
Laras turun dari panggung bersama Daniel. Beberapa investor dan kolega mendekat lalu menyapa sosok pemimpin baru mereka. Laras tersenyum dan bersulang untuk mereka.
"Sayang, Ayah akan menyapa tamu lainnya. Bicaralah dengan yang lainnya." Daniel berpamitan pada putri sulungnya.
"Baik, Ayah."
Sepeninggal Daniel, beberapa orang atau karyawan yang sudah mengenal Laras menyapa. Laras yang merupakan tipe orang mudah bergaul jadi cepat akrab dan suasana canggung hilang seketika.
"Mommy!" teriak seorang bocah yang berlari ke arah Laras.
Laras menundukkan badannya dengan kedua tangan yang terlentang begitu lebar, menyambut kehadiran bocah itu. Wanita itu langsung menggendong bocah yang usianya 2,5 tahun itu. Semua orang menatap Laras dan bocah menggemaskan di gendongan sang pemimpin.
"Selamat Mommy," ucap Juna dengan bahasa candelnya.
"Terima kasih, Sayang." Meyrin mencium pipi Juna dengan gemasnya.
Tiba-tiba Ken datang dan mencium pipi Laras tanpa permisi. Hal itu membuat yang berada di sekitar mereka menutup mulutnya tak percaya. Apalagi saat melihat senyum malu seorang Laras.
"Ih, Mommy mecum," protes Juna membuat yang melihat mereka tersenyum gemas.
"Daddymu yang mesum, bukan Mommy." Laras kembali mencium pipi Juna.
Setelah itu sembari menggendong Juna, Laras menyapa para investor dan kolega dari Daniel yang sudah dikenalnya. Ken selalu berada di samping Laras, menemani wanita itu menyapa para tamu.
Tanpa mereka sadari bahwa kedua pasang mata menatap mereka tajam. Jari-jemari tangannya saling menggenggam, menahan emosi yang meledak. Napasnya begitu berat, sungguh pengendalian emosi yang sangat sulit dilakukan oleh orang tersebut.
Dia merasa ditipu selama ini oleh Meyrin. Akhirnya dengan semua ini, dia mengetahui motif dari Meyrin yang mendekati bahkan memaksanya untuk menandatangani surat cerainya dengan Laras.
Rama mendekati William, mencoba meredakan emosi tuan mudanya. Dia tahu kalau dirinya juga harus bertanggung jawab atas peristiwa ini.
"Tuan William," panggil Rama.
"Selidiki bocah yang berada di gendongan Laras. Aku pergi dulu!" William lalu pergi, meninggalkan kerumunan dengan langkah lebarnya.
****************
Laras menyerahkan Juna pada Ken saat dirinya ingin ke kamar mandi. Dia merasa ada yang aneh dengan riasan wajahnya. Senyum manisnya dia berikan saat dirinya harus izin ke kamar mandi.
William yang melihat Laras berjalan menjauhi kerumunan, pria itu mengikutinya dari belakang. Nikolai yang memperhatikan setiap tindakan William hanya diam saja. Dia berjalan mendekati Daniel, rekan kerja samanya bersama Bagas, ayahnya William.
Laras masuk ke dalam kamar mandi. Wanita itu mulai merapikan bajunya. Setelah semua selesai, dia membuka pintu dan terkejut saat melihat William.
William lalu mendorong tubuh Laras hingga kembali masuk ke kamar mandi. Lelaki itu mengunci pintu agar tidak ada yang mengganggu pembicaraan keduanya. William menghimpit Meyrin di balik pintu. Tatapan sang lelaki begitu tajam dan kecewa.
__ADS_1
"Apa ini, Tuan Plowden?" tanya Laras dengan bahasa formalnya.
"Berhenti membodohiku lagi, Laras!" bentak William akhirnya yang langsung membuat sang wanita terdiam.
"Apa kamu sudah puas, hah! Apa kamu sudah puas membodohiku selama ini, hah! Ya Tuhan, padahal bukti konkrit sudah ada di depan mata tapi aku masih menyangkalnya gara-gara seorang Liu Meyrin sialan!" lepas sudah amarah yang ditahan oleh William semenjak pertama kali melihat Laras.
"Apa ini motifmu mendekatiku lagi?" tanya William dengan nada kehancuran.
"Iya." Meyrin menjawabnya sangat singkat, padat, dan jelas.
"Baiklah. Kamu ingin kita bercerai, 'kan? Aku sudah mengabulkannya. Kamu menang. Kamu adalah pemenangnya, tapi satu hal yang perlu kamu tahu, setelah ini tidak ada jalan untuk kabur dariku lagi. Aku akan mendapatkan hatimu kembali."
"Hatiku sudah mati, Will. Kamu tidak perlu menjelaskan sakit hatimu karena ditipu olehku. Apa kamu melupakan berapa lama kamu menipuku? Lima tahun lebih aku hidup dalam semua cerita palsumu. Satu hal yang perlu kamu tahu, aku bukan Laras yang dulu lagi."
