
William dan Meyrin keluar dari kamar setelah pukul 9.30. Dilihatnya Rama dan Lea sudah berada di meja makan. Lea menilik penampilan nona mudanya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Keningnya berkerut saat menyadari kalau yang dikenakan nona mudanya bukan milik sendiri. Baju itu terlihat kebesaran ditubuh sang nona. Baju itu lebih cocok kalau dipakai oleh William. Lea menatap keduanya dengan tatapan curiga.
"Lea, apa a—"
"Tuan Jack menghubungi Anda dari tadi malam," jawab Lea lugas lalu menyiapkan sarapan untuk nona mudanya.
Meyrin melihat ponselnya dan terkejut saat ada lima panggilan dari Ken pukul 01.00 dini hari. Kemudian 15 panggilan pada pukul 07.00 pagi tadi. Meyrin yang melihat itu dengan susah payah meneguk ludahnya.
"Sorry, kayaknya aku harus pergi sekarang. Maaf yah, tapi aku akan membawa roti selai cokelat ini," ujar Meyrin yang langsung mencomot roti dan menarik Lea untuk keluar dari ruangan tersebut.
William hanya menganggukkan kepala dan memulai sarapan pagi menjelang siang hari. Rama yang melihat itu menatap heran pada tuan mudanya.
"Tuan, apa … Anda baik-baik saja?" tanya Rama akhirnya.
"Paranoidku semakin menjadi saat melihat Meyrin bersama pria lain. Aku juga yakin kalau dia adalah Laras," ujar William yang masih fokus dengan sarapan paginya.
Rama menganggukkan kepalanya mengerti. "Lalu, tadi Bri—"
"Aku menghubungi Brian untuk mengirimkan surat cerai ke hotel," timpal William yang melahap selembar roti selai.
"Apa saya perlu membuat surat pernikahan kontrak, Tuan?"
"Tidak perlu. Aku mengatakan ingin memiliki Meyrin seutuhnya walaupun awalnya dia juga bertanya tentang pernikahan kontrak," jelas William sambil meneguk segelas susu. Rama hanya menganggukkan kepalanya, paham.
Rama semakin tak paham dengan jalan pikiran William dan Meyrin. Tanpa disadari, pria yang terkenal dengan wajah datarnya itu mengedikkan bahunya. Seperti kata Meyrin, dia akan mengikuti perintah William.
****************
Meyrin menarik tangan Lea yang langsung dilepas saat mereka sudah masuk ke dalam lift.
"Lea, tolong maafin aku! Aku benar-benar lupa masalah tentang Buz. Ken bisa marah nih, gimana dong?" Meyrin memohon pada Lea.
Lea menatap nona mudanya yang memohon dengan mata menggemaskan. Wajah yang dibuat bersalah dan kedua tangan yang saling mengatup di depan dada. Asisten pribadi itu menghela napas panjangnya lalu menelepon Ken.
"Halo Tuan Ken, saya sudah bersama Nona dan sedang perjalanan menuju mansion. Kemarin Nona menjemput Tuan Nikolai Stevano di Bandara lalu mereka terlibat percakapan. Hingga Nona memilih untuk bermalam di hotel yang sudah disiapkan oleh Tuan Daniel Arlington," lapor Lea.
"Suruh segera ke markas!" perintah Ken terdengar kesal.
__ADS_1
Tidak ada yang salah dengan laporan yang diberikan Lea, semua benar adanya. Wanita dengan tubuh kekar itu hanya menyembunyikan perbuatan Meyrin dan William yang mengurung diri di dalam kamar.
"Leganya. Terima kasih, Lea," ujar Meyrin sembari memeluk tubuh sang asisten sekaligus bodyguard pribadinya.
Keluar dari lift, sebuah mobil limosin sudah menanti keduanya di depan hotel. Beberapa pengawal berbaris di sisi kanan-kiri pintu mobil. Meyrin segera melangkahkan kakinya ke dalam mobil.
Sebelum masuk ke mobil, Meyrin menghentikan langkahnya. Dia menatap ke samping kirinya dimana ada sepeda motornya. Meyrin lalu menatap Lea, bertanya tentang sepeda motor itu.
"Tuan Nikolai Stevano tinggal di sini juga. Tadi sore beliau sudah check in," jawab Lea lugas yang langsung mengerti pertanyaan dari nona mudanya.
"Ok. Ayo segera ke markas."
15 menit di dalam perjalanan, satu kali Ken menghubungi Meyrin. Ken yang setia dengan topengnya itu melaporkan keadaan markas saat ini.
"Tunggu di sana. Aku juga ingin bermain dengan Buz. Siapkan peralatannya saja."
