
William keluar dari kamar dan melihat Rama yang mendekati Meyrin. Bahkan asistennya itu dengan berani semakin dekat dengan wanitanya. Tidak hanya itu, wajah Rama selalu menunduk membuat William berpikir jika Rama melihat paha putih dan mulus Meyrin.
"Sedang apa kalian dekat-dekat begitu?" bentak William tidak terima jika tubuh Meyrin terlihat oleh pria lain selain dirinya.
"Pakai ini!" William menyampirkan long coatnya yang sudah pasti kebesaran di tubuh Meyrin.
Meyrin yang melihat itu hanya menahan tawa, beda dengan Rama yang semakin menundukkan kepalanya. William semakin berang melihatnya dan berdecak kesal.
"Matamu lihat mana, hah!" bentak William pada Rama.
Rama langsung mendongakkan kepalanya. Pandangan dia langsung jatuh pada wajah cantik Meyrin yang tersenyum. Akan tetapi, di belakangnya ada wajah dengan aura suram menatapnya.
"Bukannya sudah aku bilang, jaga matamu! Jangan menatap Meyrin lebih dari lima detik, sialan!" umpat William memelototi Rama.
"Cih," kesal Rama yang langsung memalingkan wajahnya menatap Lea.
"Hei, lidahmu baru saja berdecak yah?" ancam William.
"Tidak, Tuan. Mana berani saya bertingkah seperti itu," dusta Rama.
"Tuanmu itu aku atau Lea? Kalau bicara tatap lawan bicaranya, bodoh!" hardik William membuat Rama menghela napas panjangnya.
"Hahahaha," tawa Meyrin yang tidak bisa ditahan lagi.
Semua menatap Meyrin yang saat ini sedang menyeka air matanya. Bahkan wanita itu masih tetap tertawa membuat perutnya sakit.
"Kalian berdua ternyata tidak berubah," ujar Meyrin keceplosan.
William, Rama dan Lea yang mendengar itu terdiam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing dikala mendengarkan Meyrin yang keceplosan.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Ayo, Lea!" ajak Meyrin yang langsung diikuti oleh asisten pribadinya.
Sepeninggal Meyrin dan Lea, Rama segera mendekati William. "Tuan, jangan bilang kalau An—"
"Benar. Aku harap usahaku tidak sia-sia selama ini. Aku ingin membuat Meyrin mengandung anakku dan menjadikan dia seutuhnya milikku. Tidak masalah jika Juna anaknya dengan Ken, toh nanti dia akan menjadi seorang kakak dari anakku dan Meyrin."
"Wow! Tuan Muda memang hebat!" kagum Rama sekaligus menyindir.
"Sudahlah, Ayo waktunya bekerja lagi. Kirim dokumen-dokumen yang harus aku periksa 10 menit lagi. Atur ulang semua jadwalku selama di Venesia," perintah William mulai serius.
"Baik, Tuan."
"Satu hal lagi, pastikan kamu dan Armand menemukan bukti konkrit antara Liu Meyrin dan Laras."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, William kembali masuk ke dalam kamar. Dia akan bersiap-siap untuk kembali bekerja.
****************
Meyrin baru saja keluar dari pintu lift. Sebuah mobil limosin sudah menunggunya di depan lobi hotel. Seorang sopir membukakan pintu mobil untuk Meyrin dan Lea.
"Nona," Lea menyerahkan tab kepada Meyrin setelah sang Big Bos duduk di sebelahnya.
"Ada apa, Ken?" tanya Meyrin yang sedang menyimpan pistol eagle-nya.
"Aku sudah di bandara. Jemput aku sekarang juga!" ujar Ken yang saat ini sedang berjalan berdampingan dengan Alex.
"Oke."
Meyrin langsung menyerahkan tab nya pada asistennya. Lea memberitahu sopir bahwa tujuan mereka saat ini ke Bandar Udara Marco Polo.
"Lea, lakukan panggilan video dengan Paman Aite."
Lea langsung menjalankan perintah nonanya yang terlihat begitu santai. Inilah yang membuat Lea begitu mengidolakan sosok Meyrin. Di usianya yang muda, Meyrin sudah dapat memimpin sebuah organisasi mafia dengan sangat baik. Sikapnya yang tenang dalam menyikapi sebuah masalah selalu membawanya pada kemenangan tim.
"Siapa yang datang hari ini?" tanya Meyrin setelah panggilan itu terhubung. Dia sedang asyik bermain dengan pisau kecilnya.
