OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 60 DANSA


__ADS_3

Meyrin sengaja memperlambat makannya dan itu disadari oleh William. Dia tahu jika Meyrin sedang merajuk dan itu adalah ciri khas seorang Laras. Dia semakin senang melihat Meyrin atau Laras istri sahnya. William sangat yakin kalau Meyrin adalah Laras.


William menatap Meyrin dengan menyangga kepalanya. Lengan yang kokoh bertumpu pada meja dijadikan tempat kepalanya bersanggah. Senyuman bak pangeran tak pernah lepas dari bibirnya. Wajah tampannya selalu berseri-seri saat melihat Meyrin malam ini.


"Masih ngambek ceritanya nih?" tanya William.


"Siapa yang ngambek, ngak tuh," jawab Meyrin sambil menghabiskan makaronnya.


William yang melihat punya Meyrin hampir habis, dia memberikan dessert-nya. Saking fokusnya dengan rasa manis dan segar, Meyrin tidak menyadari bahwa dessert-nya yang sudah habis kembali utuh.


"Kamu tuh lucu kalau ngambek. Ya sudah habiskan dulu makaronnya, baru kita lanjutkan."


"Ke mana dulu?" gigih Meyrin.


"Kalau aku beritahu, itu namanya bukan kejutan," jawab William sembari mencubit hidung Meyrin gemas.


"Sakit, Will." Meyrin merengek sebal tapi bagi William itu terdengar menggemaskan.


****************


Meyrin baru selesai dengan dessert-nya. Wanita itu menggembungkan pipinya karena baru sadar jika sudah menghabiskan dua porsi. Ditatapnya William yang berjalan santai di depannya. Tak lupa tangan besar lelaki itu menggenggam tangan Meyrin yang terlihat pas.


Saat mereka berdua menuruni tangga, banyak pasang mata yang tertuju pada keduanya. Pria tampan dengan wanita cantik, mereka berdua sangat serasi. Begitulah pemikiran sebagian besar pengunjung restoran tersebut.


Meyrin yang melihat tatapan para pengunjung merasa bangga karena pria di sampingnya adalah William. Beda halnya dengan William yang tidak suka banyak pasang mata menatap miliknya. Tanpa diduga, William malah merangkul pinggang ramping Meyrin. Tindakannya ini seolah mengatakan bahwa Meyrin adalah miliknya seorang.


Setelah tiba di tempat parkir, William membukakan pintu depan mobil untuk Meyrin. Bahkan, pria itu membantu Meyrin memasang seatbelt-nya. Setelah memastikan sang wanita aman, dia memutari mobil dan duduk di kursi kemudinya.


Malam ini, William akan membawa mobilnya sendiri. Dia ingin menikmati waktu berdua dengan wanita yang dicintainya sekaligus dirindukannya. Meyrin yang sejak tiba di restoran hingga kini diperlakukan dengan lembut membuat jantungnya berdetak kencang.


"Siap menuju tempat selanjutnya?" tanya William dan Meyrin hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Mobil itu langsung melaju dengan kecepatan konstan menuju jalan raya. William dan Meyrin tidak peduli dengan dua mobil bodyguard mereka di belakang. Entah keberanian dari mana, William menggenggam tangan Meyrin.


Meyrin tidak menolak, bahkan wanita itu malah menggenggam balik tangan William. Mobil mereka sudah berada di jalan raya bergabung dengan kendaraan yang lainnya. Padatnya lalu lintas tidak membuat keduanya kesal. Mereka malah berharap semakin padat agar keduanya bisa menikmati waktu berdua.

__ADS_1


"Will, memangnya kita mau ke mana?" tanya Meyrin.


"Sesuatu yang kamu sukai," jawab William penuh misteri.


Mendengar itu, Meyrin mulai berpikir keras. Dia mencari-cari sesuatu yang dia sukai dan mulai menebaknya. Pasalnya banyak sekali yang wanita itu sukai sehingga Meyrin kesulitan sendiri.


Kerut kebingungan menghiasi kening Meyrin saat William menghentikan mobilnya. Dia semakin bingung saat William malah mematikan mesin mobilnya yang menderu-deru. Hal romantis yang dia bayangkan hancur menjadi kepingan diingatannya.


William memutari kepala mobil guna membukakan pintu untuk Meyrin. William mengulurkan tangan, mengajak Meyrin keluar dari mobil.


