OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 68 ANCAMAN RIZZO


__ADS_3

Meyrin mematikan kran shower agar tidak menyirami tubuh suaminya. Lalu melangkahkan kakinya untuk mengambil bathrobe yang berada di dalam laci kabinet wastafel. Wanita itu mengambil dua setel bathrobe untuknya dan William.


Meyrin membantu menanggalkan seluruh pakaian yang dikenakan William tanpa tersisa. Lalu mengambil bathrobe dengan ukuran yang paling besar untuk William. Meyrin benar-benar memperlakukan William dengan sangat lembut. Setelahnya dia juga melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri.


"Ayo!" Meyrin membantu William berdiri dengan menahan pundaknya.


"Sakit," ringis William.


"Kenapa baru sekarang kamu merasakan sakit? Memangnya tadi saat marah tidak merasakan sakit sama sekali?" sindir Meyrin.


"Tidak sesakit saat aku mendapatkan pesan kalau kamu akan pergi meninggalkanku," pembelaan William lontarkan.


"Tapi tetap saja Will, kamu harus bisa mengendalikan paranoidmu itu. Bisa bahaya jika kamu lepas kendali pada orang tak bersalah," saran Meyrin sembari menahan tubuh William sedangkan sang pria sendiri menahan tubuhnya dengan berpegangan pada dinding.


Meyrin memapah William menuju ruang tengah karena kamar sudah tidak berada dalam kondisi yang kondusif. Perlahan tapi pasti akhirnya Meyrin bisa membuka pintu kamar. Melihat dua majikannya keluar dari kamar, Rama segera membantu Meyrin untuk memapah William.


Sudah dipastikan, setelah paranoid William kambuh pasti salah satu tubuhnya akan terluka. Kali ini William terluka di bagian telapak tangan kanan serta kakinya. Tentu saja itu bisa saja terjadi karena William tanpa sadar melewati pecahan kaca.


Rama mengambilkan kotak P3K yang diminta Meyrin lalu menyerahkannya. Meyrin mulai melakukan pertolongan pertama luka pada tubuh William. Wanita itu mengobatinya dengan kelembutan dan kehati-hatiannya. Dia takut menyakiti William.


Tak lama, Lea datang bersama seorang dokter yang bekerja di hotel Danieli. Meyrin dan Rama beranjak sedikit menjauh dari William, memberikan ruang untuk sang dokter memeriksa keadaan pria itu. Akan tetapi, William meminta Meyrin untuk selalu berada di sisinya.


"Tuan, bisa Anda berbaring?" tanya dokter itu pada William.


Meyrin menganggukkan kepalanya dan membiarkan William tidur di atas pahanya. Wanita dengan rambut lurusnya itu ingin memanjakan William, suaminya. Perlahan, kedua bola mata sang lelaki mulai meredup hingga tertutup dengan sempurna.


Dokter tadi memberikan obat bius pada William. Dia sudah mendapatkan garis besar tentang keadaan William, maka dari itu dia memilih untuk membiusnya. Dokter tersebut tidak ingin William marah karena paranoid-nya. Meyrin mempersilakan sang dokter melakukan tugasnya.


Sedangkan Rama memilih untuk membereskan kekacauan yang ada di dalam kamar tuannya. Dia memanggil jasa cleaning service untuk membersihkan kamar William.


Dilihatnya William yang tertidur karena pengaruh obat bius. Meyrin mengelus-elus rambut William dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Sungguh, Rama merindukan saat-saat kebersamaan William dan Meyrin. Entah kapan, tapi dia berharap lebih cepat lebih baik.


"Saya sudah selesai, Nyonya. Tidak ada luka serius, hanya beberapa jahitan," jelas sang dokter.


"Baik, terima kasih dokter."


"Maaf, Nona … ini?" Lea menunjukkan ponselnya yang bergetar. Ada nama Rizzo di sana.


"Sialan! Kenapa dia terus menggangguku sih," umpat Meyrin menatap jengkel pada ponsel Lea.


Rama yang mendengar Meyrin mengumpat sedikit terkejut. Tapi, segera tersamarkan dengan rasa penasarannya. Apalagi sebuah fakta dari Nikolai membenarkan jika Meyrin adalah sosok pemimpin mafia Arlington. Dia menatap Meyrin yang menerima panggilan itu dengan wajah penuh kebencian.


"Ada apa, brengsek!" umpat Meyrin kesal.

__ADS_1


"Begitukah caramu memanggil calon suami masa depanmu?" ucap Rizzo dengan nada meremehkan.


"Aku tetap akan menjadi istrinya William. Jangan pernah berharap padaku!" bentak Meyrin.


"Benarkah? Aahh … sepertinya kamu belum mengetahui sesuatu. William sudah menandatangani surat cerainya denganmu. Jadi, kamu bukan miliknya lagi, Sayang." Rizzo membuat Meyrin semakin kesal dengan perkataannya.


Meyrin terdiam, mulai mengatur emosinya yang selalu meledak jika itu ada hubungannya dengan Rizzo. Laki-laki brengsek yang dua tahun lalu menghancurkan keluarga Arlington karena rasa obsesinya terhadap Laras.


Lea yang menyadari keadaan nonanya, segera mengelus pundak Meyrin. Dia menganggukkan kepalanya kepada Meyrin, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Aku sibuk, katakan apa maumu?" tanya Meyrin dengan nada dinginnya yang menusuk.


Kali ini Rama benar-benar dibuat terkejut dengan perubahan sikap Meyrin. Ditatapnya sosok Meyrin yang saat ini sedang duduk di sofa, di mana William sedang tertidur di atas paha sang wanita. Aura Meyrin berubah menjadi gelap dengan tatapan mata tajamnya.


"Uuuh~ tatapan matamu membuatku semakin bergairah, Honey. Rasanya ak—"


"Jangan banyak omong kosong. Katakan apa maumu? Aku tahu kamu sedang mengawasiku, sialan!" timpal Meyrin.


"Hahahaha … kamu benar-benar wanita yang sangat cocok denganku, Mey. Baiklah, baiklah karena aku menyukai permainan ini. Seseorang selain aku juga sedang mengawasimu."


"Apa maksudmu?"


"Mey, aku akan melakukan sesuatu pada William. Kita akan bertemu sebentar lagi. Bye and see you next time, Honey." 


Meyrin menggenggam ponsel Lea sekuat tenaga, melampiaskan semua amarahnya pada benda persegi itu. Tatapan tajamnya membuat siapapun yang menatapnya merinding.


"Rama!" panggil Meyrin dengan nada tegasnya.


"Siap, Nyonya."


"Apa Paman Nikolai masih ada di hotel ini?" tanya Meyrin.


"Ada di kamar nomor 112."


Meyrin dengan perlahan mengambil bantal sofa di sebelahnya, lalu mengangkat sedikit kepala William dari pahanya. Meyrin menggantikan pahanya dengan bantal sofa agar tidur William semakin nyenyak.


Tanpa banyak bicara lagi, Meyrin melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Tiba-tiba ponselnya bergetar kali ini menampilkan nama Ken. Wanita dengan rambut yang dibiarkan terurai itu menggeser tombol hijau di layarnya.


"Mey! Kembali ke markas sekarang juga! Ada pergerakan dari gangster kapak putih!" terdengar nada panik di sana, Meyrin yakin kalau Ken panik bukan hanya karena pergerakan kapak putih.


"Aku baik-baik saja, Ken. Soal Rizzo kamu tenang saja," Meyrin mencoba membuat Ken tenang.


"Dia menghubungimu dari ponsel Lea, 'kan?"

__ADS_1


"Iya. Aku akan kembali ke markas setelah berbicara dengan Paman Nikolai."


"Baiklah, kami menunggumu di ruangan. Tetap waspada dalam perjalanan ke sini."


"Baik."


Meyrin tahu jika Ken menyuruhnya untuk berhati-hati pasti perjalanan menuju mansion tidak baik-baik saja. Itu sudah menjadi kode tersendiri dari Ken untuk Meyrin.


Meyrin menghentikan langkah kakinya di depan pintu kamar 112. Dua bodyguard yang berdiri di depan pintu membungkuk hormat pada Meyrin. Kemudian salah satu dari mereka membukakan pintu untuk sang ketua pimpinan mafia Arlington.


Armand adalah orang pertama yang menyambut kehadiran Meyrin dan Lea. Dia tanpa banyak bicara membawa kedua wanita itu masuk ke sebuah ruangan. Di sana terlihat Nikolai yang sedang memainkan pistolnya dengan senyum menyeringai.


"Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apapun." Meyrin mengedikkan bahunya dan menghela napas kasarnya.


"Armand dan Ken sudah bertindak lebih dulu, Mey. Sudah bersiap untuk kesenangan sore hari ini?" tanya Nikolai dengan seringai khasnya.


"Tentu saja. Jadi, apa Paman akan ikut denganku ke markas Arlington?" tawar Meyrin.


"Tentu saja. Ikutlah dalam mobilku."


Nikolai beranjak dari kursi kerjanya dan memberi kode pada Meyrin. Nikolai dan Meyrin benar-benar beruntung memiliki seorang cyber seperti Armand dan Ken.


Meyrin dan Nikolai masuk ke dalam mobil Hummer putih diikuti dua tangan kanan mereka. Sebuah mobil Hummer hitam berada di belakangnya. Siapa sangka di dalam mobil Hummer putih itu ada sebuah layar digital. Armand mulai menari-narikan jemarinya di atas keyboard.


Armand lalu menggeser sebuah gambar untuk dipindah ke layar digital. Tampak dua gambar mobil Hummer mereka terlihat.


"Tuan, kita harus bergerak agar mereka tidak curiga," saran Armand.


Nikolai memberi perintah melalui earphone mininya. Dua mobil Hummer melaju, meninggalkan hotel Danieli menuju mansion Aite yang ada di pinggiran kota. Terlihat di layar itu mobil yang ditumpangi Meyrin dan Nikolai juga meninggalkan hotel.


"Wow!" decak kagum Meyrin dan Nikolai bersamaan.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2