OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 46 TELEPON DARI MEYRIN


__ADS_3

William membatalkan jadwalnya menyusuri laguna Venesia. Dia lebih memilih kembali ke hotel untuk mengerjakan dokumennya. Saat ini ia sedang merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Mengambil ponsel, memeriksanya, berharap ada pesan balasan dari Liu Meyrin. William kembali harus menelan kekecewaannya karena tidak ada jejak apapun dari sang wanita. Pesan yang dia kirim ada kemajuan yaitu dibaca tapi tidak dibalas.


Tok! Tok! Tok!


Pintu kamar diketuk dari luar. William menyuruh siapapun yang ada di luar kamarnya untuk masuk. Terlihat Rama dengan membawa tumpukan map, membuat kening William mengernyit. Sepertinya William melupakan tugas yang dia berikan pada sang asisten pribadinya.


"Apa itu?" tanya William dengan wajah polosnya.


Mendengar pertanyaan William, membuat Rama menghentikan langkahnya. Lelaki yang terkenal dengan wajah datarnya itu menatap William tak percaya. Dia susah payah meminta laporan dari semua anak cabang WR Entertainment dan mencetaknya.


Dalam waktu dua jam, 20 dokumen harus sudah selesai. Setelah Rama menyelesaikan 20 dokumen itu, William malah bertanya apa itu? Astaga! Rasanya Rama ingin menonjok wajah seorang William Anderson Plowden.


Menghembuskan napas panjangnya, Rama kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti tadi. Setiap satu kali hentakan langkahnya, Rama mencoba menenangkan dirinya. Dia harus sabar menghadapi sikap plin plan dari tuan mudanya.


Rama harus bisa memakluminya, tuan muda William saat ini sedang terserang virus cinta. Ya, William sedang jatuh cinta pada istrinya untuk yang kedua kalinya. Jadi, wajar jika tuan mudanya itu bersikap bodoh dan plin plan.


"Apa itu?" tanya William lagi saat tidak mendapatkan jawaban dari Rama.


"Ini 20 dokumen yang Tuan Muda minta. Saya su—" Rama menghentikan ucapannya saat melihat William memberikan kode dengan tangannya.


William menatap ponselnya yang bergetar, ada panggilan masuk. Rama mengernyitkan keningnya bingung saat tuan mudanya belum menerima panggilan itu. Tak lama, ponsel itu berwarna hitam kembali, tanda panggilan berakhir.


30 detik, 5 menit, 10 menit tidak ada panggilan kedua. Melihat itu William jadi kesal sendiri. Dia memaki-maki pada ponselnya, bahkan umpatan yang tidak pantas didengar terucap.


"Hais, wanita sialan ini! Padahal aku cuma membiarkan beberapa detik saja tapi dia langsung mematikan panggilannya. Sialan! Aku bahkan menelponnya lebih dari 10 kali. Hais, sungguh membuatku jengkel setengah mati!" umpatan terakhir ditujukan kepada si penelepon.


Rama tidak perlu tahu, cukup dengan umpatan dan sikap William dia tahu siapa si penelpon. Siapa lagi kalau bukan Liu Meyrin yang berhasil memporak-porandakan pertahanan William.


Istri sah William yang karena sesuatu hal harus melakukan operasi plastik. Bahkan Laras menyembunyikan jati diri yang sesungguhnya. Rama hanya memutar bola matanya jengah.


"Itu apa tadi?" tanya William lagi membuat Rama harus meningkatkan kembali kesabarannya.

__ADS_1


"Ini 20 dokumen yang Tuan Muda min—" Rama kembali menghentikan ucapannya karena William langsung menerima telepon dari seseorang.


"Hi, Sayang," sapa William dengan wajah sumringah, membuat Rama yang melihat itu menatap jijik.


Rama tanpa banyak bicara lagi, dia meletakkan 20 dokumen di atas meja kerja tuan mudanya. Bahkan, dirinya keluar dari ruangan tanpa permisi. Tidak lupa, pria itu membanting pintu membuat William terhentak kaget dan mengumpat.


****************


Lea mengetuk pintu kamar Meyrin, di mana hanya ada nona mudanya dan sang cyber andalan Liu Meyrin. Lea menyerahkan dua dokumen perusahaan dan satu lagi sebuah map cokelat yang isinya terlihat tebal.


Meyrin mengernyitkan keningnya saat fokusnya pada map cokelat itu. Lea yang mengerti arti tatapan Meyrin tersenyum.


