OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 114 "KUATLAH DEMI EMILY" (S2)


__ADS_3

William yang mendapatkan pertanyaan memalukan itu menatap Laras, berharap sang istri lah yang akan menjawab. Sayangnya, Laras malah memalingkan wajahnya karena malu.


"I-iya Dokter," jawab William sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kalau boleh tahu, berapa ronde, Tuan?" tanya sang Dokter yang paham kalau pasien di depannya ini adalah pengantin baru yang baru kemarin melangsungkan pernikahan super megah.


"Em-empat, Dok."


"Hah? Apa Tuan tahu kalau Nyonya sedang hamil?" tanya sang Dokter, menatap serius kepada William dan Laras.


William dan Laras hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Entah kenapa, mereka seperti orang yang ketahuan melakukan kesalahan.


"Astaga! Itulah yang menyebabkan perut Nyonya Plowden kaku dan keras. Usia kehamilan Nyonya baru memasuki minggu kelima dan itu masa rentan kehamilan. Jadi, hentakan sepelan apapun akan mempengaruhi kondisi di bayi. Beruntungnya, bayi kalian kuat dan sehat." Dokter menjelaskan duduk perkara masalah perut kaku.


Laras cemberut, menyalahkan William. Padahal dia sudah menolak tadi malam, tapi suaminya itu yang terus mendesak dan menggodanya hingga ia pun tak kuasa untuk menolak. Siapa coba yang bisa menahan godaan dari pria tampan yang tanpa sehelai benang pun?


"Saya akan meresepkan obat dan vitamin untuk Nyonya. Tuan bisa menebusnya di apotek rumah sakit." Dokter menuliskan sesuatu di secarik kertas. Dia juga memasukkan hasil USG dari kandungan Laras ke dalam amplop putih.


William dan Laras langsung keluar dari ruangan dokter kandungan tersebut. Rama setia menunggu di depan pintu, bersama Lea. Sang asisten pribadi Laras langsung mendekati majikannya, memeriksa keadaan Laras.


"Apa Anda tidak apa-apa?" tanya Lea.


"Hanya perut kaku karena seseorang memaksa untuk bercinta empat ronde," jawab Laras dengan nada sindiran.


"Tapi kamu tidak menolaknya," protes William, tidak ingin disalahkan.


"Bagaimana mau menolak jika selalu digoda oleh pria tampan yang polos, tanpa sehelai benang pun." Laras mengerucutkan bibirnya, lalu berjalan menuju pintu utama rumah sakit.


Lea yang melihat adu mulut yang manis ala majikannya itu hanya tersenyum memaklumi. Dia mengikuti Laras dari belakang, sedangkan William menyerahkan secarik kertas yang diberikan Dokter tadi kepada Rama.


William juga ikut keluar, menyusul istrinya yang sedang merajuk. Saat William hendak membuka pintu belakang, di sana ada Lea yang tersenyum canggung padanya. Sedangkan Laras memalingkan wajah, pipinya menggembung dan bibirnya maju ke depan, khas sang istri jika sudah merajuk.


"Lea, bilang sama dia untuk duduk di depan," ujar Laras pada Lea.


"Tak perlu dibilang, aku sudah mendengarnya, Nyonya Plowden," ujar William yang langsung duduk di kursi samping kemudi.

__ADS_1


"Gara-gara dia perutku jadi kaku, untungnya si baby kuat dan tumbuh dengan sehat," sungut Laras.


"Ayolah Sayang, aku minta maaf, oke? Aku tahu kalau salah, jadi bisa kita tidak membahasnya lagi? Aku sudah cukup malu saat menjawab pertanyaan Dokter tadi." William mengalah pada akhirnya.


Laras mengabaikan perkataan William. Dia malah bertanya pada Lea, "Lea, bagaimana proses pemakaman Ayah?" tanya Laras.


"Nona Emily menyerahkan semuanya pada Nyonya," jawab Lea lugas.


"Sebentar … Nyonya? Kamu memanggilku Nyonya?" tanya Laras tak percaya dengan indera pendengarannya.


"Tentu saja, kamu sekarang istriku, Sayang. Masak Lea mau memanggilmu Nona lagi, bukannya terasa aneh?" William yang menjawabnya.


"Lea, kita kembali ke LA. Aku ingin memakamkan Ayah bersama Bunda Bella di sana." Laras sudah membuat keputusannya.


