
"Apa yang sedang kalian lakukan berdua?" William menatap tajam Nikolai yang berada di samping Meyrin.
"Makan siang di restoran cepat saji dekat bandara sete—"
"Tunggu di sana!" William langsung mengakhiri panggilannya.
Meyrin mengedikkan bahunya saat melihat Nikolai menatapnya penuh tanda tanya. Mereka berdua memilih untuk acuh tak acuh dan melangkahkan kakinya ke dalam restoran cepat saji. Meyrin memesan hamburger begitu juga dengan Nikolai. Tidak lupa Nikolai memesan secangkir kopi americano dan kopi latte untuk Meyrin.
Mereka terlibat obrolan basa-basi sambil menunggu pesanan tiba. Kalau orang lain pasti mendengarnya hanya obrolan biasa, tapi dalam obrolan itu ada beberapa kata yang mengandung arti tersirat. Itu sudah menjadi makanan Nikolai dan Meyrin jika bertemu di tempat umum.
"Sepertinya kita menjadi artis saat ini," ujar Nikolai memberikan kode melalui matanya.
Meyrin tersenyum sinis saat paham arti kode dari Nikolai. "Paman tenang saja, aku selalu membawa si mungil kemanapun."
Meyrin pura-pura menatap ke luar jendela, menikmati pemandangan kota Venesia. Senyumannya merekah saat melihat siluet orang di bangunan kecil samping restoran. Dia sudah mengira bos dari Buz yang sesungguhnya sedang mengintai pergerakannya.
"Kita benar-benar seperti sepasang malaikat pencabut nyawa," ujar Nikolai tertawa.
Klining!
Lonceng yang terpasang di sudut pintu berbunyi, menandakan ada pengunjung yang baru saja masuk. Meyrin dan Nikolai yang fokus dengan obrolan mereka tidak menghiraukan siapa pun yang masuk. Hingga …,
Cup!
Seseorang menarik Meyrin untuk berdiri lalu mencium bibir wanita itu dengan ganasnya. Meyrin membulatkan kedua matanya sempurna karena terkejut. Lalu kemudian, saat menyadari siapa yang berani melakukan hal tak tahu malu ini, dia tersenyum di balik ciumannya.
Aroma parfum itu sudah membuatnya tahu siapa pelaku penciuman di depan umum tersebut. Meyrin mengalungkan tangannya di leher sang pria dan membalas ciumannya. Mereka saling melampiaskan rasa yang ada selama beberapa hari tidak bertemu.
Nikolai yang melihat itu hanya memutar bola matanya jengah. Sedangkan para pengunjung yang melihat itu menatap takjub dan tidak sedikit membicarakan cinta segitiga diantara ketiganya.
William yang sudah puas melepaskan ciumannya. Dia tersenyum saat melihat bibir Meyrin memerah akibat ulah bibirnya. Ah, rasanya William ingin membawa Meyrin saat ini juga ke kamar hotel mereka.
"Apa kalian sudah puas?" tanya Nikolai sedikit menyindir.
"Ada perlu apa Paman menemui Meyrin?" tanya William menunjukkan sikap tak sukanya.
"Hah?" Nikolai menatap William tak percaya.
Setelah itu Nikolai menatap Meyrin yang hanya tersenyum miring dan mengedikkan bahunya. "Kalian? Astaga! kalian membuatku merinding."
__ADS_1
William memicingkan matanya saat mendapat jawaban yang baginya terkesan aneh. Bahkan dia menatap Nikolai dan Meyrin bergantian. William saat ini bersikap seolah sedang memergoki perselingkuhan wanitanya dengan pria lain.
Meyrin yang merasa jengah dipandangi oleh dua pria tampan tapi beda jauh usianya. Wanita itu ingin rasanya berterima kasih pada Ariana yang telah membuat Nikolai tobat.
Saat Meyrin hendak bicara, seorang pelayan datang membawa pesanan Nikolai dan Meyrin. Meyrin menahan pelayan itu untuk tidak pergi dan menanyakan pesanan William.
"Es jeruk untuk memadamkan api yang ada di dalam tubuhku," jawab William.
Meyrin hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepala pelayan tersebut. Setelahnya pelayan itu pergi untuk membuat pesanan William.
"Kalau mau memadamkan api jangan dengan es, cukup di kamar saja dan bercinta dengan berbagai gaya." Nikolai berkomentar sekaligus memberi saran.
"Paman!" hardik Meyrin.
