OBSESI SANG PEWARIS

OBSESI SANG PEWARIS
BAB 109 WEDDING DAY PART 3


__ADS_3

Selesai berdansa, William dan Laras turun dari lantai dansa. Ada sebuah jalan setapak lagi, di mana ujungnya terdapat panggung berukuran 8×4 meter. Sebuah sofa pengantin dengan tiga macam rangkaian bunga terlihat begitu elegan.


Sebuah singgasana pengantin yang begitu megah dan cantik. Kedua mempelai berdiri di tengah-tengah panggung, menatap ke arah tamu yang berdatangan dari lantai atas. Beberapa tamu naik ke singgasana pengantin untuk mengucapkan selamat dan berfoto bersama. Bahkan, tak sedikit yang ikut berdansa.


Sudah saatnya bagi William dan Laras memotong kue pernikahan mereka. Keduanya berjalan ke sisi kanan, di mana ada sebuah kue pernikahan yang tingginya sekitar satu meter. Kue itu dihias dengan tema yang serupa dengan konsep pesta pernikahannya.


Di susunan kue paling atas ada miniatur sepasang pengantin yang saling berciuman terbuat dari akrilik. Sungguh indah. Banyak awak media yang meliput pesta pernikahan dua pewaris keluarga konglomerat di Lunar City.


William dan Laras memegang pisau bersama-sama dan mengarahkannya ke kue yang bertingkat itu. William menganggukkan kepalanya kepada Ken, dan sepupu istrinya itu mulai menghitung. Pada hitungan ketiga, kedua mempelai mengangkat pisau dan mulai memotongnya.


Suara tepuk tangan bergemuruh terdengar saat pisau keduanya sampai pada kue paling bawah. William dan Laras saling bertatapan, sudah jelas aura mereka memancarkan aura cinta sejati. Kebahagiaan terlihat jelas di dua pasang mata keduanya.


Setelah pemotongan kue, terlihat Daniel menerima telepon di sudut ruangan. Wajah bahagianya berubah menjadi murung saat melihat siapa yang meneleponnya.


"Datanglah ke kamarku saat dini hari nanti. Aku akan membuat celah untukmu," ujar Daniel lalu mengakhiri panggilannya.


Daniel kembali bergabung dengan yang lainnya, menikmati pesta pernikahan putri sulungnya. Banyak dari rekan kerjanya memuji Laras dan William. Bahkan mereka tidak sabar untuk bekerja sama dengan kedua pemimpin muda itu.


Daniel akui, bahwa anak dan menantunya itu memang merupakan pengusaha yang sukses di usia mudanya. Bahkan banyak prestasi yang sudah mereka ciptakan dalam beberapa tahun belakangan ini.


Ayah tunggal itu menatap William dan Laras yang tampak bahagia pasca memotong kue. Beberapa tamu kembali menyalami mereka bahkan tak sedikit yang berbincang. Apalagi, saat melihat para sahabat anak dan menantunya itu, membuat hati Daniel senang.


Persahabat kelima orang itu benar-benar dapat diacungkan jempol. Saat dulu perusahaan Ayah Dewi yang hampir bangkrut, William datang dengan perusahaan kecilnya bersama Rico untuk membantu. Begitu juga saat Soga, suami dari Yuki membutuhkan dana besar, William dan Rico juga datang menolong.


Siapa yang menyangka, bahwa persahabatan mereka bisa bertahan hingga detik ini. Daniel sudah memata-matai mereka berlima sejak tahu keberadaan Laras di Indonesia. Apalagi saat melihat Ken dan Emily yang tampak bahagia bersama Yuki, Dewi, Rico, William dan Laras.


"Mungkin sudah waktunya yang tua untuk pensiun," gumam Daniel pada dirinya sendiri.


****************

__ADS_1


Sebelum pesta selesai, William meminta untuk pergi meninggalkan pesta lebih dulu. Dia mengatakan bahwa istrinya sudah kelelahan dan para tamu undangan memakluminya. Sebagai gantinya, Nikolai dan Ariana menggantikan perwakilan dari William. Sedangkan Daniel dan Emily sebagai perwakilan dari Laras.


