
Jika di London, tepatnya di rumah seorang pengusaha mobil sport sedang berbahagia, beda halnya dengan di Inggris. Seseorang berjalan mendekati ranjang.
"Tuan, mereka akan mengadakan sumpah pernikahan besok. Apa kita harus melakukan sesuatu?" tanya orang tersebut.
"Lupakan saja mereka. Dadaku masih terasa sakit gara-gara Ken sialan itu," sungut pria yang berbaring di atas ranjang.
"Saya mendapatkan info kalau Ken akhir-akhir ini sering menemui seorang wanita. Apa kita perlu menculiknya?" tanya pria dengan tubuh kekar itu.
"Diamlah Berto. Kamu tidak tahu kau dadaku semakin sakit setiap kali mendengar nama Ken. Apalagi kabar wanitaku menikah dengan William semakin membuat dadaku tertusuk ribuan pisau."
Rizzo berbalik dan menatap tajam Berto. Bagian dada pria itu masih terbungkus oleh perban. Tulang rusuknya retak dan beberapa ada yang patah.
"Pergilah Berto! Melihatmu membuatku teringat akan Ken sialan itu lagi!" bentak Rizzo pada sang hacker dan tangan kanannya.
****************
Sebuah mobil Alphard baru saja memasuki halaman rumah dengan gaya kerajaan. Emily langsung keluar dari mobil dan berlari ke dalam rumah. Dia yang mendapatkan kabar bahwa Laras sedang hamil langsung menyelesaikan semua pekerjaannya secepat mungkin.
Emily langsung melangkah ke lantai dua, menuju kamar Laras berada. Dia membuka pintu kamar lalu menerobos masuk begitu saja. William yang berada di sofa terkejut dengan kehadiran Emily yang tiba-tiba.
"Kakak! Emily sayang sekali," ujar Emily memeluk Laras dan mencium kedua pipi kakaknya itu.
"Lily, menjauhlah dari Laras!" teriak seseorang dari layar ponsel Laras.
"Kak Ken, kenapa kamu menggangguku sih," sungut Emily.
"Kamu yang mengganggu. Aku sejak tadi sudah melakukan video call dengan Laras," Ken tak mau mengalah.
"Kalau begitu gantian. Biarkan sekarang Kak Laras bersamaku. Pergilah bekerja, dasar artis sok keren."
"Sudah … sudah … kenapa kalian selalu seperti ini. Kepalaku jadi pening mendengar kalian ribut terus." Laras melerai perdebatan antara Ken dan Emily yang sering terjadi hanya karena ingin mendapatkan perhatian dari dirinya.
"Apa Kak Laras marah padaku?" Emily yang mendengar itu langsung air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Cih, dasar bocah," komentar Ken.
"Keen," Laras menatap Ken dengan tatapan tajamnya.
"Baiklah, baiklah. Aku harus kembali ke panggung. Setelah acara ini aku langsung ke rumah King."
__ADS_1
"Hati-hati di jalan Ken. Aku sebentar lagi akan menjemput Queen dan Joker di Bandara," ujar Laras sembari melambaikan tangannya pada Ken dan panggilan pun berakhir.
"Kakak, apa benar di sini ada keponakanku?" tanya Emily dengan antusias penuh.
"Iya, apa Lily suka?" tanya Laras.
"Suka, tapi nanti Kakak pasti tidak sayang lagi sama Lily," jawab Emily dengan wajah yang ditundukkan.
"Kata siapa, Kakak tetap akan menyayangi Lily seperti biasanya. Tidak ada yang bisa mengubah itu semuanya. Kasih sayang Kakak terhadap Emily dan baby di dalam perut beda takarannya begitu juga porsinya."
"Bagaimanapun, jangan tinggalkan Emily yah, Kak. Emily sayang Kakak," Emily memeluk Laras.
"Kakak juga sayang Lily." Laras mencium pucuk kepala adiknya.
"Emily, sebaiknya kamu istirahat. Besok adalah jadwal padat kita seharian penuh," ujar William mendekati dua wanita yang saling berpelukan itu.
"Baiklah, Kakak ipar. Tolong jaga Kak Laras dengan baik."
