OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 96 KESEMPATAN KEDUA


__ADS_3

"Laras, menikahlah denganku," ujar William setelah beranjak ke sisi samping sang wanita.


"Tidak. Aku susah payah mendapatkan surat cerai itu darimu," tolak Laras dan mengubah posisi berbaringnya dengan membelakangi William.


"Berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku janji tidak akan melakukan hal bodoh seperti di masa lalu. Aku juga akan melakukan terapi dengan giat agar paranoidku sembuh. A-aku juga a-akan berba-berbaikan dengan Ken," ucap William di mana, di akhir kalimat ada rasa tidak terima. Akan tetapi, demi Laras dia rela melakukannya.


"Kalau begitu, buatlah aku jatuh cinta lagi denganmu," jawab Laras yang langsung beranjak dari ranjangnya.


Laras berjalan menuju kamar mandi tanpa sehelai benangpun. Dia mengabaikan tatapan lapar ala binatang buas dari William yang siap menerkamnya. Tak lama kemudian, terdengar gemericik suara air shower dari dalam kamar mandi.


Ponsel William berdering menampilkan nama Rama. William mengabaikannya dan memilih untuk melanjutkan kembali tidurnya. Tenaganya benar-benar dikuras dengan permainan mereka tadi malam.


Laras yang baru saja keluar dari kamar mandi dan tersenyum saat melihat William kembali tertidur. Dia berjalan mendekati pria yang telah menghabiskan malam panjang dengannya.


Laras menatap ponsel William yang berdering. Ada nama Rama di sana, Laras langsung menggeser tombol hijau.


"Halo, Kak," sapa Laras.


"Apa Tuan William bersama dengan Anda?" tanya Rama di seberang sana.


"Iya, sekalian bawakan baju baru dia yah Kak."


"Baik, Nona."


Setelah itu Laras mengakhiri panggilannya. Dia menatap William yang masih terlelap dalam tidurnya. Laras beranjak dari pinggiran kasur, tapi William menarik tangan kirinya hingga terjatuh menimpa tubuh William.


"William jangan mulai deh." Laras mencoba beranjak, tapi William memeluknya hingga membuat sang wanita tak berkutik.


"Morning kiss, Sayang," manja William.


"Kenapa kamu jadi manja gini sih?" Laras memicingkan salah satu alisnya saat menatap William.


"Karena kita menjadi sahabat dan sepasang kekasih."


"Sejak kapan?"


"Tentu saja sejak dirimu menjadi Liu Meyrin."


"Tidak bisa begitu dong Will. Aku bukan Liu Meyrin tapi Larasati Arlington," protes Laras.


"Tetap saja itu sama. Laras adalah Meyrin. Meyrin adalah Laras."


"Terserah. Sekarang biarkan aku berpakaian, Rama sebentar lagi akan sampai."

__ADS_1


Dan benar saja, setelah Laras mengatakan hal tersebut, suara ketukan pada pintu kamar terdengar. William dengan terpaksa akhirnya melepas pelukannya pada Laras.


Laras tersenyum saat melihat wajah William yang terlihat kesal itu. Wanita dengan rambut lurusnya itu memungut kemeja William dan memakainya. Laras tidak peduli bahwa di sana masih ada William. Toh, mereka sudah sering melakukannya kenapa harus malu.


"Jangan bergerak!" hardik William saat melihat Laras hendak membuka pintu kamarnya dengan kemeja sang lelaki.


Laras segera menghentikan langkah kakinya dan mengangkat kedua tangannya. Hal itu membuat kain segitiga berwarna hitam terlihat, menggoda William untuk digigit.


William menyambar celana pendek ketatnya dan berjalan menuju pintu. Benar saja, di depan pintu ada Rama yang membawa paper bag. Tanpa banyak bicara, William mengambil paper bagnya dan menutup pintu kamar begitu saja.


Rama yang masih belum bisa memproses semuanya tetap berdiri di depan pintu kamar. Dia masih dibuat melongo oleh sikap tuan mudanya yang mendadak itu.


"Sialan," umpat Rama akhirnya dan meninggalkan kamar itu.


****************


Ken baru saja masuk ke ruang kerja seorang Daniel Arlington tanpa permisi. Dia benar-benar tidak terima dengan keputusan pamannya.


"Paman!" panggil Ken saat setelah dirinya masuk ke dalam ruang kerja Daniel.


"Paman tidak mau debat lagi, Ken. Ini sudah keputusanku dan tidak bisa diganggu gugat." Daniel yang tahu kepentingan Ken datang menemuinya langsung memberikan jawaban.