Setelahnya Meyrin mengakhiri panggilan itu. Dia mengubah mode ponselnya menjadi silent. Hari ini dia tidak mau menerima panggilan dari siapapun. Tekad wanita itu sudah bulat. Meyrin akan bermain dengan Buz.
Mobil yang ditumpangi Meyrin dan Lea memasuki halaman mansion Aite. Meyrin segera keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya ke dalam mansion. Lea senantiasa berjalan di belakang nona mudanya. Hentakan langkah kaki bos dan asisten itu seirama.
Beberapa maid dan pengawal memberi hormat saat Meyrin melewati mereka. Lea mengernyit saat ponsel nona mudanya berkedip-kedip.
"Nona, ada pang—"
"Baik, Nona." Lea mengabaikan ponsel Meyrin dan mulai fokus pada semua perintah nona mudanya.
"Bos, lewat sini." Seorang pengawal menunggu Meyrin dan Lea di ujung lorong.
"Tunggu! Di mana tadi Jack dan Buz berkelahi?" tanya Meyrin.
"Di dekat ruang kontrol, Bos."
"Periksa kembali ruangan itu! Jika menemukan sesuatu kumpulkan lalu bawa ke halaman belakang mansion!" perintah Meyrin.
"Baik, Bos."
Setelahnya pengawal itu menghubungi seseorang. "Saya sudah menyuruh anak buah saya untuk memeriksanya, Bos. Apa tidak apa-apa?"
Meyrin hanya menganggukkan kepalanya tanda tidak ada masalah dengan hal itu. Meyrin dan Lea berjalan mengikuti pria tadi masuk ke sebuah kamar. Kemudian, mereka berdiri di depan sebuah rak buku.
__ADS_1
Pria dengan setelah serba hitamnya itu memindahkan beberapa buku dan menyusunnya. Suara deritan antara benda dari kayu dengan lantai terdengar. Rak buku itu bergeser hingga menampakkan sebuah anak tangga.
Meyrin berjalan lebih dulu, diikuti oleh Lea dan terakhir si pengawal. Anak-anak tangga itu mengarah ke bawah artinya mereka sedang menuju ruangan bawah tanah. Markas tersembunyi milik Aite.
Sebuah cahaya mulai terlihat. Meyrin menampilkan senyum miringnya saat membayangkan dirinya lip berhasil membuat Buz membuka mulutnya. Merasa semakin dekat dengan cahaya itu, semakin cepat Meyrin melangkahkan kakinya.
Meyrin menghentikan langkahnya saat tiba di ujung anak tangga. Ada sebuah pintu dan logo huruf A besar di tengahnya. Dua buah lampu terpasang di sisi kanan dan kiri pintu tersebut. Meyrin membuka pintu dan …,
"Aarrghh!" sebuah teriakan kesakitan yang menyambut Meyrin untuk pertama kalinya.
"Sialan! Katakan siapa yang menyuruhmu!" bentak Joker pada Buz setelah dia menekan luka goresan di tangannya.
"Wow!" takjub Meyrin.
Semua yang melihat kehadiran sang pimpinan beserta bodyguard pribadinya membungkuk memberi hormat. Meyrin terus melangkahkan kakinya mendekati Buz. Di samping kanan dan kiri berdiri pria dengan tubuh besar, tinggi dan kekar.
Meyrin menatap sekeliling dan melihat Aite serta Jack yang sedang bersantai di sofa. Bahkan di dalam ruang bawah tanah ini, Aite telah menyiapkan tempat untuk bersantai dan menonton penyiksaan terhadap tawanan. Meyrin berjalan masuk ke ruangan itu, ada banyak cemilan dan minuman beralkohol. Dilihatnya Jack yang menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Dari mana saja?" tanya Ken.
"Membahas sesuatu dengan Paman Nikolai Stevano sekalian memesan 'permen kecil' dalam jumlah besar," jawab Meyrin santai.
"Apa dia masih belum membuka mulutnya?" tanya Meyrin.
"Dia ingin bicara denganmu. Aku sudah bertanya tadi," jawab Ken acuh tak acuh.
Aite yang mendengar obrolan bosnya dan sang tangan kanan hanya diam. Aura membunuh terpancar di antara Meyrin dan Ken. Meyrin langsung menyambar gelas yang berisi wine milik Ken, lalu menyesapnya.
"Dia terlalu manja."
Setelah mengatakan hal tersebut Meyrin keluar dari ruangan yang diikuti oleh Lea. Jack tersenyum miring di balik topengnya. Dia juga beranjak dari duduk santainya dan mengikuti Meyrin. Lelaki itu ingin menikmati permainan ala Meyrin. Wanita lembut yang menjelma menjadi malaikat pencabut nyawa.
Permainan apa yang akan dimainkan oleh seorang Liu Meyrin?
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga