OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 32 TRAGEDI LA FENICE


__ADS_3

Asisten pribadi Walikota itu menyambut William dan Meyrin dengan ramah. Mereka saling berjabat tangan dan sedikit basa basi. Sesekali William mencuri cium pucuk kepala Meyrin saat menceritakan keharmonisan keluarganya. Tentu saja, semua adalah ceritanya saat bersama dengan Laras.


"Baiklah, kalau begitu mari ikut saya. Walikota sudah menunggu di ruangannya." Sang asisten berjalan di depan menjadi pemandu.


Beberapa pengawal yang disiapkan Walikota dan pengawal pribadi Meyrin bergabung menjaga keselamatan para tamu kehormatan. Lea dan Rama berjalan di belakang tuan dan nonanya.


Asisten itu membuka pintu sebuah ruangan yang terlihat begitu mewah. Dia mempersilakan kedua tamu kehormatan tuannya untuk masuk.


William dan Meyrin masuk dan seorang pria berusia sekitar kepala lima menyambut mereka dengan hangat. Mereka bertiga terlibat perbincangan basa basi. Sedangkan para asisten dan beberapa pengawal berdiri di pojok ruangan.


Hingga sang Walikota menyinggung masalah kerja sama dengan Arlington Group. Topik mulai serius, Meyrin menatap Lea dan wanita itu menghampiri nona mudanya. Sebuah map diberikan Lea kepada Meyrin.


"Silakan, Anda bisa mempelajari lebih dulu kontrak yang Tuan Besar Arlington ajukan," Meyrin menyerahkan map yang dibawa Lea tadi.


"Nyonya Plowden jangan terlalu sungkan. Saya akan memeriksanya nanti. Bisakah kita menonton pertunjukannya, sekarang?" tanya sang Walikota.


"Tentu saja," jawab William.


Mereka beranjak dan menuju ke sebuah ruangan khusus. Meyrin membulatkan matanya dan menutup mulut terpukau. William berdecak kagum dengan interior dari gedung Opera La Fenice. Seperti biasa William membantu Meyrin menarik kursi agar wanita itu dapat duduk dengan nyaman.


Meyrin menatap ke depan, di atas panggung itu sedang dimulai teater yang menceritakan kisah Cinderella. Wanita itu memanjakan netranya untuk menikmati desain gedung yang cantik ini. Meyrin mendongakkan kepalanya, menatap langit-langit auditorium yang dihiasi lampu kristal besar dengan ukiran yang cantik.


Kursi penonton ditata dengan begitu cantiknya, yang penuh dengan hiasan. Bahkan hiasan daun emas dipasang di seluruh bagian auditorium. Interior dan desain yang begitu artistik sungguh memanjakan penonton yang hadir, termasuk Meyrin dan William.



Mereka saat ini berada di lantai dua, di atas pintu masuk gedung. Sebuah tempat yang memang secara khusus Walikota siapkan untuk menjadi pasangan muda Plowden itu. William dan Meyrin dengan posisinya sekarang dapat melihat dengan jelas pertunjukkan yang sedang dimainkan. Bahkan mereka berdua juga bisa menikmati desain dari gedung cantik dan megah ini.


Saat semua mata tertuju ke atas panggung, Meyrin melihat siluet orang yang mencurigakan. Dirinya yang sudah terlatih sebagai pemimpin mafia, mulai waspada. Dia memberikan kode pada Lea.


Lea yang menyadari kode itu, langsung mendekat. Belum sampai di sisi nona mudanya, lampu panggung jatuh membuat penonton berteriak histeris. Belum lagi terdengar suara tembakan yang entah dari mana.


Lea langsung berdiri di depan Meyrin, begitu juga dengan Rama yang memposisikan dirinya di samping William. Beberapa pengawal membentuk dinding pertahanan untuk tiga orang penting serta para asisten pribadinya.


"Cih," decih Meyrin.

__ADS_1


Matanya tajam menatap ke sekeliling ruangan, hingga netranya melihat seseorang mengarahkan pistol ke arah Walikota. Meyrin membulatkan matanya saat orang itu mulai menarik pelatuk pistol.


Meyrin yang tidak sempat memberitahu Lea, mendorong wanita bertubuh kekar itu. Dia berlari ke arah Walikota sambil melihat sebuah peluru yang melayang di udara. Saat Meyrin hendak menjauhkan Walikota dari sasaran peluru, kakinya menginjak rok hingga tersandung. Hal itu membuat Meyrin mendorong orang nomor satu di Venesia.


