
Baru saja Lea menjelaskan tentang ngidam, William langsung menerima telepon dari sang istri. Dia tidak mengira bahwa istrinya itu akan ngidam sekarang. Apalagi, dia menginginkan sate ayam yang sangat mustahil ditemukan di LA.
"Ada apa, Tuan?" tanya Lea.
"Antarkan aku ke penjual sate ayam, sekarang juga." William langsung beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan.
Lea mengikutinya dari belakang dan bertanya, "Apa Nyonya sedang ngidam?"
"Sepertinya begitu. Dia ingin makan sate ayam dengan bumbu kacang pakai bawang merah mentah," jawab William.
"Saya tahu di mana lokasinya, Tuan. Nyonya suka makan di sana."
"Kalau begitu, antarkan aku ke sana saja."
Akhirnya, permulaan William dalam menghadapi istrinya yang sedang hamil dimulai. Tips dan saran sudah dia dapatkan dari Lea. Tinggal bagaimana dirinya mengeksekusinya.
Butuh lima menit perjalanan menuju lokasi penjual sate ayam. Sayangnya, ketika William keluar dari mobil dia dibuat melongo dengan antrian panjang. Dia menatap Lea tak percaya dan asisten istrinya itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Ponsel William kembali berdering, menandakan ada panggilan masuk. Panggilan dari Laras. Istrinya itu mulai merengek dan ingin segera memakan sate ayamnya. William mencoba memberikan pengertian pada sang istri, sayangnya Laras tidak mau tahu hal itu.
"Baiklah, Sayang. Tunggu dulu sebentar lagi aku akan pulang membawakan sate ayam buat istri tercintaku dan anak Daddy."
William mengakhiri panggilannya. Jika sudah begini alur ceritanya maka dia menggunakan kekuasaannya. William mencoba menerobos kerumunan antrian sembari meminta maaf. Ketika dia sampai di depan meja kasir, pria itu mengatakan sesuatu pada sang kasir.
"Mbak, aku borong semua sate malam ini dan bagikan untuk semuanya secara cuma-cuma. Hanya saja, aku minta tiga porsi dibungkus untuk didahulukan. Istriku sedang hamil dan dia ngidam," ujar William berbisik.
Sayangnya, kasir wanita itu malah melamun saat melihat wajah tampan William. Bahkan, ketika mendengar suara pria itu membuat pikirannya melayang. William sampai harus melambai-lambaikan tangannya guna menyadarkan penjaga kasir tersebut.
Sang kasir tersadar lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, malu. "Baik, Mas. Saya akan memberikan pemberitahuan dulu."
Setelah memberitahukan apa yang diinginkan William dan sebagai hadiahnya, para antrian itu menatap William. Bisikan mulai terdengar, bukan bisikan mencela tapi lebih ke pujian. William hanya tersenyum menanggapinya. Hingga akhirnya tiga porsi sate ayam sudah berada di genggaman tangan sang pria.
Saat William melewati para pembeli yang mengantri, dia selalu mendapatkan ucapan selamat dan terima kasih dari orang mereka. Bahkan tak jarang ada yang memuji William sebagai suami yang cinta istri secara terang-terangan.
Tanpa William sadari, Lea merekam semua tindakannya dan mengirimnya ke Laras. Lea membukakan pintu belakang mobil saat melihat suami dari bosnya itu mendekat. Asisten pribadi Laras itu tersenyum geli melihat ekspresi William.
"Setelah ini kita ke mana, Tuan?" tanya Lea setelah melajukan mobilnya.
"Langsung ke mansion."
__ADS_1
****************
"Suamiku datang!" teriak Laras heboh saat melihat William keluar dari mobil.
Laras langsung berlari menghampiri William. Sedangkan suaminya sudah ketar-ketir saat melihat istri tercintanya itu berlarian. Dia takut istrinya tersandung atau apapun itu yang bisa mengakibatkan kecelakaan kecil.
William dibuat melongo ketika Laras tiba di hadapannya. Alih-alih memeluk William, Laras malah langsung mengambil tiga porsi sate ayam. Setelah itu dia meninggalkan William begitu saja menuju dapur.
"Lea," William menolehkan kepalanya menghadap Lea yang berada di samping kirinya.