"Tidak bisa begini, Paman. Setidaknya pikirkan Meyrin dan Emily. Mereka butuh Paman dan aku tidak akan menjaga mereka berdua." Ancaman Ken kali ini tidak main-main, terlihat dari sorot mata sang keponakan.


"Tapi bukan berarti Paman harus mengorbankan nyawa!" bentak Ken.


"Biarkan Paman menebus kesalahan di masa lalu. Sekarang Steve datang untuk membalas dendam pada Meyrin. Pilihan terbaik hanya satu, Paman menyerahkan nyawa sebagai ganti perdamaian."


"Aku menolak, Paman! Ayolah, kita bisa melakukan penyerangan besar-besaran pada Steve sialan itu!" Ken mengusulkan sebuah ide seperti biasanya.


"Tidak bisa. Dendam ini tidak akan berakhir. Ini akan menjadi lingkaran setan di antara keluarga Arlington. Biarkan Paman yang berkorban sekaligus menebus kesalahan di masa lalu."


Ken menatap Pamannya, orang yang telah merawat dia sejak kedua orang tuanya meninggal. Daniel bagi Ken bukan sekedar Paman, dia sudah menganggap pria yang umurnya memasuki kepala lima itu sebagai ayah kandungnya.


"Ken, kita lakukan semuanya secara senyap. Anggap ini sebagai duet antara Daniel dan Jack untuk terakhir kalinya. Aku sudah menitipkan Laras kepada William, tolong jaga Emily untuk Paman," pinta Daniel.


Ken yang mendengar itu akhirnya melunak. Air mata yang ditahannya akhirnya runtuh juga, membasahi kedua pipi sang tangan kanan.


"Apa yang harus aku katakan pada mereka berdua, Paman?" tanya Ken dengan nada lirih dan suara serak, khas orang menangis.


"Katakan bahwa aku meninggal karena lalai dalam tugas."


"Mungkin Emily percaya, tapi bagaimana dengan Laras? Dia memiliki otak yang cerdas dan kepekaannya tidak perlu diragukan lagi."

__ADS_1


"Paman serahkan kepada kamu, Ken. Selama tiga tahun ini kamulah yang selalu bersama Laras. Kamu lebih mengerti dia daripada Paman." Ken yang mendengar ucapan Daniel hanya terdiam.


"Ken," panggil Daniel.


"Aku ingin menenangkan diri dulu, Paman. Kita akan bertemu di tempat seperti biasanya satu minggu lagi." Ken berjalan meninggalkan ruangan Daniel.


Ken menghentikan langkahnya tepat di depan pintu. "Biar aku beri saran, Paman. Buatlah kenangan yang indah selama beberapa hari ke depan bersama Emily dan Laras."


Setelah mengatakan yang perlu dikatakan, Ken benar-benar keluar dari ruang kerja Daniel. Alex yang menunggu di luar, langsung merasakan hawa dingin yang menguar dari majikannya. Ken mengabaikan Alex dan terus keluar dari mansion.


Emily menatap kepergian Ken yang terkesan buru-buru itu. Terlihat Alex yang memberikan hormat pada Emily sebelum pergi mengikuti Ken.


"Ada apa dengan Ken yah?" tanya Emily pada dirinya sendiri.


Emily menatap ke sekeliling dan terlihat Rama yang baru keluar dari koridor kamar tamu. Emily segera menghampiri asisten pribadi milik William itu.


"Kak Rama!" panggil Emily.


Rama yang merasa namanya dipanggil segera mendekat dan membungkukkan badannya, memberi hormat. Emily meminta Rama untuk duduk di ruang tengah.


"Apa Kak William dan Kak Laras bersama?" tanya Emily.


"Sepertinya begitu, Nona," jawab Rama lugas dan sopan.


"Oh," ucap Emily dengan nada tak suka dan Rama menyadarinya.


"Apa ada masalah, Nona?" tanya Rama akhirnya.


"Aku tidak suka sama Kak William. Dia terlalu pemarah, yah walaupun itu adalah sebuah kelainan. Tetap saja itu bisa membahayakan Kak Laras."


Emily yang memang orangnya suka ceplas ceplos mengatakan hal tersebut dengan enteng. Dia tidak peduli jika Rama tidak terima atau bahkan sakit hati dengan ucapannya. Emily terlalu menyayangi Laras lebih dari apapun.


"Maafkan saya, Nona. Tapi, saya mohon restui hubungan Tuan William dan Nona Laras. Berikan kesempatan satu kali lagi pada Tuan William." Rama menundukkan kepalanya.


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


@hana_ryuuga


__ADS_2