
William mengambil selimut yang tergeletak di lantai akibat ulah dirinya dan Meyrin. Lelaki itu menatap ke sekeliling dan menepuk jidatnya. Terlihat bantal sofa yang sudah tidak ditempatnya. Bahkan buku dan majalah yang awalnya berada di atas meja sekarang terlihat berserakan di lantai.
Ya, mereka bermain tidak hanya di atas kasur tapi di tempat yang memungkinkan juga dilakukan. Entah setan apa yang merasuki keduanya hingga bermain di manapun dan dalam kesempatan yang ada. Mereka tidak ingin melewatkan malam indah ini begitu saja.
William menatap Meyrin yang sedang terlelap dengan memakai kemejanya. Di balik kemeja itu tidak ada sehelai benang pun. William segera kembali ke kasur dan mulai menyelimuti wanitanya hingga sebatas leher. Setelahnya dia ikut masuk ke dalam selimut dan mulai terlelap.
****************
Meyrin menggeliat dan mencari keberadaan ponselnya. Setelah mendapatkan ponselnya dia segera mematikan alarm yang sejak tadi meraung-raung. Masih dalam keadaan mengantuk, Meyrin mengambil tasnya. Wanita itu mencari pil kontrasepsi dan meminumnya.
Setelah meminum pil tersebut, Meyrin kembali merebahkan tubuhnya ke kasur. Dia bahkan tidak sungkan untuk memeluk William dan menjadikan lelaki itu sebagai gulingnya. William tersenyum saat melihat Meyrin yang berada di pelukannya. Pria itu membantu membenarkan posisi Meyrin agar tidurnya semakin nyenyak.
****************
Di mansion Aite, Ken terbangun karena perutnya yang bergejolak. Dia segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi di dalam perutnya. Bau tak sedap dapat dia cium membuat kesadaran seorang Ken langsung kembali.
Setelah memuntahkan semua isi perutnya, dia meminta Alex untuk segera membelikan minuman pereda mabuk. Sayangnya Alex mengatakan kalau dirinya sedang berada di London saat ini sesuai perintah Meyrin. Ken mengumpat dan mengakhiri panggilannya.
Dia mengambil topengnya lalu keluar dari kamar. Di teras mansion, Ken bertemu dengan Aite dan Joker yang sedang berbincang.
"Tuan, mau bergabung dengan kami?" tawar Aite.
"Tidak. Kalian lanjutkan saja. Aku pergi mencari angin sebentar." Ken langsung meninggalkan dua petinggi itu.
Ken masuk ke mobilnya dan mulai melajukan mobil sport milik Aite dengan kecepatan konstan. Entah mau ke mana, lelaki itu tidak mempunyai tujuan.
Setelah mengendarai mobil sportnya tanpa tujuan, akhirnya Ken memutuskan untuk berhenti di restoran yang terlihat sudah mulai sepi. Dia hanya memesan minuman segar untuk meredakan sisa mabuknya.
Tak lama pesanannya datang, Ken langsung meminumnya sedikit demi sedikit. Dia memandangi grand kanal yang tampak sangat indah. Cahaya dari lampu bangunan terefleksikan dengan sempurna. Siapapun yang menikmati pemandangan itu akan berdecak kagum dan terpesona. Tak terkecuali seorang Ken Lian.
Saat ini dia sudah melepas topengnya tapi tetap menggunakan masker. Publik figur sepertinya dilarang keras berkeliaran tanpa pengawalan. Ken benar-benar sangat berhati-hati jika Alex tidak berada di sisinya.
Tiba-tiba sesuatu mengusik penyanyi dengan jutaan fans itu. Kening Ken mengernyit saat beberapa orang mengganggu dirinya menikmati pemandangan grand kanal. Bukan karena orang yang berlalu lalang, tapi segerombol orang yang sedang berkelahi. Ken menatap lebih teliti lagi.
"Fvck!" umpat Ken saat mulai menyadari posisi mereka.
__ADS_1
Lima lawan satu. Fvcking shiit. Ken segera beranjak dari duduknya setelah meletakkan selembar uang. Dia berjalan menuju seseorang yang mengenakan topi dan masker.
"Hei! Kalian sedang apa, hah!" bentak Ken sembari mendekati pria bertopi yang terlihat sendirian melawan lima orang.
Lima orang yang melihat kehadiran Ken segera melarikan diri. Mereka yang tidak ingin terlibat dengan orang asing memilih kabur tanpa penjelasan apapun. Sedangkan Ken yang melihat itu kembali mengumpat.
"Tunggu! Bukannya kamu yang berada di klub tadi? Kamu ingat denganku 'kan?" tanya Ken yang ingin melepas topi sang pria tapi ditepisnya.