William menggendong Laras ala bridal style menuju ruangan keluarga. Lelaki itu tidak membiarkan wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu berjalan kaki. Dia benar-benar tidak mau Laras yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu kelelahan.


Molly telah menanti kehadiran mereka berdua karena Laras meminta untuk pulang ke rumah King memakai baju mereka. Sang desainer dapat memakluminya, apalagi melihat kondisi Laras yang sedang hamil muda itu. Sang desainer membantu Laras untuk melepas gaun pernikahannya.


"Aku akan mengirim gaun dan kemeja ini ke Lunar City setelah membersihkannya. Siapa tahu kelak gaun ini menjadi baju pernikahan dari anak-anak kalian," ujar Molly.


"Terima kasih, Molly. Nanti biar suamiku yang mengirim alamatnya."


"Baik, sekali lagi selamat untuk pernikahanmu. Kamu adalah model tercantik yang aku temui selama ini."


"Emily lebih cantik dari aku," Laras memalingkan wajahnya yang memanas, malu karena dipuji oleh desainer terkenal.


"Kalau begitu, kita kembali ke rumah dulu. Terima kasih Molly dan untuk tim yang bertugas," pamit William sembari merangkul pinggang ramping Laras.


"Sama-sama, Tuan." Molly dan membungkukkan badan, memberi hormat pada kliennya.


Laras langsung menyandarkan kepalanya pada pundak William. Sekarang wanita itu baru merasakan betapa lelahnya, bahkan tubuhnya terasa remuk. William menatap kaca dashboard mobil dan terkejut saat mobil mereka diikuti beberapa mobil.


"Mobil kita diikuti, Sayang," bisik William pada Laras yang sudah memejamkan kedua matanya.


Laras membuka matanya dan menatap ke kaca spion, lalu tersenyum. "Itu mobil bawahanku, Will. Mulai sekarang biasakan dengan kehadiran mereka."


"Aku pikir orang jahat yang akan menyerang," jawab jujur William dan Laras hanya tersenyum menanggapinya.


"Kamu tenang saja, aku akan melindungimu, Will."


"Hei, ceritanya tidak seperti itu, Sayang. Bagaimanapun, aku yang akan melindungimu dan anak kita." William mencubit pipi Laras dengan lembut.

__ADS_1


"Sakit Will," rengek Laras.


"Laras, aku benar-benar mencintaimu dari dulu hingga selamanya. Jika aku ingat kembali kenapa bisa mencintai Liu Meyrin, mungkin karena dia adalah kamu. Tapi, kenapa kamu ingin kita bercerai dulu kalau akhirnya menikah lagi?" tanya William yang menolehkan kepalanya ke samping.


William tersenyum saat melihat sang istri malah tertidur dengan pulasnya. Dielusnya surai lurus sang istri lalu memberikan kecupan di bibirnya. William dapat memakluminya karena memang dari pagi hingga petang, istrinya aktif menyapa para tamu. Seolah wanita itu tidak pernah lelah dan lupa kalau sedang hamil muda.


"Tuan, kita sudah sampai," ujar sang sopir saat William masih terduduk di kursi belakang walaupun pintu mobil terbuka.


William langsung menggendong istrinya ala bridal style dan keluar dari mobil. Langkah kakinya yang begitu kuat, benar-benar mencerminkan sosok pemimpin yang tegas. William terus melangkahkan kakinya menuju kamar mereka yang berada di lantai dua.


"Tuan, apa Anda membutuhkan sesuatu?" tanya kepala pelayan saat William hendak menaiki anak tangga.


William menatap wajah istrinya yang tertidur lalu tersenyum. "Sepertinya untuk saat ini tidak ada. Nanti jika butuh sesuatu, saya akan meminta bantuanmu."


"Baik, Tuan." Kepala pelayan membungkuk hormat sampai Tuan dan bosnya itu menghilang dari pandangan.


William membaringkan Laras dengan perlahan, agar sang istri tidak terbangun. Tapi siapa sangka, Laras malah membuka kedua matanya dengan sempurna.


"Loh?"


Novel OSP akan tayang setiap hari pukul 9-10 pagi yah. Jangan lupa like dan komennya biar Hana kenal dengan kalian.


.


.


.


~ To Be Continue ~

__ADS_1


@hana_ryuuga


__ADS_2