Aite yang melihat pisau itu meneguk ludahnya dengan susah payah. Dia ingat bagaimana bos kecilnya beraksi dengan pisau itu di medan pertempuran. Entah sudah berapa urat leher yang terputus karena goresan pisau di tangan Meyrin.
"Paman?" panggil Meyrin saat Aite tidak meresponnya.
"Itu sudah cukup, Paman. Lea, panggil King dan Queen saat festival topeng di mulai. Kita akan melakukan penyerangan saat itu juga."
"Tapi Nona, bukankah itu membahayakan warga sipil?" tanya Joker.
"Justru karena adanya warga sipil mereka akan menyerang."
"Bagaimana Anda bisa tahu mereka akan menyerang saat itu?" tanya Joker lagi yang dijawab anggukan kepala oleh Aite.
"Kita akan membahasnya lebih lanjut setelah ini. Aku pergi jemput Jack di bandara. Sampai jumpa di mansion, Paman Aite." Meyrin langsung mengakhiri panggilan itu, meninggalkan Joker dan Aite yang bertanya-tanya.
Sesampainya di depan Marco Polo, terlihat Ken dan Alex baru saja keluar. Lea segera menyambut keduanya dan membawa masuk ke dalam mobil.
"Yo, Sweetie." Ken menyapa Meyrin saat dirinya duduk di samping wanita itu. Sedangkan Lea dan Alex duduk di kursi belakang mereka.
"Ken, periksa IP alamat ini." Meyrin menyerahkan ponselnya yang menampilkan sebuah alamat website.
Alex tanpa disuruh langsung menyerahkan laptop kesayangan big bosnya. Begitu juga Ken yang langsung menjalankan perintah dari Meyrin.
__ADS_1
****************
Tak berapa lama, mobil mereka sudah tiba di pinggiran kota Venesia. Di depan mereka, terlihat sebuah bangunan yang besar dan kokoh berdiri menantang langit malam. Meyrin dan Ken keluar dari mobil diikuti dua asisten pribadinya.
Aite dan Joker menyambut mereka berdua. Ken berdiri di samping Meyrin dengan wajah datarnya yang tersembunyi dibalik topeng.
"Selamat datang di mansionku, Nona dan Jack!" sambut Aite.
Meyrin dan Ken alias Jack hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Meyrin menatap sekitar mansion Aite, lalu memasang earphone mininya.
"Buz, apa semua aman?" tanya Meyrin pada seseorang di earphonenya sambil menatap Aite dengan tajam.
"...."
"Baiklah. Tetap di tempat. Jika kedua pamanku berbuat nakal, langsung basoka saja tanpa menunggu perintahku."
Setelah mengatakan itu, Meyrin melepas earphonenya lagi dan tersenyum begitu manis. Jika orang luar yang tidak mengerti arti senyuman itu pasti akan terpesona. Akan tetapi, beda dengan Aite dan Joker yang paham betul arti dari senyuman itu.
Aite menelan salivanya dengan susah payah. Dia mengajak Meyrin dan Jack masuk ke dalam mansionnya. Sesekali pria yang berusia memasuki kepala lima itu menyapukan pandangan ke sekeliling mansion.
"Tuan Aite tenang saja. Selama Anda tidak bertingkah, semua aman," ucap Lea saat melihat raut khawatir di wajah Aite.
"Cih, anak muda sialan!" umpat Aite.
"Paman, kamu mau menunjukkan jalannya padaku atau …," Meyrin menggantungkan kalimatnya.
"Aku tunjukkan, Nona. Mari!" Aite berjalan di depan para tamunya.
Saat mereka memasuki mansion, barisan para maid berjejer rapi menyambut tamu kehormatan sang majikan. Seperti biasa, Meyrin akan cuek sedangkan Ken hanya menganggukkan kepalanya.
Aite memberikan perintah kepada kepala pelayan lalu kembali ke dalam rombongan. Pria itu membawa para tamunya menuju ruang rahasia, tempat biasa Aite mengadakan pertemuan rahasianya.
Seperti biasanya, Jack akan duduk di kursi paling tengah dengan Meyrin berada di sisi kanannya. Sedangkan Alex berada di samping Jack dan Lea di belakang nona mudanya. Itu selalu menjadi susunan dalam organisasi yang dipimpin oleh Liu Meyrin.
Meyrin menyandarkan punggungnya di kursi, menatap orang-orangnya dengan menilai. Hingga kemudian, Jack memberikan ponselnya kepada Meyrin. Wanita itu tersenyum licik saat melihat ponsel Jack.
Apa yang diperlihatkan oleh Ken/Jack?
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga