OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 123 ADA APA DENGAN STEVE ARLINGTON (S2)


__ADS_3

Semua menatap ke arah Ken, sedangkan yang ditatap malah menatap Laras. Ini adalah berita yang baru Ken dengar dan dia tidak menyangka Laras akan mengambil keputusan tanpa diskusi dengan dirinya terlebih dahulu.


"Kak, apa ini serius?" Emily menatap penuh haru pada Laras.


"Laras, apa maksudnya ini? Kenapa aku baru tahu akan hal ini?" tanya Ken tidak terima dengan keputusan sepupunya.


"Ken, ini adalah keputusanku sebagai seorang pemimpin. Tolong, ambil alih kepemimpinanku."


"Aku tidak punya hak untuk itu. Ma—" Ucapan Ken terpotong oleh perkataan King.


"Saya setuju dengan Bos." King mengangkat tangan kanannya.


"Saya juga setuju." Kali ini Joker yang menyetujui keputusan sang Bos.


"Saya juga setuju, Bos," ujar Queen.


Laras tersenyum ketiga jenderalnya setuju dengan keputusan yang dia ambil. Dia menatap Aite yang masih terdiam menatap Laras dan Ken.


"Paman Aite, ada yang ingin Anda sampaikan dengan keputusanku?" tanya Laras menatap Aite yang seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ditahannya.


"Tuan William, bagaimana menurut Anda dengan keputusan Nyonya? Apa Anda tidak keberatan?" Aite menatap William.


Mereka yang setuju dengan keputusan Laras, akhirnya menyadari suatu hal. Bos kecil mereka tidak sendiri lagi, ada seorang suami yang memiliki tanggung jawab penuh pada Laras. King, Joker dan Queen menundukkan kepalanya karena telah melupakan fakta bahwa ada William yang berhak menggantikan Laras.


"Saya setuju dengan keputusan istri saya. Ken, tolong gantikan kepemimpinan Laras untukku jika kamu menolak menerima perintahnya. Jika kamu keberatan, setidaknya gantikan kepemimpinan istriku selama dia hamil." William menatap Ken dan Laras tersenyum menerima jawaban dari sang suami.


"Ken, bagaimanapun aku tetap akan memantau organisasi. Aku tidak akan lepas tangan dan pergi begitu saja. Hanya saja, aku tidak ingin terjun ke medan pertempuran selama masa hamilku," ujar Laras.


"Sebagai gantinya, aku yang akan terjun ke medan pertempuran. Tapi, saya butuh para jenderal mafia Arlington untuk mengajariku," tambah William.


"Hah?" Laras menatap William, sedangkan para jenderal menatap Bos kecilnya meminta saran jawaban.


"Tidak! Tanganmu bersih dan tidak cocok, Will," protes Laras.


"Setidaknya akan ada Ken dan para jenderalmu yang akan menjagaku. Bagaimana?"


"Apa kalian bisa mengajari suamiku?" tanya Laras pada keempat jenderalnya. "Menurutmu gimana, Ken?" Laras juga menanyai pendapat sepupunya itu.


"Aku setuju. Biar aku saja yang mengajarinya. Aku akan mengambil kepemimpinanmu selama hamil. Setelahnya aku kembali ke posisi sebagai tangan kanan, bagaimana?"


"Setuju." Laras mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Ken, tanda mereka sepakat. Ken menyambutnya dan sebuah tepuk tangan terdengar.

__ADS_1


"Jangan menyentuh istriku terlalu lama, Ken," hardik William menepis tangan Ken yang masih menjabat tangan Laras.


"Sekarang kita sarapan saja." William menatap kesal ke arah Ken saat Laras malah membela rivalnya.


Kabar tentang William dan Ken yang menjadi rival saat merebutkan hati bos kecilnya itu sudah bukan rahasia lagi. Apalagi sikap William yang posesif, tidak suka melihat miliknya disentuh oleh orang lain. Sedangkan Ken dengan sikapnya yang super lembut dan tidak mau mengalah sukses mendapatkan kepercayaan penuh seorang Laras.


"Aku ingin rapat setelah sarapan selesai," ujar Laras.


"Baik, Bos."


Setelahnya mereka mulai menikmati sarapan paginya. Tidak ada yang berbicara karena itu sudah menjadi sebuah aturan dari Arlington yang harus dipatuhi oleh semuanya.


"Kak, Emily akan pergi ke Korea setelah ini. Kakak ipar tolong jaga kakakku dan calon keponakanku," pamit Emily kepada Laras dan William.


"Hati-hati di jalan, Sayang."


"Kamu bisa percaya sama aku." 


"Queen tolong kawal Lily," perintah Laras.


"Baik, Bos."


Sepeninggal Queen dan Emily, mereka melanjutkan sarapan paginya.


