
Saat melihat kehadiran suami dari sang Bos, kepala hotel segera menyambut William. Dia memberi hormat dan menyapa William dengan sopan.
"Di mana istriku?" tanya William kepada kepala hotel itu.
"Mari saya antar, Tuan."
Setelahnya, kepala hotel itu berjalan mendahului William. Para staf membungkuk hormat saat William melewati mereka. Sayangnya, William tidak menggubris mereka, begitu juga dengan Rama. Raja dan pengawal dari keluarga Plowden sama-sama dinginnya.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu kaca. Kepala hotel membukakan pintu untuk suami sang Bos. William melangkahkan kakinya ke dalam ruangan tersebut. Terlihat Laras sedang bersama seorang pria dengan rambut cokelat dan wajahnya ditumbuhi brewok tipis-tipis.
Langkah kaki yang begitu kuat dan tegas, menandakan bahwa pria itu sangat berkuasa. William berjalan mendekati Laras, sedangkan Rama mendekati Lea yang sedang bersama seorang pria. Rama bisa menyimpulkan bahwa pria tersebut adalah tangan kanan tamu nyonyanya.
Rama menempati kursi satu-satunya yang kosong di meja tersebut. Seolah memang meja dia dan sang pimpinan sudah di setting sedemikian rupa. Asisten pribadi William dapat merasakan bahwa orang di hadapannya ini membawa persenjataan lengkap.
Lea tersenyum saat melihat raut wajah Rama yang dapat mendeteksi kondisi musuhnya. Dia menatap Rama yang usianya lebih muda darinya tapi, insting seorang pengawal tidak perlu diragukan lagi. Sayangnya, insting itu hanya untuk menjaga William. Asisten pribadi Laras membayangkan seandainya Rama berada di organisasi mafia, sudah pasti instingnya setajam milik Laras.
"Sayang, perkenalkan ini Paman Steve Arlington, pembunuh dari ayahku." Laras memperkenalkan Steve sekaligus menyindirnya.
"Bukannya kita sudah membahasnya tadi, Bos kecil?" Steve balik menyindir Laras.
"Kalau tidak salah ingat, bukannya kita sudah bertemu waktu di Indonesia? Seingatku pria tua ini mencoba merayu calon istriku." William menatap tajam kearah Steve.
"Oh maafkan saya, Tuan Plowden. Setidaknya waktu itu saya sudah tahu bahwa wanita cantik ini adalah Larasati Arlington, sepupu jauhku. Tidak seperti seorang pria yang diperdaya oleh wanita cantik. Bahkan, merasa dirinya jatuh cinta pada wanita yang berbeda." Steve kembali menyerang William dengan sindiran yang tepat sasaran.
"Fvck!" William menggebrak meja dan menatap Steve dengan aura membunuh. Sedangkan yang ditatap biasa saja, tidak merasa takut sama sekali.
"Hahaha … tatapanmu tidak setajam milik Laras. Aku saranin belajarlah dari istrimu, paling tidak jangan menjadi beban Arlington."
"Steve Arlington!" Bentakan Laras sukses membuat si empu nama terdiam.
Ya, Steve terdiam hanya karena Laras memanggil namanya dengan begitu mengintimidasi. Aura yang dikeluarkan oleh Laras seperti ingin menguliti tubuh sang Paman. Selain itu, dia tidak bisa berkutik karena Laras sudah mengetahui sisi buruknya.
'Jack sialan!' maki Steve dalam hatinya.
__ADS_1
Tak lama, seorang pria bertopeng masuk ke dalam ruangan. Pria itu membuka topengnya dan tersenyum begitu sinis ke arah Steve. Mereka menatap Ken yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Ken berjalan mendekati Laras dan berdiri di antara Laras dan William.
"Bos, aku membawa yang kamu minta." Ken menyerahkan sebuah map kepada Laras.
Laras membuka isi map itu, membaca isinya sebelum menyerahkannya kepada Steve. Laras tersenyum saat isi dari map itu sudah sesuai perintahnya. Dia menatap Ken lalu menganggukkan kepalanya.
Laras menyerahkan map itu kepada Steve, "Bacalah, Paman. Aku sudah membuatnya sesuai dengan kesepakatan kita."
Steve membacanya dengan teliti. Senyum kepuasan tersungging di bibir sang Paman. Steve membubuhkan tanda tangannya, begitu juga dengan Laras. William dan Ken sebagai juga sebagai saksi atas kesepakatan yang disetujui.
