
"Fvck!" umpat Berto saat dia gagal mengambil data pribadi milik Armand.
"Ada apa?" tanya Rizzo saat melihat tangan kanan dan seorang cyber miliknya mengumpat.
Rizzo sedikit mengintip ke arah laptop Berto. Setelah mengetahui alasan sang tangan kanan mengumpat, barulah Rizzo tertawa keras. Dia tidak habis pikir bahwa Berto akan bertarung lagi dengan Ken.
"Lakukan sesukamu. Jika kamu berhasil mengalahkannya, pilih salah satu mobil sport yang aku miliki," ucap Rizzo memberi semangat.
"Ini yang aku suka, hahaha …." Berto jadi semakin semangat untuk mengalahkan Ken.
****************
Sedangkan di rumah sakit, Ken yang sibuk dengan laptopnya mengabaikan keadaan sekitar. Sedangkan yang lainnya mulai berdiskusi dengan apa yang akan dilakukannya.
"Jadi, kita akan ke pulau itu dengan cara terpisah?" tanya Nikolai memperjelas rencana mereka.
"Benar Paman. Aku dan yang lainnya akan berangkat lebih dulu karena yang Rizzo mau bukan William tapi diriku. Aku akan berbicara dengannya dan menyelamatkan William. Saat itulah, tim akan menyerang."
"Tapi itu terlalu berbahaya, Mey."
"Tidak ada yang berbahaya jika aku bersama para petinggiku, Paman. Toh, ada Ken, Alex, dan Lea yang berada di sampingku. Aku akan pulang dengan selamat bersama William." Meyrin meyakinkan Nikolai yang tampak tidak setuju dengan rencananya.
"Paman Aite, kali ini aku mengutusmu untuk pergi bersamaku di garis depan. Untuk Paman Joker, King dan Queen memimpin pasukan melakukan penyerangan. Kita akan melakukan penyerangan saat ada yang mencurigakan. Kalian para petinggi aku bebas tugaskan untuk mengamankan pasukan masing-masing."
"Baik, Nona."
"GOTCHA!" teriak Ken menggema di ruangan itu. Beruntungnya ruangan Meyrin merupakan kelas VVIP yang kedap suara.
"Armand! Transfer lima juta dolarmu sekarang. Aku sudah mendapatkan denah lokasi pulau Poveglia dari si brengsek Berto."
Semua yang mendengar seruan Ken menatap penuh takjub pada sang cyber dan tangan kanan seorang Meyrin. Ken benar-benar dapat diandalkan jika sudah berhubungan dengan dunia IT.
Setelahnya, Ken menyerahkan tugas selanjutnya kepada Armand karena itu bagian cyber dari klan Naga Langit. Saat ini Armand akan mencari titik lemah dari sebuah data itu untuk dijadikan senjata mereka.
"Setelah Armand menyelesaikan tugasnya, kita akan segera melakukan penyusupan. Pastikan semua senjata dan alat komunikasi tidak ada masalah," ujar Ken setelah berada di antara kerumunan orang-orang penting.
"Siap, Tuan." Jawaban keempat petinggi mafia Arlington kompak.
__ADS_1
Armand selesai dengan tugasnya. Dia membawa ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana.
"Selesai," ujar Armand.
Setelahnya terdengar bunyi notifikasi pesan di ponsel semua orang yang ada di dalam ruangan. Sebuah denah 3D dari pulau Poveglia muncul di ponsel mereka. Ken tersenyum bangga pada temannya itu. Begitu juga dengan Meyrin dan Nikolai.
Semua terdiam, menunggu dua pemimpin mengucapkan sesuatu. Mereka menatap Meyrin dan Nikolai yang tampak sangat fokus dengan layar ponsel mereka. Sesekali tangan mereka mengecil dan membesarkan layar ponselnya.
"Paman Nikolai ada usul?" tanya Meyrin akhirnya menatap Nikolai.
"Sepertinya hanya rumah sakit ini satu-satunya tempat yang cocok. Akan tetapi, untuk berjaga-jaga klan Naga Langit sebagian akan mengepung di sudut sisi pulau lainnya. Sedangkan aku dan orang terpilihku akan menyerang di garis depan sebagai bala bantuan. Apa tidak masalah?" tanya Nikolai pada Meyrin.
"Oke tidak masalah, Paman. Aku, Ken, Lea dan Alex seperti biasa ada di barisan depan. Untuk saat ini aku akan membawa Paman Aite bersama 50 orang terpilihnya. Seperti kataku di awal, sisanya akan memimpin pasukan sendiri untuk menyerbu."
"Baik, Bos."
"Paman Aite, turunkan 200 anak buah untuk bersama kita di garis depan. 50 orang terpilih Paman akan berada di bawah kepemimpinanku langsung."