"Sabar, Tuan. Ini hal biasa yang terjadi pada ibu hamil. Anda harus bersabar demi kebaikan Nyonya dan calon bayinya." Lea memberikan pengertian pada William.
"Sampai kapan?"
"Itu tergantung pada kemauan calon bayinya, Tuan. Nyonya juga tidak ingin, tapi mau bagaimana lagi jika itu kehendak dari anak kalian, 'kan?" Lea memberikan pemikiran dari segi Laras juga.
"SUAMIKU!" teriak Laras sangat kencang yang berjalan mendekatinya lagi.
Lea menganggukkan kepalanya dan mengepalkan kedua tangannya ke atas, memberikan semangat pada calon papa muda itu. William mencoba tersenyum saat menyambut sang istri.
"Ada apa, Sayang?" tanya William mencoba sabar.
"Aku bagikan ke para asisten yah, Sayang. So—"
Laras langsung memotong ucapan sang suami, "Tapi para asisten sudah makan tadi. Jadi, tolong Daddy William habiskan yah. Aku mohon, Sayang. Kasihan sate ayamnya, nanti yang jual menangis jika tidak dihabiskan."
"Hah?"
William dibuat melongo untuk kedua kalinya dengan tingkah sang istri. Bagaimana mungkin penjual satenya akan menangis jika sate ayamnya tidak habis. Sedangkan dia tidak tahu apakah sate yang dibeli oleh William habis apa tidak.
Apa kata istrinya tadi? Para asisten sudah makan, lalu apakah William tidak makan juga tadi? Astaga, pemikiran Laras benar-benar diluar akal sehat William.
'Oke. Mari anggap saja aku yang gila,' batin William mencoba mengalah dengan logika sang istri.
"William," panggil Laras dengan nada merajuk.
"Oke, Sayang. Aku akan menghabiskannya demi keinginan istri dan calon anak tercintaku."
'Ya, seperti ini lebih bagus. Mengalah demi istri dan anak.' William kembali membatin.
__ADS_1
Laras mencium pipi William, mengucapkan terima kasih. Setelah itu, dia melangkahkan kakinya ke lantai dua, menuju kamarnya berada. Sedangkan William hanya menghela napas panjang dan berjalan gontai menuju dapur.
"Hei Will, sedang apa?" tanya Ken yang tiba-tiba berada di belakangnya.
Sebuah ide muncul di otak William. Ken menatap William yang tersenyum seperti orang kerasukan setan. Ken perlahan mulai berjalan mundur, sayangnya segera ditahan oleh William.
"Kamu benar-benar datang diwaktu yang tepat, Ken." William mendorong Ken ke dapur dan menyuruh sang idola untuk duduk di meja makan.
"Tunggu dulu, ada apa ini?" tanya Ken yang menatap William dengan penuh curiga.
Ken tidak akan menatap William dengan kecurigaan penuh, seandainya suami dari Laras itu bertingkah seperti biasanya. Siapapun yang melihat William saat ini, pasti mengira pria yang sudah sah menjadi suami Laras akan melakukan sesuatu. Terlihat gelagat William yang begitu aneh.
William tidak peduli dengan pertanyaan Ken. Dia berjalan ke arah pantry dan mengambil sisa sate ayam tidak, ini bukan sisa lagi tapi masih utuh. William menepuk jidatnya saat Laras hanya memakan dua tusuk sate ayam.
"Sabar, William. Ini demi istri dan anakmu," gumam William menyemangati dirinya sendiri.
"Hei, kamu sedang apa sih?" tanya Ken yang sudah berada di belakang William.
"Ini makanlah!" William menyerahkan seporsi sate ayam kepada Ken.
"Tapi aku su—"
"Aku mohon, Ken. Bantulah aku untuk menghabiskan ini semua. Aku tahu semua orang sudah makan, begitu juga denganku." William melangkahkan kakinya ke arah meja makan dengan gontai.
"Tidak bisa, Will. Aku ini publik figur yang harus menjaga kondisi tubuhku," tolak Ken.
"Ayolah! Besok kita olahraga pagi, bagaimana?" William memberikan tawarannya.
"Apa Laras mulai ngidam? Jika iya, bukannya kamu harus menuruti semua permintaan istrimu?"
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
@hana_ryuuga