Setelah mengatakan itu, Emily keluar dari kamar William dan Laras. Saat itu dia berpapasan dengan Daniel. Emily mengerutkan keningnya saat melihat sang Daddy tiba-tiba memeluknya.
"Ada apa Daddy?" tanya Emily.
Daniel melepaskan pelukannya, "Tidak apa-apa. Pergilah istirahat, besok kamu akan sibuk mendampingi kakakmu."
****************
Jam di dinding kamar tidur William dan Laras masih menunjukkan pukul 04.00 dini hari. Akan tetapi, di dalam kamar mandi sudah terdengar suara muntahan yang tak kunjung berhenti.
William segera bangun dan menyusul istrinya itu. Dia membantu Laras dengan memijat tengkuk wanita yang dalam hitungan detik akan menjadi istrinya. Laras akan mengganti marganya menjadi Nyonya Plowden, bukan lagi Nona Arlington.
"Sudah lebih baik?" tanya William saat melihat Laras berhenti memuntahkan isi perutnya.
Laras menganggukkan kepalanya sebagai jawaban karena setiap dia selesai muntah, bawaannya lemas. William yang melihat istrinya menderita tidak tega sendiri.
"Sayang, apa kita batalkan saja pernikahannya?" tanya William melihat Laras kasihan.
"Hah? Pernikahannya tinggal hitungan jam dan kamu mau membatalkannya? Kamu sedang bercanda denganku, Will?" Laras menatap William tak percaya.
"Bukannya begitu, Sayang. Aku hanya tidak tega kamu harus menderita seperti ini. Apalagi pesta kita tamunya tidak sedikit. Seandainya kesakitanmu bisa pindah ke aku," William menjelaskan maksud dari perkataannya.
__ADS_1
"Tidak apa, Sayang. Ini sudah hal yang wajar bagi seorang wanita saat hamil. Kamu hanya perlu ada di sampingku dan memberikan support." Laras mengelus pipi William dengan lembut.
Tiba-tiba William membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna, sebelum "Hoeek! Hoek!"
Seolah janin yang masih sebesar biji itu mendengar permintaan dari sang Daddy, janin itu juga membiarkan William untuk merasakan rasa mual yang tiada tara. Laras yang melihat itu terkejut dan gantian dirinya yang memijat tengkuk sang suami.
Hingga akhirnya mereka berdua tumbang di atas kasur. Perut kosong dan rasa lemas yang tiada tara diderita oleh William dan Laras. Mulut mereka terasa pahit.
"Sayang, apa ini yang kamu rasakan?" tanya William dengan nada lirih.
"Seperti itulah," jawab Laras sedikit lebih bertenaga dibanding William.
"Sepertinya anak kita ingin aku juga merasakan apa yang dirasakan Mommy-nya." William memeluk Laras dan mengelus perut rata sang istri.
"Dia akan tumbuh menjadi anak yang cerdas seperti kedua orang tuanya." Laras ikut mengelus perutnya.
"Astaga! Kenapa kalian berdua belum siap-siap?" tanya Emily saat melihat Kakak dan Kakak iparnya malah tiduran santai.
"Lily, tolong suruh pelayan untuk membuat air madu dan jahe hangat yah dua gelas. Aku dan William baru saja morning sickness," ujar Laras menjelaskan situasi mereka berdua.
"Hah? Seriusan kalian nih? Ngak bercanda, 'kan?"
"Tentu saja, bodoh. Cepatlah Lily dan jika MUA datang suruh masuk saja ke kamar."
"Baiklah, Kak."
Emily langsung ke luar dari kamar sang Kakak untuk meminta pelayan membuatkan apa yang diminta Laras. Dilantai bawah dia melihat Molly dan MUA terkenal. Setelah menyampaikan pesanan sang Kakak, Emily menyambut Molly.
Molly tidak percaya karena bisa bertemu dengan model favoritnya. Mereka berdua terlibat percakapan sebentar sebelum Emily membawa kru tata riasnya menuju kamar Laras.
Terlihat Laras yang sudah dalam keadaan segar setelah meminum madu dan jahe. Sedangkan William, dia malah semakin menjadi morning sickness-nya. Laras meminta Emily untuk memanggil Daniel agar membantu William.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
__ADS_1
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga