
Suara tepuk tangan terdengar riuh saat William dan Laras menuruni anak tangga. Siulan dari para jendral dan anak buah Laras menggema, membuat suasana semakin meriah.
Mereka menaiki mobil yang sudah disediakan oleh keluarga Arlington. Sebuah mobil limosin putih yang dihias sedemikian cantiknya dengan rangkaian bunga dan beberapa pita berada tepat di depan pintu utama rumah. Sudah pasti itu adalah mobil pengantin yang akan ditumpangi oleh kedua mempelai.
"Ayo, Kak! Emily bantu, hati-hati dengan keponakan Lily." Emily mengulurkan tangan untuk menarik sang Kakak masuk ke dalam mobil. Sedangkan Dewi dan Yuki membantu mengangkat rok gaun pengantin yang berbentuk seperti balon.
Selanjutnya diikuti oleh William. Daniel berada di kursi kemudi, di mana Ken berada di sampingnya. Laras benar-benar tak menyangka bahwa Ayahnya yang membawakan mobil pengantin.
"Biarkan dua pria Arlington ini yang akan mengantarkan Tuan dan Nyonya Plowden," ujar Ken membuat Laras tertawa.
"Apa kita bisa berteman, Tuan Plowden?" goda Ken.
"Tentu saja karena aku sudah berjanji pada istri tercintaku. Sayangnya, aku tetap tidak terima jika istriku lebih percaya padamu daripada aku yang suaminya," sindir William pada Ken juga Laras.
"Bisa kalian diam? Aku rasanya ingin muntah." Laras menatap sinis pada William dan Ken.
"Tidak … tidak … jangan muntah sekarang!" perintah William menatap Laras penuh kewaspadaan.
"Kenapa?" tanya Laras yang juga menatap William.
"Aku tidak mau ikutan muntah, Sayang."
Saat itulah terdengar suara tertawa dari semua yang berada di dalam mobil. Tanpa mereka sadari, mobil sudah tiba di tempat yang sudah disulap menjadi altar pernikahan antara William dan Laras.
Beberapa pengawal sudah berada di tempatnya masing-masing. Daniel benar-benar mengerahkan seluruh pasukannya untuk menjaga pesta pernikahan putri sulungnya.
William segera berjalan menuju altar bersama Ken, Rico dan Soga. Sedangkan Laras masuk ke sebuah ruangan yang dipersiapkan untuk keluarga. Dia bersama Emily, Dewi, dan Yuki yang menemani. Hingga akhirnya Daniel masuk, siap mengantarkan putri sulungnya menuju altar.
__ADS_1
"Apa kamu gugup, Nak?" tanya Daniel saat melihat Laras memainkan jari-jari tangan lentiknya.
"Sepertinya begitu, Ayah. Bagaimana kalau Laras melakukan kesalahan dan membuat malu keluarga kita dan Plowden?" tanya Laras dengan nada cemas.
Daniel berjongkok, menggenggam tangan Laras yang saling bertautan. "Nak, kamu adalah Larasati Indria Putri Arlington yang telah melewati begitu banyak lika-liku kehidupan. Kamu telah berjuang bersama ibumu menghadapi kerasnya dunia. Ayah hanya orang baru yang selalu ingin memberikan kebahagiaan kepadamu, Nak. Ayah ingin menebus puluhan tahun yang terlewat dengan membahagiakanmu."
Mendengar ucapan ayahnya, runtuh sudah pertahanan Laras. Dia kembali menangis untuk yang kedua kalinya hari ini. Bahkan, Dewi dan Yuki yang menjadi saksi perjalanan seorang Laras ikut menangis terharu dengan ketulusan seorang Daniel.
"Sayangnya, Ayah malah membuatmu menanggung beban yang terlalu berat. Bukannya membuatmu bahagia, Ayah malah melimpahkan semua beban Arlington di pundak rapuh putri sulung Ayah. Ayah tidak memikirkan seberat apa beban itu hingga Laras yang cantik ini tak ingin membebani ayahnya sendiri. Ayah merasa telah ga—"
Ucapan Daniel terpotong oleh perkataan Laras. "Ayah, terima kasih karena sudah menerima Laras di hidup Ayah. Terima kasih atas semua cinta Ayah untuk Laras. Laras tidak pernah merasa terbebani dengan semua hal yang sudah terjadi belakangan ini. Ayah tidak pernah gagal dalam membahagiakan Laras. Ayah adalah pahlawan serta panutan Laras untuk menjadi lebih baik lagi. Laras tidak bisa membalas kasih sayang Ayah, hanya ucapan terima kasih yang bisa Laras berikan."
