OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 104 DUA GARIS


__ADS_3

Laras masih enggan untuk menerima gelas yang ada di tangan William. Dia tatap air itu terlihat tidak menarik, tapi kalau dari aromanya segar dan menggugah selera.


"Air madu dan jahe hangat. Siapa tahu setelah ini perutmu akan baik-baik saja." William menyodorkan gelas itu dan sedikit memaksa Laras untuk menerimanya.


Laras yang tidak ingin terjadi perdebatan, akhirnya dia meminum air itu. Satu kali tegukan saja dan dia berhenti meminumnya lagi. Wanita itu ingin merasakan efek dari satu kali tegukan air madu dan jahe hangat di tubuhnya.


"Ini enak. Boleh aku habiskan?" tanya Laras.


"Memang itu rencana awalnya, Sayang. Habiskan lalu istirahatlah. Aku akan kembali ke ruang makan untuk mengabari Ayah Daniel."


"No! Temani aku tidur," rengek Laras.


William benar-benar tak habis pikir dengan Laras hari ini. Wanita itu dari bangun tidur hingga detik ini tingkahnya absurd banget. Laras menggeser tubuhnya dan menepuk-nepuk sisi kosong agar William berbaring di sana.


"Ayolah, Sayang. Aku ingin tidur. Apa kamu tidak kasihan denganku?" rengek dengan nada manja Laras membuat William luluh seketika.


William membuka jas warna merah mudanya dan meletakkannya di atas nakas. Lelaki itu menuruti permintaan sang istri dan berbaring di sisi kiri Laras.


"Sayang, aku ingin kamu menceritakan apa yang terjadi dengan Mama dan Papa setelah aku pergi," pinta Laras.


"Tanpa aku cerita, kamu sudah tahu detailnya dari orang-orangmu. Jangan membuatku terlihat bodoh, Sayang."


"Tapi tidak detail. Aku ingin tahu dari sudut pandangmu, Will."


"Nanti setelah kamu istirahat. Pejamkan matamu dan tidurlah!" William menarik selimut hingga pinggang untuk menutupi tubuh keduanya.


Saat Laras hendak memejamkan matanya, suara ketukan terdengar. William beranjak tapi ditahan oleh Laras.


"Apalagi, Sayang?" tanya gemas William.


"Cium dulu baru boleh pergi."


William memutar bola matanya, tapi dia tetap mencium bibir Laras sekilas. Setelah itu dia beranjak dari kasurnya. Pria itu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar dan membukanya.


"Apa Laras baik-baik saja?" tanya Daniel pada William.


"Sudah lebih baik, Ayah," jawab William dan melihat seorang dokter berada di belakang sang Ayah.


"Ayah membawa dokter untuk memeriksa Laras. Apa tidak apa-apa?"


Bagaimanapun Daniel akan tetap meminta izin karena sebentar lagi tanggung jawabnya menjaga Laras sudah berpindah tugas kepada William. Selain itu, dia ingin melakukan yang terbaik untuk kedua putrinya sebelum sesuatu terjadi padanya.

__ADS_1


"Kalau begitu masuklah, Ayah. Laras sedang berbaring."


William menggeser tubuhnya agar Daniel, Aite, King serta Dokter bisa masuk ke kamar. Laras yang melihat kehadiran mereka berdiri langsung terduduk dan tersenyum lemah pada Ayahnya.


"Are you okay, Nak?" tanya Daniel yang duduk di sisi ranjang dekat Laras.


"Laras sepertinya kelelahan, Ayah. It's okay. Ayah tidak perlu terlalu khawatir." Laras menepuk-nepuk punggung tangan sang Ayah yang menggenggam tangan kanannya.


"Tetap saja Ayah khawatir, Nak. Biarkan dokter memeriksa keadaanmu. William sudah memberikan izinnya tadi."


"Baiklah. Aku tidak mau membuat Ayah dan suamiku khawatir."


Setelah itu Daniel beranjak dari posisinya, memberikan ruang untuk dokter keluarga King memeriksa keadaan Laras. Dokter itu mulai memeriksa dari denyut nadi Laras. Berlanjut ke detak jantungnya. Bersyukur karena dokter itu adalah wanita, jadi William tidak marah.


Daniel yang paham akan paranoid William sengaja meminta King untuk memanggil dokter keluarga perempuan. Jika tidak seperti itu, bisa dipastikan calon menantunya itu akan marah. Bahkan tidak memberikan izinnya.


"Nyonya, kapan terakhir Anda datang bulan?" tanya sang dokter.


Laras tersentak kaget saat mendengar pertanyaan dari sang dokter. Dia coba berpikir kapan terakhir datang bulan. Kedua bola matanya membulat saat menyadari bahwa setelah pertempurannya dengan Rizzo, dia tidak mendapati datang bulannya lagi. Itu artinya sudah satu bulan lebih dia tidak mendapatkannya.