William baru saja selesai memberikan perintah pada Rama untuk mengurus perusahaan secara langsung. Dia masih ingin mengambil cuti kerja. Seperti yang dilakukan istrinya, yah walaupun William akui bahwa Laras sangat kompeten dalam pekerjaannya.


Queen baru saja tiba di mansion setelah mengawal Nona muda Arlington ke bandara. Seorang kepala pelayan menyampaikan pesan Laras kepada Queen untuk segera ke ruang rapat.


"Terima kasih." Queen langsung berjalan menuju ruangan yang di maksud.


Di sana, di dalam ruangan semua pemimpin kelompok sudah berada di posisi masing-masing. Queen langsung menuju kursinya. Semua duduk di kursi yang sama dengan formasi yang berbeda. Kursi Daniel Arlington, pemimpin terdahulu digantikan oleh William.


Terlihat di layar ada Armand. Ken melakukan panggilan video call dengan Armand sesuai perintah Laras.


"Langsung saja ke intinya. Armand, apa kode keamanan di hotel William yang berada di Lunar City semuanya kamu yang atur?" tanya Laras memulai rapatnya.


"Iya, Nyonya. Apa ada masalah?"


"Ken, putar rekaman CCTV kemarin dan tolong kalian perhatian sampai video selesai." Laras menatap keempat jenderalnya yang menganggukkan kepala.


Sesuai perintah Laras, Ken mulai memutar rekaman CCTV yang dia ambil dari sistem keamanan hotel William. Jujur, William sangat kagum pada Ken jika sudah berkutat dengan dunia cyber. Laras memperhatikan setiap ekspresi dari keempat jenderalnya.

__ADS_1


"Nyonya, kita harus menyerang Rizzo!" seru Aite setelah rekaman selesai.


"Saya setuju," seru Joker.


"Begitu juga dengan kami berdua." King mewakili Queen juga menyetujui saran Aite.


"Itu rencanaku dan Ken. Sayangnya, suamiku tidak setuju. Alasannya kalian sudah menebaknya. Ken!"


Ken mengetikkan sesuatu di laptopnya lalu muncullah cuplikan rekaman CCTV bagian akhir. Semua bisa melihat dengan jelas apa yang ditampilkan laptop Ken.


"Rizzo mengetahui kalau Ken meng-hack sistem keamanan hotel. Selain itu, di sisi dia tidak terlihat Berto. Itu artinya, dia cepat atau lambat akan datang kembali untuk mengusikku."


"Bos, bagaimana dia tahu kalau kalian memata-matainya?" tanya Queen.


Laras terdiam, dia berpikir alasan yang tepat. Dia dan Ken sudah sepakat untuk merahasiakan kematian seorang Daniel Arlington. Wanita itu menatap Ken dan yang ditatap hanya menggelengkan kepalanya, tidak memberi izin Laras untuk membuka suara tentang kematian Daniel.


"Pamanku, Steve Arlington sepertinya sedang mempermainkanku dan Rizzo. Secara, sudah bukan rahasia lagi kalau Rizzo tertarik padaku. Jadi, dia tahu akan hubunganku dan Rizzo tidak baik-baik saja," jawab Laras memijat keningnya.


Keheningan mulai tercipta. Mereka buntu harus melakukan apa karena keluarga sendiri berpihak pada musuh. Banyak ide yang terlintas, tapi ketika sampai pada kesimpulannya adalah kekalahan.


"Kita tidak bisa menyerangnya sekarang." Ken akhirnya bersuara.


Sebuah layar besar di hadapan Ken menampilkan rekaman CCTV hotel. Terlihat Rizzo dan para bawahannya mulai meninggalkan hotel. Hal itu semakin membuat pening keadaan. Jika Rizzo tidak menetap, itu artinya mereka harus memulai dari awal mencari keberadaannya.


"Ken, aku sudah mengirim sebuah aplikasi pelacak ke emailmu. Beberapa hari yang lalu, Tuan Nikolai meminta orang suruhannya untuk meletakkan sebuah GPS entah di mana. Tapi, kamu bisa coba mengoperasikannya sekarang. Aku akan pergi lebih dulu. Tuan dan Nyonya Plowden, saya permisi."


Setelah itu, panggilan video dengan Armand berakhir. Ken mulai membuka emailnya dan meng-install sebuah aplikasi. Ken mulai menarikan kembali jari-jemari lentiknya di atas keyboard. Hingga sebuah map berjalan muncul.


Sebuah titik merah terlihat sangat jelas di sana. Bahkan, titik itu akan terus bergerak bersamaan dengan mobil yang ditumpangi Rizzo. Semua berdecak kagum pada pemikiran Nikolai. Laras tersenyum saat masalah keberadaan Rizzo telah terdeteksi.


"Wah, ini sangat sempurna. Tapi, di mana orang suruhan Tuan Nikolai meletakkannya? Tidak mungkin di dalam mobil itu," muncul kembali pertanyaan dari Aite membuat semuanya berpikir.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


@hana_ryuuga


__ADS_2