OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 28 TERBONGKAR, HANYA SAJA ...


__ADS_3

Meyrin keluar dari kamarnya diikuti Lea. Terlihat William yang sudah menunggunya di meja makan. Berbagai jenis makanan yang menggugah selera terhidang di atas meja. Meyrin langsung duduk di salah satu kursi yang kosong.


Meyrin sadar bahwa sejak dia keluar dari kamar, tatapan William selalu tertuju padanya. Akan tetapi, wanita itu memilih untuk tidak peduli dan duduk di depan William. Lea dan Rama menyiapkan menu sarapan pagi kedua pemimpin kerajaan bisnis terbesar di Lunar City.


Tidak ada yang bersuara, mereka lebih memilih untuk tetap diam dan menikmati sarapannya. Lea dan Rama hanya diam di ujung ruangan menunggu keduanya menyelesaikan sarapan pagi.


"Lea!" panggil Meyrin akhirnya.


Lea langsung berjalan mendekat, "Siap, Nona."


"Jadwalku apa hari ini?"


"Hari pertama hingga ketiga, Nona dan Tuan Plowden akan menjelajahi grand kanal yang ada di Venesia menggunakan gondola. Walikota sudah menyiapkan fasilitas terbaiknya dan berharap Nona dan Tuan dapat bekerja sama dengan baik sebagai sepasang suami-istri yang saling mencintai," jelas Lea dengan santainya.


"Berikan ponselku!" Meyrin meminta ponselnya pada Lea dengan tatapan yang sulit diartikan.


Setelah mendapatkan ponselnya, Meyrin berjalan masuk ke dalam kamar dan mulai menghubungi ayahnya. Dia berjalan mondar-mandir untuk menenangkan pikirannya yang sedang tidak baik-baik saja.


"Halo, Ayah?" panggil Meyrin setelah panggilan itu terhubung.


"Ada apa, Nak?"


"Ayah gila yah? Pasangan suami istri? What the fvck! Ini benar-benar gila, Ayah! Mau Ayah apa sebenarnya? Berhenti membuatku tidak tenang disini!" racau Meyrin.


"Ayah hanya ingin kamu segera menyelesaikan misimu untuk mendapatkan surat cerai itu. Jadi, nikmati waktumu dan selesaikan misinya secepat mungkin!" ujar Daniel begitu tegas dan langsung mengakhiri panggilannya.


"Sialan!" umpat Meyrin yang langsung membanting ponselnya hingga terbagi menjadi dua.


****************


Meyrin memijat pangkal hidungnya, keningnya berkerut tak habis pikir dengan ayahnya. Suara ketukan terdengar, Meyrin menyuruh orang dibalik pintu untuk masuk. Muncullah sosok Rama dengan wajah seperti biasa, datar bak papan setrikaan.


"Nyonya Larasati Arlington atau Nyonya Larasati Plowden? Bagaimana saya harus memanggil anda?" tanya Rama setelah menutup pintu.


Meyrin tersentak kaget dan menatap Rama dengan tajam. Sayang seribu sayang, tatapan tajam seorang Meyrin tidak berpengaruh apapun pada Rama. Meyrin melambaikan tangannya agar Rama mendekat.


"Jadi, saya harus memanggil dengan apa, Nyonya?" tanya Rama lagi tentunya tanpa ekspresi.


"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Meyrin dengan nada berbisik.


"Saya mempunyai informan yang tidak kalah dengan keluarga Arlington, Nyonya," jawab Rama lugas.


"Jangan panggil aku Nyonya, cukup Nona saja. Paham?"

__ADS_1


"Baik, Nona. Jadi?"


"Tidak ada jadi. Apa William tahu identitasku?" tanya Meyrin lagi sedikit khawatir karena Rama adalah asisten pribadi William, suaminya.


"Tidak, Nona. Apa perlu saya berita—"


"Jangan coba-coba! Atau kepalamu berlubang!" timpal Meyrin yang penuh dengan ancaman.


"Jadi, saya harus bagaimana Nyonya?" tanya Rama.


"Tutup mulutmu dan bersikaplah seperti biasa. Mudah 'kan?" Meyrin menatap Rama.


"Apa saya boleh minta upah tutup mulut?"


"Maumu apa?"


"Bisakah Anda membuat Tuan Muda jatuh cinta lagi? Bukan sebagai Nyonya Laras tapi, sebagai Nona Meyrin?"


"Apa rencanamu?"


"Aku hanya ingin Tuan Muda lepas dari bayangan Nyonya Laras."


"Alasannya?"


"Tapi, Ayah Daniel akan pensiun dan saat itulah beliau akan memperkenalkanku sebagai Larasati Arlington. Apa kamu sanggup menerima konsekuensinya?" tanya Meyrin.


"Itu bisa dipikirkan nanti. Apa Nona bisa melakukannya?"