Saat itulah Daniel memeluk Laras, putri sulungnya yang terpisah sejak berada di dalam kandungan. Malaikat kecilnya yang Indah, cinta pertama dan terakhir seorang Daniel titipkan padanya. Dewi dan Yuki yang melihat kasih sayang orang tua dan anak itu saling berpelukan.
Laras membalas pelukan Daniel. Dia menatap Emily yang masih berdiri memang dengan linangan air mata. Wanita yang masih cantik walaupun sudah menangis mengangkat salah satu tangannya, memanggil Emily untuk mendekat.
Tanpa diperintah dua kali, Emily langsung berhambur dan memeluk kedua orang yang sangat dia sayangi dan hormati. Tangis haru melingkupi ruangan itu. Hingga akhirnya Daniel melerai pelukannya. Dia harus segera membawa putri sulungnya menuju altar.
"Ayah akan mengantarmu ke altar. Jika gugup, remas tangan Ayah. Jika kamu terjatuh, maka sebelum itu terjadi Ayah akan memegang tanganmu dengan kuat." Daniel beranjak dari posisinya, membantu Laras berdiri.
Emily segera menyerahkan buket bunga kepada Laras untuk dipegang. Sedangkan Dewi dan Yuki merapikan gaun pengantin dan veil yang dikenakan oleh Laras. Mereka sudah siap menuju altar.
Dewi dan Yuki membukakan pintu ruangan, di mana Daniel sudah menggandeng Laras untuk menuju ke altar. Laras menghembuskan napas panjangnya sebelum melangkahkan kaki menuju altar.
Emily berjalan di belakang mereka berdua, tepatnya di tengah-tengah Kakak dan Daddy-nya. Sedangkan Dewi dan Yuki berada di belakang Emily. Laras begitu gugup saat mendengar suara tepuk tangan dari beberapa meter di depannya.
"Nak, dongakkan wajahmu. Kamu cantik dan sempurna, tidak ada yang perlu kamu takutkan," bisik Daniel membangkitkan kepercayaan Laras.
__ADS_1
Kembali, Laras menghembuskan napas panjangnya sebelum mendongakkan kepala. Laras begitu takjub saat sebuah altar outdoor telah disiapkan oleh William dengan begitu sempurna. Dia tidak menyangka bahkan di hari pernikahannya, sang suami masih sempat membuat kejutan.
Di depan altar, William berdiri begitu gagahnya menunggu kehadiran Laras. Di belakang suaminya tampak Ken, Soga dan Rico sebagai pengiring pengantin pria. Laras mulai melangkahkan kakinya, seirama dengan langkah kaki sang Ayah.
Semua tamu undangan bertepuk tangan saat melihat Laras dan Daniel berjalan memasuki tempat pengucapan janji suci pernikahan. Laras mulai berjalan di karpet putih yang terbuat dari taburan kelopak bunga mawar putih. Di sisi kanan dan kiri terdapat vas bunga yang berukuran setinggi orang dewasa. Setiap vas bunga terdapat rangkaian bunga mawar putih yang menebarkan aroma wangi khasnya. Terdapat jarak sekitar satu meter antara vas satu dengan vas lainnya.
William benar-benar mempersiapkan pernikahan ini dengan indah dan sempurna. Bahkan di ujung karpet putih yang dilalui Laras, ada sebuah bangunan berbentuk melingkar. Bangunan itu juga dihias dengan bunga mawar putih dan kain putih yang jatuh menjuntai hingga ke lantai. Itulah altar pernikahan William dan Laras. Tempat di mana kedua mempelai akan mengucapkan janji suci pernikahan.
Suara tepuk tangan tidak berhenti, terus terdengar seperti mengiringi setiap langkah Laras. Deretan kursi-kursi kayu putih yang menghadap altar tertata dengan sangat rapi. Para tamu undangan terus berdiri hingga Laras tiba di depan altar.
"Will, Ayah akan menitipkan semua tanggung jawab serta kebahagiaan Laras padamu. Tolong jaga dia untuk Ayah hingga akhir hayatmu," ujar Daniel sambil menyerahkan tangan putri sulungnya kepada William.
"William berjanji di depan Ayah sendiri, bahwa akan menjaga dan bertanggung jawab atas kebahagiaan Laras. Bahkan aku siap walau harus mempertaruhkan nyawa sendiri," jawab William begitu yakin.
Daniel menganggukkan kepalanya. Dia berjalan menuju kursi terdepan yang memang dikhususkan untuk keluarga dari kedua mempelai. Para pengiring pria dan wanita juga menempati kursinya masing-masing, bersiap menyaksikan sumpah suci kedua mempelai.
Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.
.
.
.
~ To Be Continue ~
@hana_ryuuga
__ADS_1