William mengernyitkan keningnya saat membaca isi dari kesepakatan itu. Otak bisnisnya mulai bekerja dan memikirkan segala hal dari berbagai aspek. Hingga dia menemukan sebuah kejanggalan, bukan pada map itu, tapi pada sikap dari Steve sendiri.
William menahannya. Dia harus membicarakan hal ini secara pribadi dengan Laras. Istrinya wajib tahu karena dia sudah berjanji apapun itu tidak akan merahasiakannya dari Laras.
"So, apa yang Paman bawa sebagai oleh-oleh untukku?" Laras menuntut haknya kepada sang Paman.
Steve menolehkan kepalanya ke belakang, di mana kursi para asisten berada. Seorang pria dengan tubuh berotot mendekati Steve. Dia menyerahkan sebuah map cokelat panjang kepada Steve.
Laras membuka amplop itu, Ken mendekat tapi mendapati tatapan tajam dari William. Kode keras agar menjaga jarak dengan sang istri. Sayangnya, Ken malah mengabaikan tatapan William yang ingin menerkamnya. Sayangnya, William sudah terikat janjinya sendiri untuk berdamai dengan seorang Ken Lian.
"Ken," panggil Laras membuat Ken mendekatkan wajahnya, melihat apa yang menjadi fokus Laras saat ini.
Ken mengernyitkan keningnya saat melihat beberapa foto yang dipegang Laras. Dia mengambilnya satu lalu memperhatikan secara seksama. Dia menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
William yang penasaran, akhirnya mengambil satu lembar foto yang ada di tangan Laras. Dia memperhatikan foto itu lalu berkata, "Bukannya ini di hotelku yang ada di Lunar City?"
Semua menatap William, terutama Laras dan Ken. Laras menatap Ken yang juga menatapnya. Anggukan kepala diberikan oleh Laras. Steve yang melihat interaksi antara Ken dan Laras menatap penuh kagum. Pantas saja mafia Arlington selalu membawa kemenangan di setiap pertempuran.
"Apa Paman mau ikut?" tawar Laras, walaupun dalam hatinya berharap Steve menolak.
"Tidak. Itu urusan kalian. Paman akan pergi ke makam ayahmu."
Setelah mengatakan itu, Steve beranjak dari kursinya meninggalkan ruangan itu. Pria berotot tadi mengikuti Steve dari belakang. Sepeninggal sang Paman, Alex segera menyerahkan tab milik Ken. Ken mengambil posisi Steve tadi.
__ADS_1
Jari-jemari lentik Ken mulai menari di atas layar tab-nya. Beberapa barisan angka serta huruf mulai bermunculan memenuhi layar tabnya. Kedua bola mata Ken begitu fokus menatap barisan perintah yang dijalankannya.
"Bagaimana?" tanya Laras tidak sabaran.
"Sebentar. Will, kamu memakai kode keamanan mana?" tanya Ken yang masih fokus menatap layar tab-nya. Jari-jemari tangannya tidak berhenti bergerak.
"Hei, kalau bicara lihat orangnya," sungut William merasa diabaikan.
"Sayang, berhentilah bertingkah seperti anak kecil. Ini kondisi yang sangat genting." Laras mencoba memberi pengertian pada suaminya.
"Jadi kamu membela dia daripada suamimu?" William menatap tak suka pada Laras.
"Astaga, William! Ini saat genting di mana aku harus menemukan Rizzo dan memusnahkannya! Kenapa kamu malah seperti bocah umur 12 tahun, hah!" Bentakan Laras sukses membuat Lea dan Rama mendekat.
"Laras, aku sudah menemukannya. Lihatlah!"
Mendengar itu, Laras langsung berpaling dari William. Bagaimana mungkin suaminya itu masih bersikap seperti bocah umur 12 tahun saat dirinya sedang berusaha membuat keluarganya aman. Padahal Laras sudah menceritakan bahwa Rizzo adalah orang yang paling ditakuti Laras.
Laras mendekati Ken dan menatap layar tab-nya. Terlihat di sana Rizzo sedang berbaring sendirian di sebuah kamar. Laras melihat keadaan sekitar, dia memperkecil dan memperbesar layar pada tab-nya. Laras terdiam, memperhatikan video yang diputar dengan meretas CCTV yang ada di kamar Rizzo.
"Jadi bagaimana?" tanya Ken akhirnya.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga
__ADS_1