'Mungkinkah yang waktu malam itu?' pikir Laras bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Laras menepuk jidatnya saat yakin bahwa saat itu lah yang paling akurat. William menatap Laras dengan tatapan tak percaya dengan kesimpulannya.


"Sepertinya sekitar satu bulan yang lalu, Dok," jawab Laras malu-malu.


"Sudah saya duga. Apa saya bisa meminta Anda melakukan tesnya, Nyonya?" Dokter itu menyerahkan sebuah test pack kepada Laras.


Laras menatap William yang menatapnya dengan binar kebahagiaan. Kedua bola mata William mengatakan bahwa lelaki itu menginginkan Laras melakukan test pack agar mendapatkan hasil yang akurat.


"Baiklah."


Laras mengambil test pack itu dan beranjak dari posisi berbaringnya menuju kamar mandi. Laras mengambil sebuah botol kecil untuk menampung urinenya. Setelah itu dia memasukkan ujung test pack itu pada botol. 


Deg! Deg! Deg!


Ada rasa penasaran juga takut bercampur aduk pada perasaan Laras. Dia penasaran dengan hasil yang ditunjukkan oleh benda pipih itu. Tapi, dia juga takut jika hasilnya tidak sesuai dengan harapannya dan William.


Siapa tahu karena faktor stress hingga dia mengalami telat datang bulan. Hal itu bisa menjadi salah satu pemicunya. Bahkan untuk mual dan muntah tadi bisa jadi karena belakangan ini pola makannya tidak teratur hingga asam lambungnya naik. Semua kemungkinan itu benar adanya.


"Aah aku bisa gila jika menunggu seperti ini," gumam Laras yang akhirnya keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


Laras berjalan mendekati William, lalu menyerahkan test pack itu pada suaminya. "Sayang, kamu saja yang melihatnya. Aku takut kecewa dengan hasilnya."


Tangan yang gemetar, William mengambil test pack yang disodorkan oleh Laras. Jika Laras takut dengan hasilnya, bagaimana pun William juga lebih takut. Ada rasa tak percaya tapi juga penasaran.


William menghembuskan napas panjangnya sebelum menatap hasil yang ditunjukkan oleh alat itu. Terlihat benjolan di leher William naik turun, pertanda pria itu sedang gugup. William membulatkan matanya sempurna saat alat tes kehamilan itu menunjukkan garis sejajar dua buah.


"Dokter, apa ini benar?" William menyerahkan test pack itu pada satu-satunya dokter yang ada di sana.


"Wah, selamat buat Tuan dan Nyonya yang sebentar lagi akan menjadi orang tua." Dokter itu membenarkan apa yang ada dipikiran William.


Mendengar itu, Laras menutup mulutnya tak percaya. William langsung memeluk Laras dan mencium wajah istrinya berkali-kali serta ucapan terima kasih. Ini adalah kabar gembira buat lelaki itu.


Aite dan King yang mendengar kabar menggembirakan ini mengucapkan selamat kepada Daniel. Daniel akan menjadi seorang kakek sebentar lagi. Selanjutnya dua jendral Arlington itu menyalami William dan Laras serta mengucapkan selamat.


Terpancar kebahagiaan di wajah kedua mempelai yang besok akan melangsungkan pernikahan. Tanpa terasa Daniel meneteskan air mata. Setidaknya dia masih dapat melihat kebahagiaan putri sulungnya. Anak yang selama puluhan tahun terpisah darinya karena kesalahan dia sendiri.


Daniel menghapus air mata bahagianya. Dia menghampiri William dan Laras lalu memeluk keduanya dalam satu rangkulan. Kembali, air mata itu mengalir dari pipi Daniel yang mulai terlihat keriputnya. Setidaknya ini adalah kabar bahagia yang diberikan oleh Tuhan untuknya. Walaupun dia tidak bisa melihat cucunya tumbuh dewasa kelak.


"Ayah, kenapa menangis?" tanya Laras.


"Ayah senang, Nak. Will, Ayah titip kebahagiaan Laras dan cucu pertama Arlington kepadamu. Jangan mengecewakan Ayah yang kedua kalinya," ujar Daniel.


"William janji akan menjaga Laras bahkan mempertaruhkan nyawa untuk melindungi keluarga kecilku." William menatap Daniel begitu yakin tanpa ada keraguan sedikitpun.


"Baguslah. Sekali lagi, selamat untuk kalian berdua." Daniel menepuk pundak William dengan tegas dan mengelus sayang rambut Laras.


"Laras mencintai Ayah lebih dari siapapun." Laras memeluk Daniel sekali lagi.


King dan Aite yang melihat itu keluar dari kamar bersama sang dokter. Mereka berpamitan pada William dan lelaki itu mengucapkan terima kasih sekali lagi.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~


@hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2