"Baik, Nyonya."


Sesampai di rumah King, banyak para bawahan berjaga. Berita kematian Daniel Arlington tidak terekspos karena penjagaan yang diperketat. Laras menghembuskan napasnya sebelum keluar dari mobil.


Dia mulai melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Setiap langkah yang dia hentakan terasa berat, bebannya kali ini sungguh berat. Di tengah ruang tamu ada sebuah peti, dengan rangkaian bunga hidup yang begitu indah. Di samping peti ada Emily yang dipeluk Ken terus menangis.


William menggenggam tangan istrinya, memberikan kekuatan pada Laras. Dia tahu bagaimana perasaan Laras saat ini, karena beberapa tahun yang lalu dirinya juga merasakan kehilangan orang tua.


Laras menganggukkan kepala dan kembali melanjutkan langkah kakinya. Jarak yang semakin dekat dengan tempat peristirahatan sang Ayah, membuat dada Laras kian sesak. Anak mana yang bisa menahan kesedihan jika harus kehilangan orang tuanya?


Begitu juga dengan Laras. Dia ingin menangis, tapi tak bisa dia keluarkan hanya karena demi Emily. Wanita dengan rambut pirang yang menyadari kehadiran Laras, langsung berhambur dan memeluk sang Kakak.


Kali ini Emily menangis karena bersyukur sang Kakak baik-baik saja. Masih ada harapan untuk terus hidup baginya. Laras menepuk-nepuk pelan punggung Emily. Dia mengatakan bahwa semua baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Apa Kakak baik-baik saja?" tanya Emily.


"Kamu bisa lihat sendiri, Kakak baik-baik saja. Bahkan calon keponakanmu tumbuh dengan sehat dan kuat. Hanya saja, dia sedikit manja, sama seperti Daddy-nya." Laras mencoba membuat lelucon agar Emily tidak terlalu sedih lagi.


"Syukurlah. Hei bocah, jangan manja lagi sama Mommy-mu yah. Dia sekarang milik semua orang." Emily mengelus perut rata sang Kakak.


"Lily, Kakak ingin membawa Ayah beristirahat di LA bersama Bunda Bella. Apa kamu keberatan?" tanya Laras. Bagaimanapun, Laras ingin mendengar pendapat Emily.

__ADS_1


"Emily tidak masalah, Kak."


"Siapkan helikopter untuk penerbangan hari ini ke LA. Bawa orang-orang terpilih kalian dan ikutlah terbang bersama kami!" perintah Laras.


"Siap, Bos."


Setelah itu semua kembali sibuk untuk persiapan penerbangan sang Bos. Emily membawa Laras untuk mendekat pada peti, di mana Daniel sedang berbaring di sana dengan tenang. Laras menatap Ken yang begitu kosong pandangannya.


"Lily, apa Ken baik-baik saja?" tanya Laras dengan nada rendahnya.


"Sepertinya Kak Ken masih shock karena dirinya yang menemukan Daddy meninggal pertama kali," jawab Emily dengan nada rendahnya juga.


Laras hanya menganggukkan kepalanya, mengerti. Ditatapnya lagi wajah Ken yang tampak tidak baik-baik saja. Kerut kebingungan menghiasi dahi Laras saat merasakan ada sesuatu dengan Ken.


'Apa dia menyembunyikan sesuatu dariku tentang kematian Ayah?' Laras bertanya-tanya dalam hatinya.


****************


Proses pemakaman Daniel telah selesai dilaksanakan. Kepulangan Daniel di tanah kelahirannya, LA yang hanya menyisakan sebuah nama membuat geger masyarakat LA. Juru bicara Arlington Group mulai mengadakan konferensi pers, membuat pernyataan.


Laras, Emily, Ken dan William berdiri di pusara Daniel. Beberapa awak media masih menyoroti pemakaman mereka. Mereka berempat sedang termenung, sibuk dengan pemikiran masing-masing.


Laras menatap Ken, dia yakin bahwa sepupunya itu menyembunyikan sesuatu. Sesuatu dibalik kematian seorang Daniel Arlington.


"Kita pulang! Ken, temui aku di ruang kerja Ayah!" ujar Laras dengan nada memerintahnya.


Setelah itu mereka pulang bersama menuju mansion Arlington yang berada di LA.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.

__ADS_1


~ To Be Continue ~


@hana_ryuuga


__ADS_2