Bruk!


"Fvck!" rutuk Meyrin yang jatuh terjerembab.


Suara gedebuk yang cukup keras membuat semua orang yang ada disana tertuju pada satu objek. Meyrin yang terjerembab di lantai. Sedangkan dorongan Meyrin terhadap Walikota dapat dihentikan oleh seorang pengawal.


"Nona!"


"Meyrin!"


"Nyonya!"


Teriak Lea, William dan Rama bersamaan. William dengan cepat berlari ke arah Meyrin dan membantunya. Kening Meyrin sedikit mengernyit saat dirasa pergelangan kakinya terkilir.


"Nona! Lengan Anda …," Lea menggantung kalimatnya.


"Cari siapapun yang berusaha mencelakai Nyonya Plowden!" teriak asisten pribadi Walikota.


"Panggil ambulance, segera!" teriak William ke pengawal Meyrin.


Lea bersimpuh dan mulai melakukan pertolongan pertama pada lengan nona mudanya. Dia menyobek kemeja dalamnya untuk membalut luka pada lengan Meyrin. Setidaknya, pendarahan itu hal utama yang harus dihentikan sembari menunggu tim medis datang.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya asisten Walikota.


"Iya Nyonya Plowden, kenapa Anda mendorong saya?" tanya Walikota Venesia.


Pandangan Meyrin mulai kabur, tapi dia berusaha untuk tetap sadar sambil menjawab, "Tadi, di samping kanan panggung seseorang mengarahkan pistol ke arah Walikota. Saya ingin Anda menghindar, ternyata kaki saya tersandung. Itu …," Meyrin mengerjap-ngerjapkan matanya saat kehilangan fokus.


"Tuan, saya menemukan sebuah peluru disini," ujar pengawal Walikota yang menunjukkan sebuah peluru.


Meyrin tidak bisa fokus lagi dengan apa yang terjadi. Telinganya berdengung, kepalanya terasa berat, lengan kanannya terasa panas dan berdenyut.

__ADS_1


"Meyrin!" teriak William membuat orang-orang kembali fokus pada Nyonya Plowden itu.


William menepuk-nepuk pipi Meyrin agar tetap sadar. Dia menjadikan pahanya sebagai bantal Meyrin berbaring. Meyrin mencoba fokus pada satu suara yaitu William yang terus memanggil namanya.


Tak berapa lama tim medis datang. Mereka mulai melakukan tugasnya dan membawa Meyrin ke rumah sakit. William ikut serta masuk ke mobil ambulance. Lea menyuruh semua pengawal Aite untuk berjaga di rumah sakit. Keamanan William dan Meyrin prioritas utama saat ini.


Sedangkan Lea dan Rama menyelidiki kasus penembakan yang terjadi bersama tim dari Walikota. Walikota sendiri sekarang sudah kembali ke kediamannya dengan penjagaan yang super ketat.


****************


William mondar-mandir di depan pintu ruang operasi. Sesekali dirinya menatap lampu ruangan operasi, berharap lampu itu segera berubah menjadi hijau. Beberapa pengawal dengan jarak sedikit jauh berjaga disana sesuai yang diperintahkan Lea.


Tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruangan operasi. William segera menghampiri sang dokter dan menanyakan keadaan Meyrin.


"Anda tenang saja, Tuan. Istri Anda baik-baik saja, hanya goresan peluru dan saya harus menjahitnya. Kita tinggal menunggu Nyonya Plowden sadar saja," jelas sang dokter yang setelahnya langsung meninggalkan William.


Tak berapa lama, Meyrin yang terbaring lemah di atas brankar keluar dari ruang operasi. Dua orang perawat mendorong brankar itu menuju kamar VVIP yang sudah disiapkan.


Brankar itu berhenti tepat di depan William. William menghampiri Meyrin, menatap wanita yang telah mencuri sedikit perhatiannya. Digenggamnya tangan Meyrin yang terasa dingin itu lalu diciumnya.


William menganggukkan kepalanya dan dua perawat itu mendorong brankar Meyrin. Sedangkan dirinya mengikuti dari belakang. Entah kenapa, hatinya terasa sakit saat melihat Meyrin terluka. William sendiri tidak tahu penyebabnya apa, bahkan terkadang jantungnya berdetak cepat.


"Mungkin aku harus periksakan jantungku ke dokter spesialis jantung, mumpung ada di rumah sakit." William membatin.


Mungkin ada yang tahu nama penyakit yang diderita William?


.


.


.


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga

__ADS_1


__ADS_2