"Siap, Bos." Aite menjawab begitu mantap karena sebuah kehormatan tersendiri berada di garis depan bersama sang pemimpin.
"Sudah, Nona," Lea menjawab dengan lugas.
Biarkan untuk kali ini saja, seorang Meyrin bergantung pada obat dalam pertempuran. Walaupun dirinya terlihat lemah, tapi demi menyelamatkan William dia harus kuat. Dia tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya akibat Rizzo.
Sudah waktunya dia untuk membalas dendam dan mengalahkan Rizzo. Walaupun nyawa sebagai taruhan tapi itu cukup sepadan. Membawa Rizzo bersama kematiannya itu lebih baik daripada dirinya harus kehilangan orang terkasih untuk kedua kali.
"Mey, apa kamu tidak masalah dengan korban yang berjatuhan?" tanya Nikolai.
"Selama korban yang berjatuhan dari pihak musuh, semua tidak masalah."
Nikolai tersenyum penuh minat. Dia sudah tidak sabar untuk merasakan darah kemenangan bersama mafia Arlington. Apalagi Meyrin menghalalkan pertumpahan darah dan kematian dari pihak musuh.
Meyrin menyuruh semuanya kembali ke mansion dan mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Dia tidak ingin adanya kesalahan dalam pertempuran. Dia tidak bisa mentoleransi sebuah kesalahan sekecil apapun padahal semua sudah bersusah payah untuk menyusun strategi.
"Mey, sampai bertemu di pulau. Mulai dari sini kita akan berpisah," ujar Nikolai menyalami Meyrin.
"Baik, Paman. Kita akan bertemu di medan pertempuran." Meyrin menyambut tangan Nikolai.
__ADS_1
Kesepakatan bertarung bersama untuk menyelamatkan seorang William sudah disepakati. Tidak ada rahasia di antara kedua kubu untuk melakukan penyerangan. Segala sesuatunya sudah dijelaskan secara terperinci.
****************
Pukul 11.00 malam semua anggota mafia Arlington berkumpul di pinggiran Laguna. Beberapa kapal telah disiapkan oleh Aite. Mereka akan melakukan penyusupan menuju ke pulau Poveglia. Kali ini, tempat yang mereka kunjungi memiliki resiko dengan badan penegak hukum, lantaran pulau itu terlarang alias tertutup untuk umum.
Beruntungnya Paman Aite berasal dari Venesia, dia sudah mengurus apa yang perlu diurusnya. Jarak antara pulau Poveglia dengan Venesia sekitar lima kilometer dan membutuhkan waktu satu jam perjalanan untuk sampai di dermaga pulau tersebut.
Meyrin dengan pakaian serba hitam serta sebuah mantel baru saja keluar dari mobil. Ken, Lea dan Alex mengikuti sang pemimpin dari belakang. Satu jam sebelum berangkat, Meyrin sudah meminum obat untuk mengurangi rasa nyeri pada luka operasinya yang masih belum sepenuhnya kering.
"Nona, semua sudah berada di kapal. Kita hanya perlu berhati-hati pada polisi air. Beberapa kapal sudah saya suruh berangkat lebih dulu guna memantau keadaan," jelas Aite.
"Keamanan perjalanan kita, aku serahkan pada Paman Aite. Aku tidak ingin ada halangan apapun," ujar Meyrin begitu tegas dan dingin.
"Siap, Nona."
Setelahnya Meyrin, Ken, Lea dan Alex menaiki sebuah yacht yang berukuran lebih besar dari milik Rizzo. Beberapa petinggi sudah menunggu kehadiran bos kecilnya di dalam dek kapal.
Setelah melewati kanal-kanal khas Venesia, kapal yacht mereka menuju laut lepas. Angin pada malam hari begitu dingin menusuk hingga ke tulang-tulang. Beruntungnya Meyrin memakai mantel yang telah disiapkan oleh Lea.
Meyrin berdiri di depan kapal, menatap pada kegelapan malam dan luasnya laut. Sepanjang mata memandang, hanya ada laut dan kegelapan serta langit malam yang bertaburan bintang. Bulan kali ini berbentuk bulat sepenuhnya, cukup menerangi perjalanan mereka.
Rambut yang di kuncir seperti ekor kuda, berkibar tertiup angin malam. Cuaca malam begitu cerah dan angin yang berhembus cukup kencang.
Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka melihat siluet sebuah pulau. Ada beberapa pulau di kanan kiri. Namun, sebuah pulau dengan lindungan pohon dan menara yang mencuat dari kejauhan, itulah Poveglia. Pulau yang terkenal dengan julukan the island of the death (pulau kematian).
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga
__ADS_1