpancing tapi tidak, dia tetap Liu Meyrin yang William kenal. Ia juga menceritakan tentang Meyrin yang ingin William menandatangani surat perceraian dengan Laras.
"Jadi, ini adalah misi rahasia Nyonya Laras." Rama membatin.
"Gimana, Kak?" tanya William.
William benar-benar akan tunduk pada Rama jika hal itu menyangkut istri tercintanya, Laras. Dia tidak ingin kehilangan Laras untuk yang kedua kalinya. Apapun akan William lakukan untuk mendapatkan kembali seorang Laras.
__ADS_1
"Sejak kapan Tuan curiga dengan Nona Meyrin?" tanya Rama.
"Saat terjebak acqua alta di jembatan Rialto. Dia susah untuk dibangunin. Awalnya aku menepis hal itu, tapi semakin hari semakin jelas bahwa Meyrin adalah Laras."
"Kenapa tidak kamu sampaikan saja?"
"Tidak bisa, Kak. Aku dan dia sekarang adalah pebisnis, dia pasti akan mengelaknya. Kecuali aku datang membawa bukti yang konkrit. Apalagi ditambah kekuasaannya melebihiku. Laras benar-benar tumbuh menjadi wanita yang sukses dan semakin membuatku terobsesi padanya."
"Kenapa tidak kamu tandatangani saja surat cerainya dan meminta Nona Meyrin melakukan pernikahan kontrak denganmu?" usul Rama.
William langsung membulatkan kedua matanya saat mendengar usulan dari Rama. Dia menatap takjub pada kakak angkat sekaligus asisten pribadinya. Entah kenapa, ide pernikahan kontrak itu tidak terbesit di dalam benaknya.
"Oke. Aku setuju itu. Aku akan menemui Meyrin dulu dan jangan lupakan tugasmu mencari bukti konkrit tentang Liu Meyrin."
****************
Jika William beberapa menit yang lalu melampiaskan paranoid-nya, berbeda dengan Meyrin. Saat meratapi nasibnya, tiba-tiba terdengar dering ponselnya. Ada nama Paman Aite di sana.
"Ada apa, Paman?"
"Bos, sesuatu terjadi di gudang senjata. Beberapa senjata yang akan di ekspor menghilang tanpa jejak," lapor Aite.
Meyrin tahu betul, jika Aite sudah memanggilnya Bos, berarti mereka sedang berkumpul. Sesuatu yang serius sedang terjadi.
"Tuan Jack sedang dalam perjalanan dari Lunar City ke Italia, Bos."
"Baik, aku akan segera ke gudang bersama Lea."
"Tidak perlu, Bos. Tuan Jack menyuruh kita berkumpul di mansion saya."
"Baiklah."
Setelah mengatakan itu, Meyrin mengakhiri panggilannya. Dia menghapus jejak air mata di kedua pipinya dan beranjak dari posisi terlentangnya.
"Nona," panggil Lea yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Apa Ken yang menghubungimu?" tanya Meyrin.
"Iya, Nona. Mari saya bantu persiapannya."
Setelahnya, Lea mulai membantu mengemas beberapa barang yang perlu dibawa. Beberapa baju juga dibawanya karena bisa jadi mereka tidak akan kembali untuk beberapa hari ke depan.
Liu Meyrin menatap pantulannya di depan cermin. Memakai lipstik merah terang sebagai sentuhan terakhir dari make up nya malam ini. Meyrin memejamkan kedua matanya dan menarik napas kasar.
__ADS_1
"Sudah siap, Nona."
Lea baru saja keluar dari walk in closet dengan menarik koper hitam milik Meyrin. Dia berdiri di depan pintu, menunggu nonanya memberi perintah. Hingga pintu kamar terbuka menampilkan sosok William yang berantakan.
Meyrin mengerutkan keningnya saat melihat penampilan William yang jauh dari kata rapi. Dia memberikan sebuah tas jinjing warna hitam kepada Lea. Wanita itu lalu menganggukkan kepalanya, memberikan kode dan sang asisten langsung keluar dari kamar dengan membawa koper hitamnya.
William menatap Meyrin dari ujung rambut hingga ujung kaki. Baju hitam dengan motif bunga dipadu celana pendek ketat diatas lutut. Kaki Meyrin yang jenjang terekspos dengan sempurna ditambah make up yang terkesan liar dan nakal.
"Kamu akan pergi? Apa karena aku?" tanya William, dari nadanya terlihat bersalah.
"Tidak, Will. Aku harus pergi karena urusan perusahaan. Mungkin beberapa hari ke depan aku tidak akan pulang," jelas Meyrin.
"Oh," William tidak tahu harus bereaksi bagaimana lagi.
"Jaga diri baik-baik," pamit Meyrin menepuk pundak William.
Meyrin melangkahkan kakinya, melewati William begitu saja. Saat tangan kanannya memegang handel pintu, William langsung menarik Meyrin dan menciumnya. Ciuman kali ini terkesan seperti rasa tak ingin kehilangan.
Meyrin membalas ciuman itu, mengikuti kemauan seorang William. Beberapa menit baru Meyrin melepaskannya, napas keduanya tersengal-sengal tapi wajah mereka begitu berseri.
"Kamu selalu merusak make up ku," protes Meyrin saat melihat bibir William memerah karena lipstiknya.
William hanya tersenyum dan mencium kening Meyrin. Lalu sedikit mencuri kecupan di bibir, ya hanya kecupan tidak lebih. Soalnya dia sudah melihat Meyrin yang memelototinya.
"Pergilah! Hubungi aku jika terjadi sesuatu," pinta William yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Meyrin.
Setelah dirasa sudah tidak ada yang dibahas, Meyrin membuka handel pintu dan keluar dari kamar. Di ruang tamu sudah berdiri Rama dan Lea dengan koper hitamnya.
Rama mendekat ke arah Meyrin dengan menundukkan kepalanya. Itu aturan terbaru dari William yang beberapa menit lalu dicetuskan. Lalu tanpa diketahui oleh siapapun, pria yang terkenal dengan wajah datarnya itu menyerahkan selembar kertas pada Meyrin. Meyrin menerimanya, menatap Rama yang tetap menunduk.
"Hati-hati Nyonya," ujar Rama dengan nada yang lirih.
"Sedang apa kalian dekat-dekat begitu?"
Rama memberikan apa?
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
IG @hana_ryuuga