OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 120 SEPENGGAL TENTANG RIZZO (S2)


__ADS_3

Laras tidak memperhatikan pertanyaan Ken. Dia begitu fokus menatap layar tab. Kening wanita itu berkerut saat merasakan ada sesuatu yang salah.


"Brengsek!" umpat Laras tiba-tiba.


"Ada apa?" tanya Ken yang melihat Laras tiba-tiba membanting tab miliknya.


"Rizzo mengetahui kalau kita mengawasinya," jawab Laras singkat. "Paman Steve sialan!" lanjutnya mengumpat.


"Apa yang diinginkan dia sebenarnya?" tanya William tiba-tiba membuat Ken dan Laras menatap ke arahnya.


"Maksudmu apa?" tanya Ken.


"Bukannya ini bisa disebut dengan adu domba? Tidak mungkin ada api kalau tidak ada asap, benar? Bisa jadi Paman Steve yang memberitahu padanya. Kalau begini bisa diartikan dia mengadu domba antara kita dengan Rizzo?" William mengatakan spekulasinya dengan percaya diri.


"Bisa jadi seperti itu, tapi bagaimana kamu bisa yakin, Sayang?" tanya Laras sambil menatap sang suami.


"Aku tidak tahu kalau menjelaskannya dari sudut pandang kalian. Tapi, jika sebagai seorang pebisnis sikap dia sangat mencurigakan saat menatapku tadi. Selain itu, gerakan tubuhnya seperti berlainan dengan yang dia pikirkan. Satu lagi, mata Paman Steve tidak setenang mata kalian." William mengernyitkan keningnya, bola matanya menatap ke atas, dia mencoba mengingat kembali sosok Steve Arlington.


"Wow! Ini menarik. Will, kamu bilang kalau belajar pola pikir mafia dari Nikolai, 'kan?" tanya Ken merangkul pundak William.


"Menjauhlah! Jangan sok dekat denganku!" William mendorong tubuh Ken, menatap tak suka pada sang idola.


"Sayang," panggil Laras dengan memberikan tekanan pada nada bicaranya. Dia menatap William dengan senyum ancaman ala Laras dan hanya sang suami yang paham.


"Baiklah, baiklah. Iya, aku belajar dari Paman Nikolai, ketua mafia Klan Naga Langit," jawab William sambil memutar bola matanya malas.


Rama yang melihat itu hanya dapat mengulum senyumnya. Akhirnya tuannya itu bertemu dengan pawangnya. Rama akui, William akan bersikap kekanak-kanakan dengan hal yang sepele. Beruntungnya, sekarang dia menemukan cara untuk menjinakkan sikap tuannya itu.


Cukup menyebut nama Laras, maka William langsung tunduk. Ah, sungguh sebuah surga dunia bagi Rama menemukan jurus ampuh menghadapi William yang merajuk. Lea menatap heran pada Rama yang tersenyum begitu aneh baginya.


Lea menyenggol lengan Rama dan bertanya, "Ada apa? Jangan tersenyum seperti itu, membuatku takut."


"Tidak ada," jawab Rama singkat, padat, dan jelas.


Lea mulai terbiasa menghadapi sikap Rama yang dinginnya minta ampun. Kulkas saja kalah dinginnya dengan pria itu. Bahkan kedataran papan setrika baju saja kalah dengan ekspresi Rama. Lea hanya bisa berdo'a semoga calon baby William dan Laras tidak seperti Rama.

__ADS_1


"So, Bos kecil sepertinya Paman Steve tersayang kita sedang ingin bermain dengan mafia Arlington. Sekalian saja kita balas dendam ter—"


"Tidak!" timpal William menatap tak setuju dengan perkataan Ken.


"Apa ada masalah, Tuan Plowden?" Ken menatap tak suka pada William yang berani memotong ucapannya.


"Kalian lupa dengan surat Ayah yang tidak mengizinkan kita untuk balas dendam? Jangan lupakan bahwa kondisi Laras tidak memungkinkan untuk melakukan penyerangan." William menatap Ken dengan tajam.


"Sayang, tapi ak—"


"Diam Sayang! Kamu saat ini tanggung jawabku. Ingatlah! Kamu tidak hidup dengan satu nyawa saat ini. Ada nyawa bayi kita yang harus dipikirkan juga." Bentakan William sukses membuat Laras terdiam.


Tiba-tiba wanita yang sedang hamil muda itu menangis tanpa bisa dihentikan. Dia menatap William kecewa lalu berlari keluar, meninggalkan hotel Luna. William tersentak kaget saat menerima tatapan sang istri. Ken berdecak kesal lalu menyusul Laras.