"Itu yang aku rencana setelah ini," William malah menyetujui saran dari Nikolai.
Meyrin menepuk jidatnya dengan mulut dan otak mesum dari William. Sepertinya ia tahu dari mana berkembangnya otak mesum sang suami. Sedangkan Nikolai yang melihat tingkah suami-istri sah di depannya malah tertawa terbahak-bahak.
Nikolai masih belum mencari tahu tentang alasan Meyrin menyembunyikan jati dirinya dari William. Dia juga belum tahu alasan pemimpin mafia Arlington itu mendekati keponakannya lagi. Setelah ini dia akan bertanya langsung pada Meyrin.
Setelah menikmati makan siangnya, mereka bertiga kembali ke hotel. William memaksa Meyrin untuk ikut dengan mobilnya. Sedangkan Nikolai membawa motor yang tadi dikendarai Meyrin. Saat mereka beranjak dari tempat duduknya, William langsung menarik kembali Meyrin untuk duduk.
Nikolai yang melihat itu ikut tersenyum geli. Bagaimana mungkin seorang William yang setia terhadap istrinya, Laras bisa tergoda dengan Meyrin. Walaupun begitu, Meyrin adalah Laras dan Laras adalah Meyrin. Mungkin inilah definisi jatuh cinta kedua kalinya pada istri sendiri.
"Wi—"
"Diam!" tolak William saat Meyrin hendak bicara.
"Kamu memakai ini menjemput Paman Nikolai?" tanya William yang mendapat anggukan kepala dari Meyrin.
"Paman Nikolai memelukmu?" tanya William lagi.
"Tentu saja, kalau tidak begitu aku bisa jatuh, Will. Wanita ini gila kalau sudah bersama dengan sepeda motornya," aku Nikolai.
"Shiit!" William membanting semua barang yang ada di atas meja. Kedua matanya menatap nyalang pada Nikolai.
Meyrin dan Nikolai tahu kalau sekarang paranoid William sedang kambuh. Mereka harus menenangkan pria itu sebelum bertindak lebih jauh.
"Will, tenang dulu! Tarik napas!" Nikolai mencoba menenangkan anak dari sahabatnya itu.
__ADS_1
"Paman brengsek! Beraninya menyentuh milikku! Atas dasar apa Paman menyentuh Meyrinku, hah!" bentak William menatap bengis pada Nikolai.
Meyrin menelan salivanya dengan susah payah lalu seperti orang kehilangan akal sehatnya, dia mencium William. Ini adalah metode yang William minta saat lelaki itu lepas kendali. William memperdalam ciumannya dengan menekan tengkuk leher Meyrin.
Meyrin mendorong dada bidang William karena dirinya hampir kehabisan napas. Tanpa banyak bicara lagi, William menarik tangan Meyrin menuju mobilnya. Dia membukakan pintu untuk sang wanita dan dirinya.
"Hotel," perintah William.
Meyrin dapat melihat paranoid William belum juga mereda. Wanita itu dapat membacanya dari sorot mata William yang menahan amarah. 10 menit berada di perjalanan dalam keadaan sunyi hingga mobil itu berhenti.
Tidak membuang-buang waktu, William membuka pintu mobil lalu kembali menarik tangan Meyrin untuk keluar. Meyrin berdecih saat tangannya mulai memerah karena cengkeraman dari tangan William.
"William, tolong pelan sedikit," pinta Meyrin sedikit memohon. Tapi, seolah tuli pria itu terus menarik Meyrin.
Dua pengawal Meyrin yang masih berjaga di pintu lift lantai presidential suit hendak bertindak. Tapi, Meyrin menggelengkan kepalanya agar mereka berdua tidak ikut campur.
William membuka pintu ruangannya, di sana ada Rama. Asisten pribadi itu mengernyit saat melihat William menarik lengan Meyrin.
"Sel—"
Brak!
Rama yang hendak menyapa William dan Meyrin diurungkannya. William melewati Rama begitu saja dan menutup pintu kamar dengan membantingnya. Tidak lupa pria itu mengunci pintunya, mengurung Meyrin dan dirinya di dalam kamar, berdua. William lalu menarik Meyrin dan melemparkannya ke tengah kasur.
"Aw!" rintih Meyrin saat punggungnya membentur kasur dengan keras. Beruntung kasur itu sangat empuk.
"Fvck! Brengsek! Sialan!" maki William dengan melempar semua barang-barang yang ada di kamar.
Apa yang akan dilakukan Meyrin?
.
.
.
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga
__ADS_1