"Aku tidak peduli. Aku tetap mencintai Laras dan itu untuk selamanya."
"TAPI AKU TIDAK MENCINTAIMU LAGI!" bentak Laras membuat William menatap mantan istrinya tak percaya.
"Lalu selama di Venesia itu apa?"
"Pelengkap dari sebuah sandiwara. Bukankah kamu juga melakukan hal yang sama waktu itu? Kamu menggunakan sahabat-sahabatku. Aku hanya meniru cara bermainmu di masa lalu." Laras menatap William yang juga menatapnya.
Setelah mengatakan itu, Laras mendorong William sekuat tenaga. Dia lalu pergi meninggalkan William begitu saja. Langkah Laras begitu mantap, dia tidak menoleh ke belakang. Tidak ada rasa khawatir dalam diri wanita itu.
William menggenggam tangan Laras dan membawanya masuk ke dalam salah satu kamar mansion. Laras memberontak dengan menepis tangan William. Walaupun Laras seorang ketua mafia, tetap saja kekuatan William lebih besar dari dirinya.
Brak!
William membanting pintu kamar tersebut lalu menguncinya. Dia berjalan mendekati Laras dan wanita itu mundur hingga dirinya terjatuh ke kasur. Laras kesulitan untuk kabur karena gaunnya yang terlalu berat.
"Kamu tidak akan bisa pergi dari jeratanku, Sayang," bisik William tepat di telinga Laras.
"Menjauhlah, Will. Aku bukan istrimu lagi." Laras mencoba untuk menyingkirkan William yang sekarang berada di atas tubuhnya.
"Kalau begitu akan aku buat kamu menjadi istriku lagi. Mari kita buat adik untuk Juna." William langsung mencium bibir Laras yang menjadi candunya.
Laras terus saja berontak, bukannya dia tidak menyukai sentuhan mantan suaminya itu. Melainkan, hari ini adalah masa suburnya dan ia tidak membawa pil kontrasepsinya.
"Lepas, Will." Laras terus saja berontak di bawah kekuasaan William.
"Kenapa? Apa kamu tidak membawa pil kontrasepsinya?" sindir William tepat sasaran.
Laras berhenti berontak, dia tatap mata William dengan tajam. "Sialan! Dia tahu tentang pil itu," rutuk Laras di dalam hati.
__ADS_1
"Persetan dengan pil," umpat Laras akhirnya dan menarik tengkuk William.
Masalah setelah ini dipikirkan belakangan saja. Malam ini, biarkan William menuntaskan hasrat dan obsesinya karena besok Laras akan kembali menghilang.
Bulan yang bersinar terang menjadi saksi bisu pergulatan manja antara William dan Laras. Hubungan mereka yang terlalu rumit. Tidak ada yang mau mengalah dan Laras yang tidak percaya akan cintanya kepada William. Wanita itu tidak ingin menjadikan William sebagai sandera lagi.
****************
Pagi menjelang, dua anak manusia yang saling berpelukan enggan untuk bangun. Kehangatan yang diberikan oleh pasangan membuat keduanya ingin selalu berada di dalam dekapan. Hingga sang pria yang membuka kedua matanya terlebih dahulu.
Sebuah senyum manis tersungging di bibir sang pria. Inilah yang dia inginkan selama tiga tahun belakangan ini. Bangun dari tidurnya, wajah Laras sang istri yang pertama dilihatnya.
William perlahan mencabut senjatanya dari inti tubuh Laras. Mereka benar-benar melampiaskan semua rasa pada permainan tadi malam. Hingga akhirnya mereka kelelahan dan langsung tertidur dengan bagian inti yang masih menyatu.
"Enggh~" erang Laras saat merasakan ada pergerakan di inti tubuhnya.
William yang mendengarnya hanya tersenyum. Pria dengan rambut yang acak-acakkan khas orang bangun tidur mencubit manja pipi mantan istrinya. Ah, rasanya William ingin membuat pipi Laras seperti dulu lagi, mengembang seperti bakpau.
"Hi, Nyonya Plowden yang susah bangun." William kembali mencolek pipi Laras membuat sang empu menggeliat terganggu.
"Lea! Tolong hentikan Ken. Aku ingin tidur lagi," racau Meyrin alias Laras.
William yang mendengar ada nama pria lain selain dirinya mulai marah. Dia langsung menindih tubuh Laras dan mencium bibir yang baru saja menyebut nama pria lain.
"Wilmmph," Laras langsung tersadar dan berontak tapi percuma saja, tenaga William lebih besar daripada dari dirinya.
William melepas pagutannya saat melihat Laras mulai kehabisan napas. "Jangan ada nama pria lain jika hanya kita berdua."
"Apa maksudmu? Menyingkirlah!" Laras kali ini berhasil mendorong William.
Laras mengernyitkan keningnya saat bagian intinya terasa sakit. Tadi malam mereka benar-benar bermain dengan ganasnya. Bukti sudah di depan mata, dilihat dari kondisi kamar yang seperti kapal pecah.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga
__ADS_1