"Sabar, Nona," ujar Lea dengan senyum lesung pipinya.


"Cih, asisten menyebalkan," sungut Meyrin kesal.


Setelah Lea meletakkan dua dokumen dan satu map, Meyrin segera membuka amplop itu. Dibaca pelan-pelan dan setelahnya dapat dilihat wajah Meyrin yang memerah karena menahan kesal. Meyrin langsung melempar map cokelat itu, membuat beberapa lembar kertas berhamburan jatuh ke lantai.


Lea hanya mengulum bibirnya ke dalam, menahan ketawa. Dia yang sudah tahu isi dalam map itu sengaja mengeprintnya dan mengemasnya begitu rapi seolah dokumen penting agar nonanya penasaran.


"Aduh, perutku sakit karena tertawa. Ya ampun apa yang dipikirkan paman Daniel dengan ini semua, hahaha …," ujar Ken sambil memegang perutnya yang kesakitan.


"Tertawa lagi, aku gores nadi lehermu!" ancam Meyrin.


Sayangnya, ancaman itu tidak mempan pada seorang Ken dan Meyrin tahu akam hal itu. Dia hanya ingin melampiaskan kekesalannya pada Ken. Wanita itu tak habis pikir dengan ayahnya. Bisa-bisanya sang ayah mengirim puluhan lembar pria untuk menjadi calon suaminya. Sedangkan dirinya masih berstatus istri sah William. Bahkan ayahnya dan Emily menjodohkan dirinya dengan Ken.


Meyrin menyerah. Dia lebih baik fokus pada dua dokumen perusahaan yang harus diperiksa. Wanita itu menaikkan kedua kakinya di atas kursi kerja, duduk bersila dan mulai fokus pada dokumen dan laptopnya.


Saking sibuknya, Meyrin tidak menyadari bahwa sekarang sudah masuk jam makan siang. Lea tanpa diperintah membawakan menu makan siang untuk dua orang, yaitu Meyrin dan Ken. Sedangkan Lea dan Alex akan pergi ke dapur, bergabung bersama para maid di sana.


"Mey, apa kamu sudah final dengan keputusan itu?" tanya Ken setelah mereka menyelesaikan makan siangnya.


"Kita akan bahas setelah ini. Awalnya aku hanya yakin 65% tapi setelah semua kejadian ini, keyakinanku menjadi 95%. Akan tetapi, aku masih harus waspada terhadap 5% ini. Bisa jadi 5% ini adalah bumerang buatku dan tim," jelas Meyrin yang membuat Ken hanya menganggukkan kepalanya paham.

__ADS_1


Lea dan Alex kembali masuk ke kamar sang pimpinan. Lea membereskan piring kotor dan menyerahkannya pada Alex untuk dibawa ke dapur.


"Ken, persiapkan semuanya untuk rapat kali ini."


"Baik, Bos."


Mendengar jawaban Ken, Meyrin melempar pena yang dipegangnya. Gotcha! Lemparan yang tepat mengenai sasaran. Ken mengelus-elus keningnya yang menjadi pendaratan pena Meyrin.


"Berhenti memanggilku Bos, terdengar menjijikkan."


"Lea, tolong yah seperti biasanya. Aku akan keluar sebentar."


Meyrin keluar dari kamar hanya dengan membawa ponselnya. Dia melangkahkan kakinya menuju balkon lantai dua. Ada sepasang kursi kayu dengan meja kecil di tengahnya. Dia mencari nama William di list kontaknya dan menekan tombol hijau.


Pada panggilan pertama dan dering kelima Meyrin matikan. Dia mengira kalau William sibuk, sehingga 15 menit kemudian dia mencoba menghubungi William.


Berhasil, pada dering kedua langsung tersambung pada si pemilik ponsel. Terdengar suara di seberang sana Rama sedang menjelaskan sesuatu tapi diurungkan.


"Hi, Sayang," sapa William begitu lembut.


"Hi, Will."


Meyrin tersentak kaget saat mendengar suara gaduh di seberang sana. Saat itu Rama sedang meletakkan dokumen di atas meja kerja William. Bahkan suara pintu dibanting saat jelas terdengar di indera pendengaran Meyrin.


"Kamu ada masalah dengan Rama, Will?" tanya Meyrin seketika.


Rama dan William seperti tom and jerry


.


.


.

__ADS_1


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga


__ADS_2