"Deal." Meyrin mengulurkan tangannya dan Rama menyambutnya.


"Baik, Nona. Sekarang, bisakah kita keluar untuk menyelesaikan agenda hari ini?" tanya Rama yang kembali ke topik utama dirinya datang menjemput Meyrin.


Meyrin langsung beranjak dan Rama mengikutinya dari belakang. William dan Lea sudah siap dan tinggal berangkat saja. Mereka keluar dari kamar dan enam pengawal berada di belakang mereka.


"Lea, berikan ponsel cadanganku!" Meyrin mengulurkan tangannya, meminta ponselnya yang lain. 


Sampai di lobi hotel, Meyrin dan William disambut oleh pemandu wisata. Lea menyerahkan earphone mini kepada keduanya dan dengan begini mereka siap untuk berkeliling. Sayangnya earphone itu tidak digunakan oleh keduanya. William mendekatkan dirinya kepada Meyrin.


"Untuk beberapa hari kedepan, bisakah kita bekerja sama?" bisik William.


"Baiklah, tapi tolong jangan melebihi batasannya." Meyrin ikut berbisik.


"Sepertinya Nona Meyrin yang sudah melewati batas itu tadi malam," jawab William.

__ADS_1


Sukses. Kedua pipi Meyrin langsung memerah mendengar jawaban William. Acara bisik-bisik itu mendapat perhatian khusus dari para turis maupun warga lokal. Beberapa tim yang bertugas untuk mengabadikan semua momen mereka berdua, tak ingin melewatkan adegan itu. Kilatan flash dari lensa kamera menghujani keduanya.


William memeluk pinggang ramping Meyrin dengan mesranya. Sedangkan yang dipeluk tersentak dan bergidik ngeri dengan kelembutan seorang William.


"Ayo, Sayang!" ajak William menarik pinggang ramping Meyrin agar lebih menempel pada tubuhnya.


Mereka mengikuti pemandu wisata sekaligus mendengarkan penjelasan darinya. Rombongan Meyrin dan William berjalan kaki untuk tiba di stasiun gondola hotel Danieli yang berjarak beberapa meter dari hotel.



Sebuah gondola yang terbuat dari kayu menanti kedatangan mereka.Gondola adalah sebuah perahu kayu dayung yang bentuknya meruncing. Gondola merupakan alat transportasi yang sangat populer di Venesia.


William membantu Meyrin untuk turun ke gondola. Gondola biasanya dapat menampung dua sampai enam orang disertai satu pendayung. Sebab desainnya yang ramping, unik dan asimetris memungkinkan hanya satu pendayung yang dapat menavigasikannya. Selain itu, karena perairan Venesia yang sempit, memungkinkan pendayung menggunakan dayung tunggal.


Ada tiga gondola yang disiapkan oleh Walikota Venesia. Masing-masing gondola ada dua pengawal yang ikut serta. Meyrin dan William saat ini duduk berdampingan, bahkan tanpa mereka sadari, kedua tangan mereka masih saling bertautan. Dua gondola lagi dikhususkan untuk reporter dan para asisten pribadi.


"Nona, Tuan, bisakah kalian lebih rileks lagi? Anggap saja kita tidak ada, kalian bisa melakukan apapun. Tugas kita hanya mendokumentasikannya. Apa bisa?" tanya reporter yang bertugas.


"Baiklah," jawab William dan Meyrin bersamaan.


Sayangnya walaupun diarahkan, William dan Meyrin tampak sangat canggung. Apalagi dengan peristiwa tadi malam, benar-benar membuatnya semakin canggung. Lea dan Rama yang melihat itu hanya menepuk jidatnya begitu juga dengan para reporter yang tidak mendapatkan momen sweet sama sekali.


Mereka menjadi pusat perhatian penduduk lokal dan beberapa turis saat berada di gondola. Gondola itu mulai menyusuri laguna Venesia, melewati beberapa distrik hingga mereka memilih untuk turun di jembatan Rialto.


Menuju jembatan Rialto, mereka melewati jalanan sempit dengan di samping kanan kiri berjejer deretan toko yang menjual barang-barang branded internasional. Ada juga toko-toko kecil dan beberapa toko yang menjual produk lokal khas Venesia.


William kembali membantu Meyrin untuk turun dari gondola. Mereka berdua bersiap untuk menikmati matahari senja di jembatan Rialto. Bersyukurlah karena saat ini jembatan itu tidak terlalu padat dengan para turis.


William menggandeng tangan Meyrin, mengajak wanita itu berjalan menuju bibir jembatan. Angin berhembus menyibak dress yang dikenakan wanita itu. Melihat itu, membuat William membuka jasnya dan menyampirkan di pundak Meyrin.


"Terima kasih," ucap Meyrin dengan senyum manisnya dan hal itu tidak disia-siakan oleh para reporter yang bertugas.


Apalagi yang akan terjadi setelah ini?


.


.


.


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2