"Kita berada di sini?" tanya Meyrin memastikan sembari melepas long coat-nya.


"Tentu saja. Ayo keluarlah!" ajak William menggerak-gerakkan tangannya, minta diperhatikan.


Meyrin menerima uluran tangan William dan keluar dari dalam mobil. Benar-benar di luar ekspektasi seorang Liu Meyrin. William menggenggam kembali tangan Meyrin membawa wanitanya ke tengah lapangan Piazza San Marco.


Piazza San Marco sendiri merupakan lapangan umum yang paling ramai dikunjungi oleh wisatawan yang datang ke Venesia, Italia. Tempat ini berada di depan Basilika Santo Markus dan Doge's Palace. Gemerlapnya lampu setiap sudut bangunan menambah kemewahan dan kemegahan dari Piazza itu sendiri.



Banyak para wisatawan yang memotret Piazza dan beberapa bangunan yang ada di sekitarnya. Ada juga yang selfie atau meminta tolong orang lain untuk mengabadikan fotonya dan keluarga. William dan Meyrin tersenyum melihat mereka.


"Apa kita akan berdansa?" tanya Meyrin.


William tidak menjawab lalu tiba-tiba terdengar lagi cinta yang berjudul I Will Be Right Here Waiting for You. Lagu yang pernah diputar saat hari pertama honeymoon mereka berdua di pulau pribadi.


Deg!


Seperti dihantam oleh palu yang bernama masa lalu, kepingan saat honeymoon bersama William melintas. Beruntungnya Meyrin sudah terlatih untuk mengendalikan emosinya. Wanita itu tersenyum dan menatap William penuh cinta.


Biarkan malam ini Meyrin menjadi sosok Laras di mata William. Wanita itu tahu jika William sedang membongkar identitas aslinya. Dia baru saja mendapatkan kabar dari Rama. Meyrin akan memerankan sosok Laras malam ini untuk William.


"Apa kamu suka lagu ini?" tanya William yang mulai menggerakkan tubuhnya mengikuti irama lagu.


"Aku tidak suka keromantisan. Tapi entah kenapa, saat bersamamu aku ingin diperlakukan selembut dan seromantis mungkin," jawab Meyrin jujur.

__ADS_1


"Apa yang kamu suka?" William menarik tubuh Meyrin agar lebih mendekat.


"Makaron dan es krim." Meyrin mengalungkan kedua tangannya di leher William.


"Lagu?"


"Beautiful In White lagunya Shane Filan. Entah kenapa, saat mendengarkan lagu itu aku membayangkan sebuah gaun putih yang begitu indah dengan taburan mutiara di atasnya dan dekorasi pernikahan," jawab Meyrin asal.


"Apa kamu akan mengenakan gaun seperti itu jika menikah dengan Ken?"


"Tentu saja. Juna menginginkan aku dan Ken bersatu sebagai orang tuanya," jawab Meyrin jujur karena memang Juna menginginkan dirinya dan Ken menjadi orang tuanya.


"Apa tidak bisa jika aku saja yang menjadi ayahnya Juna?" tanya William yang terdengar begitu terluka.


"Tidak ada yang tahu masa depan, Will. Aku hanya fokus untuk masa sekarang dan masa lalu sebagai pelajaran berharga dalam hidupku. Bisa kita tidak membahas ini lagi?" Meyrin menyandarkan kepalanya di dada bidang William.


William mencium pucuk kepala Meyrin, "Baiklah. Tapi, bolehkah aku bersaing dengan Ken untuk mendapatkan hatimu dan Juna?"


"Lakukan saja, tidak ada larangan."


William kembali mencium pucuk kepala Meyrin. Mereka berdansa dengan posisi saling berpelukan. Tubuh keduanya saling menempel seperti ada lemnya. Meyrin menyamankan posisinya di dalam pelukan hangat William.


Munafik jika wanita itu tidak merindukan semua hal romantis yang diberikan William. Meyrin sangat merindukan semua tentang suamimya. Entah itu romantisnya atau paranoid-nya. Bahkan rasa yang dimiliki wanita itu berkembang menjadi sebuah obsesi.


"Mey, lihatlah ke langit!" tunjuk William.


Duaar! Duaar!


Apa yang terjadi?


.


.


.

__ADS_1


~ To Be Continue ~


IG @hana_ryuuga


__ADS_2