
Jleb!
Terlihat sebuah pisau kecil menancap begitu dalam di pinggang ramping Meyrin. Pisau itu ditancapkan oleh Lee saat tiga orang di sampingnya lengah. Tiga orang itu langsung melesatkan tiga peluru ke kepala Lee hingga terlihat aliran darah yang keluar dari luka tembak.
Meyrin membulatkan kedua matanya sempurna. Napasnya mulai pendek-pendek. Dia arahkan pandangannya ke arah pisau yang menancap sempurna di pinggangnya. Darah mulai mengalir dari luka tusuk itu membuat Meyrin berdecih.
"Brengsek!" umpat Meyrin.
Dor! Dor!
Dua peluru Meyrin berikan pada kepala Lee yang sudah tewas beberapa menit yang lalu. Ken yang melihat Meyrin tertusuk segera menghampirinya. Begitu juga dengan Lea yang berjalan ke sisi pisau. Sedangkan Aite mulai menghubungi ambulance.
Tiga petinggi yang lainnya menyuruh mengamankan semua bawahan kapak putih. Mereka akan membawa ke ruang bawah tanah yang ada di samping mansion Aite.
Ken memposisikan Meyrin untuk duduk bersandar pada dadanya. Napas Meyrin mulai terlihat satu-satu, kedua matanya terpejam.
"Nona sadarlah! Tuan Ken tolong sadarkan Nona!" pinta Lea sambil wanita itu melakukan pertolongan pertama pada Meyrin.
Para petinggi mengelilingi ketiga orang penting di organisasi mereka. Mereka masih memasang kuda-kuda, mencegah adanya serangan dadakan lagi.
Saat ini Ken membaringkan Meyrin dengan pahanya sebagai bantal. Ken terus berusaha membuat Meyrin tetap sadar karena itu hal yang paling penting. Sedangkan Lea saat ini mengangkat salah satu kaki Meyrin, agar darah terus mengalir ke jantung.
Aliran darah sudah banyak keluar dari luka tusuk itu. Lea membiarkan pisau tetap tertancap di pinggang Meyrin. Hal itu dilakukannya agar pendarahan tidak semakin meluas. Wanita dengan tubuh kekar itu, memberikan tekanan di kedua sisi pisau yang menancap, berharap pendarahan segera berhenti.
Beruntungnya ambulance segera datang dan Meyrin langsung mendapatkan penanganan dari tim medis. Ken memberikan perintah pada King dan Queen untuk mengurus bawahan kapak putih. Sedangkan Joker dan Aite akan ikut mereka ke rumah sakit.
Lea ikut masuk ke dalam mobil ambulance bersama Meyrin. Pisau yang tadinya menancap di pinggang ramping nona mudanya sudah dilepas oleh tim medis. Sebuah selang infus dan masker selang oksigen menjadi aksesoris Meyrin malam ini. Kedua mata Meyrin terpejam dan wajahnya begitu damai dalam istirahatnya.
****************
Prang!
William terkejut saat tiba-tiba gelas yang dia pegang terlepas dari genggamannya. Pria itu menatap sekitar seperti orang kebingungan. Tanpa disadari air mata mengalir membasahi kedua pipi pria itu.
William berjalan ke arah cermin, dia menatap pantulannya yang begitu kacau. Pria itu mengusap air matanya sekali tapi kembali mengalir. Dia coba mengusapnya berkali-kali tapi seolah air mata itu enggan untuk berhenti.
William terbelalak saat melihat sosok Laras, sang istri tercinta berdiri begitu cantiknya di belakang dia. Menatap penuh cinta sang suami dari pantulan cermin.
"Jangan berbalik, Sayang," cegah halus Laras saat melihat William hendak berbalik, menatapnya.
__ADS_1
Sekarang William paham kenapa air matanya enggan untuk berhenti mengalir. Dia terlalu merindukan sosok Laras hingga dirinya sampai berhalusinasi seperti sekarang. William mendongakkan kepalanya lagi, menatap istri yang dirindukannya selama ini.
Laras hadir dalam balutan dress putih kesukaan istrinya. Bagi Laras, dia terlihat cantik dalam balutan busana putih yang menjuntai. Bahkan, wanita itu mempunyai impian menikah mengenakan gaun bak putri kerajaan.
Sayangnya, pernikahan antara William dan Laras tidak dapat diselenggarakan begitu mewah. Mereka hanya menikah di KUA saja saat keduanya berada di Indonesia, menghadiri pesta pernikahan sahabatnya. William terlalu menuruti paranoid-nya membuat Laras harus meninggalkan dia.
Hingga detik ini pun, William tidak mengetahui keberadaan Laras. Sebelum akhirnya dia bertemu dengan seorang pemilik Arlington Group, yaitu Liu Meyrin. Wanita cantik dengan sikap tegas dan beraninya, mampu mencairkan hati William yang telah lama beku. Menghantarkan getaran-getaran asmara pada pria itu.
"Laras, itukah kamu?" tanya William pada Laras yang masih berada di belakangnya.