Pria itu tidak bicara dan hendak ikut berlari. Sayangnya Ken lebih dulu mencekal tangannya. Sang pria meronta dan menepis-nepis dengan kasar. Hal itu tidak berpengaruh apapun terhadap seorang Ken Lian.
"Tunggu! Kepalamu berdarah, ayo aku akan obati!" ajak Ken yang dibalas gelengan kepala.
Ken tak peduli, dia menyeret pria bertopi itu masuk ke mobil sportnya. Lalu dia melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas normal. Ken tahu jika kepala berdarah sesegera mungkin harus melakukan pertolongan pertama. Sayangnya dia tidak membawa kotak obat.
Mobil sport itu memasuki halaman mansion Aite. Ken segera membawa pria itu masuk ke mansion tapi dihadang oleh Aite.
"Tuan siapa?" tanya Aite penuh selidik pada Ken yang ternyata hanya mengenakan masker bukan topeng Jack.
"Bicara sekali lagi, aku lubangi kepala Paman!" ancam Ken sambil memperlihatkan pistol Black Star-nya.
"Joker, apa kamu melihatnya juga?" tanya Aite tak percaya.
"Jadi, Tuan Jack adalah Tuan Ken Lian itu sendiri?" sambung Joker.
Aite dan Joker saling berpandangan dan tiba-tiba sebuah fakta menghantam mereka. Mereka berdua telah melakukan kesalahan fatal, yaitu menjodoh-jodohkan bosnya dengan Jack yang tak lain adalah sepupu dari Meyrin.
"Hubungi King dan Queen segera! Kita harus meminta maaf pada mereka sebelum Tuan Jack melapor pada Nona Meyrin," perintah Aite dan Joker langsung bertindak.
Sedangkan di kamar Ken, dia mendudukkan pria itu di sofa. Ken melepas maskernya dan mengambil kotak P3K nya. Saat Ken hendak membuka topi sang pria, kembali tangannya ditepis.
"Jangan takut, aku hanya akan mengobati lukamu. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang," ujar Ken.
Pria itu menggelengkan kepalanya. Ken yang kesabarannya sudah menipis tanpa aba-aba langsung membuka topi pria itu. Itu bukan hal yang sulit bagi seorang tangan kanan pimpinan mafia, Ken tadi menahan hanya untuk menghormati orang yang ditolongnya.
Surai panjang bergelombang itu terurai bersamaan terlepasnya topi. Ken membulatkan mata sempurnanya saat orang yang ditolongnya seorang wanita bukan pria.
__ADS_1
Ken menatap wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Memindai dengan cermat karena baru kali ini seorang Ken salah mengira orang. Ken segera menggelengkan kepalanya, dia kembali fokus pada luka di kepala sang wanita.
"Permisi, boleh aku memeriksa luka di kepalamu?" tanya Ken sopan yang dijawab anggukan kepala oleh wanita itu.
"Ini harus dijahit karena lukanya terlalu dal—"
"Apa Anda seorang dokter?" tanya sang wanita menatap Ken curiga.
"Walaupun aku bukan seorang dokter, tapi aku sudah melakukan wajib militer di Korea. Mendekatlah!" perintah Ken menahan diri agar tidak membentak.
"Apa tidak perlu dibius dulu?" tanya wanita itu tapi tetap saja menuruti perintah Ken. Dia mendekat dan sekarang duduk di depan lelaki itu.
Ken mengangkat tubuh wanita itu yang terasa ringan baginya. "Duduk di sini!"
Posisinya sekarang wanita itu duduk di pangkuan Ken. Sang wanita duduk miring ke kiri agar Ken bisa langsung berhadapan dengan lukanya.
"Ini hanya perlu tiga jahitan saja, jadi tidak perlu dibius. Jika kamu kesakitan, gigit saja pundakku. Oke?"
Ken mengubah posisi duduk sang wanita agar saling berhadapan dengannya. Dia juga memberikan instruksi untuk bersiap di pundaknya. Apapun yang pria itu lakukan, dia melarang sang wanita untuk melihatnya.
"Aaaargh! Sakit Tuan!" teriak wanita itu saat jarum jahit menembus kulitnya.
"Wanita, jangan teriak! Gigit saja pundakku dan pejamkan matamu!" perintah Ken.
Wanita itu menganggukkan kepalanya dan saat Ken menarik benar jahitnya, wanita itu langsung menggigit pundaknya dengan keras. Ken sedikit meringis saat merasakan sakit pada pundaknya. Sesekali kening sang wanita mengernyit, sedangkan Ken berusaha tetap fokus pada tugas menjahitnya.
Ken! Are you okay, honey?
.
.
.
~ To Be Continue ~
__ADS_1
IG @hana_ryuuga