Dia berhenti tepat di depan William dan berkata, "Walaupun Laras sudah menjadi tanggung jawabmu, ingatlah sebuah fakta bahwa kamu adalah orang asing bagi istrimu. Saranku, perhatikan kemauan Laras dan dengarkan semua keluh kesahnya. Jangan sampai dia memilih untuk menghilang lagi dari hadapanmu."


Setelah mengatakan itu, Ken keluar dari ruangan dan menyusul bos kecilnya. Rama mengikuti Laras dan pergi meninggalkan William. Sedangkan Lea masih berada di dalam ruangan itu, menatap William yang tampak bingung dengan situasi ini.


Lea mendekati William, "Tuan, apa bisa kita berbicara?" tanya Lea sedikit ragu.


"Tidak, Tuan. Ini tentang Nyonya Plowden yang mungkin Anda berpikiran bahwa dia berubah."


William menatap Lea dan menganggukkan kepalanya. "Apa sikapku barusan keterlaluan?"


"Bagi saya itu hal yang wajar jika seorang suami mengkhawatirkan istrinya yang sedang hamil. Itu dapat diterima oleh akal sehat, Tuan. Akan tetapi, ada sesuatu yang tidak bisa diterima oleh Bos kami."


"Apa itu? Beritahu aku apapun itu agar bisa memahami Laras juga," pinta William.


"Saya tidak berhak, Tuan. Tapi, saya akan memberitahukan secara garis besarnya saja." Lea menatap William, meminta persetujuan dari suami bosnya.


"Katakanlah!"


"Kejadiannya setelah Nyonya berpisah dengan Anda. Nyonya bertemu dengan Rizzo di sebuah pesta. Awalnya mereka terlibat kerjasama hingga entah bagaimana Rizzo terobsesi pada Nyonya. Dia menghalalkan segala cara agar Nyonya menjadi miliknya. Hingga akhirnya Rizzo mengancam Nyonya dengan menyerang mansion Arlington yang ada di LA. Hal itu membuat Nyonya harus kehilangan ibundanya." Lea menghentikan ceritanya.


"Lalu apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Nyonya terpuruk, keluarga Arlington tampak kacau. Di situlah peran penting tuan Ken. Saya hanya bisa memberitahu Anda sampai di sini karena sisanya hal privasi Nyonya." Lea mengakhiri ceritanya.


Dari cerita Lea, William sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa Ken adalah pahlawan bagi Arlington. Tapi, tidak bagi Laras, istri tercintanya. Ken lebih dari seorang pahlawan dan dia ingin mengetahui cerita detailnya dari sang istri. Tapi, jika dia menuntut Laras menceritakannya malam ini, sama saja membuat keadaan semakin rumit.


"Lea, bagaimana cara menghadapi mood wanita hamil?" tanya William mengganti topik pembicaraan mereka.


"Tuan hanya perlu sabar karena itu hal yang wajar. Cukup turuti semua kemauan Nyonya dan selalu ada jika dibutuhkan," jawab Lea simple.


"Tidak sesimple itu, Lea. Semua yang aku lakukan serba salah di mata Laras. Misal tadi saja dia yang tiba-tiba memintaku untuk menyisir rambutnya. Setelah mengambil sisir dia marah karena terlalu lama padahal aku mengambil sisir tidak di depan meja riasnya. Lama-lama aku bisa gila menghadapi Laras yang seperti itu," protes William akan sikap absurd sang istri.


"Itu sudah hal biasa, Tuan. Seperti kata saya, Anda harus bersabar. Itu masih belum masa ngidam. Saya harap Nyonya tidak menginginkan hal yang aneh saja."


"Maksudnya?" William benar-benar tidak mengetahui masalah wanita hamil. Bahkan, pengetahuannya tentang wanita hamil dan yang diperlukan saja dia tidak tahu.


"Ngidam itu di mana nanti bayi Anda menginginkan sesuatu dan harus saat itu juga. Apapun itu, Anda harus menurutinya dan tidak boleh diganti dengan yang lainnya."


Tepat setelah Lea mengatakan hal itu, ponsel William berdering. Ada nama sang istri di layar ponselnya. William tersenyum senang saat istri tercintanya yang berinisiatif menghubunginya terlebih dahulu.


"Hal—"


"Aku mau makan sate ayam sekarang juga. Jangan lupa pakai bawang merah mentahnya."


Setelah mengatakan itu, Laras langsung mematikan panggilannya. William masih memproses ucapan sang istri sebelum akhirnya mengacak rambutnya.


"Lea, apa ini yang dinamakan ngidam?" tanya William.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


@hana_ryuuga


__ADS_2