"Tentu saja, Sayang. Apa kamu sudah melupakanku? Apakah Meyrin begitu menarik hingga aku tidak berarti lagi buatmu?" sindir Laras sembari menggembungkan pipinya.
Melihat itu William tersenyum sekaligus menangis. Wanita itu benar-benar Laras, istri tercintanya. William hafal betul tingkah manja sang istri. Air mata bahagia jatuh membasahi pipi sang pria.
William melihat Laras yang duduk di pinggiran ranjang hotel. Wanita itu juga meminta William juga ikut duduk, tapi di kursi meja rias.
"Sayang, aku merindukanmu. Aku ingin memelukmu," pinta manja William.
"Dasar, aku tidak mau dipeluk sama pria yang tukang selingkuh," Laras memalingkan wajahnya dan itu membuat William tertawa.
"Honey, I miss you. Aku tidak akan marah jika kamu memberikanku cap tukang selingkuh. Kenyataannya aku memang selingkuh, aku menodai janji suci antara kita," sesal William sembari menundukkan kepalanya.
Laras tersenyum melihat William yang begitu menyesali perbuatannya. Wanita itu beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki untuk mendekati William. Lalu dia mengalungkan kedua tangannya di leher William, bersandar pada pucuk kepala sang suami.
William memejamkan kedua matanya, merasakan wangi jasmine yang menguar dari tubuh sang istri. Kehangatan pelukan istri mungilnya mampu meredakan segala emosi yang menderanya.
Jantung William bertalu-talu. Debarannya begitu kuat dan nyata. Debaran yang hanya seorang Laras yang bisa melakukannya. Cinta pertama William dan butuh perjuangan lebih dari lima tahun untuk mendapatkan jawaban cinta dari sang istri.
Laras, wanita cantik dengan tingkah polos dan manjanya. Senyum imut dengan tubuh mungilnya. Tidak ada yang tidak disukai oleh William pada sosok sang istri. William membuka kedua matanya, terlihat Laras yang tersenyum penuh cinta padanya.
"Aku juga merindukanmu, Will." Laras menatap wajah tampan suaminya yang selalu dia cintai.
"Sayang, katakan ke mana aku harus mencarimu? Apa Meyrin melakukan sesuatu padamu?" tanya William langsung.
"Tidak. Meyrin tidak melakukan apapun padaku. Aku selalu ada di dekatmu dan menjagamu," jawab Laras.
"Tapi aku tidak bisa melihatmu, Sayang. Aku ingin mendekapmu seperti ini setiap saat. Aku ingin mer—"
__ADS_1
"Lalu bagaimana janjimu dengan Meyrin?" timpal Laras yang masih tetap dengan posisinya. Menatap William penuh cinta.
"A-aku ak—"
"Tidak Will. Keputusanmu sudah benar, Sayang. Aku akan selalu mendukung keputusanmu, menceraikanku, melupakanku, dan—"
William langsung beranjak dari duduknya membuat Laras terkejut. Lelaki itu langsung berbalik dan merengkuh tubuh istrinya, membawanya ke dalam pelukan hangat sang pria.
"Tidak! Aku tidak bisa melakukan itu semua, Sayang. Kamu mempunyai tempat tersendiri di dalam hatiku. Bahkan seorang Meyrin pun tidak dapat menggantikannya."
Laras mengendurkan pelukan William, dia menatap sang suami dengan penuh cinta dan kasih sayang. Laras mengulurkan tangannya ke atas, menangkup kedua pipi sang suami. William yang paham sedikit membungkukkan badannya.
Laras membelai wajah sang suami dengan lembut. William memejamkan kedua matanya, menikmati sentuhan hangat dari tangan mungil sang istri. Sentuhan yang dia rindukan selama tiga tahun ini.
William membuka kedua matanya, sedikit menunduk lagi agar dirinya dapat menggapai bibir istrinya. William mencium sang istri begitu lembut dan penuh perasaan. Dia lalu duduk di kursi meja rias, dan memangku sang istri agar duduk di atas pahanya.
Setelahnya mereka kembali berciuman. Ciuman kerinduan. Semua rasa yang mereka pendam selama tiga tahun ini diluapkan dalam ciuman itu. Bahkan Laras mengalungkan kedua tangannya membuat ciuman di antara mereka semakin dalam dan intens.
Laras mendorong tubuh William saat merasakan pasokan udara dalam paru-parunya menipis. Senyuman penuh cinta tersungging di bibir keduanya. Wajah mereka memerah layaknya anak muda yang merasakan cinta pada pandangan pertama.
"Will, boleh aku meminta sesuatu darimu?" tanya Laras.
"Jangankan meminta, seluruh dunia akan aku kasih jika kamu memintanya." William mulai kembali ke sifat asalnya, suka menggombal dan setelahnya Laras pasti akan menggembungkan pipinya.
Benar saja, mendengar gombalan William Laras langsung cemberut. William langsung tertawa lepas seperti tidak ada beban yang ditanggungnya selama ini. Sungguh, Laras yang seperti ini membuat William jadi gemas.
"Kamu mau meminta apa?"
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
IG @hana_ryuuga
__ADS_1